LIHAT SAJA NANTI (Bagian 2)

uning masyhadi
Karya uning masyhadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2016
LIHAT SAJA NANTI   (Bagian 2)

      Kebetulan seorang sepupuku ada yg satu kampus denganku dan dia mengadukan perubahan sikapku itu pada orang tuaku.Lalu suatu malam papa dan mama datang menemui aku di kamar,mereka bertanya padaku.

      "Kenapa Wie,nggak perlu terus marah pada lingkungan di sekitar kita.Memang nggak mudah jadi anak seorang pejabat,banyak orang mendekati kita karena kita punya kekuasaan.Sangat sulit mencari teman yg tulus,tapi bukan berarti kita lalu memusuhi mereka ketika kita tahu kalau mereka itu cuma mau cari muka saja pada kita." Kata papa.

      Aku cuma mendengus dan bersikap dingin,asyik bermain dengan mouse komputer,memutarkan anak panah yg berlarian kesana kemari sesuka tanganku.

      "Siwie harus punya jiwa besar,jangan cepat sinis pada orang,harus mau memaafkan mereka meskipun memaaafkan itu berat." Imbuh mama.

      Aku menghela nafas dan melirik pada mereka berdua.

      "Lihat nantilah,oke?" Gumamku.

      Kedua orang tuaku saling pandang,mungkin mereka pikir percuma saja bicara denganku pada saat ini ketika aku tengah tertekan dan terluka,lalu mereka pun meninggalkan kamar.

      Aku anak tunggal,dari kecil sudah terbiasa sendirian,sehari-hari dirumah temanku sopir dan pembantu.Papa sibuk dan mama pun seolah nggak mau kalah bersaing sibuknya dengan papa,tapi sedapat mungkin mereka coba punya waktu untuk aku.Misalnya saja jika ada kegiatan disekolah yg mengharuskan orang tua untuk hadir,maka salah satu dari mereka berusaha untuk datang.Atau jika aku mengikuti suatu kejuaraan disekolah dan aku kalah,meskipun hanya lewat telpon mereka akan memberikan dukungannya padaku dan menghiburku.Setiap saat aku butuh mereka,mereka selalu berusaha untuk ada dan itu sangat aku hargai.Meskipun tetap saja waktu mereka lebih banyak untuk pekerjaan dari pada aku,tapi sejak kecil aku sudah dididik untuk mandiri dan diberi pengertian tentang kesibukan mereka itu,jadi aku tidak suka rewel apalagi bertingkah menuntut perhatian,karena toh perhatian yg aku mau sudah aku dapat.Dan aku tumbuh sebagai anak normal yg biasa seperti anak-anak lain,yg membuatku jadi luar biasa hanya satu,aku adalah anak pejabat yg sering muncul di koran juga tv,itu saja.

 

      Aku menghela nafas panjang untuk kesekian kali lantas menghidupkan mesin mobil,kemudian bergerak pelan meninggalkan parkiran kampus,melewati Vina dan aku tidak melirik sama sekali padanya,masih membawa mobil dengan pelan sampai keluar dari lingkungan kampus baru kemudian aku memacu lebih cepat membelah jalanan ibu kota.Aku ingat,tadi malam mama bilang padaku kalau hari ini beliau akan ada dirumah,lewat telpon dari Medan.Sudah seminggu aku nggak ketemu sama mama.

      Sampai dirumah aku segera ke kamar mama,tapi kamar itu kosong,lalu aku menuju ke dapur,siapa tahu beliau ada disana lagi ngerumpi sama pembantu sambil menunggu aku pulang.Tapi langkahku terhenti diruang makan,ada hidangan istimewa tertata rapi diatas meja,aku tertawa kecil,ini pasti mama.Aku mendekati meja untuk melihat apa saja yg sudah mama masak untuk kami dan aku menemukan catatan kecil itu yg langsung memupus keceriaanku.Dengan sedikit mendengus aku meraih kertas catatan itu.

      "Wie,maaf ya..papa ngajak mama untuk datang ke pesta di rumah Pak Gubernur,putrinya melahirkan anaknya yg kedua,maafin mama harus pergi,papa juga minta maaf sudah nyulik mama dari kamu.Tapi nanti kami pulang cepat kok..."

      Aku banyak belajar dari pengalaman untuk tidak terlalu percaya pada janji mereka,bukan berarti aku nggak percaya sama orang tuaku.Masalahnya adalah..selalu saja ada sesuatu yg membuat mereka pergi dan harus membatalkan janji mereka padaku.

      "Well...setidaknya mama sudah susah-susah masak untuk aku,iya kan ma..." Aku menggumam pada diri sendiri lalu pergi ke wastafel untuk cuci tangan dan kembali lagi ke meja makan menikmati makan siang,sendirian...

