Berhakkah aku tuk bahagia?

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Maret 2017
Berhakkah aku tuk bahagia?

Benarkah aku berhak bahagia?

Sepanjang lorong waktu yang membentang, yang telah terlewati ribuan jam dan milyaran menit dalam helaan nafas,

Tersisa satu pertanyaan yang sama.

Bahagia....

Bahkan tiada lagi keberanian tersisa, hanya untuk sekedar mendefinisikannya dalam jajaran aksara, dengan ritme ataupun bahkan sarkasme. Bahkan kata bahagia, kini terdengar begitu asing di telinga.

Asing, yaa.... Bahkan, serasa tak terjangkau nalar, atau bahkan logika.

Lalu di satu titik tempatku menjeda waktu, kutemukan jawaban tersirat di sana.

Dimana bahagia itu, tidak egois, tidak pula egosentris. Bahagia itu, terjemahan dari satu bahasa.

Bahasa cinta.

Karena bahagia dalam terjemahan rasa yg subjektif, itu sebenarnya hanyalah kesenangan belaka.

Bahagia, konteksnya adalah menebarkan cinta. Membahagiakan. Memberikan rasa bahagia. Membuat dan memberi. Objektif.

Saat itulah, beragam nilai dan bentuk kesenangan yg diberikan, cinta yg ditebarkan, terwujud dalam bentuk bahagia yg didapat, dan dirasakan.

Dan di saat inilah, kau akan merasa berhak, untuk berbahagia.

  • view 137