Bayang-Bayang Kenangan (Bagian 1)

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2017
Bayang-Bayang Kenangan (Bagian 1)

Suara-suara itu lagi. Gema suara menakutkan yang selama ini sudah sangat akrab di gendang telingaku.

Pekikan keras ayah yang diikuti jerit tangis ibu dari ruang tengah mulai terdengar bersahutan. Dan aku hanya bisa meringkuk ketakutan di pojok kamar tidur yang sengaja kubiarkan gelap tanpa cahaya, sambil menahan sesak di dada akibat isak tangis yang sedari tadi kutahan.

Selalu seperti ini. Mereka berdua kerap membiarkanku menyaksikan pertengkaran yang terjadi. Sepertinya mereka tak pernah menyadari, bahwa perselisihan ini sangat menakutkan untukku. Menakutkan sekali, saat harus melihat dua orang yang sangat kau kasihi saling menyerang, memaki dan mencaci. Tak tampak lagi wajah-wajah teduh penuh cinta dan dekapan sayang yang biasanya selalu tercurah dengan mesra.

Plak!!!

Aku terkesiap. Tiba-tiba bunyi tamparan yang cukup keras terdengar, dan suara-suara gaduh itu pun terhenti. Dengan sekali gerakan, aku bangun dan berjingkat pelan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka, berusaha mengintip apa yang kini tengah terjadi di ruang tengah rumah kami itu.

Kulihat ayah memegangi pipinya yang memerah. Rahangnya mengeras, matanya tajam menatap ibu penuh amarah. Dan tanpa sadar tubuhku kembali bergetar, gemetar. Keringat dingin membasahi tubuhku yang dilanda ketakutan.

Ibu hanya diam mematung. Wajahnya pucat dihiasi tangis tertahan. Namun tatapan matanya tampak puas setelah berhasil melepas rasa kesal lewat tamparan di pipi ayah tadi.

"Dasar kurang ajar! Beraninya kau, istri tak tahu diuntung!" Ayah berteriak keras. Mata lelaki paruh baya yang sangat kucintai ini memerah, nanar dan garang menatap Ibu. Emosinya benar-benar terbakar. Tamparan tadi betul-betul membuat Ayah kalap.

"Kau yang tak tahu diuntung Mas!" tak kalah sengit Ibu membalas umpatan Ayah. "Setelah semua yang aku lakukan untukmu, inikah balasannya? Apapun alasanmu, aku tak mau dimadu. Tak akan pernah mau! Memang benar-benar setan kau mas, kalian berdua setaaaaan!" Ibu kembali menjerit dan mengumpat keras melepaskan rasa sakit yang menggumpal di dadanya. Wanita terkasih ini berusaha melepaskan beban atas rasa kecewa mendalam akibat ketidaksetiaan Ayah padanya.

Mendengar teriakan dan makian Ibu, kemarahan Ayah makin memuncak. Emosinya tak terbendung lagi. Tanpa dapat kucegah, kulihat tangan Ayah menyambar cepat vas bunga kaca di atas meja tamu. Dan tanpa aku sempat menyadarinya, Ayah telah melayangkan vas itu dengan keras ke arah kepala Ibu.

"Ayah, tidak! Jangan ..!!!" jeritanku tertahan di tenggorokan. Hatiku berteriak nyaring, namun lidahku tercekat kelu.

Praaang!!!

"Aaah ...!"

Tubuh Ibu limbung. Kulihat darah segar mengaliri wajahnya yang pias. Dan dalam hitungan detik tubuh wanita yang telah melahirkanku ini jatuh, tergeletak tak bergerak di lantai dingin ruang tengah,  di antara serpihan pecahan vas bunga yang bertebaran di mana-mana.

"Ibuuuuuu ...!" akhirnya aku tak dapat lagi menahan diri. Rasa takutku hilang lenyap, berganti kekhawatiran dan kecemasan yang teramat sangat akan kondisi Ibu. Di sela jerit tangis yang tak dapat lagi kubendung, aku segera berlari mendekati tubuhnya yang terbaring diam tak bergeming. Dalam dekapanku, tubuh Ibu lunglai terkulai tanpa daya. Wanita yang amat kucintai ini hanya diam membisu. Matanya terpejam rapat, tubuhnya lemas tak bergerak. Aku terus berusaha mengguncang-guncang tubuhnya, memanggil-manggil namanya, berharap Ibu segera membuka mata dan merespon panggilanku.

"Ibuu ... Ibuuuuu ...!!!"

 

(Bersambung)

  • view 68