GAGAL LAGI

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Oktober 2017
GAGAL LAGI


Hari ini, aku kembali merasa gagal. Sakit, saat sesuatu yang seharusnya bisa diraih dengan mudah, justru tak mampu didapatkan, padahal hal tersebut sudah ada di depan mata. Huh ...!

Abang driver ojek online yang tengah menungguku di depan gerbang sekolah, tampak resah. Beberapa kali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia pasti sedang mencari keberadaanku.

Sore ini langit memang terlihat kurang bersahabat. mendung. Gelap. Belum lagi angin yang terus berhembus, dari pelan, sampai kencang hingga membuatku gelagapan memegangi bagian belakang hijabku yang mulai bergerak-gerak liar. Bukan cuma ujung kerudungku saja, angin ini ternyata juga berhasil menerbangkan beragam benda ringan di sekitarku. Daun kering, debu jalanan, hingga sampah kertas dan plastik yang bertebaran tak luput jadi korbannya. Bahkan, kini cabang-cabang pohon pun turut bergoyang keras ditingkah tiupan sang bayu yang kurasakan makin kencang saja.

Pantaslah jika driver ojek itu makin resah menunggu aku datang. Cepat-cepat kudekati pria usia paruh baya itu.

"Lama banget sih Neng, dah mau hujan ini," aku langsung disergap pernyataan bernada keras darinya. Dan lelaki berseragam jaket hijau terang dengan logo perusahaan di bagian punggungnya itu pun segera menyalakan motornya.

"Iya Bang, maap yaa. Yuk jalan sekarang," tukasku cepat.

Dan benar saja. Gerimis. Sesaat setelah kami mulai berkendara, angin memang sudah sedikit mereda. Namun, bersamaan dengan itu, kurasakan titik-titik air mulai menetes satu-satu, membasahi kaca helm yang kupakai. Awalnya pelan, namun lama-kelamaan tetesannya makin kuat, dan langsung saja serentetan air yang tertumpah dari langit itu menyerang siapa saja yang tidak berlindung dan berteduh, dan tetap bertahan untuk terus berada di jalanan. Seperti kami.

"Yes!" seruku dalam hati. "Bisa main hujan-hujanaaan ... akhirnya, yeah!" girangnya hati tak dapat kututupi. Senyum lebar mengembang di wajahku yang tertutup kaca berkabut. Akhirnya. Setelah sekian lama harus mencari alasan untuk bisa bermain-main dengan guyuran air hujan tanpa gangguan, inilah saatnya. Untuk seorang pecinta hujan sepertiku, momen berharga seperti ini memang tak boleh dilewatkan.

Segera saja ku bersiap merentangkan kedua tanganku, berupaya mendramatisir keadaan supaya bisa merasakan sensasi yang dirasakan Rose di film Titanic itu. Namun tiba-tiba ....

"Lho Bang, kok minggir sih?" sungutku kesal saat motor yang kutumpangi tiba-tiba saja menepi ke sebuah halte. Sambil berpura-pura mengibas-ngibas lengan bajuku yang basah, kuturunkan kedua lenganku yang tadi sudah bersiap ambil posisi. Gagal sudah adegan romantisku dengan sang hujan.

"Lah, Neng. Hujan deres tuh. Berabe ntar kalo masup angin. Tunggu bentar dah ampe redaan dikit, saya gak bawa jas," jawab driver ojekku dengan santai.

Yah ... gagallah sudah. Tak mungkin lagi kupaksa si abang driver untuk melanjutkan perjalanan. Dengan hati kesal, kulepas helmku sembari mengambil posisi duduk agak menjauh. Tak lepas-lepas mataku memandangi rinai yang terus saja turun membasahi bumi. Deras, sederas kekecewaanku yang tak mampu menikmati tajamnya jarum-jarum dingin itu saat membelai kulitku penuh cinta.

Huh!

  • view 48