LGBT di Ranah Literasi

LGBT di Ranah Literasi

Untung Wahyudi
Karya Untung Wahyudi Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 Januari 2018
LGBT di Ranah Literasi

Belakangan ini isu seputar Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) semakin merebak. Perbincangan ini menjadi viral karena banyak netizen, baik yang pro maupun kontra, menambah kepopulerannya dengan membagikan berita dilengkapi hastag seperti #TolakLGBT.

Ada banyak alasan netizen meramaikan masalah ini di dunia maya. Di kalangan yang kontra, hal itu dilakukan untuk mengampanyekan bahwa negara ini harus bersih dari segala hal yang berbau LGBT. Berbagai opini yang disampaikan berbagai tokoh agama, intelektual, dan lainnya, mereka tanggapi. Sementara dari kalangan yang pro-LGBT, atas nama HAM, mereka mengajak masyarakat agar tidak memarjinalkan orang-orang yang memiliki kelainan tersebut. Agar hak mereka sebagai warga negara Indonesia juga dihargai, selama mereka tidak mengganggu dan mengajak orang lain untuk menjadi LGBT.

Sinyo, pendiri komunitas Peduli Sahabat, dalam bukunya Anakku Bertanya tentang LGBT, menjelaskan bahwa sebenarnya kemunculan komunitas LGBT di Indonesia sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Di Indonesia, era 1920-1980 sendiri terdapat komunitas kecil LGBT walau masih berakar kepada kebudayaan dan belum muncul sebagai pergerakan sosial.

Salah satu contoh adalah adanya gemblak di Ponorogo. Gemblak adalah laki-laki muda yang dijadikan semacam “istri” oleh para warok di Ponorogo. Para warok tersebut mempunyai ilmu kesaktian dengan syarat agar tidak boleh berhubungan badan (hubungan seks) dengan lawan jenis. Jika syarat ini dilanggar, kesaktian mereka akan lemah atau hilang.

Hebohnya isu LGBT tak dapat dimungkiri membuat banyak orang penasaran dengan istilah tersebut. Orang yang selama ini awam akan penasaran karena “kampanye” istilah LGBT setiap hari berseliweran di lini masa beberapa media sosial. Berdasarkan sumber pencarian mesin Google, pencarian istilah LGBT semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang yang penasaran dengan istilah yang kembali ramai beberapa waktu lalu.

Lalu, adakah buku yang membahas khusus tentang LGBT? Tabukah jika kita membaca buku-buku tersebut, mengingat masyarakat kita cenderung memberikan stigma “negatif” pada semua hal yang berbau LGBT, termasuk buku. Padahal, membaca buku untuk mengetahui berbagai informasi tentang hal tersebut penting agar kita tidak asal berkomentar, atau bahkan mengecam tanpa alasan yang jelas.

Selain Anakku Bertanya tentang LGBT karya Sinyo, Tuhan Tidak Pernah Iseng adalah buku yang juga mengupas LGBT. Buku ini berupa memoar yang ditulis Zemarey Al-Bakhin. Buku ini berisi catatan serta pengakuan penulis bahwa dirinya pernah terperosok ke dunia gay. Awalnya, penulis yang biasa disapa Kang Rey ini enggan mengakui keberadaan dirinya yang sebenarnya, mengingat hal itu bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana pandangan masyarakat jika mengetahui hal tersebut.

Namun, Rey yang sejak kecil memang sudah terbiasa diperlakukan kurang baik oleh lingkungannya, karena secara fisik memang sedikit berbeda, akhirnya memberanikan diri bahwa ia adalah seorang yang memiliki orientasi seksual sesama jenis. Ia bertekad akan mengubah orientasi seksualnya dan kembali ke fitrahnya sebagai laki-laki normal.

Usaha Rey pun tak sia-sia. Kendati sering mendapat cemoohan dan cibiran, ia akhirnya memutuskan menikahi seorang perempuan. Istrinya pun berjanji akan membimbing Rey agar tidak lagi kembali ke jalan yang pernah dilaluinya.

Keputusan Rey tersebut menarik perhatian berbagai kalangan. Ia pun diundang untuk memberikan penyuluhan kepada orang-orang, terutama remaja, yang memiliki orientasi seksual sesama jenis.

Sementara itu, novelis Andrei Aksana menulis buku dengan tema LGBT tetapi dikemas dalam bentuk fiksi. Lewat novelnya berjudul Lelaki Terindah, penulis berkisah tentang persahabatan dua laki-laki bernama Rafky dan Valent.

Dalam novel itu dijelaskan bahwa kedua laki-laki tersebut adalah laki-laki normal. Rafky mempunyai pacar, begitu juga Valent. Bahkan, Valent akan menikah dengan kekasihnya sepulangnya dari liburan di Bangkok.

Rafky dan Valent bertemu di pesawat ketika hendak berlibur ke Bangkok. Valent menawari Rafky untuk menyewa satu kamar hotel dengan alasan agar bisa berhemat. Valent berjanji tidak akan mengganggu liburan Rafky, karena ia juga punya rencana berlibur ke berbagai tempat yang tidak akan dikunjungi Rafky. Tetapi, ternyata mereka sepakat untuk menikmati liburan bersama. Valent yang sudah beberapa kali ke Bangkok sangat membantu Rafky yang sebelumnya belum pernah ke sana. Singkat kisah, kedekatan mereka ternyata menimbulkan benih-benih cinta terlarang. Hal itu pertama kali muncul ketika Valent jatuh sakit dan diketahui bahwa menderita diabetes. Selama sakit, Rafky lah yang merawat Valent. Rafky tidak ingin teman seperjalanannya itu celaka karena penyakit yang dideritanya.

Pulang ke Jakarta, ternyata Rafky dan Valent masih tetap berhubungan. Mereka kerap bertemu, bahkan mengenalkan kekasih masing-masing. sehingga suatu ketika, kekasih Valent melihat ada yang berbeda pada laki-laki yang tak lama lagi akan menjadi suaminya tersebut. Dan, Valent tidak bisa membohongi hatinya. Ia membuat pengakuan bahwa ia telah “selingkuh” dengan seorang laki-laki.

Dari kisah di atas bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa, orang-orang yang memiliki orientasi seksual sesama jenis (gay) tidak hanya terjadi pada laki-laki kemayu atau waria. Laki-laki yang nampak normal dengan fisik sempurna pun bisa punya orientasi seksual serupa.

Karena itulah, komunitas semacam Peduli Sahabat yang didirikan Sinyo, dan beberapa komunitas lain, perlu di-support agar bisa mengarahkan para remaja yang terlanjur terperosok dalam dunia LGBT. Bahwa mencari solusi atas fenomena ini, seperti menyediakan tempat khusus rehabilitasi, lebih baik daripada sekadar menghujat, dan mengucilkan kaum LGBT.

Jika banyak orang yang selama ini “sakit” bisa sembuh, kenapa orang yang memiliki orientasi serupa tidak? Orangtua, pendidik, dan masyarakat perlu bersama-sama melakukan pendampingan yang ketat, terutama untuk tidak terlalu membebaskan anak menggunakan alat komunikasi canggih seperti gawai atau gadget, yang tidak tertutup kemungkinan menjadi salah satu jalan remaja mengenal dunia LGBT. (*)

  • view 100