SAJADAH CINTA

Genta Kalbu
Karya Genta Kalbu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Januari 2018
SAJADAH CINTA

Menginginkanmu,

Bagaikan tidak ada lagi hal lain di dunia ini yang ku inginkan

Mendambamu,

Mengalihkan pandangku dari beragam warna-warni keindahan dunia di hadapan

Mengharapkanmu,

Hatiku tak lagi inginkan yang lain, tak lagi ada ....

Namun mengapa saat ku akhirnya harus menerimamu,

Mengapa logika yang tadinya bak hilang lenyap tak terlihat

Justru kini mengarahkanku untuk mengulang, membuat pertimbangan tuk memperhitungkanmu?

 

Perkenalan kita, telah dimulai sejak aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingkat tinggi di kampus ini. Ya, sosok gagah dengan senyum bijak yang selalu meghiasi bibirmu, sering kali melintas di hadapan. Bagaimana tidak? Kau adalah salah satu dosen yang bertugas menyampaikan materi perkuliahan di kelasku sejak awal semester.

Pertemuan demi pertemuan yang terjadi selang beberapa waktu kemudian, kurasa tidak ada yang istimewa. Beberapa semester kau mengampu mata kuliah di kelasku, hubungan yang terjalin adalah bentuk ikatan normal antara pengajar dan mahasiswa. Tidak kurang, tidak lebih.

Namun semua mulai berubah, justru di saat aku akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikanku. Saat itu kampus memintaku untuk bersedia mengabdi sebagai tenaga magang di laboratorium komputer, salah satu tempat belajar favoritku saat kuliah dulu. Sebagai mahasiswa jurusan Informatika Komputer, tentunya laboratorium komputer adalah sebuah sarang yang amat nyaman bagiku dan juga rekan-rekan sejurusan. Baik sebagai tempat berkumpul dan belajar bersama, juga sebagai tempat ngerumpi ala mahasiswa komputer yang pastilah berbeda jenis pergaulannya dengan anak-anak sosial. Komunikasi gaya batu, begitu beberapa mahasiswa jurusan lain melabeli kelompok kami. Mereka menyebut kami sebagai orang-orang aneh, yang lebih lancar ngobrol dengan benda mati daripada dengan mereka, para mahkluk hidup.

Aku sangat antusias menerima tawaran magang itu. Dan tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung bisa menikmati aktivitas baruku sebagai karyawan magang di kampus. Suasana yang hangat, juga lingkungan kerja yang sesuai dengan bidang yang kuminati membuatku benar-benar bisa beradaptasi dengan mudah di sini. Dan di saat itulah, kau mulai memasuki bagian berbeda dalam kehidupanku.

Semua dimulai dari kartu nama karyawan yang tertukar. Ya, saat itu genap satu bulan aku bekerja. Sebagai penunjang aktivitas setiap karyawan di kampus, bagian HRD secara berkala membuatkan kartu nama yang harus kami pakai sepanjang waktu aktif kantor. Dan hari itu, seorang staff HRD mendatangi ruang kerjaku dan memberikan sebuah kotak kecil berbungkus kertas sampul coklat yang di dalamnya berisi kartu namaku.

“Terima kasih Mbak,” hanya itu kata-kata yang kuucapkan pada Mbak Yanti, staff HRD kampusku yang masih tampak cantik meski berada di usia kepala empat. Wanita berambut pendek itu langsung membalas sapaanku dengan senyum kecilnya yang khas, kemudian bergegas pergi melanjutkan tugas membagikan kartu ke karyawan lainnya. Selepas itu, aku kembali fokus ke pekerjaan, dan tak lagi peduli dengan kotak sampul coklat berisi kartu namaku yang kubiarkan tergeletak di meja kerja.

Beberapa saat kemudian aku terkesiap kaget. Saat itu kulihat wajahmu menyembul secara tiba-tiba di balik pintu.

“Kaget yaa Mbak Um?” sapamu disertai senyum menggoda. Ah, aku pasti terlihat lucu saat terkejut tadi.

“Pak Amir, duh ngagetin aja sih Pak,” sahutku sambil pura-pura cemberut tak suka. Dan kau langsung menyambut sungutanku dengan tawa renyahmu yang lepas.

“Maafin deh yaa, nggak maksud begitu tadi. Maaf yaa adik manis.”

Ah, kamu. Rasanya aneh mendengarmu memanggilku dengan sebutan “adik manis”. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelusup hangat ke dalam hati. Tiba-tiba saja rasa panas menjalari wajahku. Kubayangkan warna pipiku pasti bersemu merah.

