Saat Hujan Sore Ini

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2017
Saat Hujan Sore Ini

Hujan lebat sore ini benar-benar menyisakan resah. Kukibaskan poniku yang basah menutupi wajah akibat keringat dan air hujan. Sambil tetap memegang kantong plastik hitam di tangan dengan erat, ku kembali melangkah hati-hati melewati kubangan becek di sepanjang jalan sempit pinggiran pasar yang tengah kususuri.

“Duh Gusti, tolonglah, jangan hujan lagi”, bibirku yang mulai gemetar membiru menahan dingin hanya mampu berbisik pelan. Gemuruh halilintar dan petir yang kembali menyambar bersahutan makin membuat hati dan nyaliku ciut. Bukan hanya karena ngeri akan kedahsyatan ciptaan Tuhan yang satu ini, tapi juga karena hari sudah semakin gelap, sedangkan nasi bungkus untuk Bagas anakku masih kupegang erat di tangan, terbungkus dalam kresek hitam lusuh agar tetap terlindung dari air hujan yang menghujam bumi beberapa saat tadi. Bagas pasti kelaparan, dan mungkin juga ketakutan. Bagaimana tidak? Dia harus sendirian di rumah, menungguku yang tak kunjung kembali membawa makan siangnya akibat terhadang hujan yang cukup deras. Sejak pulang sekolah tadi, dia belum makan.

Sebenarnya, Bagas pasti tak akan seketakutan itu. Dia juga sudah terbiasa menahan lapar. Hatiku saja yang resah sendiri memikirkan anak semata wayangku ini. Walau usianya masih sangat belia, 7 tahun, tapi Bagas sudah terbiasa mandiri. Sebagai anak dari seorang janda dengan pekerjaan serabutan sebagai buruh angkut di pasar sepertiku, anakku ini sudah terbiasa makan satu kali sehari. Untuk kami, bisa makan di hari ini saja sudah patut kami syukuri.

“Ya Allah, hujan lagi...”, tiba-tiba saja air hujan kembali mengguyur deras, bersamaan dengan kilat dan petir yang menyambar keras memekakkan telinga. Kuputuskan untuk kembali berteduh. Tubuhku yang letih dan kedinginan rasanya tak sanggup lagi melawan tajamnya derai hujan yang menusuk kulit. Sambil berlari kecil ku langsung menepi ke sebuah teras toko kecil di sisi jalan. Mataku nyalang menyusuri suasana temaram jajaran toko di pinggir jalan pasar ini yang kebanyakan sudah tutup sejak beberapa saat lalu. Di sini tidak ada lampu, gelapnya senja yang mendung dan berkabut akibat derasnya hujan membuat suasana jadi makin senyap. Tidak banyak orang lalu lalang di sini. “Pasti kebanyakan mereka sudah bisa menikmati suasana hangat di dalam rumah, tak seperti aku yang masih harus sendirian berhujan-hujan di sini”, gumamku.

Cipratan air yang cukup keras membuatku terkesiap. Tiba-tiba saja seorang anak lelaki dengan tubuh basah kuyup berlari cepat ke arahku. Tampaknya dia juga ingin berteduh. Diam-diam kuperhatikan bocah kecil di depanku ini. Tangannya yang menggigil mendekap dadanya dengan erat. Dia pasti kedinginan. Melihat anak lelaki ini, terbayang anakku Bagas yang tengah menantiku di rumah. Dia pasti seusia dengannya.

Tanpa sadar jemariku meraih tangan bocah kecil itu, mengajaknya merapat sedikit ke teras bagian dalam. “Nak, kamu kedinginan? Sini ke dekat ibu. Di situ masih kena hujan.” Anak itu mengangguk, menuruti ajakanku.

“Kamu mau kemana hujan-hujan begini nak?”

“Saya...” sambil menahan gemetar di bibirnya, anak lelaki ini berusaha menjawab pertanyaanku dengan terbata-bata. “Saya mau membeli nasi buat emak. Tapi...” tiba-tiba suara anak ini tercekat. Wajahnya berubah sendu.

