Dendang Elegi Separuh Asa

Dendang Elegi Separuh Asa

Genta Kalbu
Karya Genta Kalbu Kategori Project
dipublikasikan 05 Januari 2018
SANG MANTAN, BERAGAM CERITA TENTANG MASA LALU

SANG MANTAN, BERAGAM CERITA TENTANG MASA LALU


"Ah mantan, mengapa kisah tentangmu selalu saja tak terhapuskan, meski amat menyakitkan? Mungkin Tuhan ingin mengajariku agar mau berbesar hati untuk mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kehadiranmu dulu, ke dalam hidupku." Antologi kisah tentang dia, sang mantan.

Kategori Cerita Pendek

65 Hak Cipta Terlindungi
Dendang Elegi Separuh Asa

Wahai lelakiku, tahukah kamu?

Sekilas wajahmu yang tampak tenang tertidur di sisiku, kembali mengundang samar rasa perih di hati. Entahlah, rasa muak dan benci yang terus saja tumbuh di hati, sejak beberapa waktu ini mulai kerap menggangguku. Padahal, wajah teduh inilah yang dulu, dulu sekali, selalu kurindukan.

Ya, dulu ... ini semua tentangmu. Sebentuk harap yang membuncah deras di hati setiap kali matamu yang tajam bersirobok pandang denganku, dan selalu saja meraja, berhasil membuat hatiku berloncatan tak menentu. Ya, selalu begitu di setiap kali kita bertemu. Menyukaimu diam-diam kala itu, menjadi torehan pedih luka nan indah. Sebentuk keindahan luka yang senantiasa kunantikan.

Dan ketika akhirnya, Tuhan menuliskan guratan garis takdirku untuk menerima balasan cinta darimu, saat itulah benar-benar kurasakan kebahagiaan yang mendalam. Saat itulah di mana bait-bait untaian doaku padaNya yang selalu dipenuhi oleh namamu di dalamnya, akhirnya terjawab. Di saat itu, tak ada lagi yang kuinginkan dalam hidup, selain untuk dapat bersanding selamanya denganmu. Berdua mengarungi samudra kehidupan dalam biduk cinta abadi, setia selamanya sampai maut memisahkan.

Tak pernah sedikit pun terbersit di pikiranku kala itu, bahwa karena satu dan lain hal, hubungan yang mulai terjalin manis bisa saja tak berumur panjang. Hatiku selalu menepis bayangan buruk ini jauh-jauh dari benak dan pikiran. "Tidak, kita tak kan pernah terpisahkan. Cinta kita sebegitu kuatnya, hingga beragam aral yang menghalangi niat baik ini, pasti bisa kita taklukkan," begitulah hatiku selalu mantap berujar, kala itu. Sehingga, membayangkan bahwa akhirnya kita tak lagi bersatu, adalah sebuah mimpi terburuk yang selalu kuupayakan untuk kuhindari, selalu kuupayakan untuk tidak pernah terjadi.

Namun, itu dulu ....

Wahai cinta

Inikah kamu ...?


Saat semua yang indah merona

Mewarnai segala awal tentangmu

Menginginkan, mendapatkan
Rasanya ingin selamanya dalam dekapan

Dan ketika segala mimpi tentangmu
Akhirnya terlampaui satu-satu
Dan menjadi padu dalam ikatan temu

Mengapa segala asa tentangmu
Justru perlahan sirna, jadi semu?
Menumbuhkan luka, menyisakan sendu
Wahai cinta, kemana pergimu?

 

Kini, malam-malamku mulai diganggu gelisah. Dalam tanya yang tak pernah mendapatkan jawab, kegundahanku mengembara mencari pembenaran dalam versiku sendiri. Dulu, kenapa semua ikatan bisa nampak begitu indah? Begitu ... bernilai selamanya? Dan mengapa kini, keinginan melepaskan ikatan ini bisa sebegitu dahsyatnya? Bahkan keteduhan wajah dengan sorot mata tajam yang dulu begitu kuidolakan, kini rasanya hambar, dan justru kerap memicu kobaran muak di hati berkepanjangan. Bahkan bila dulu segala hal buruk tentangmu yang terpampang jelas di hadapan mampu kuterima dengan lapang, semua sifat yang tak kusukai darimu dapat kumaklumi tanpa syarat, namun kini, perbedaan pendapat sekecil butiran pasir pun mampu membuatku meledak dalam emosi yang panas terbakar. Ke mana perginya nalar, ke mana perginya akal sehatku kini?

Bahkan, wajah polos dan tatap sendu buah hati di pelukan pun tampaknya tak lagi mampu meredam amarah tak tersampaikan yang bergemuruh tanpa gema di dalam sini. Kebaikanmu tak lagi cukup untuk dapat melumerkan hatiku yang kini dingin dan membeku.

Wahai cinta, sebegitu cepatnya engkau memudar dan pergi. Entahlah .... Ini salah siapa?

Salahmukah, salah kita, atau .... Salahku?

Keegoisanmukah yang membuat semua ini terjadi, keegoisan kitakah, atau .... Keegoisanku?

Dan helaan napas tanpa daya ini menyatakan kepastian dalam bimbang yang terasa entah ....

Teruntuk lelaki yang kini telah bersiap diri untuk menjadi mantan suamiku, di mana pun hatimu kini bersinggah. Sampai detik ini, aku, dan mungkin kita berdua, sama-sama belum mau mengakui siapa yang mengawali tercetusnya keputusan untuk mengakhiri semua hubungan suci ini. Kuakui, keegoisan diri membuatku tak mau disalahkan atas semua ini, begitu pun sebaliknya denganmu. Dan di saat kita berdua kini menantikan identitas baru terikrar dan pada akhirnya dilegalkan, kubiarkan hati ini bergumul dengan perasaan bersalah dan juga pembenaran yang liar berlarian di kepala. Dan di antara kebimbangan yang kurasakan, nalarku yang terketuk nurani kini mulai beralih padaNya, merintih, menitipkan duka, dan juga mengais asa yang mungkin masih ada. Di antara sisa-sisa harap yang kuyakin masih disediakan Tuhan untuk kehidupanku selanjutnya tanpamu, wahai lelaki yang bersiap menjadi mantan suamiku, kuberharap semoga kau pun meletakkan semua kepedihan yang sama di tanganNya.

Dan kini, teruntukmu, wahai lelaki yang dulu pernah mengisi relung jiwa dengan cinta suci penuh asa di kehidupan masa laluku, hanya untaian doa dan harapan yang dapat kusampaikan. Semoga saja kehidupan masa depanmu kan jauh lebih indah tanpaku. Sebesar itu pulalah asaku akan kehidupan masa depanku yang jauh lebih indah, meski tanpamu. Dan inilah dendang elegi berisi bait-bait separuh asa dariku untukmu, wahai lelakiku, wahai calon mantan suamiku.

  • view 64