Bayang-Bayang Kenangan (Bagian 2)

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2017
Bayang-Bayang Kenangan (Bagian 2)

(Sepenggal kisah sebelumnya ... )

Kuguncang-guncang tubuh yang terkulai lemas dipangkuanku. Kupanggil namanya berulangkali, berharap agar Ibu akhirnya membuka mata dan merespon panggilanku.

"Ibuuu ... Ibuuuuuuu ...!!!"

Mata Ibu tetap saja terpejam. Padahal berkali-kali sudah kuguncang tubuhnya yang mulai terasa dingin di pelukanku. Asaku mulai surut, seiring kepanikan dan rasa takut yang teramat sangat yang menyerang hatiku tanpa ampun.

"Ibuuu ... "

Suaraku parau, pandangan mataku makin berkabut akibat terhalangi air mata yang terus membanjir tanpa mampu lagi kucegah. Sekelilingku lama-kelamaan menjadi buram, dan kemudian gelap.

....

"Ibu ..."

Aku terperanjat kaget. Sebuah tepukan lembut di pundakku segera membuyarkan lamunan juga bayangan penuh kegetiran yang tengah bermain di otak dan menguasai kesadaranku.

"Ibu, kenapa Ibu menangis? Apakah Ibu sakit?" Pertanyaan penuh nada khawatir itu berhasil melemparku kembali ke dunia nyata. Dengan segera kuhapus air mata yang menggenang dan meleleh di pipiku dalam sekali usap dengan ujung lengan baju. Dan langsung kusunggingkan senyum paling manis ke arah gadis berparas ayu di hadapanku ini.

"Tidak ada apa-apa Galuh sayang. Ibu enggak nangis kok. Mata Ibu kena debu dari luar nih. Angin bertiup kencang sekali yaa sore ini," sambil menjawab pertanyaan putri tunggalku ini, kuberusaha mengalihkan perhatiannya dengan beranjak berdiri menutup jendela.
Kemudian ku kembali mendekati gadis manis di sebelahku ini, dan segera mendekap erat tubuhnya penuh cinta. Rasa nyaman segera memenuhi rongga dadaku, meresap dalam ke dasar jiwa yang pernah ternoda oleh kepedihan dan kegetiran yang mendalam. Bahkan noda itu masih terus membekas, hingga kini.

"Betul Ibu tidak apa-apa? Jangan sedih yaa Bu, Galuh sayang Ibu ... " dekapan hangat penuh kasih serta rasa cinta yang tulus dari putri tercintaku ini benar-benar mampu mengobati luka dan lara akibat kenangan yang ditinggalkan oleh peristiwa terpahit dalam sejarah kehidupanku 20 tahun yang lalu. Peristiwa kelam yang telah merenggut nyawa Ibu, wanita terkasih yang harus meregang nyawa di depan mataku akibat luapan kemarahan Ayah yang tak terkendali. Juga kenangan pahit setelahnya saat aku harus menjalani hidupku sebatangkara di panti asuhan karena Ayah, orang tua satu-satunya yang masih kumiliki harus meringkuk bertahun-tahun di balik jeruji besi penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tidak, Galuh tak boleh mengalami trauma mendalam yang sama, yang hingga kini masih saja kurasakan, bahkan masih terus membayangi mimpi-mimpi malamku. Apapun yang terjadi antara aku dan suamiku, Galuh tak kan pernah kukorbankan kebahagiaannya.

Ya, peristiwa traumatik yang kualami 20 tahun lalu telah sangat memberiku pelajaran hidup yang berharga. Bahwa anak, adalah harta yang tak ternilai harganya. Bahwa apapun kondisi yang terjadi dalam hubungan suami istri, selayaknya keduanya bijak dalam mengambil langkah pemecahannya, agar sang buah hati tidak menjadi tumbal atas kondisi yang terjadi.

"Galuh, sudah malam. Tidur yaa sayang, besok kan kamu sekolah pagi ..." sambil mengusap lembut kepalanya, kukecup kening Galuh yang tak lepas menyungging senyum dibibirnya.

"Siap Ibuku sayaaang ..." gadis kesayanganku ini membalas mengecup pipiku lembut penuh kasih. Sebelum beranjak ke kamarnya, diciumnya punggung tanganku penuh hormat. Kubalas jabat tangan tanda bakti dan penghormatan itu dengan tawa sumringah. Dan dengan ekor mataku, kuikuti gerak tubuh Galuh hingga akhirnya bayangnya menghilang di balik pintu kamar.

Kini, kembali ku didera sepi. Setelah yakin Galuh tak akan lagi keluar kamar, pelan-pelan kukeluarkan ponsel hitam keluaran terkini yang sedari tadi kusimpan rapat-rapat dalam saku celana panjangku. Ini ponsel baru Mas Purnomo, suamiku. Dia tak sengaja meninggalkannya di meja tamu pagi tadi.

Perlahan kubaca lagi pesan singkat yang muncul di layar notifikasi.

"Mas, aku kangen. Nanti malam ke rumah Siska kan?"

Meski bibirku terasa getir dalam getar, kucoba tuk tersenyum kecil dengan penuh keikhlasan. Tak lupa kubisikkan dengan lirih baris-baris untaian kata suci, bentuk penghambaan dan kepasrahanku padaNya, Sang Maha Tahu, yang Maha Menbolak-balik hati. Segera saja kesyahduan yang menyejukkan melingkupi kalbuku. Dan untuk selanjutnya, aku tahu, apa yang harus aku lakukan.

(Tamat)

  • view 83