“Kenapa nak?” tanyaku penasaran, sekaligus merasa iba.

“Saya tadi sedang ngojek payung bu, biar bisa beli nasi buat emak. Emak saya lagi sakit, gak bisa kerja hari ini. Tapi, payung saya rusak, kena angin kencang waktu hujan tadi”, tiba-tiba kulihat setetes air mengalir dari matanya, yang segera diseka cepat-cepat dengan punggung tangannya.

Hatiku bergetar, entah mengapa. Ingatanku segera saja melayang ke rumah, teringat kepada Bagasku yang juga tengah menahan lapar. Tak terasa air mataku mulai terasa menusuk-nusuk ujung mata, yang terpaksa kutahan agar tak jatuh. Aku tak boleh menangis di hadapan bocah malang ini. Aku tak boleh menambah kepedihan yang dirasakannya.

“Nak, ambil ini”, tiba-tiba saja tanganku menyodorkan kantong kresek hitam yang sedari tadi kupegang erat di tangan. “Ini berikan ke ibumu ya. Ada nasi dua bungkus, bisa untukmu juga”.

Kulihat kilatan kegembiraan di mata bocah kecil ini. Senyum dibibirnya yang pucat langsung mengembang. Segera diambilnya kantong plastik berisi dua bungkus nasi lauk tempe goreng dan sambal terasi yang kusodorkan padanya. “Terimakasih bu, terimakasih...” ujarnya dengan ceria. Dan tiba-tiba saja bocah lelaki ini langsung berlari menghilang menembus hujan, tanpa memperdulikan tubuhnya yang kembali basah kuyup terguyur derai air yang tajam dan deras. Dan aku kembali sendiri. Senyum tipis terkembang di bibirku yang sedikit gemetar. Kulirik selembar uang dua ribuan sisa kembalian nasi bungkus yang sejak tadi kugenggam erat. Satu-satunya lembaran uang yang masih kumiliki. “Biarlah... Bagas pasti setuju dengan apa yang kulakukan ini...” bisikku lirih, berupaya menghibur diri. “Nanti ibu belikan kamu gorengan Bu Haji samping rumah untuk makan malam yaa Bagas...”

Akhirnya, aku pun sampai di rumah berbarengan dengan waktu Maghrib tiba. “Bagas...”, kuketuk pintu sambil mengucap salam dan memanggil Bagas agar segera membukakan pintu. Ingin segera kuceritakan kejadian yang baru saja kualami saat berteduh tadi, agar Bagas juga bisa tetap merasa lega meski jatah makannya malam ini telah berpindah tangan. Semoga Bagas tak akan terlalu kecewa akan hal ini. Semoga kebaikan dari nasi bungkus yang berpindah tangan untuk emak sang bocah lelaki kecil tadi bisa sedikit menghibur Bagasku. “Bagas...”

Saat akhirnya Bagas membuka pintu dengan wajah sumringah, aku terkesiap. Ketika pintu terbuka, kulihat dua piring nasi hangat dengan aneka lauk-pauk di sekelilingnya, dan juga beberapa potong kue dan buah-buahan terhidang di atas meja. Aku hanya mampu terpana.

“Ibu, ini kiriman nasi dari bu Haji. Kak Adilla ulang tahun. Alhamulillah, Bagas dikirimi ini, buat ibu juga. Ayo habis sholat kita makan sama-sama bu...”

“Mashaallah... Alhamdulillah Gusti...” aku hanya bisa berujar lirih, sambil terduduk lemas. Melihat kuasaMU, air mata ini kembali menumpuk di pelupuk, memaksa untuk jatuh. Ku tahu, air mata ini, air mata penuh syukur.

  • view 135

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    8 bulan yang lalu.
    Sedekah yang dibayar lunas berlipat ganda saat itu juga ...
    Maasyaa Allah ....

    • Lihat 2 Respon