Kerak Telor Spesial (Bag.2)

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2017
Kerak Telor Spesial (Bag.2)

"Stop stop stop, setooooppp!" Sobari sontak berteriak kencang, hingga mengagetkan Udin. Wajan di tangan anak bungsu Bang Jalu itu sampai terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai dengan suara gaduh.

"Iya Bang, ada apa yak?" Meski sempat kaget luar biasa akibat teriakan Sobari, Udin tetap berusaha menjawab dengan sopan. Sembari tangannya membereskan kembali wajan yang terjatuh tadi.

"Eh, ente yang mau bikin kerak telor pesenan gue Din?" tanya Sobari penuh selidik. Nada suaranya terdengar sedikit khawatir.

Tapi tampaknya Udin tak memperhatikan perubahan air muka Sobari. Anak ini dengan riang tetap mempersiapkan segala kebutuhan kerak telor yang akan diolahnya. "Iya Bang, tunggu bentar yak, cepet kok matengnya," dengan lugu Udin menjawab pertanyaan Sobari sambil tetap melanjutkan pekerjaannya. Dinyalakannya kompor dan diletakkannya wajan gagang kayu itu di atasnya.

Sobari terlihat makin resah. Wajahnya tampak bingung sekaligus kesal. "Eh Din, ntar aja dah, tunggu bapak lu dateng ... "

"Abis Isya, Bapak langsung pergi kendurian Bang, lama ntar nunggunya," jawab Udin sambil nyengir lebar. "Udah tenang aja Bang, biar Udin bikinin pesenan Abang yaa ... "

Dengan terampil jemari bocah ini memecahkan telur di atas wajan yang mulai panas dan menambahkan beberapa sendok beras ketan aron ke dalamnya. Tak lama kemudian tangan kecil itu tampak lincah mencampur, mengaduk serta menambahkan bahan-bahan masakan yang sedang diolahnya.

Dan Sobari cuma bisa melongo takjub menyaksikan apa yang sedang dipertontonkan Udin di hadapannya. "Eh, eh ... hebat juga tu bocah," gumamnya pelan. Namun begitu, rasa tak yakin akan kemampuan anak kecil berusia 9 tahun ini dalam mengolah kerak telor masih terselip di hati Sobari. Raut mukanya masih menunjukkan kesan meremehkan.

Bahkan saat wangi sedap dan gurih dari serundeng kelapa yang berpadu dengan olahan kerak telor di atas wajan akhirnya mulai menyeruak, Sobari masih tetap berusaha meyakinkan dirinya bahwa keharuman penganan khas betawi itu belum tentu menunjukkan kelezatan rasanya. Apalagi dimasak oleh bocah ingusan macam si Udin. Kepala Sobari manggut-manggut sembari memikirkan segala kemungkinan terburuk.

"Ini Bang pesanannya," Udin mencolek pelan lengan Sobari yang masih terbengong-bengong sembari berkutat dengan pikirannya. Pria ini terperanjat. "Eh! Udahan Din?"

"Udah Bang, alhamdulillah. Ini Bang," sahut Udin ceria sambil menyerahkan bungkusan kerak telor ke tangan Sobari. Ragu-ragu Sobari menerima bungkusan tersebut. Udin serta merta tertawa kecil.

"Udah Bang, bawa aja. Gak usah bayar dulu. Abang cicip aja dulu di rumah. Kalo enak, baru kapan-kapan nanti Abang bayar. Kalo gak enak, maafin Udin yaa Bang." Sobari terkesiap. Malu rasanya, bocah lelaki ini ternyata bisa membaca pikirannya.

"Eh, iya, iya Din. Abang balik dulu yak."

"Iya, ati-ati yaa Bang."

Dengan pipi memerah menahan malu, Sobari cepat-cepat pergi meninggalkan warung Bang Jalu. Sebenarnya hatinya merasa bersalah karena dengan egois membawa pulang pesanan kerak telor ini tanpa membayar. Tapi, ditepisnya pikiran ini jauh-jauh. "Si Udin yang salah, mosok dagangan Bapaknya dibakal mainan kayak gitu. Nama baek Bang Jalu pan yang dipertaruhkan. Untung gue yang beli ... " gumam Sobari berusaha membela diri.

Dan tanpa terasa, Vespa tua bak motor peninggalan penjajah di tahun 45 itu pun telah sukses mengantar Sobari sampai di rumah.

(Bersambung lagi yaa ... _^)

  • view 91

  • Anis 
    Anis 
    7 bulan yang lalu.
    lanjut... lanjut.. lanjutannya mana bu?

    • Lihat 2 Respon