Mimpi Adalah Modal Awal Merubah Diri

Unggul Tri
Karya Unggul Tri Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Mimpi Adalah Modal Awal Merubah Diri

Benar adanya pepatah berpetuah “darah muda darah yang bergelora”, dan sederet ribuan karya sastra yang menuliskan semangat muda yang tak ada habisnya bahkan negara yang kupijaki ini pun tak lepas dari perjuangan para pemuda di jaman itu yang mengatas namakan mereka “Bangsa Indonesia”. dengan gagah berani berkiprah di dalam era proklamasi hingga kini tertoreh sudah terpampang tinggi nama negara yang diperjuangkanya.. ialah INDONESIA. Masa silih berganti, tibalah masaku kini sebagai penentu baik diriku sendiri juga sekitarku, iya.... Indonesiaku tentunya.

Panggil saja aku unggul, aku bocah berkacamata lugu dan sekaligus liar ketika menginjakkan kaki di tanah rantau kota kudus ini. Keluguanku justru memacu keliaranku yang sejak dulu tak pernah sama sekali sisi itu terbangun pada diriku. Aneh bahkan justru aku merasa luar biasa. Kebuasanku akan rasa ingin tahu, mengeksplor seluruh wawasan yang kulakukan dengan perantara dialog demi dialog dengan orang disekitarku, membuat aku semakin takjub dengan keindahan estetika karakter manusia, budaya, serta sosial ekonomi wilayah yang bercampur menjadi satu bernama peradaban manusia. Karakter tak hanya berpengaruh genetis, hasil persilangan dua individu yang melahirkan karya sastra terindah yaitu manusia, dan dengan berbagai cara berfikirnya serta bertingkahlaku, sungguh luar biasa.

Iya...., benar sekali, inilah sisi keanehan dalam diriku dalam mengamati sekitarku, aku begitu tertarik dengan dunia sosial yang padahal dulunya bisa dibilang aku orang pendiam dan penyendiri. Seolah alam menuntunku untuk berevolusi berubah dengan bangkitnya keliaranku akan rasa ingin tahu. Ribuan detik, beberapa bulan hingga tahun berjalan, yang membuatku berdiri diposisi ini, pencapaianku selama kurun dua tahun menempuh gelar sarjanaku, sebisa mungkin aku terlibat dalam berbagai acara kampus baik akademis maupun organisasi, hingga obrolan simple sampai begadang anak anak kosan di kedai warung kopi.

Sungguh luar biasa aku benar benar merasa hidup sepenuhnya hidup, terbebas dari kesendirianku dalam hening masa sekolah dulu. Kehidupanku berubah karena bermimpi dan berjuang gigih demi mimpi ini, aku ingin bisa mengarungi dunia memijakkan kakiku ke mancanegara bertemu berupa rupa manusia bercengkrama akrab dengan mereka, hingga canda dan tawa menghiasi setiap bait kata yang ada. Tibalah momen terindah dalam hidupku, yaitu hadirnya sosok idola yang akan menjadi panutan kemana kaki ini melangkah, dunia ini memang sempit sosok itu tak lebih dari saudaraku sendiri, saudara jauh yang mungkin jika takdir tak mempertemukan aku bahkan tak kenal siapa dia. Kita dipertemukan saat pernikahan putra pertama pakde ku yang bertempat di bogor, semua keluarga berkumpul dan dimomen inilah perkenalan itu terjadi. Keliaranku sudah terasah dalam bicara untuk meng’approach’ orang yang pertama kukenali, dia omku, suami dari tanteku garis anak dari adik nenekku. Obrolan pertama memang terkesan biasa saja, hingga waktu berlalu cerita demi cerita dari saudara terdengar di telingaku bahwa dia S2 di luar negri dan bekerja diluar negri selama beberapa tahun. Pengalamanya sangat luar biasa, semua yang kudengar berefek menigkatkan kadar keliaranku dalam berlari mengejar mimpiku. Keren sekali aku ingin bisa seperti dia ‘cletuk ucapku dalam lubuk hati’.

