Fenomena Pilkada Dalam Perspektif Rakyat Jelata

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 April 2017
Fenomena Pilkada Dalam Perspektif Rakyat Jelata

Menyaksikan fenomena uphoria jelang pilkada putaran dua DKI dan juga beberapa wilayah pemilihan kepala daerah lainnya, menjadi salah satu kegiatan menarik buat saya. Sebagai warga luar Jakarta dari kalangan masyarakat awan, pemberitaan tentang pilkada paling anyar ini seringkali menggiring isi kepala saya ke ranah kritis tanpa solusi yang bisa membuat saya tersenyum miris, berkerut dahi, tertawa terbahak-bahak bahkan sampai sakit kepala.

Sebagaimana tradisi pemilihan kepala daerah di banyak tempat, peristiwa penting ini selalu hadir disertai banyak pro kontra dan juga keramaian adu unggul antar pasangan calon dan para simpatisannya.

Mulai dari perang spanduk dan banner di antara para tim sukses, saling menyidik dan memekik di media sosial yang umum melanda para simpatisan di lapis bawah dan tengah, hingga janji-janji manis dan aksi tebar pesona para paslon di wilayah basis pemilihan yang sudah mereka tandai dan bahkan diakui secara lisan tanpa legalitas. ????

Di antara banyak info menarik seputar pemberitaan pilkada yang saya saksikan, ada satu hal yang justru mampu membuat saya tercenung sekaligus merenung dalam. Ini memang terdengar filosofis dan egosentris, di pihak pemikiran saya sendiri tentunya.

Di saat detik-detik penghitungan, akan tampak sifat-sifat asli manusia seperti yang telah disebutkan dalam kitab suci. Yang menang akan bersorak kegirangan dan menunjukkan kesan bahwa mereka adalah yang paling pantas di antara para pecundang, sedang yang kalah, akan mencari berbagai upaya untuk mendapatkan celah merebut kemenangan tersebut bagaimanapun caranya, bahkan dengan menghalalkan beragam cara.

Di titik ini, gulatan pikiran saya akan menuju ke satu pertanyaan besar. Apakah para calon pemimpin ini tak menyadari, bahwa di suatu masa, mereka akan dimintai pertanggungjawaban dalam memimpin kelak di hadapan Penciptanya?

Dan setelah itu, dahi saya akan kembali berkerut, dengan senyum kecut yang menghiasi bibir, berfikir keras untuk sesuatu yang saya tahu tak akan pernah dapat jawabnya. Betul-betul stereotype rakyat jelata yang sok ikut peduli dengan putaran bola panas politik di negaranya. ????

  • view 46