Ma...minta ch**tos sekulkas

Uni Dhani
Karya Uni Dhani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Februari 2016
Ma...minta ch**tos sekulkas

Siang itu diweekend kemarin kulihat anak-anakku sedang sibuk bermain rumah-rumahan yang dibuat dari tumpukan bantal dan selimut yang diikat di teralis jendela. Wajah mereka sumringah maklum aku hanya membolehkan mereka main rumah-rumahan jika weekend saja, alasannya mereka mesti sekolah dan aku gak suka ngeliat rumah yang berantakan. Jadi main rumah-rumahan hanya boleh dilakukan Sabtu abis pulang sekolah sampe Ahad sebelum adzan magrib berkumandang.

Lalu dengan maksud pengen membuat mereka lebih seneng lagi aku dan papanya berniat ngajak mereka makan diluar sambil bermain, mungkin dimall ato di tempat makan favorite kami. Aku memanggil mereka dan bertanya

?Kaka?kira2 hari ini mau makan apa??

?mmm?..ch**tos mam..?

?kening saya berkerut..?ch**tos??

?iyya?.satu kulkas (maksudx sekulkas penuh) ?

aku memang termasuk orang tua yang cukup tegas meminimalisir konsumsi snack-snack ber msg dan berpengawet seperti itu jadi makan snack menjadi kemewahan bagi mereka

aku berbalik menanyai sang adik

?kalo adek?mau makan apa??

?Ny*am-ny*m?mam?? (halah ini kok kompak sih)

Si papah senyum-senyum ajja emakx malah puyeng tujuh keliling

Aku menarik napas

?maksud mama?.kalian mau gak makan diluar?makan dimanaaa gitu?

?mmm?tidak maunya Ch**tos ajjalah mam yak..yak??

?iyya mam?.ny*m-ny*m donk?

mata mereka berbinar-binar penuh harap

aku terdiam sejenak ternyata harapan anak-anak ini sederhana? sangat sederhana. Sekalipun tak pernah kusangka jawaban mereka hanya itu, aku awalnya mengaharapkan jawaban atau permintaan seperti makan di k*c, atau Pi**a H*t atau S*laria (soalnya yang ada di ambon hanya itu) tapi ternyata?.

Siang itu aku dan papah meluncur membeli permintaan mereka yah?untuk hari ini bolehlah mereka menikmati apa yang mereka harapkan tapi gak sekulkas juga kaleee nak sekantung cukuplah. Tapi sampai malam aku masih terus termangu memikirkan betapa sederhana anak-anak itu memandang kesenangan dan kegembiraan kitalah orang tuanya yang mengaku sebagai orang dewasa yang membuatnya menjadi rumit. Menganggap bahwa kita tahu apa yang bisa membuat mereka senang namun ternyata tak selamanya seperti itu, mungkinkah apa yang kita ingin lakukan,berikan dan harapkan sebenarnya adalah keinginan pribadi kita sendiri (mungkin keinginan makan diluar itu aku yang berharap namun berlindung dibalik keinginan anak-anak hehehe?..ambisi pribadi emaknya biar bisa makan diluar kali yak). Kita atau mungkin hanya aku yang membuat kebahagiaan harus dipoles sana sini di make up sana sini di tambal sulam menjadi sesuatu yang pada akhirnya ternyata terkadang malah gak bikin bahagia karena kita jadi terlalu fokus pada hal-hal yang gak penting yang malah menguras energi bahkan materi.

Hari itu aku belajar bahwa Kebahagiaan ternyata bisa didapatkan dari hal yang paling sederhana yang paling mudah dan paling dekat dengan kita, seperti anak-anakku yang ternyata hari itu hanya menginginkan sekantung snack untuk menjadi bahagia.

?

  • view 151