LIHAT SAJA NANTI (Bagian 4)

uning masyhadi
Karya uning masyhadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 April 2016
LIHAT SAJA NANTI     (Bagian 4)

        Satu minggu setelah Vina pergi,kadang-kadang kenangan tentang dia datang di ingatanku. Saat dulu kami tertawa bersama, tapi kemudian itu berlalu begitu saja. Aku datang juga ke pemakaman Vina di temani mama dan Martin, semua anak di jurusan kami hampir semuanya datang, tapi Daniel tidak nampak, tentu saja, kecuali dia cari mati. Setelah itu semua berlalu begitu saja sehingga seminggu, di kampus tidak ada lagi yg bicara apa-apa tentang Vina, seperti enggan atau segan,entahlah. Dan lagi memang tidak ada gunanya juga bicara tentang orang yg sudah meninggal, lagi pula juga tidak baik.

      Aku langsung pulang begitu kuliah selesai, sebenarnya tadi aku hendak ke perpus tapi kemudian urung lantaran perutku merintih lapar. Dulu aku pernah masuk rumah sakit gara-gara sakit maag, dan sejak itu aku jadi kapok, lapar sedikit aku segera saja cari makan. Seperti sekarang ini, aku membawa mobilku ke warung makan langgananku. Aku selalu makan di sana sejak SMA dulu, warteg biasa saja tapi makanannnya enak dan tempatnya bersih, dulu aku pernah ngajak papa makan di sana, tapi itu sebelum papa jadi mentri.

      "Selamat datang, mbak Siwie." Mak Yah, pemilik warung itu segera saja menyambut ramah begitu aku masuk.

      "Apa kabar, mak, sehat?"

      "Alkhamdulillah...mak sehat terus!"

      "Syukur deh.." Aku tersenyum.

      "Hari ini mak bikin pecel lho..mbak Siwie mau?"

      "Boleh tuh." Aku mengangguk, terus pergi ke ujung, di sana adalah tempat favoritku tapi langkahku terhenti seketika.

      Sudah ada yg duduk di sana, tapi bukan itu yg membuat aku berhenti melangkah melainkan orang yg duduk itu. Seperti merasa, dia menoleh ke arahku, tapi sama sekali tidak terlihat terkejut seperti aku yg terkejut melihat dia.

      "Hai Wie,lama nggak ketemu,apa kabar?" Sapanya santai saja dari tempat dia duduk,tanpa bergerak sedikit pun.

      "Baik." Aku menjawab kaku, lalu berjalan mendekat dan duduk di depan Daniel.

      "Kamu apa kabar?" Aku bertanya setelah duduk.

      "Baik."

     Kemudian kami saling diam.

      "Vina meninggal seminggu yg lalu." Aku memecah keheningan diantara kami.

      Daniel mengangguk.

      "Aku tahu, aku juga datang ke pemakannya."

      Sedikit terkejut aku mendengar kalimat Daniel.

      "Yang benar saja!" Aku menatap pemuda yg hampir sebayaku itu setengah tak percaya, sebenarnya seperti apa orang ini.

      "Kamu..orang macam apa kamu itu? Vina itu pacar kamu dan dia juga mengandung anakmu!"

      "Kematiannya pun sebagian besar adalah salahku, iya kan? Kenapa tidak sekalian kamu bacakan ayat itu?!" Daniel menatap aku dengan sepasang matanya yg kecil dan tajam seperti mata elang, konon.

      Aku membuka mulut tapi suaraku tertelan, Mak Yah datang mengantarkan pesananku.

      "Silah kan , mbak." Kata Mak Yah ramah.

      "Terima kasih, mak." Aku tersenyum dan menunggu sampai Mak Yah pergi, tapi belum lagi aku bicara, Daniel sudah ngomong duluan.

      "Sulit di percaya, anak mentri seperti kamu mau masuk warteg, perempuan lagi. Kamu sendiri sebenarnya orang seperti apa, Wie?"

      Aku tertawa sinis.

      "Yang mentri kan bapakku, aku ini bukan siapa-siapa, orang yg dekat sama aku juga sering kali karena lihat siapa ayahku, bukannya mau tulus jadi temanku. Lihat waktu papa di tuduh korupsi, semua orang langsung saja lari dariku."

     Daniel tersenyum.

      "Termasuk Vina." Gumamnya.

      Aku cuma diam.

      "Dulu aku tulus mencintai Vina, tapi perasaanku berubah ketika aku lihat dia menjauh darimu seperti teman-teman yg lain. Aku kecewa, ternyata aku salah menilai Vina. Dia nggak lebih seperti penjilat di mataku ketika itu."

      Aku hampir tak percaya mendengar Daniel mengatakan itu.

      "Kenapa yg aku lihat kalian justru semakin mesra saja waktu itu?" Sindirku sinis, Daniel tertawa.

      "Kenapa ketawa? Teganya kamu ninggalin dia saat Vina mengandung anak kamu. Kamu itu bajingan sekali!" Geramku.

      "Dia juga tega ninggalin kamu di saat kamu butuh dukungan dari dia sebagai sahabat, lalu kamu sebut apa dia?" Kata Daniel dengan nada yg juga sinis.

      Aku tercekat,sesaat menatap Daniel dan tak tahu sebenarnya apa maksud kata-katanya itu.

