Karena Kamu, Imamku

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Mei 2017
Karena Kamu, Imamku

Hai kamu, iya, kamu ....

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin, melewati hari-hari penuh bunga bersamamu. Saat mahligai cinta diikrarkan dalam pertalian suci, berkomitmen untuk sehidup semati. Mengikat janji bahwa setiap badai dan juga pelangi, kan dirasakan dan dihadapi berdua. Setiap waktu erat perpegangan tangan, takkan melepaskan.

Hai kamu, iya, kamu ....

Tak pernah terpikir sebelumnya, bahwa saat waktu kebersamaan kita terus mengalir, bunga-bunga indah yang kerap menghiasi hari-hari mulai berubah bentuknya. Angan-angan manis penuh rona merah jambu semu jingga, bak Rama dan Shinta yang selalu bercengkerama di taman nirwana, bertukar dengan gambaran menyesakkan tentang lembaran rupiah yang datang dan pergi, keperluan hidup yang menuntut, hak dan kewajiban yang kadang berusaha dikurangi jumlahnya agar tak merugi, dan beragam hal materiil lainnya.

Bahkan, kebersamaan yang dahulu kerap dirindukan, didoakan, kini bak sesuatu yang tak bernilai. Sesuatu yang sangat biasa, tak masalah bila tak mendapatkannya.

Hai kamu, iya , kamu ....

Kamu yang dulu teristimewa, menempati sepojok kalbuku dan meraja di sana ....

Kini mengapa, kau terasa hambar dan tak menerbitkan selera? Bahkan aku masih belum bisa menemukan kata yang tepat tuk jelaskan sebabnya ....

Betapa waktu amat pandai mencuri momen-momen bernilai yang telah tersimpan rapi, di sini, di hati ....

Hai kamu, iya, kamu ....

Dapatkah kau beri aku jawabnya?

Setelah semua hitam putih disertai pahit manis yang kamu dan aku lewati ....

Hingga detik ini ....

Hai kamu, iya, kamu ....

Maafkan aku karena berani menanyakan padamu tentang ini. Tentang perubahan rasa yang meracuni dada. Tentang asa, yang tak lagi menjadi mimpiku, dan entah mimpimu. Tentang manisnya cinta, yang tak lagi terkecap di lidah. Tentang ... tentang ... entah ....

Selama ini, hai kamu, iya, kamu ...

Aku mulai tak lagi berpihak padamu. Enggan sekali mendengar kata-katamu, entah pesan, entah permintaan, bahkan yang hanya sekedar sapaan manis belaka.

Apapun yang keluar dari sela bibirmu, ku tak lagi menantinya. Dan rasanya ....

Tak nikmat bukan, hidup bersama dengan orang yang tak lagi membuatmu terpana? Yang tak lagi bisa membuatmu berdebar-debar kuat di dada? Yang tak lagi bisa menimbulkan percik-percik harap di taburi wangi bunga? Mengapa hidup kini menjadi berbeda? Mengapa?

Dan akhirnya ketika kamu menjawab tanyaku yang meragu, aku hanya mampu terhenyak, malu .... Lamat-lamat telingaku yang kerap menolak mendengar apapun dari lisanmu, kali ini menanti, mencerna arti tiap tutur yang kau sampaikan.

Katamu, dunia ini fana, tak ada yang abadi. Pun cinta yang tumbuh di antara para ciptaan. Seperti jalinan hati yang bersemi, antara kamu, dan aku, dan juga berpasang-pasang makhluk pecinta lainnya ....

Katamu, cinta yang abadi, tentulah ada. Sayangnya, banyak makhluk yang tak mampu memaknainya. Itulah cinta Sang Maha Cinta.

Katamu, kecantikan, ketampanan, ketertarikan, itu fana. Karena itulah Tuhan menciptakan tali pernikahan, agar cinta dan rasa tertarik yang timbul antar hamba, tak kan tampak menjadi sesuatu yang hina, kala waktu merebut kuasanya. Pernikahan, akan membuat para pecinta terikat komitmen didasari iman dan kepasrahan, untuk terus memaknai kesucian hubungan yang telah terikat suci, meski hasrat yang terbungkus kata cinta sudah tiada lagi.

Katamu, iya, kamu ....

Begitupun kita, kamu, dan juga aku. Saat masa akhirnya menggerus kecantikan, daya tarik, dan juga keinginan dan hasrat yang selama ini selalu kusebut cinta, kamu tetap menjaga hubungan yang ada tuk terus bertahan. 

Dalam diam dan kekeluan lidahku, tetap saja kulontarkan tanya atas jawabmu yang tak seperti harapanku. Mengapa? Mengapa begitu?

Lagi-lagi, kamu membuatku terhenyak, sendu ....

Katamu tegas, "Aku adalah imammu ... "

Imam wajib menjaga makmumnya, untuk tetap teratur rapi, juga lurus hati, dalam menjalankan penghambaan padaNya. Tak akan ada setitik nafsu pun, yang bisa merusak nilai keikhlasan dari kepasrahan seorang hamba, kecuali sang makhluk yang menghendaki kehancuran atas dirinya.

"Karena aku imammu, maka aku wajib meluruskan yang bengkok darimu, kecuali kau tak mau lagi mempertahankan komitmen itu," jawabmu tenang, penuh keyakinan, penuh keikhlasan. "Dan aku berserah padaNya, agar kau bisa memilih jawaban yang tepat dan terbaik, dariNya ..." lanjutmu bijak.

Dan tiba-tiba, di antara derai air mata yang mengalir, di sela hati yang tersentuh dalam, kamu berbalik menyerangku lembut dengan tanya yang membuatku terdiam tak mampu bicara, "jadi, apa jawabmu, tetap tak lagi bisa mempertahankan ikatan suci ini?"

Dalam linangan kepedihan hati yang malu tuk mengakui kelemahan dan kekhilafannya, lisanku perlahan, namun pasti, menjawab dengan sepenuh keyakinan jiwa, "tidak, aku kan tetap bersamamu. Aku yakin kini bahwa kebahagiaan hakiki hadir dalam bentuk memberi, bukannya menerima. Dan aku akan bisa bertahan melewati rasa sakit dan pedihnya nafsu yang terbelenggu, tuk mereguk manisnya cinta suci dan abadi dariNya, bersamamu. Iya, kamu, wahai imamku ..."

Dan karena kamu, iya, kamu ....

Kini bibirku mulai kembali bisa menyunggingkan senyuman bahagia. Ya, karena kamu, imamku ....

  • view 167