Menanti Simpul Hati

Umie Poerwanti
Karya Umie Poerwanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Menanti Simpul Hati

Bogor selepas hujan, Februari 1976,

Teduh...

Di Telaga bening matamu

Kulabuhkan cinta sejatiku

Ragamu, ku tahu takkan tersentuh

Satu yang kuminta, selamanya hatimu...

 

Desir angin kering sore hari itu, menerbangkan debu jalanan yang sedang kutapaki. Poni rambutku yang dipenuhi uban tak bisa diam, terus saja menerpa dahiku setiap kali angin datang.

"Ah... kursi itu kosong, baguslah, pasti banyak anak-anak yang main disini hari ini," gumamku.

Satu-satunya bangku kayu tua di taman ini telah beberapa tahun terakhir menemani soreku. Tepatnya 5 tahun terakhir semenjak May pergi untuk selamanya. Sejak ibunya berpulang, anak-anakku tak lagi tinggal denganku. Lebih tepatnya, aku tak mau ikut dengan salah satu dari mereka, dan lebih memilih tinggal sendirian di rumah kami. Anak-anak sudah dewasa, mereka punya kehidupannya sendiri, begitu pun aku.

Kegiatan rutinku setiap sore hari tiba, adalah mengunjungi taman ini. Letaknya tak jauh dari rumahku, hanya beberapa meter saja. Bukan taman yang indah, hanya sebuah lapangan rumput dengan dua pohon Waru besar yang memayungi sebagian areanya. Usia kedua pohon itu, mungkin sama denganku. Di antara dua pohon rimbun itulah, bangku taman itu berada. Inilah tempat favoritku menghabiskan hari sebelum adzan Maghrib tiba. Dari bangku ini aku bisa menikmati riuhnya celoteh anak-anak lingkungan rumahku yang tengah bermain bola atau bersepeda, atau memperhatikan para ibu-ibu tetanggaku yang sedang mengajak jalan-jalan si kecil sambil menyuapi mereka. Bersama mereka aku tak pernah merasa kesepian.

Hingga sore itu...

Tiba-tiba aku terkesiap. Entah magnet apa yang mampu mengalihkan pandanganku secara tiba-tiba. Mata dan kepalaku sepertinya secara otomatis beralih pandangan dari keriuhan rutin didepanku, ke salah satu teras rumah yang berada tepat disebelah rumahku. Di pekarangan rumah berpagar bambu itu, dan diantara degup jantungku yang tiba-tiba berdetak kencang tak karuan, mata tuaku ini, menemukanmu.Teduh, itu kamu...

 

Bogor, pertengahan April yang panas, 1976.

Teruntuk Teduhku...

Pergilah...

Karena perahu harus berlayar

Dan aku bukan nahkodamu

Aku hanyalah tepian pelabuhan 

Yang akan terus mengenangmu 

 

Ya, aku yakin itu kamu. Berjalan kesana kemari sambil tergopoh-gopoh mengejar Lily, bocah 4 tahun putri dari tetanggaku yang lucu dan menggemaskan yang terus berlarian di halaman, aku masih mengenalimu. Matamu, mata beningmu masih amat akrab kukenal. Kau memang bukan lagi teduh yang cantik dan belia, rambutmu yang dulu legam dan panjang, kini telah menipis dan beruban. Tubuhmu sedikit membungkuk termakan usia, mungkin beban hidup yang telah kau tanggung yang membuatnya begitu. Wajahmu pun, sudah sangat jauh berubah, menua. Tetapi mata itu, masih tetap sama, aku masih bisa mengenalinya.

 

Cimanggis selepas tangis, medio April 1976

Untuk Tegarku

Melepasku pergi...

Benarkah rela hatimu?

Hatiku mengatakan tidak

Begitupun garis di wajahmu

Mungkin pertalian kita Tak ditakdirkan bersimpul

Atau mungkin, Tuhan mengajak kita bercanda

Berharap bahwa suatu ketika

Angin kan membawa ikatan ini

Tuk saling bersimpul di lain masa

Entah di dunia ini, atau kelak di alam sana...

 

Dan sore ini, disinilah aku. Kembali termangu diam, duduk bersandar di bangku taman ini, menunggu. Akhirnya, setelah 40 tahun kulalui tanpamu...

Rutinitasku di bangku taman ini mulai berubah. Aku tak lagi menikmati keramaian di taman ini setiap sore. Aku jadi makin sering duduk di bangku ini, bahkan saat pagi baru saja dimulai. Aku hanya tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa memperhatikanmu dari sini. Paling tidak sampai tiba waktunya nanti aku tak lagi bisa melihatmu, mungkin saat kau sudah waktunya pergi, atau karena hal lainnya.

Teduh...

Ingin sekali aku mendekat, karena secara fisik, jarak kita saat ini memang sangat dekat. Bahkan mulut ini sangat ingin bersuara, memanggil namamu, dan memastikan bahwa pemilik mata bening itu memang benar engkau, Teduh, Teduhku yang amat kurindukan.

Tapi, tidak!

Aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu kehidupanmu. Aku tau kau pasti telah mengalami masa-masa sulit saat kita akhirnya harus terpisah. Aku tak mau melukaimu lagi, membuatmu harus mengulang kenangan pahit yang mungkin kini telah berhasil kau lalui dan telah jauh kau tinggalkan. Tiga hal yang membuatku takut bila aku memutuskan untuk menegurmu. Dan ketiganya sama-sama akan menyakitiku. Yaitu bila ternyata kau bukanlah Teduh yang kukenal, atau kau Teduhku, tapi kau tak lagi mengenaliku. Dan yang paling kukhawatirkan adalah, bila ternyata pertemuanku kembali denganmu akan menimbulkan luka baru untukmu juga keluargamu, bagaimanapun bentuk luka itu. Jadi, biarlah keadaan ini tetap seperti ini. Aku sudah cukup puas bisa memandangimu dari sini setiap harinya, sampai waktu nantinya memaksaku untuk tak bisa melakukannya lagi.

Sore ini masih menyisakan teriknya. Tapi aku tak peduli. Di hatiku, ada Teduh. Kuperhatikan tiap gerak-gerikmu dari sini. Biarlah orang menilai aku gila karena tersenyum dan tertawa terkekeh sendiri. Mereka tahu apa tentang Teduhku. Mereka tak perlu ikut tahu bahwa sumber bahagiaku ada dihadapanku.

Tiba-tiba aku terperanjat kaget mendengar teriakan Teduh.

"Lily!!! Lily...!!!"

Semua terjadi begitu cepat. Lily yang mungil itu berlari lepas dari pelukan Teduh menuju luar pagar. Teduh menyusul berlari mengejar. Aku pun tanpa sadar ikut berdiri, dan langsung berlari mengejar Lily yang melaju cepat ke jalanan. Bersamaan dengan itu sebuah mobil melaju cepat ke arah kami. 

"Teduuuh!! Awaaaasssss!!!!" 

Aku hanya bisa melihat sekelebatan bayangan besar hitam berdecit dan mengeluarkan suara klakson yang memekakkan, menyambar kencang tubuhku. Aku tak mampu menahan tubuhku lagi, tapi sebelum jatuh mencium trotoar, ku ingat untuk cepat melepaskan peganganku dari Teduh dan Lily , dan langsung mendorong mereka menjauh dariku ke arah rerumputan tebal sekian meter disisi jalan.

"Ya Tuhan, Tegaaaar!!! Tidaaak!!!!"

Teduh memanggilku. Dia mengenaliku. Ternyata dia mengenaliku. Kurasakan tangannya cepat menggapai tubuhku. Senyumku melebar tanpa bisa lagi kutahan. Hatiku berbunga-bunga, bahagia.

"Tegar!! Bangun Tegar, banguuuunn!! Ini Teduh, aku Teduh, Tegaaar!!!"

Pandangan mataku mulai kabur, cairan hangat kurasakan mengalir dan menggenangi mata dan wajahku, tapi telingaku masih cukup awas mendengar suara Teduh yang terus memanggil namaku, berulang-ulang. Dia sangat dekat, teramat dekat, sudah lama sekali kurindukan kehangatan ini, dalam dekapannya yang erat aku merasa lega. Kemudian perlahan suara merdu itu mulai samar menghilang dari pendengaranku, bersamaan dengan warna yang makin suram memudar, dan akhirnya gelap, yang memelukku dalam senyum.

 

Sore yang sepi, di penghujung April 2016.

Tuk Tegarku, di peraduanmu kini.

Tuhan mungkin mengajak kita bercanda

Harapan kita terpenuhi akhirnya

Ikatan ini menemukan simpulnya

Untukku di hari ini, dan untukmu disana, selamanya

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Cerpen dengan tema sederhana yaitu cinta mendalam yang sayangnya tak bisa bersatu di masa muda. Puluhan tahun berlalu pun tak bisa memudarkan rasa yang pernah ada. Ketika Tegar dan Teduh sama-sama menua, mereka kembali bertemu namun hanya dalam waktu yang sangat singkat. Mengutip kalimat dalam puisi di akhir karya ini, "Tuhan mungkin mengajak kita bercanda", cerpen memang berakhir tragis dan sedih tetapi kisah tetap indah dan manis walau tak melulu berujung bersatunya Tegar dan Teduh dalam pernikahan. Teknik penceritaan yang acak antara "flashback" dan masa kini plus kutipan puisi syahdu membuat karya ini enak dibaca dan mampu mengalirkan emosi ke pembaca secara baik. Gaya penulisan yang lebih mengutamakan deskripsi ketimbang penceritaan langsung semakin menjadikan tulisan ini berbobot yang akan membuai imajinasi pembaca secara visual mau pun emosional.

    • Lihat 3 Respon

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Gereget, banget Yaaah kapanbisa nulis begini ?

    • Lihat 3 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Ternyata di sini lom ada postingan baru... *Pergi lagi ke lapak yang lain buat nyuri hikmah... ^_

    • Lihat 3 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Layak promo... ^_

    • Lihat 4 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    cie cieeee jadi pilihan redaksi hari ini, ihiiirrr umie keren dech...jadi semangat nulis lagi