Guratan Takdir Cinta (Love Destiny)

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 April 2017
Guratan Takdir Cinta (Love Destiny)

"Jangan pergi, tolonglah ... " genangan di pelupuk kini tak lagi mampu kucegah jatuhnya.

Lengan kuat itu sekali lagi menepis jemariku. "Anne, mengertilah!"

"Hai, kini kau mulai tega menghardikku ...  " gumamku perlahan. Tak terasa, makin deras air mata membanjiri pipiku yang mulai terasa kebas.

"Katamu, kau cinta padaku, teramat sangat. Aku akan hancur Matty, jangan biarkan ucapanku ini terbukti. Kau kan saksikan kehancuranku ... " suaraku yang gemetar, bergetar menahan isak, sambil terus berusaha tuk tak membiarkannya pergi. Semoga saja, kali ini kumampu menakutinya, membuatnya mengerti bahwa aku takkan main-main dengan ancaman ini.

Sepertinya gertakanku berhasil. Wajah Matthew yang semula dingin dengan gurat dagu yang tegas keras, perlahan mulai melembut. kuyakin dia cemas jika aku akan berbuat nekad. Dia sangat paham sifatku.

"Anne, mengertilah, hubungan ini tak bisa kita lanjutkan. Tidak boleh," kupandangi raut gagah lelaki yang amat kucintai ini. Dipegangnya bahuku perlahan, diusapnya lembut, berusaha meredakan emosiku yang meledak lewat isak tertahan.

Tiba-tiba aku tak lagi mampu menahan diri. Segera kudekap tubuh tegap dihadapanku ini dengat erat. "Aku tak akan melepaskanmu pergi, tak akan," gumamku lemah, seiring dengan jeritan hatiku yang memekik lantang. Tapi kulihat Matthew hanya diam mematung. Ia sama sekali tak merespon pelukan penuh cinta yang kuberikan, seperti yang biasanya selama ini selalu ia suka.

Aku tak peduli. Tetap kupeluk erat tubuh orang terkasih dihadapanku ini. Lama kami terdiam, sama-sama mematung dalam dekapan. Kuberusaha menikmati momen indah sesaat yang tercipta, meski dengan hati yang perlahan-lahan mulai retak dan bersiap tuk hancur menjadi serpihan.

Tiba-tiba, aku terkesiap. Tetes air hangat yang mengalir dibahuku seperti membangunkanku dari mimpi. "Matty ... " tubuh kekar dalam pelukanku ini bergetar. Isaknya yang lepas tanpa suara membuatku luluh lantak. Hatiku hancur. Air mata lelaki terkasihku ini sudah cukup membuat asaku memudar.

"Anne, kau pasti tahu betapa dalamnya cintaku padamu. Tuhan saksiku. Tapi ... " perlahan kulepas dekapanku.

"Tapi apa Matty? Kau pun tahu bagaimana hatiku. Kita saling mencintai. Tidak ada yang patut dipertanyakan lagi," sanggahku. Kembali, lengan kekar pria tampan di hadapanku ini menahan kedua tanganku untuk bisa mendekapnya sekali lagi.

"Princess Anne, mengertilah. Kita bersaudara. Kau adikku. Mereka telah menjelaskan semua secara detail tentang ini," lembut Matthew berbisik, sembari jemari tangannya perlahan kembali mengusap-usap bahuku, mencoba membuatku tenang dan juga mengerti.

"Tapi kita tidak tahu, kita tak akan pernah tahu jika mereka tidak mengungkitnya. Ini tak adil Mathew, tidak adil! Ini bukan salahku, ini bukan salah kita!" aku mencoba membuatnya memahami posisiku, mengerti perasaanku. Perasaan yang telah dihancurkan oleh pernyataan pahit dari lisan kedua orang tua kami beberapa waktu yang lalu.

"Anne sayang, kita tak dapat lagi menyanggahnya. Mengertilah tuan puteri ... " Matthew terus membujuk, dengan makin melembutkan suaranya. Dia memang sangat paham, membuatku menurutinya bukanlah hal yang mudah.

Dalam beberapa saat, kami sama-sama terdiam. Kuberupaya menikmati aroma tubuhnya yang menenangkan, sambil menahan gelora hati dan nalarku yang bergejolak. Nuraniku menyadari sepenuhnya, bahwa hidup sedang mengujiku. Satu ujian berat di antara banyak kesenangan dan kebahagiaan yang kerap kali kudapatkan sebagai seorang pewaris tahta kerajaan.

Dalam isak, kucoba memahami dalam-dalam kondisi ini. Saat cinta, satu-satunya kebahagiaan paling sempurna yang kumiliki kan terenggut secara tiba-tiba. Kecamuk peperangan antara logika dan hasrat semakin membuat nafasku sesak.

Sekonyong-konyong aku berdiri.

"Princess Anne?" Matthew terlonjak kaget. "Anne ... "

"Tidak Prince Matthew yang terhormat. Tidak!" kulepaskan pegangan tangannya dari bahuku.

Air mataku mengering sudah. "Dengarkan aku Matthew, aku tak mau mengerti. Tak akan pernah mau mengerti hal ini. Tidak akan pernah!"

"Anne!" Matthew berupaya menarik tubuhku yang berlari menjauh. Aku tak peduli lagi. Berlari, ya, berlari menjauhinya pasti bisa sedikit meredakan pepat di dadaku.

Dalam sekali ayunan kaki ku melompat dan langsung menunggangi Little Star, kuda tunggangan setiaku yang telah berdiri anggun menantiku di pinggiran gerbang kerajaan. Dan semua mata di halaman istana yang megah ini hanya mampu memandangi tubuhku yang menjauh pergi dengan duka yang mendalam.

  • view 63