Ayah, Lelaki Penuh Cinta, Kataku.

ulya Ahmad
Karya ulya Ahmad Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 November 2016
Ayah, Lelaki Penuh Cinta, Kataku.

 

AYAH, LELAKI PENUH CINTA.......Kataku".

Gelak tawa itu, kini semakin jauh kurasakan, sentuhan tangan kasar itu semakin jarang kudapatkan dan wajah keriput yang tak lagi muda itu sangat begitu jarang kulihat akhir akhir ini. Laki laki itu tak lain tak bukan adalah ayahku, sosok penuh cinta kataku. Bagaimana tidak, ayahku masih bisa tersenyum tanpa keluhan saat peluh dan keringat bercucuran, ayahku masih bisa menggendong anak-anaknya saat tubuhnya tak lagi perkasa seperti dulu kala, ,masih menyisihkan waktunya untukku ketika aku dan adik adikkku kesulitan belajar, masih mengantarku pergi ke pesantren dan masih bisa mengayuh sepeda ontelnya ke lading meski dengan nafas yang ngos ngosan karna harus mengayuh di jarak yang jauh, saat ayah ayah lain sudah mampu membeli sepeda motor ayah kami harus tetap bertahan dengan sepeda ontel buntutnya yang setia menemaninya karna uang yang didapatkan harus digunakan untuk keperluan sekolah dan kebutuhan sehari-hari kami yang pas-pasan. Tapi betapa luar biasanya lelaki penuh cinta ini. Ya, ayahku masih bisa membuat rumah idaman kami seorang diri saat ayah-ayah lain menyewa tukang bangunan untuk mengerjakannya, pernah suatu hari ku tanyakan mengapa tak mepekerjakan tukang bangunan saja yah, agar ayah tidak terlalu capek”, ayahku tersenyum sembari berkata,”ayah masih mampu nak mengerjakannya sendiri, ayah masih kuat dan sangat bertenaga, jadi untuk apa menyewa tukang bangunan” aku hanya diam, dalam hati berkata, “maaf yah aku tahu kau tak punya uang untuk itu.

Ya, itulah ayahku, ayah penuh cinta yang masih bisa tersenyum ringan sambil menatap kami saat mengusung bata-bata itu seorang diri. Seperti disuatu siang yang sangat terik saat ayah ayah lain mulai istirahat untuk berteduh ayahku masih dengan semangat yang menggebu memindahkan beberapa kayu untuk bangunan rumah kami, sedikit demi sedikit rumah itu hampir jadi, ibuku yang hanya tersenyum melihat sambil terpaku tanpa sepatah kata apapun memandanginya dari jauh. Terlihat sayup dari mata yang tak lagi bening karena sering meniup tumpu kayu bakar. Hidup kami memang susah tapi ayahku selalu katakan: tetaplah hidup dengan cinta-Nya sesusah apapun itu tetaplah bertahan agar kau apat rasakan pahit manisnya dunia. ah ayah, saat ini aku hanya selalu melihat dan berfikit tentang kepahitan yang selalu kau dapatkan tanpa melihat ternyata ayahku sepertinya merasakan manisnya hidup. Kadang kadang ingin sekali rasanya ku bantu mengusung bata-batamu, memboncengmu dengan sepeda buntutmu itu, tapi kau selalu saja menolakku. Aku hanya ingin kau berbagi beban denganku saat usiaku tak lagi remaja, aku ingin kau tahu bahwa aku sudah beranjak dewasa, aku pun sanggup menjadi partner terbaikmu. Ayah, lelaki penuh cinta kataku, selalu hidup dengan sahaja, bijaksana dalam setiap suasana dan selalu penuh cinta, Lagi lagi ayah yang harus mengalah menahan capek yang luar biasa bekerja serabutan untuk menafkahi kami. Ayah, Aku hanya ingin berbakti, memberikan segala kemampuan ini untuk ayahku yang tak lagi muda, aku hanya ingin disaat tua nanti ayahku hanya berpangku tangan duduk manis sambil minum teh bersama ibu. Meski kurasa apapun yang ku berikan kepadamu takkan cukup untuk membalas peluh keringat dan tenaga yang kau keluarkan selama ini. baginya, mencintai berarti memberikan seutuhnya kebahagiaan untuk orang tercinta walaupun harus menahan lara kebahagiaan orang yang dicinta adalah kebahagiaan pula untuknya dan kesedihan orang yang di cinta adalah kesedihannya pula.Aku bangga menjadi anakmu ayah, bukan karna kau ayahku  Karna ayahku, tapi karna kau lelaki penuh cinta itu mampu mengubah kesusahan menjadi kemudahan mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan mengubah sakit menjadi sehat hanya karna cintanya yang tulus hanya karna sikapnya yang selalu tanpa pamrih, mengubah kelemahan menjadi kekuatan dengan hanya dengan satu senyuman ketulusan penuh arti dari ayahku, lelaki penuh cinta, kataku.

Oel, 11/08/2016: 12:54”

  • view 356