Cinta Sang Ronggeng

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Mei 2016
Cinta Sang Ronggeng

"Dasar jalaaaaang!!!!"

Plak!!!!

Aku hanya mampu meringis menahan perih. Pipiku memanas. Air mataku refleks memenuhi mataku, satu-satu mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Ini betul-betul di luar kendaliku.

"Perempuan murahan!!! Menjijikkan!!!"

Aku tak begitu memperhatikan kata-kata kasar yang dilontarkannya untukku. Kedua tanganku sudah bersiap menutup telinga dan pipiku. Bukan karena aku tak suka mendengar kata-katanya yang kasar, bukan. Aku sudah sangat terbiasa mendengar umpatan yg ditujukannya untukku. Aku hanya bersiap jika tangan besar dan kasar itu kembali menghujani wajahku dengan pukulannya yang keras. 

Sambil tetap membenamkan wajahku pada kedua lenganku, kudengar suara langkah kakinya berjalan menjauh. Hatiku sedikit lega. Kuberanikan diri mengangkat wajahku. Benar, dia pergi. Sedikit senyum tersungging di bibirku yg membiru dan berdarah. Kulihat ke arah meja rias, selembar uang limapuluhribuan yang kuletakkan di situ sudah tidak ada. Senyumku makin sumringah.

"Apapun yang kau katakan, apapun yang kau lakukan, aku tau kau tetap cinta aku Mas.... kau tetap butuh aku..."

Kucoba tegakkan kembali tubuhku yang sedikit limbung. Syukurlah aku masih mampu berdiri. Di muka cermin rias yg retak terkena lemparan asbak barusan tadi, kuperbaiki riasan wajahku. Darah di mulutku yg sudah mulai mengering kuseka dengan ujung selendang, lalu kupakai lagi gincu merah tua di bibirku yang sedikit membengkak. Warna biru lebam itu pun kini tak lagi tampak. Perona pipi kupoles sedikit tebal hingga bekas tamparan tadi tertutupi dengan sempurna.

Di cermin itu, senyumku kini kembali, senyum yang cantik dan manja. Setelah berhasil memperbaiki sanggul dan sasakan rambutku yg porak poranda akibat jambakannya, kembali kusematkan sekuntum mawar yang tak lagi segar pemberian seorang penggemar siang tadi, dan dengan langkah melenggok riang, ku kembali ketengah keramaian dan bergabung dengan teman-temanku yang sudah sibuk menari dan menemani penonton pasangannya masing-masing di atas panggung diiringi suara gamelan juga gelak tawa yang sama-sama memekakkan telinga.