Kidung Senja Bakau Tua

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Puisi
dipublikasikan 10 Mei 2017
Kidung Senja Bakau Tua

Wahai ... semilir angin pantai senja

Kenapa? Kau tampak ragu tuk mendekat sedepa
Kemarilah, sini temaniku berbagi cerita
Seperti yang sudah sudah, seperti biasanya

Hai, bukankah sejak lama kau telah jadi teman setiaku
Sepanjang sore hingga akhir malam ini, duduk manislah di sisiku

Ah, tentu, aku tahu angin senja

Kau benar, kulit rentaku tak lagi kokoh menghadang cuaca
Sungguh, hawa sejukmu mampu membekukan sukma dan raga
Namun tetap saja, kesetiaanmu padaku mampu hangatkan jiwa, tepiskan hampa

Ya, baiklah teman setiaku
Aku pahami kekhawatiranmu
Kau cemas bukan, melihat tubuh tuaku
Yang kini terus saja menua dan layu

Maafkan aku kawan, sungguh maafkan

Kutahu tanyaku ini, membuat hatimu tak nyaman
Tapi tolong, tolonglah beri aku jawaban
Mengapa kau sebegitu khawatir padaku kawan?

Apa?
Kau takutkan perpisahan?

Duhai angin senja, kawanku nan setia
Maafkan senyum nakalku yang tak bisa kusembunyikan munculnya

Bukan, bukan kunyinyir atas jawabmu akan tanyaku
Bukan ...
Bukan pula ku tak percaya pada nilai luhur kesetiaanmu
Bukan ...

Duhai angin senja
Tahukah kau, bahwa sebenarnya hatiku merana
Kusadari masaku telah mencapai akhir perjalanannya
Tua, renta, bukankah ini sebuah pertanda
Berpisah denganmu, dengan kesyahduan tepian pantai dan pasir putihnya
Siapa pula yang kan rela

Tapi, pikirkanlah sahabatku
Bukankah kehidupan telah berjalan seperti ini, sejak dahulu?
Sunnatullah, semua berputar dalam poros Sang Maha Daya
Bisakah kita para ciptaan, lari dari kodrat dan takdirNya?

Kau masih ingat kan, akan ikrar janji kita
Bahwa segala ucapan, dzikir dan juga doa
Tiada lain, adalah bentuk penghambaan tertinggi kita
Kepada satu-satunya tujuan, yaitu Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Kuasa?

Jadi sahabatku, tak perlu kau cemaskan perpisahan
Jika saatnya tiba, tak kan bisa lari dari suratan

Masa tuaku, kutahu sebagai simbol pengingat diri
Bahwa untukku, telah tiba waktunya tuk berbenah dan introspeksi
Dan dengan penuh kerelaan hati Mengikhlaskan segalanya sampai tiba saatnya ku harus pergi

Tenang, tenanglah angin senja kawanku
Tidak, kau tak akan pernah kehilanganku
Ingatlah, ingat selalu satu pesanku

Wahai angin senja tercinta
Perpisahan bagiku, bukanlah sebuah akhir semata
Justru dengan tiba masanya kepergianku
Akhir perjalanan ini kan buka awal kehidupan baru

Lihatlah, lihat tunas-tunas hijau kecilku
Yaa ... benar, titik-titik daun mungil itu
Di antara batang lapukku yang rapuh, menua dan layu
Mereka muncul satu-satu, bersiap menjadi generasi penerusku

Nah, angin senjaku
Kini kau percaya kan dengan ucapanku?
Ya, benar ... setelah kepergianku
Sebenarnya, aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu ...

#30dwcjilid5 #akhir #day30 #puisi

  • view 140

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Umie selalu bisa menghibur dengan kata-katanya yang puitis, menyentuh dengan menyuarakan makna yang sendu nan dalam. Buat yang menyukai sajak indah dengan mengeksplorasi alam maka karya inspirator yang satu ini layak buat dinanti.

    Masih menggunakan bakau sebagai salah satu aktor utamanya, puisi ini mengisahkan percakapan bakau yang semakin menua dengan angin pantai. Dialog keduanya sungguh reflektif, yang bisa juga mewakili perjalanan hidup manusia. Jadi kita bisa menempatkan diri di posisi si bakau atau si angin lalu keduanya. Yang menarik dari kreasi Umie adalah dia acapkali konsisten membuat tulisan dengan tema alam, simbolis sekaligus mengajak merenung siapa pun yang membacanya.

  • Bayu Dewa
    Bayu Dewa
    3 bulan yang lalu.
    Wow ajarin mbak

    • Lihat 1 Respon