Dilema Hati (Bagian 2)

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2017
Dilema Hati (Bagian 2)


Mendengar jawaban Fahmi yang sangat di luar dugaan, aku hanya mampu terdiam. Tak dapat kututupi gurat wajahku yang menyiratkan kecewa. Dan aku kembali tergugu, hanyut dalam isakan.

"Via ... tunggu dulu, dengar dulu penjelasanku ...," Fahmi tersenyum tipis melihat responku. Dan aku justru makin merasa gundah dan mulai kesal akan sikapnya itu. "Ah, mas Fahmi, kamu malah membuatku makin bingung mas ...," rengekku sambil merengut. Namun melihat secercah senyum lelaki kesayangan ini, rasa pedih dan tangisku perlahan mulai sirna.

Melihat responku, senyum Fahmi berubah jadi tawa lebar, dan dengan gemas dan penuh cinta diacak-acaknya poni rambutku dengan jari tangannya. "Viaaaa ... aduh, sini-sini sayang, dengar penjelasan mas yaa ... jangan ngambek dulu cantik," seloroh Fahmi dalam tawa.

Meski hatiku masih sedikit kesal akan candaannya, ku anggukkan kepala perlahan tanda setuju sambil mencoba memaksakan sedikit senyum di bibirku.

"Nah Via, kamu sudah mulai tenang kan? Dengarkan sayang. Tolong jangan marah atau tersinggung atas saranku tadi. Memintamu menuruti kemauan Ayah untuk bertemu keluarga pak Sutadji, bukan berarti aku memintamu untuk melepasku. Bukan ...," suara Fahmi terdengar lirih, namun tetap penuh ketegasan. Rasanya teduh sekali mendengar suara orang terkasih ini.

"Aku mencintaimu Via. Kita saling mencintai," Fahmi melanjutkan kata-katanya. "Tapi Via, cinta kita adalah bentuk hasrat manusiawi semata. Nilai cinta kita ini, meski di mata kita berdua tampak amat besar, namun tentu masih sangat jauh bila dibandingkan dengan nilai luhur keridhoan Tuhan pada hambaNya. Dan kamu tahu kan Via, ridho Tuhan, terletak pada ridho orang tua kita. Orang tuamu, orang tuaku. Tanpa keridhoan mereka, hubungan kita tak kan memberi manfaat apa-apa, bahkan mungkin, di suatu masa nanti justru akan mengundang kehancuran ...."

Kudengar suara Fahmi bergetar, kata-kata yang disampaikannya pasti amat bermakna dalam baginya, yang kini juga terasa amat dalam mempengaruhi hatiku. Ya, kini aku bisa mulai memahami semua hal yang telah disampaikan Fahmi. Semua pandangan yang disampaikannya, kuakui benar adanya.

"Jadi, menurut mas, aku sebaiknya menuruti kemauan Ayah untuk bertemu dengan keluarga Pak Sutadji kan? Juga ... bertemu dengan anak lelaki mereka ...," pelan dan lirih, kucoba ulangi kata-kata nasehat dari Fahmi.

"Iya, benar Via," sahut Fahmi penuh keyakinan. "Via, jangan khawatir, Ayah hanya memintamu menemui keluarga ini. Berkenalan dengan anak lelakinya. Hanya itu. Pertemuan lusa bukan untuk mengikat tali pertunangan antara kalian berdua. Paling tidak, belum sampai ke tahapan itu. Harapan untuk kita masih terbuka lebar. Dengan menuruti kemauan Ayah yang satu ini, kamu sudah menjalankan tugasmu sebagai seorang anak yang baik, yaitu menuruti perintah orang tuamu Via ...."

Kutarik nafasku yang terasa berat. "Ya, demi baktiku pada Ayah, aku akan turuti pintamu mas," bisikku dalam hati.

