Dilema Hati (Bag. 1)

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2017
Dilema Hati (Bag. 1)

Tangisku akhirnya pecah, memecah kebisuan yang tercipta di antara kami berdua sejak beberapa saat tadi. Melihatku yang mulai tak mampu menahan isak, Fahmi, pria terkasih yang sejak tadi hanya melayangkan pandangannya ke arah luar jendela, akhirnya menoleh ke arahku. Lengannya yang kekar segera mendekapku erat, berusaha menghibur dengan usapan jemarinya yang lembut di bahuku.

"Sudahlah Via, sudah. Menangis tak kan menyelesaikan masalah. Ini ujian sayang, pelajaran kesabaran untukmu, untuk kita," pelan Fahmi berbisik di telingaku. 

Mendengar suara Fahmi yang tampak tegar, tak ayal justru air mataku tambah deras mengalir.

"Aku tak mau kehilanganmu mas, sungguh tak mau ...." Kurasakan bahuku berguncang keras, seiring isak tangis yang makin tak dapat kukendalikan. Dalam rengkuhannya, Fahmi membiarkanku menuntaskan tangisku beserta kepedihan yang terbawa di dalamnya beberapa saat lamanya.  

"Via ...," Fahmi akhirnya memecah kebisuan, setelah beberapa saat akhirnya tangisku reda. "Mengertilah sayang, orang tuamu menginginkan yang terbaik untukmu. Mereka bukan berniat memisahkan kita. Hanya saja, mungkin, ayah ibumu belum yakin akan kesungguhanku. Aku tahu kau sedih Via, aku pun merasakan hal yang sama. Tapi, mengertilah sayangku, menangis tak kan menyelesaikan apa-apa ...."

Mendengar penjelasan Fahmi, aku hanya mampu tertunduk dalam. Sakit yang kurasakan di sudut hatiku masih ada. Dan sekuat mungkin kutahan air mata ini agar tak kembali jatuh. Tak tega rasanya membiarkannya resah dan kebingungan melihatku sejak tadi terus saja menangisi hal ini.

"Mas, maafkan aku. Maafkan kelemahanku. Semestinya aku mendukungmu, bersamamu mencari solusi dari masalah ini dan bukannya larut dalam keresahan, membiarkan diri terpuruk dalam ke tengah arus masalah yang makin membuat perasaanku jadi tak menentu," ujarku pelan, sambil berupaya agar suaraku terdengar tegar dan kuat. Kemudian perlahan, kutatap mata lelaki tercintaku ini. Kucoba mencari jawab dan juga kekuatan dari kedalaman matanya. 

"Aku kini berada di tengah persimpangan. Dan sungguh mas, ini adalah dilema yang teramat berat untukku. Aku dipaksa untuk memilih di antara dua pilihan berat, di antara dua orang yang teramat kucintai. Kau, atau Ayahku ...," kuhela nafasku yang kembali terasa sesak. Sekuat tenaga kutahan air mata yang kembali mulai mendesak di pelupuk. "Mas, kau adalah lelaki yang sangat bijaksana. Bantulah aku, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku putus asa.

Kulihat Fahmi tersenyum. Digamitnya jemari tanganku, digenggamnya erat. Aku tahu, lelaki terkasihku ini tengah berupaya memberi hatiku kekuatan.

"Via sayang, kita berada dalam dilema yang sama. Tapi tak ada masalah yang tak memiliki jalan keluar. Tuhan sedang mengujimu, mengujiku," ujar Fahmi dengan lembut. 

"Aku tahu mas," timpalku lirih, nyaris tak terdengar. "Lalu, apa yang harus kulakukan?"

Kulihat sepasang mata yang lembut namun tajam menatap tepat ke dalam mataku, juga ke dalam relung hatiku. Kemudian, dengan tegas, lelaki gagah di hadapanku ini segera memberi jawab atas tanyaku tadi, "Via, turutilah keinginan Ayah. Temuilah keluarga lelaki itu. Aku yakin, menyenangkan hati dan memenuhi keinginan baik dari orang tua adalah salah satu bentuk bakti seorang anak kepada ayah bundanya. Kamu pasti mengerti maksudku kan Via?"

Tiba-tiba saja jantungku berdesir keras. Mendengar jawaban itu, aku terdiam, terhenyak. Kali ini, hujan yang tertahan di pelupuk mataku tak lagi mampu kubendung jatuhnya. "Mas, kenapa begini akhirnya?"

 

(Bersambung)

#30dwcjilid5 #cerbung #day27

  • view 89