“Ada yang bisa saya bantu Pak?” akhirnya kucoba menetralisir kondisi dengan menanyakan maksud kedatanganmu.

“Mbak Um, sudah buka name card-nya?” tanyamu ramah namun penuh selidik. Namun sebelum aku sempat memberikan jawaban, pandangan matamu langsung tertumpu pada kotak sampul coklat yang tergeletak di atas meja kerjaku dan masih utuh terbungkus. Dan tawa renyahmu pun mulai terdengar.

“Ibu, perkenalkan, nama saya Umi Salsabila. Senang berkenalan dengan Anda,” ucapmu ramah sambil menjabat tanganku. Aku sempat terbengong-bengong sesaat atas perkenalan yang kau sampaikan, sebelum akhirnya aku menyadari bahwa di bagian depan saku kemejamu tersemat kartu nama karyawan dengan tulisan namaku di sana.

“Wah, tertukar yaa Pak? Aduh mohon maaf, saya tidak tahu,” sahutku segera sambil tersenyum malu.

“Tidak apa-apa kok Mbak Amir Yahya, ini kan bukan salah Anda,” ujarmu pelan sambil tertawa kecil. Dan aku makin tidak dapat menyembunyikan rasa malu yang kuyakin sangat terlihat di wajahku.

Ya, sejak kasus name card yang tertukar itu, komunikasi yang terjalin di antara kita jadi makin intens. Hubungan antara dosen dan (mantan) mahasiswa yang memiliki batasan meski tak terlihat, pelan-pelan mulai pudar, berganti dengan ikatan persahabatan yang tak pandang batasan usia dan jabatan. Tidak ada lagi rasa kikuk yang menyerangku bila kita bertemu. Obrolan yang tercipta selalu mengalir hangat diselingi gurau canda yang tak pernah terpikir bisa kulakukan bersamamu.

Kamu, dosen bahasa Inggrisku, adalah seorang laki-laki single yang matang di pertengahan usia tiga puluhan dengan tampilan bersahaja di setiap waktu. Tipe yang sangat khas sebagai seorang pengajar dan pendidik. Meski tak terlalu tampan, tapi kau memiliki postur tubuh yang tinggi dan gagah. Rasanya pasti amat nyaman dan aman bila berada di dekatmu. Selain itu, bentuk wajahmu yang selalu dihiasi senyum, amat menyenangkan bila dipandang. Tutur bahasamu yang santun selalu kau selingi dengan sikap ramah yang mampu menarik hati setiap lawan bicaramu. Dalam waktu singkat, sifatmu ini akhirnya mampu meluluhkan hatiku. Beberapa waktu berselang, kau terus hadir mengisi hari-hariku, juga secuil tempat kosong di hatiku tanpa mampu kucegah. Bahkan aku tak lagi begitu peduli dengan perbedaan usia yang terpaut jauh di antara kita. Aku sudah tak lagi memikirkan tentang dirimu yang lebih tua sebelas tahun dariku. Cinta, membuatku bisa menerima segala perbedaan yang ada. 

Dan, selang dua tahun kemudian, akhirnya pengharapan sepihakku padamu berbuah jawab. Ternyata kau juga memiliki keberpihakan yang sama denganku, juga dengan hatiku. Rasanya bahagia sekali saat gayung bersambut. Cintaku ternyata tak bertepuk sebelah tangan.

Tak butuh waktu lama bagimu untuk langsung menunjukkan bukti kesungguhan cintamu. Tak lama berselang setelah kau menyatakan perasaanmu, niat baik pun kau sampaikan kepada keluargaku. Ya, lamaran itu pun akhirnya datang. Melihat keseriusanmu, orang tuaku akhirnya menyambut baik uluran tangan pihak keluargamu untuk menjalin silaturahim lebih erat dalam ikatan janji suci.

Rasanya semua berjalan baik-baik saja. Segala persiapan telah dilakukan. Pernikahan kita tinggal menunggu waktu. Siapa sangka, ternyata di masa-masa penantian ini, ada banyak tantangan yang menanti untuk disikapi secara bijak oleh kita berdua. Masalah dimulai saat pembicaraan tentang mahar yang akan kau berikan padaku menjadi sedikit serius diselingi dengan ketegangan yang seharusnya tak perlu terjadi.

“Kenapa sajadah Bang?” Kucoba bicara dengan perlahan agar emosiku tetap bisa kukontrol. Namun entah mengapa, suaraku justru terdengar seperti sebuah gerutuan daripada pertanyaan.