"Lalu, tentang hubungan kita, apa yang akan terjadi mas?" kuutarakan tanya yang masih saja mengganggu pikiranku. Dengan seulas senyum, Fahmi menjawab penuh keyakinan, " ada Tuhan Via, mintalah dengan sungguh-sungguh padaNya. Jika kita ditakdirkan berjodoh, tidak akan ada satu halangan pun yang mampu memisahkan kita."

Kugenggam jemari tangan Fahmi dengan erat. Pandangan mata penuh cinta dari lelaki di hadapanku ini mampu menumbuhkan keyakinan baru di hatiku. Keyakinan akan kuasa dan kehendakNya yang tak berbatas.

***


Jam dinding di dapur menunjukkan waktu tepat pukul 09.00 pagi. Dari ruang tamu kulihat Ayah tergopoh-gopoh menghampiriku dan juga Ibu yang tengah sibuk menata kue di piring saji. "Ibu, Via, ayo siap-siap. Pak Sutadji dan keluarganya sudah tiba. Ayo-ayo, cepat."

Mendengar seruan Ayah, Ibu segera menggamit tanganku, mengajakku bergegas menuju ruang depan. Sebelum melangkah, Ibu masih sempat menatap mataku, menggenggam tanganku perlahan, dan memberikan seulas senyum kecil ke arahku. "Via, ayo nak. Inshaallah ini yang terbaik."

Aku hanya membalas senyum Ibu dengan anggukan kecil. Di antara kecamuk rasa gugup dan perasaan tak menentu di hati, kuikuti langkah Ibu ke ruang tamu. Di dalam hati, lidahku yang terasa kelu berbisik lirih, "Maafkan aku mas Fahmi ...."

Sesampaiku di ruang tamu, kulihat Ayah tengah menyalami tamu kami, sepasang suami istri yang berbalut pakaian batik dengan corak serasi. Ibu membimbingku mendekati Ayah dan memintaku untuk ikut menyalami mereka. Senyum ramah terkembang di bibir keduanya.

"Ini putri kami, Via. Sayyidah Sovia," Ayah memperkenalkan namaku kepada kedua tamu kami.

"Wah, nak Via cantik sekali yaa .... Persis seperti yang digambarkan putra kami. Senang bisa berkenalan denganmu nak." Aku hanya mampu tersenyum tipis mendengar pujian Pak Sutadji. Namun aku sedikit heran dengan ucapan tamu kami ini. Jadi, putranya telah mengenalku?

Sebelum habis keherananku, tiba-tiba dari arah teras masuklah seorang pemuda berpakaian batik yang senada dengan pakaian yang dikenakan keluarga Sutadji. Tubuh tegap itu kemudian berdiri di pintu depan, menghadap ke arahku, sambil bibirnya terus menyunggingkan senyuman ramah kepada kami. Seketika aku terkesiap.

"Mas Fahmi?" darahku berdesir kencang. Jadi ....

"Iya nak Via. Ini putra pertama kami, Fahmi Rahadhian."

Masih dalam keherananku atas apa yang terjadi, kulihat Ayah mengedipkan mata ke arahku sambil tersenyum lebar. Semua tatapan mata langsung mengarah padaku diiringi tawa hangat dan canda ceria. Begitu pun Fahmi, yang langsung menyalami dan mencium tangan Ayah dan Ibuku penuh takdzim, lalu mendekat ke arahku.

"Hai Via, boleh kan kita berkenalan?" dengan senyum menggoda, Fahmi menyodorkan tangannya untuk menyalamiku.

"Mas, kamu jahat ...," tanpa kusadari, sebaris kalimat ini lirih terucap dari mulutku. Tanpa mampu berkata-kata lagi, perlahan kuterima uluran tangan lelaki gagah di hadapanku ini. Kusalami ia dengan seulas senyum bahagia yang terkembang di bibirku. Tanpa terasa, setitik air jatuh dari sudut mataku. Dan aku tahu, ini bukan lagi air mata kesedihan.

(Tamat)

#30dwcjilid5 #cerbung #day28

 

  • view 55