Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 4 Mei 2017   20:26 WIB
Sepenggal Rahasia

Lakon kehidupan anak Adam nan fana

Pergulatan nasib yang tertulis sejak awal peradaban tercipta

Hasil guratan pena nan sempurna karya Sang Pencipta

 

Dengan rasa kesal yang menggunung segera kumasukkan laptop dan buku-buku yang bergeletakan di atas meja belajar ke dalam tas. Dengan sedikit terburu-buru ku langsung berlari cepat menuju teras depan. Sudah jam 10. Dan tak ada seorang pun yang ingat untuk membangunkanku. Padahal presentasi proposal judul skripsiku dijadwalkan pukul 8 pagi tadi.

Tidak juga dengan Mbok Irah. Jelas-jelas semalam sudah kuingatkan perempuan tua itu agar tidak lupa membangunkanku pagi-pagi sekali. "Ah, dasar pembantu pikun!" umpatku pelan.

Saat langkahku sampai di pintu depan, tergopoh-gopoh Mbok Irah berusaha menjajari langkahku.  "Den Tomo, ini susunya diminum dulu. Aden kan belum sarapan ..." ujarnya pelan sambil berusaha menahan sebelah tanganku.

"Duh, Mbok. Sudah telat ni! Sudah sana!" sambil tetap melanjutkan langkah, kudorong lengan kurus Mbok Irah supaya menjauh. Wanita tua ini tampak terhuyung-huyung berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya.

Prang!!!

Sekilas ekor mataku memperhatikan Mbok Irah yang tertunduk di depan pintu. Jemarinya perlahan memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai. Sempat mataku bersirobok pandang dengannya. Kulihat di sana, di kedalaman mata tua itu, terlihat tatapan penuh kasih berselimut duka dan luka. Entah mengapa, tiba-tiba hatiku bergetar. 

"Ah, masa bodohlah!" kucoba menepis desiran aneh di dadaku yang tiba-tiba datang. Jarum jam di pergelangan tanganku segera membuatku tersadar. Segera kunyalakan mesin motorku dan langsung kupacu kencang ke luar halaman. Namun saat baru saja kuarahkan motorku ke luar pagar, tanpa kuduga tiba-tiba sekelebat bayangan hitam disertai bunyi berdecit yang memekakkan langsung menghempaskanku tinggi ke udara. Tak lama tubuhku langsung jatuh berguling, rebah ke permukaan aspal hitam yang mulai memanas terpanggang matahari. 

Braaaakkkk!!!

"Ya Allah, Den Tomooooo!!!"

Lamat-lamat kudengar suara jeritan Mbok irah, yang makin lama terdengar makin dekat di telingaku. Pandanganku mulai buram tertutupi cairan hangat yang mengalir deras di wajahku. Namun aku masih bisa mengenali tubuh ringkih pembantuku ini, yang langsung mendekapku erat disertai tangisan yang menyayat.

"Tomo anakku ... Bangun Tomooo ..."

Di tengah kesadaranku yang sedikit demi sedikit mulai hilang, hatiku terasa dilingkupi kedamaian. Dekapan penuh kasih ini mampu meredakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Meski bibirku mulai terasa kelu, seulas senyum tipis masih sempat kusunggingkan untuknya, sebelum akhirnya ku terlelap dalam pelukannya yang erat ....

***

Irah duduk tercenung, diam dalam kebisuan. Matanya tak henti menitikkan air mata duka. Terlihat lara yang mendalam di balik raut wajahnya yang kelam. 

Dipandanginya lembaran lusuh dengan tulisan yang tampak mulai memudar di tangannya. Dibacanya berulang-ulang baris-baris kalimat yang tersurat di sana.

Irah, kumohon, jangan pernah kau buka jati diri Tomo yang sebenarmya. Sampai kapan pun. Demi kebahagiaan anakmu, biarlah sejak awal ini hingga nanti dia tetap menjadi putra kebanggaan dari keluarga Ratno Kumolo.

Tapi, tetaplah di sini Irah. Temani ndoro kecilmu, putramu ini hingga dewasa nanti. Supaya kau tak pernah merasa kehilangan ....

Pandangan mata Irah makin kabur tertutupi air mata kepedihan. Sedangkan di ruang tengah, suara puji-pujian pada Sang Pencipta mengalun syahdu menandai 7 hari kepergian Bagus Sutomo, putra tunggal dari Raden Mas Ratno Kumolo yang tewas dalam kecelakaan beberapa waktu lalu.

 

#30dwcjilid5 #day23 #awal #cerpen

Karya : Umie Poerwanti