“Apa yang salah dengan itu Dik?” ujarmu lembut.

Aku mendengus pelan. Rasa kecewa masih membayang di mataku. “Ah, aku tak harus menjelaskan ini kan Bang?” rutukku dalam hati. Dan rasa kesal makin membayangiku saat kulihat wajahmu terus saja mengumbar senyum kecil ke arahku. “Kau benar-benar tidak peka Bang!” jerit batinku. Sebagai wanita normal, aku sudah dapat banyak informasi dan gambaran dari lingkunganku, bahwa mahar seharusnya merupakan sebuah simbol penghormatan pihak pengantin lelaki kepada calon mempelainya. Penghormatan. Penghargaan terhadap nilai diri dari calon pasangan hidupnya dengan harga yang semestinya jauh lebih pantas dari pada .... Ah, kenapa rasanya sakit sekali membayangkan betapa calon suamiku tak mengerti apa yang kuinginkan.

Tiba-tiba, kulihat kau berdiri mendekat, lalu duduk di sampingku. Matamu lembut memandang ke arahku. Lembut, namun terasa tajam menusuk. Menghujam dalam ke titik terdalam dari sanubari pikirku. Entah mengapa, saat itu hatiku merasa bersalah.

“Dik, aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan maafkan aku, jika harapanmu ternyata tak sebanding dengan kemampuanku untuk bisa membahagiakanmu dengan kebahagiaan sesuai versimu.”

Mendengar ucapanmu, sejurus aku terpaku. Mulutku ingin bicara, namun lidahku terasa kelu.

“Aku paham Dik, kau pasti berharap aku bisa menghujanimu dengan kesenangan hidup di awal langkah perjalanan kita ini, sebagai ganti dari kebebasanmu yang kuambil dan mengubahnya menjadi kehidupan penuh ikatan dengan batasan yang erat. Sekali lagi maafkan aku yang tak bisa memenuhi inginmu saat ini. Mohon maafkan keterbatasanku. Demi Allah, ini semua adalah salahku bila kau melihatnya sebagai sebuah kesalahan.”

Kulihat matamu mulai berkaca-kaca. Bibirmu bergetar, menahan emosi yang meluap dari dasar hatimu. Dan sejurus kemudian, aku pun sudah tak mampu lagi membendung linangan kepedihan yang mulai menitik satu-satu di pipiku. Kepedihan yang timbul akibat rasa malu dan bersalah akibat kesadaran yang sempat kurasakan menghilang pergi dari nalarku saat kudengar kelanjutan dari ucapanmu yang bermakna dalam.

“Dik, peganglah janjiku. Pegang kata-kataku ini. Sebagai suamimu kelak, aku berjanji, demi Allah, aku akan berikan kebahagiaan hidup bagimu sesuai keridhoan Allah Ta’ala. Sebab, aku mencintaimu karena Dia, dan aku berharap bahwa ikatan ini akan bernilai tak hanya di dunia, tapi juga hingga ke syurga.  Sajadah ini mungkin tak memiliki nilai materi tinggi bila dibandingkan dengan perhiasan emas permata. Namun percayalah, di dalam sajadah ini, kutanamkan rasa cintaku yang dalam kepadamu. Sebentuk niat suci yang kuharapkan tetap ada hingga waktu tiada lagi. Sebuah bukti cinta antara kau dan aku, yang sama-sama tertuju untuk setiap saat selalu mengharapkan ridho-Nya.”

Saat itu, luruh sudah segala ego dan kesombonganku. Hilang sudah segala keinginan atas penghargaan duniawi yang sebelumnya mengungkung egoku. Seketika ku ambil sajadah warna biru tua yang sebelumnya terabaikan, kubiarkan teronggok di sudut ruangan. Dan dengan suara bergetar penuh haru, kuhamburkan segenap penyesalan dan permohonan maafku padamu melalui sebaris kata yang kuyakin kau pahami secara mendalam maknanya.

“Abang, tiada lagi yang kuinginkan di dunia ini, selain keridhoanmu, juga keridhoan-Nya. Dan dengan ini kuterima sajadah cinta ini dengan segenap hatiku, sepenuh raga dan jiwa. Kuikhlaskan diri tuk bersiap arungi hidup ini bersamamu, di dunia, hingga ke syurga.”

 

***

 "Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” 

‘Sebaik-baik wanita ialah yang paling mudah (ringan) maharnya.’

Al-hadits

  • view 124