Penulis, Dilahirkan atau Diciptakan?

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 April 2017
Penulis, Dilahirkan atau Diciptakan?

Hari ini saya dibuat terhenyak oleh pernyataan seorang sahabat. "Kamu punya bakat, karenanya kamu bisa menulis seperti itu. Kalau saya, ah, gak akan bisa ...."

Mendengar pernyataannya, saya hanya diam. Tapi tak terasa pikiran saya mulai berkelana. Mencari pembenaran. Mencari jawaban dari pertanyaan yang tak minta dijawab.

Kenangan saya langsung kembali ke beberapa waktu silam, saat saya dan sahabat saya ini sama-sama tinggal di kamar dan asrama yang sama saat bersekolah. Masih terekam jelas dalam ingatan, sahabat saya yang mengaku tidak bisa menulis ini kerap menghabiskan belasan buku diary untuk menjadi tempatnya melepaskan segala keresahan, kegembiraan, patah hati, dan banyak lagi hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Justru pena menjadi teman terdekatnya dibandingkan saya saat itu. Dan mengingat itu, saya tak dapat menahan senyum yang terkembang di bibir saya. "Tanpa sadar, dia adalah seorang penulis," gumam saya perlahan.

Sejak kecil, saat kemampuan baca tulis belum dimiliki, kebanyakan anak sangat suka memegang pensil atau pun pewarna, dan mencoret beragam bentuk motif, gambar, dan mungkin juga termasuk tulisan yang arti dan juga bentuk fontnya hanya dipahami oleh si penulis sendiri.

Dan bagi mereka yang menyatakan diri tak bisa menulis, ternyata sebenarnya mereka adalah seorang penulis dengan style penulisan dan karakter tulisan yang unik yang hanya dimiliki oleh masing-masing individu penulis itu sendiri.

Saat guru tengah menjelaskan materi pelajaran di depan kelas, seorang siswa yang sudah mulai bosan akan terbiasa berpura-pura mencatat padahal dia tengah menorehkan coretan-coretan yang berasal dari pikirannya.

Seorang siswa yang puitis akan menulis, "Wahai sang waktu, mengapa lama nian engkau berjalan, aku sudah kelaparan ...."

Siswa lain yang agak "gaul", menulis segaris kalimat lain, "Bu Guru ampoooooon ... gaje banget ini, bikin mager."

Seorang siswa yang terkenal sebagai preman di kelas, pun tampak serius mencatat sebaris kata dengan mata sayu, "brengsek!"

Ada lagi si seniman di pojok kelas, tak henti tangannya mencoret-coret kertas sobekan tengah dari buku tulisnya, dan mulai memainkan ballpointnya untuk membentuk karakter wajah siswi cantik yang duduk di bangku depan.

Terbukti, seisi kelas rata-rata adalah seorang penulis, dengan karakter tulisan dan coretan yang beragam dan berwarna.

Jadi, saya hingga saat ini belum bisa sepaham dengan pendapat sahabat saya yang menyatakan bahwa menulis itu adalah bakat. Para penulis itu dilahirkan, bukan diciptakan. Mungkin pernyataan ini ada benarnya. Tapi tak seratus persen benar adanya.

Kenyataannya, banyak orang dengan bawaan lahir yaitu bakat pintar merangkai kata dalam sebuah tulisan, ternyata tak pernah bisa menghasilkan hasil karya tulisan apapun.

Tapi banyak juga mereka yang mampu menghasilkan karya best seller meski pada awalnya tak pernah membawa bakat itu sejak lahir. Ya, mereka tak memiliki bakat bawaan, namun yang pasti mereka seorang pembelajar. Ya, kata kuncinya adalah pembelajar.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas yang kerap saya temui dalam kehidupan sosial sehari-hari, maka saya mencoba membuat sebuah kesimpulan, bahwa beberapa penulis handal, adalah mereka yang memiliki bakat menulis yang luar biasa. Sedangkan sebagian besar penulis hebat yang telah menghasilkan karya-karya terbaik adalah, mereka yang mau belajar dan mengembangkan kemampuan menulisnya dengan optimal.

Nah, bagaimana dengan Anda? ^_^

  • view 129