Beratnya Melepaskan

Ummi Narazi
Karya Ummi Narazi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Februari 2016
Beratnya Melepaskan

Suara adzan subuh itu menyadarkannya. Ah, ia terlalu dalam masuk dalam lamunan. Masih terduduk di atas sajadah, perlahan ia hapus air mata nya. Ia ingin menyudahi semua kegelisahannya, tapi ia tak punya daya untuk bangkit. Terdengar bibir nya melafadzkan kalimat istighfar, berkali-kali. Tertatih ia berdiri, lalu kemudian mengumpulkan semua kekhusyu`annya untuk menjalankan dua rakaat sebelum subuh nya, dan dua rakaat subuhnya. Shalatnya masih belum bisa meredakan gelisahnya.

Akhirnya, ia mencoba mengalah pada rasa yang berhasil meruntuhkan semua kekuatannya. Ia coba memutar kembali semua yang menjadi awal kegelisahannya. Bukan, bukan karena ia tak rela kehilangan sosok yang begitu mencintainya, tapi ia begitu berat jika masa lalu itu harus memutuskan hubungan baik yang baru bisa terjalin kembali setelah bertahun-tahun terputus. Bukankah bisa menjadi teman? Saudara? Adik?

Baginya, `dia` adalah teman diskusi yang seimbang, pendengar yang baik, motivator ulung, dan... kini sepertinya ia akan benar-benar keilangan sosok itu. Air mata nya mengalir lagi, teringat semua penerimaan yang begitu menyakitkan baginya, teringat bagaimana berkali-kali ia diabaikan, sms yang tidak dibalas, panggilan yang tidak dijawab. Dan ia sungguh tidak terbiasa dengan semua itu.

Apa yang salah??? `Dia` yang memilih untuk menjauhi??? Atau dirinya yang tak bisa rela melepaskan dan kehilangan??? Bibirnya beristighfar lagi, "Ya Robbana, ampuni, ampuni.." Semua rasa sudah campur aduk dalam hatinya,

Baiklah, kali ini ia gagal bangkit lagi, ia gagal mengalahkan semua kegelisahan dan ketidak relaannya. Mungkin besok, atau lusa, ia bisa. Bukankah waktu adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan semua luka? Dan ia mencoba meyakini itu.

Perlahan ia berdiri, melipat mukena dan sajadah yang sejak sepertiga malam tadi menemaninya. Pikiran nya kembali melayang-layang, teringat begitu berat saat ini hari-hari yang harus `dia` jalani, namun tak mau lagi beban itu `dia` bagi dengannya. Ah, ya.. bukankah ada Allah, biar kutitip dalam doa saja. Bukankah memang Allah sebaik-baik tempat mengadu. Bukan aku, sang makhluk bumi yang bergelimang dosa. Haruskah ia mulai melepaskan nya? ?

?

  • view 159