 

      Sepupuku,Martin,mengirin sms pagi-pagi sekali.Sebelum alarm membangunkan aku,sms Martin lah yg membuatku terbangun.

      "Vina masuk rumah sakit karena over dosis obat tidur,jam 3 tadi baru ketahuan,sekarang keadaannya kritis."

      Aku masih setengah mengantuk,saat itu baru pukul 4 pagi,biasany aku bangun setengal lima.Dan sekarang setengah tujuh,aku duduk separuh melamun di ruang makan sambil sarapan.

      "Mbak Siwie kenapa..nasi gorengnya nggak enak ya?" Murni,pembantu dirumah kami yg baru berusia 16 tahun itu bertanya hati-hati.

      Dia baru 4 bulan bekerja,mestinya dia masih sekolah tapi karena sudah dua kali nggak naik kelas Murni lalu memilih keluar dari sekolah dan bekerja,waktu aku tanya kenapa dia bilang..

      "Kasihan bapak,susah cari uang untuk makan,saya ini bodoh mbak..sekolah cuma buang-buang duit bapak saja,lebih baik kalau saya kerja,kan bisa kasih duit buat nolong bapak."

      Aku tersenyum tipis pada Murni yg masih berdiri didepanku.

      "Enggak kok,Mur,masakanmu enak." Ujarku pelan,anak itu memang pintar masak,meskipun otaknya memang benar tidak terlalu pintar.

      "Mbak Siwie mau bawa burger untuk makan siang di kampus nanti?" Tanya Murni.

      "Boleh deh,kamu bikin aja nanti aku bawa."Aku menjawab pelan.

      Murni segera pergi ke dapur,dan 10 menit kemudian dia sudah kembali dengan membawa burger dalam bungkusan kertas yg terlipat rapi.lalu dia berikan padaku dengan sikap yg sangat santun tapi aku kurang begitu memperhatikannya karena otakku sibuk dipenuhi hal-hal lain.

      "Kenapa sekarang kamu berubah,Vin?"

      "Enggak ah,biasa aja."

      "Kamu malu ya jalan sama aku?"

      "Kok kamu ngomongnya gitu,dari dulu kan kita sudah jalan sama-sama."

      "Tapi dulu papa nggak dibilang koruptor!"

      Vina diam,dan aku terus memperhatikan sikapnya jadi gelisah.

      "Kamu tetap teman baikku kan,Vin? Kita tetap sahabatan kan?"

      "Ya iyalah Wie,aku tetap sahabatmu kok..jangan kuatir deh."

      Tapi aku melihat sinar aneh dimata Vina.

      "Syukurlah,karena sekarang cuma kamu satu-satunya temanku,Vin,semua teman lain nggak ada lagi yg mau dekat sama aku."

      Vina tersenyum,tapi senyumnya juga aneh.

      Setelah itu Vina juga bertingkah aneh,selalu menghindari aku,nggak mau ngangkat telpon dariku dan tiba-tiba juga nggak mau menyapaku lalu akhirnya menghilang dari sisiku.

      "Ya Allah..." Aku separuh ingin menangis,dulu aku tidak menangis ketika semua orang pergi termasuk juga Vina,tapi sekarang aku sedih,tanpa tahu apa yg aku sedihkan.

      "Haruskah aku datang kesana..tapi untuk apa juga aku kesana?" Aku berkata-kata sendiri.

      Aku jadi sedikit menyalahkan Martin,kenapa juga dia ngasih kabar itu sama aku? Bukankah lebih baik kalau aku nggak tahu sama sekali? Seperti selama ini aku nggak mau tahu lagi apapun tentang Vina.Ketika aku dengar dia konon hamil,tapi pacarnya nggak mau tanggung jawab,lalu dia diusir orang tuanya dan sekarang dia mau bunuh diri.Entah bagaimana keadaannya sekarang,masihkah aku bisa mengeraskan hati? Pertentangan batin inilah yg menyedihkan aku,air mataku mulai menetes dan akupun menangis,menelungkup dimeja.Tangisku makin kuat,lalu aku menjerit semampuku hingga mendekati histeris.Dan aku mendengar suara-suara langkah kaki berlarian datang,lalu suara mama berteriak memanggil namaku sebelum kemudian sampai di ruang makan diikuti papa.

      "Wie!"

      Aku menjerit lagi diantara tangisku yg masih menjadi,aku mengamuk dan melempar semua benda yg berada didekatku.

      "Wie,kamu kenapa....Ya Allah...." Mama memeluk aku erat-erat,suara beliau terdengar gemetar,papa ikut memegangi aku dan berusaha menenangkan,aku memeluk mereka seerat mungkin,mencari rasa aman dan kedamaian.

      "Wie..." Mama membelai kepalaku,nada suaranya bercampur antara rasa cemas dan prihatin.

      Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

 

 

      (Bersambung)

  • view 154