      "Dia sudah meninggal Dan, nggak usah deh ngomongin yg itu lagi, oke? Aku nggak mau mengungkitnya..." Aku berujar pelan.

      Daniel terlihat menghela nafas.

      "Aku sudah bilang sama Vina untuk menggugurkan kandungan itu, aku belum ingin menikah tapi Vina menolak. Jika dia tidak mau aku juga tidak ingin bertanggung jawab. Dari awal aku sudah bilang sama dia hubungan kami atas dasar suka sama suka jadi apa pun akibatnya jangan saling menyalahkan. Dia sudah setuju, lalu kenapa juga dia kemudian memaksa aku begitu?"

      Tiba-tiba saja kepalaku pening mendengar itu dan rasa laparku hilang seketika.

      "Aku ingin kuliah sampai selesai, kerja, baru kemudian menikah. Nggak mau putus di tengah jalan begitu saja, Wie."

      "Siapa bilang kamu harus putus kuliah, yg hamil kan Vina bukannya kamu. Setelah menikah pun kamu tetap bisa melanjutkan kuliah."

      "Tapi papaku bilang kalau aku menikah maka aku harus kerja, nggak perlu kuliah lagi."

      "Setelah jadi sarjana kamu juga kerja, lalu apa bedanya?"

      "Tentu saja beda, rasanya tetap lain antara punya titel dan nggak punya titel."

      "Alah, itu kan cuma titel!" Aku menukas cepat, tapi seketika terdiam, dalam hati aku sebenarnya mengakui kata-kata Daniel. Dan Daniel tertawa pelan.

      "Sekarang kamu menyadari kata-kataku itu benar, iya kan?"

      Aku diam saja, enggan memberikan komentar.

      "Wie, Wie..." Gumam Daniel.

      Aku melirik dia.

      "Kenapa?" Daniel menatap aku, sekarang sinar mata itu begitu lembut.

      "Bagaimana caramu menjalani hidup sebagai anak seorang pejabat, pasti tidak mudah ya, orang akan selalu mengaitkanmu dengan ayahmu kemana pun kamu pergi dan apa pun yg kamu lakukan. Bagaimana rasanya?"

      "Biasa saja." Aku mengedikkan bahu.

      "Oya, benarkah?"

      "Positive thingking. Itu saja pesan orang tuaku, nggak mudah sih..dalam hal apa pun aku coba melihat dengan cara positif,menjalaninya nggak semudah kayak aku ngomong sekarang, tapi aku terus mencoba untuk selalu melakukannya." Aku bicara tanpa melihat pada Daniel melainkan asyik mengaduk nasi pecel kemudian mulai menikmatinya di bawah tatapan Danile.

      "Kamu kuliah di mana sekarang?" Tanyaku padanya kemudian.

      "Australi."

      "Pantas nggak keliatan lagi di sini." Aku menggumam.

      "Aku pulang karena mendengar kabar tentang Vina, besok rencanaya aku terbang kembali ke sana."

      Aku menghela nafas mendengar kata-katanya.

      "Sedih nggak mendengar Vina meninggal?"

      Daniel menggeleng samar. Aku tersenyum kecut, tiba-tiba dalam hati jadi kasihan sama Vina, dulu Daniel dan aku adalah orang-orang yg sayang padanya tapi sekarang kami tidak begitu peduli dengan kepergiannya, biasa saja.

      "Aku memang menangis ketika melihat dia di kubur, bagaimana pun aku dulu mencintai dia, tapi setelah itu sudah. Ditangisi juga percuma, dia sudah pergi."

      "Nggak nyesel, itu kan salahmu juga."

      "Ya sempat ada, tapi penyesalan jika tidak bisa merubah apa pun buat apa menyesal. Jika penyesalan bisa membuat keadaan jadi lebih baik, maka setiap detik akan aku sesali karena aku ingin menjadi lebih baik lagi. Tapi jika penyesalan itu tidak mampu merubah apa pun, maka sedetik pun aku tidak mau menyesali yg sudah terjadi." Tanganku yg hendak menyuap nasi ke mulut terhenti, mengambang di udara mendengar kata-kata Daniel itu.

      "Kenap, Wie?" Tanya Daniel sambil tersenyum.

      "Belum juga setahun kamu tinggal di Australi cara pandang kamu sudah ekstrim begitu, bagaimana dengan nanti?" Komentarku, dan Daniel tidak bereaksi atas kata-kataku itu. Setelah itu kami saling diam sampai kami selesai makan, lalu aku berpamitan padanya.

      "Aku pulang dulu." Daniel mengangguk tanpa bicara.

 

      Aku sampai di rumah, belum lagi lima menit aku tiba, ada sms masuk dari nomer yg tidak aku kenal.

      "Maukah menjadi kekasih abadiku ketika aku kembali nanti, aku bersumpah akan setia dari saat ini sampai nanti asal kamu mau berjanji untuk menerimaku dan setia menanti sampai aku kembali."

      Aku tertegun, bulu kudukku merinding ketika membaca sms itu.

      Daniel.

      Lama aku terdiam sebelum kemudian mulai mengetik balasan untuk dia.

      "Kita lihat saja bagaimana nanti."

 

                                                                          

 

                                                                                        *   TAMAT   *

  • view 176