Sang Penikmat Hujan

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Mei 2017
Sang Penikmat Hujan

Hujan adalah sebuah bentuk keberkahan dan juga rahmat dari Sang Pencipta. Peristiwa alam ini diciptakan dan diturunkan sebagai salah satu sumber kehidupan bagi beragam makhluk yang tinggal menetap di bumi.

Firman Allah dalam Alquran beberapa kali menyebutkan kata hujan, yang mana dalam ayat suci tersebut dijelaskan bahwa hujan merupakan sumber rizki serta bentuk rahmat dan kasih sayang Allah pada hambaNya.

Dalam Surah Al baqarah ayat 22 dijelaskan bahwa Allah menjadikan hujan sebagai sumber rizki. Dalam ayat tersebut disebutkan, "Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan (dengan hujan itu) segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui."

Adapun dalam Surah Al A'raaf ayat 57, hujan digambarkan sebagai sebuah rahmat dari Allah dan juga pelajaran bagi umat manusia. Dalam ayat tersebut disebutkan, "Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmatNya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan (hujan) di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran."

Selain segala kebaikan dan hikmah dari hujan yang telah dijelaskan dalam Alquran, untukku, peristiwa alam yang satu ini juga merupakan salah satu momen yang paling kusukai. Hujan, sejak aku kecil dulu, sudah menjadi favoritku.

Saat kanak-kanak, setiap kali hujan turun, aku kerap kali tak melewatkan saat-saat menyenangkan kala jarum-jarum air yang jatuh dari langit itu menghujani kulitku. Bahkan sampai hari ini, di saat kedewasaan mengekang kebebasanku untuk tak lagi bisa menikmati hujan semudah dulu, aku masih bisa mengingat dengan jelas, kelembutan gerimis yang perlahan mengaliri pori-pori, hingga rasa pedih menusuk dari hujaman jarum-jarum bening yang mengucur deras, yang bisa membuat dahiku berkernyit menahan perih.

Ya, semua kenangan manis bersama hujan itu kini hanya menjadi temanku berangan-angan, sekadar momen indah yang bermain di ruang dunia hayal yang ada di pojok pikiranku. Hingga hari ini ....

Kesempatan langka yang tak pernah kupikirkan sebelumnya, datang secara tak terduga. Ya, hari ini akhirnya ku kembali berkesempatan untuk bermain dan bercanda dengan hujan, tanpa perlu diliputi rasa malu, atau merasa was-was atas pandangan aneh orang-orang di sekitarku. 

Ya, hari ini saat tengah berkendara dengan ojek online sepulang kerja, sang supir yang mengantarku pulang tak merasa keberatan untuk tetap melaju kencang di jalanan tanpa harus berhenti untuk  mengenakan jas hujan, padahal hujan lebat tiba-tiba mengguyur sepanjang perjalanan kami.

Bisa diduga kan, bagaimana senyumku terkembang lebar sepanjang kiloan meter perjalanan sore tadi. Akhirnya, setelah sekian lama, kerinduanku akan hujan terbayar juga. Sepanjang perjalanan, kutengadahkan mukaku ke langit, membiarkan kulit wajahku diterpa derasnya rinai hujan yang turun, sambil menikmati pemandangan indah di kanan kiriku yang tampak sedikit berkabut akibat lebatnya derai hujan yang mengguyur. 

Ya, rinduku akan melodi indah dari rintik hujan yang mengalun syahdu kini terobati. Dan sang penikmat hujan, senja tadi tersenyum puas, mendendang lagu riang seiring rinai yang mengiringi perjalanannya pulang.

_^)

  • view 79