Balada Sang Randu

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Puisi
dipublikasikan 17 April 2017
Balada Sang Randu

Bag. 1

Akulah sang randu, satu-satunya pohon tertinggi penunggu pulau sunyi sendu.
Berdahan landai dengan ranting-ranting kecil, daunku kerap bergemerisik berisik saat digoda sang bayu.

Sejak mampu berdiri sendiri, ku berfotosintesa bersama mentari.
Tugasku adalah memandu pendatang pertama yang bertandang, lalu menetap di sini.

Tempatku tumbuh, adalah lapangan luas berumput hijau.
Siapapun yang melihat, pasti kan dibuat terpukau.
Dan aku yakin, hal ini pulalah yang membuat para pendatang itu memutuskan tuk mendiami pulau.

Musim berganti, ku meninggi bersama hadirnya banyak anak penerus generasi.
Tugasku pun bertambah, menjadi pelindung yang memayungi.
Selain itu, aku pun menjadi saksi, saat satu-satu rumah, masjid, gereja, dan sekolah berdiri.

Dan sejak saat itu, pulau sendu tak lagi sunyi ....

 

Bag. 2

Kini pulau sunyi, hanyalah sebuah nama.
Riuh rendah kehidupan masyarakat, mencipta pembaruan dan warna.


Di antara batang tubuhku yang menjulang tinggi.
Peradaban baru mulai membuka diri.

Semua kini mulai berubah.
Hamparan padang rumput, menciut jadi jajaran rumah.
Hanya aku yang tetap kokoh terpaku, berdiri gagah.
Dibiarkan menjadi simbol keramat dan bertuah.

Bahkan kulitku pun, kini mulai menyimpan cerita.
Dari sajak pantun cinta, hingga gemelantung pariwara.

Aku mulai hapal satu-satu.
Anak-anak pulau sunyi pecinta batang randu.
Ada Rojak, Somad, Johan dan Wahyu.
Setiap pulang sekolah, mereka kerap mampir tuk bertengger di dahanku.

Celotehnya riang bersahut-sahutan.
Aku benar-benar tak pernah lagi kesepian.

Bahkan kadang, tanpa sadar aku ikut terkekeh riang.
Kesan angker dan keramatku pun, kini perlahan menghilang.

Dalam beberapa dasawarsa,
Ku nikmati pergantian masa.
Melihat yang lahir, lalu tumbuh jadi dewasa.
menggantikan mereka yang tutup usia.

Ku kira, hidupku kan seindah ini seterusnya.
Hingga suatu ketika ....

 

Bag. 3

Apa gerangan terjadi?

Aku hanya mampu terpaku berdiri
Getaran apa ini?
Gempakah? Atau tsunami?

Wahai,
Bahkan randu keramat pun mampu merasa gentar.
Goyangan keras bumi ini buatku gemetar.

Tidak, ini bukan lindu.
Kulihat, banyak mata di sekitar yang memandangiku kaku.
Wajah anak, bapak dan ibu.
Somad, Rojak, Johan dan Wahyu.
Pandangan mereka nanar, juga sendu.

Apa ini?
Mereka mulai menjauh berlari.
Hai, Somad, kenapa pergi?
Mari main di dahanku sini!

Tiba-tiba mereka berubah wajah.
Kemana perginya senyuman ramah?

Kenapa tubuhku dipasangi temali?
Aahhh!!! Jangan tarik lagi!!!
Pedih, perih sekali!!!
Kurasakan rantingku satu-satu patah, meninggalkan nyeri.

Wahai, apa itu benda yang berkilatan?
Ditempelkan pada dahanku yang gemetaran.
Suaranya menggerung menyeramkan, memekakkan.
Aahhh!!! Apa yang kalian lakukan?

Pandangan mataku seketika buram.
Seiring rasa sakit yang mulai merajam.
Basah getahku merambat di permukaan kulit yang terhujam.
Penglihatanku sedikit demi sedikit beralih suram.

Antara ada dan tiada, samar kupandangi sekitarku.
Mulai kusadari, ini adalah akhir dari kejayaanku.

Tiada lagi pandangan jauh menepis awan.
Yang mampu kulihat kini hanya seonggok dataran.
Di sini, tempat akarku tertanam, tempatku bertahan.

Kini, si randu keramat merasa kerdil ...
Kecil ...

Dan gerusan waktu terus berjalan.
Melindas mimpi, menggilas angan.

Kini kuhabiskan hari-hari.
Menghitung sisa nafas, mentafakuri sepi.
Sunyi di hatiku, di antara derap kemajuan yang melibas pulau sunyi.
Aku kini, adalah sebuah monumen tanpa prasasti.
Suatu waktu, sisa tubuhku menjadi tempat meletakkan cangkir kopi.

Kini sang randu, adalah sebuah kaki meja. 
Dibiarkan berjiwa, namun tanpa suara.
Teronggok tanpa daya, di tengah keramaian kota.
Dari sebuah pulau sunyi yang kini gaduh, riuh menggema ....

***

  • view 136

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    6 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    ‘Jika Randu Bisa Berbicara’, mungkin itu judul lain dari sajak ini. Selalu menyenangkan membaca tulisan mengandaikan diri sebagai benda mati lalu menyuarakan kemirisan dari sudut pandang obyek tersebut. Kali ini curahan hati randu melalui pikiran Umie Poerwanti sangatlah menyentuh sebab ditulis secara puitis, sederhana tanpa mengesampingkan rasa miris dan sedih sebagai poin inti yang ingin disampaikan.

    Dalam sajak tersebut diceritakan randu sebagai saksi bisu perubahan sebuah pulau dari sepi menjadi ramai. Berbondong-bondong manusia mulai menghuni tempat tersebut. Sayang pembangunan mulai terasa kebablasan hingga si pohon randu ikut jadi korban. Ia ditebang lalu hanya jadi benda mati yang berguna sebagai tempat meletakkan barang. Sungguh ironis sekaligus benar adanya.

    • Lihat 1 Respon

  • Anis 
    Anis 
    6 bulan yang lalu.
    baru baca sepotong kok saya udah sedih ya

    • Lihat 3 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    7 bulan yang lalu.
    Mendayu bagus mbak..

    • Lihat 3 Respon