Tak lama setelah itu entah kenapa mimpi ini begitu menyiksaku terdengar kabar beberapa teman se smpku dulu mendapatkan beasiswa ke luar negri, 2 orang ke yaman dalam menuntut gelar sarjananya dan satu orang mendapat student exchange ke thailad dan singapore dan satu orang lagi yang sudah tur keliling asean bertualang ala backpacker. Perasaaanku sungguh terkoyak koyak antara harapanku dan mimipiku berbaur menggempur perasaanku yang bersuara “aku ingin seperti mereka”. Dengan segala kegagalanku yang begitu menampar diriku, dimulai dari orang tua yang menentang mimpiku dulu masuk di kuliah kedokteran, gagal masuk PTN hingga penguasaan bahasaku yang pas pasan karena aku pendiam jarang bicara. Dan kini aku duduk di universitas swasta di kota kecil ini, kota kudus... Sedangkan mereka berdiri ditempat kampus yang luar biasa di kota maju yang menyediakan wadah organisasi yang bertaraf nasional hingga internasional dengan mudahnya mereka mendapat fasilitas itu. Dalam keterpurukan kegagalku keliaranku pun bangkit, dengan modal mantap percaya nasihat ibuku : “dimanapun tempat kamu berada tidak ada masalah jika kamu bisa berprestasi disitu, prestasi adalah magnet rejeki dan doa adalah perantara ridho dan restu dari pemilik rejeki itu, ada ALLAH dik, jangan menyerah mintalah padaNYA dia adalah dzat yang paling mulia pengabul segala pinta dan doa”. Kata itu terus terngiang dalam fikirku, air mata pun tak sadar meleh di pipiku saat ingat kata kata ibu. Hingga kesempatan menghampiriku melangkahkan kaki pertama dalam rancah asean, Asean University Youth Summit, acara puncak konferensi kepemudaan di tingkat asean, dalam tema asean youth network through volunteerism, sebagai salah satu delegasi perwakilan dari kampus, aku di kirim ke malaysia, berkesempatan berkeliling malaysia dan mengunjungi thailand dengan memanfaatkan sela sela sehari setelah acara AUYS usai yang menjadi kali pertamaku melihat dunia yang luas ini, bertemu dengan orang orang asing, bercengkrama dalam canda dan tawa seolah aku melihat diriku sendiri dalam mimpiku yang selama ini terbayang disetiap lamunanku, Masya Allah indah sekali ya Allah... trimakasih...

Aku begitu bersyukur bahwa Allah telah memeluk mimpi mimpiku dan menghadiahkan kesempatan ini setelah kegagalan kegagalan yang dulu kualami, mungkin ini terlihat biasa saja bagi sebagian orang yang kaya raya bebas berkeliling dunia dan mengalami kesuksesan berkilau yang sering mereka alami, namun bagi pemuda kampung sepertiku yang terlahir di kluarga sederhana, sangatlah luar biasa mendapatkan kesempatan seperti ini, merangkak dari nol dari diriku yang bukan siapa siapa hingga aku menggapai keberhasilan hidupku yang pertama. Tentu saja ini hanya awal mula perjalananku, aku tidak akan berhenti saja sampai di sini, aku ingin maju dan maju lagi hingga mimpiku terbeli.

Wahai teman-temanku sahabatku serta orang yang disekelilingku yang membaca catatan hidupku ini, aku harap kalian jangan pernah takut untuk bermimpi, berjuang demi apapun yang kalian cita citakan, kejarlah.. dan berdoalah.. karena Allah akan selalu memeluk mimpi mimpi kita, dan ridhonya lah yang akan menghadirkan kesempatan luar biasa dalam hidup yang singkat ini. Berdirilah di masa depan yang kalian ingini, jangan pernah menyerah.

Salam hangat dari saya unggul, saudara, sahabat, teman, maupun hanya sebatas kenalan kalian. Salam sang pemimpi !, We Are The Dream Catcher and Dream Fighter !.

Muhammad Unggul Tri Budiharjo, ketua Bem Fakultas pertanian angkatan 2015/2016. Universitas Muria Kudus.

 

  • view 370

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    inspiring. keep wild
    *setidaknya ada 6 kata 'liar' di tulisan ini.


    setelah membaca kisah ini saya teringat dua hal.
    pertama, perkataan Arai (dalam novel Andrea Hirata): "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu'.
    kedua, judul buku Anthony Robbins: Awaken the Giant Within.