Photographer as a man behind the gun & editing process as it ammunition

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 03 Mei 2016
Photographer as a man behind the gun & editing process as it ammunition

Sebagai pecinta seni fotografi, saya yang masih awam dengan teknik-teknik pengambilan gambar secara profesional ini sangat menyadari bahwa kepiawaian dan insting seni seorang 'photographer' untuk menangkap sisi terindah dari sebuah obyek photo adalah unsur utama dalam menghasilkan sebuah karya fotografi yg indah, bahkan kualitas kamera bukanlah faktor utama dan bisa jadi faktor kesekian dalam mempengaruhi hasil karya seni fotografi yang enak dipandang dan mampu menyampaikan pesan yg hendak dimunculkan oleh sang photographer di dalam hasil karyanya. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa kamera dengan kualitas yang baik dan prima akan sangat mendukung photographer dalam mencapai hasil karya yang optimal. 

Mencukil istilah yang sering saya dengar tentang seorang photographer, 

"Photographer is a man behind the gun"

Pernyataan ini menunjukkan bahwa bukan alat atau lebih khususnya bukan kamera yang paling canggih dan mutakhir yg membuat karya seni fotografi itu menjadi hebat, tapi si pengguna alat itulah aktor utama yang memegang peranan paling penting dalam kelahiran sebuah karya hebat tersebut.

Setelah karya dibuat, hasil jepretan biasanya akan dipublikasikan sesuai kebutuhan dan keinginan sang photographer atau pengguna hasil karyanya. 

Tak jarang, untuk memenuhi kebutuhan pengguna karya, hasil karya orisinil yang dihasilkan akan mengalami beberapa proses pengolahan atau biasa disebut proses editting. Dan ini adalah hal yang lumrah dalam seni fotografi. 'Editing process' ini bisa disebut sebagai salah satu amunisi dari seorang photographer untuk mengolah hasil karyanya menjadi lebih layak publikasi. 

Alasan umum sebuah gambar mengalami proses peng-edit-an, umumnya adalah untuk membuat efek dramatis dari gambar tersebut terhadap sebuah pesan yang digambarkannya atau yang diwakilinya. Atau tujuan selanjutnya adalah agar gambar orisinil yang dihasilkan menjadi tampil lebih baik dan menawan setelah melalui tahapan proses editing.

Namun dibalik semua alasan diatas, apapun sentuhan yang dilakukan sang photographer terhadap karya fotonya, sebenarnya semua adalah demi memenuhi kepuasan batin sang pengambil gambar, juga yang tak kalah penting adalah untuk memuaskan hati para penikmat hasil karya seninya tersebut.

Dan akhirnya, apreasiasi dari penikmat karyalah yang akan memberikan penilaian, apakah karya seni yang dihasilkan dapat memenuhi keinginan dan dapat memuaskan harapan mereka terhadap karya tersebut, atau justru sebaliknya.

Berikut ini beberapa contoh gambar orisinil yang kemudian dikarenakan kebutuhan tertentu akhirnya mendapatkan sentuhan 'editing process'. 

Dan dikarenakan ingin meminimalisasikan ketidak orisinilan gambar juga menghindarkan diri dari pelanggaran 'copyright', maka mohon dimaklumi jika saya menggunakan hasil jepretan saya sebagai contoh di artikel ini. Maafkan jika hasil karya fotografi saya masih sangat amatir. ^_^

Let's check it out guys, I hope you like them  ^_^

 

Gambar 1. a. Air hujan diatas daun (versi asli)

Gambar diambil menggunakan kamera HP Samsung Galaxy A3)

 

Gambar 1. b. Air hujan diatas daun (sesudah proses editing)

*Saturation + , Highlight + , Vignette

 Foto "air hujan diatas daun" versi editan membuat gambar menjadi lebih hidup, pantulan titik air menjadi lebih bening dan fokus terhadap air hujan jadi lebih tajam.

 

Gambar 2. a. Bangku taman (versi orisinil)

 

 Gambar 2. b. Bangku taman (sesudah proses editing)

 *Black/white version, moon style

 Gambar ini diedit dengan gaya hitam-putih, untuk mendapatkan kesan dramatis dari si obyek gambar. Fokus gambar yang dalam versi orisinil terkesan terbagi ke semua obyek yang terambil gambarnya, di versi hitam-putih membuat fokus obyek lebih bertumpu pada satu obyek utama, yaitu si bangku taman. 

 

Gambar 3. a. Danau sunyi (versi orisinil)

 

Gambar 3. b. Danau sunyi (sesudah proses editting)

*Tillshift, saturation +

Proses edit yang dilakukan dalam gambar ini adalah menajamkan gambar utama, menambah volume penerangan warna dan mem-blur area sekitar gambar sehingga hasil akhir gambar ini menjadi lebih mendapatkan nuansa yang sesuai dengan judul, yaitu sunyi, tersembunyi.

Nah rekan-rekan sekalian, ini tiga foto milik saya yang telah melalui proses editing sebelum saya menampilkan dan menggunakannya sesuai kebutuhan. Karena semua ide dan penilaian yang saya paparkan adalah merupakan pendapat pribadi saya, maka saya sangat memaklumi apabila ada diantara rekan-rekan terutama para profesional di bidang fotografi yang memiliki pendapat dan sudut pandang yang berbeda. Dan saya akan sangat berterimakasih atas segala masukan dan kritik dari rekan-rekan, yang pastinya itu akan makin memperkaya ilmu dan wawasan saya yang masih sangat dangkal di bidang fotografi.

Salam hangat,

@Umipoer ^_^


  • Antie Raharjo
    Antie Raharjo
    1 tahun yang lalu.
    The man behind the gun, saya dapet kata-kata seperti itu juga dari guru saya yang sudah tiada. Mudah-mudahan ilmu yang bermanfaat yang beliau turunkan kepada saya, bisa terus mengalir pahalanya untuk beliau. Amin.
    Picture can say everything, so i like all your pictures .

    • Lihat 1 Respon

  • Arif Syahertian
    Arif Syahertian
    1 tahun yang lalu.
    Tak kalah dengan gambar 2 dan gambar 3, gambar 1, air hujan di atas daun, baik yang versi asli maupun setelah editing, terlihat sangat hidup. Menarik!

    • Lihat 2 Respon

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Kalau orang awam macem saya ini, kepuasan batin memang nomer 1, mba Umie. wkwk

    • Lihat 2 Respon