Tentang Kematian

Ulvina Haviza
Karya Ulvina Haviza Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Maret 2016
Tentang Kematian

Tentang kematian, seperti apapun ceritanya, tetap meninggalkan bekas disini, di dalam dada, meski hanya setitik, jauh di dasarnya?..

Ah, Ma, tiba-tiba selintas bayanganmu menyergap ingatanku. Kenanganku melayang ke masa lima tahun lalu, tak terasa begitu cepat waktu berlari. Telah berbilang tahun sudah Ma. Tiga hari pasca gempa dahsyat yang mengguncang kampung halaman kita. Bukan, bukan karena gempanya, tapi memang itulah waktu dimana kita harus berpisah selamanya di dunia.

?

Sudah menahun kau menahan sakit di badanmu. Entah sakit apa, sampai saat inipun aku tak tahu menamainya bahkan sulit untuk menjelaskannya menjadi kata-kata. Hingga tubuhmu kurus dan semakin kurus saja jadinya. Tentang obat, janganlah lagi ditanya, segalanya telah kita coba terutama yang alternatif tentunya, karena memang kebiasaanmu yang sejak dulu jarang mau mengunjungi dokter. Tapi untuk sakitmu kali ini sudah dua kali kita mendatangi dokter,dengan segala paksaan kami tentunya, anak-anakmu. Dan masih belum ditemukan penyebab yang jelas, hingga kau pun menyerah untuk kembali kesana. Setahun belakangan, Mama mulai terlihat pasrah dan menyerah tersebab sakit yang menjangkitinya itu tak kunjung hilang ataupun sekadar berkurang.

Ma, mengingatnya tiba-tiba dadaku terasa sesak, sempit. Akhirnya hari itu tiba juga, hari dimana engkau menyerah pada rasa sakit itu. Seharian kau terlihat aneh bagiku Ma. Tiba-tiba memintaku mengambilkan air di dalam baskom untukmu, untuk mencuci mukamu, kepanasan keluhmu saat itu. Kau terus saja menciduk air dari dalam baskom itu lalu mengusapkannya ke muka dengan tangan ringkihmu. Aku bingung, tapi hanya bisa diam memperhatikanmu.

Terlalu banyak drama kesedihan yang terjadi setelah itu, gemetar dadaku menguraikannya kembali satu-persatu.

Dua hari pasca gempa Sumatera Barat, sore itu Jumat 2 Oktober 2009. Sore yang masih biasa seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tidak, hari itu tubuhku rasanya seperti tercekat, dadaku serasa sesak, aku takut. Dari siang aku mulai merasakan tanda-tanda itu, tapi selalu mencoba menepisnya dengan berkata dalam hati bahwa masih akan lama, belumlah sekarang saatnya. Tapi, sore itu nafasmu tiba-tiba saja sesak Ma, tubuhmu seperti kepanasan, berkali-kali meminta agar mukamu diguyur dengan air dingin. Dan sesaat setelah itu, kau meminta untuk diambilkan segelas air putih, ingin minum katamu. Tapi entah kenapa air itu sulit melewati tenggorokanmu, lehermu seperti tercekat. Nafasmu tiba-tiba sesak memburu, dan matamu membelalak.

Aku takut Ma, teramat takut. Entah kenapa dalam sekejap tiba-tiba seolah merasakan firasat itu. Begitu pula Uni Sri, kakak perempuanku kurasa. Seketika ia panik, tiba-tiba terisak, dan dengan kalut ia membaca kalimat ?Laailaahaillaah? berkali-kali dan meminta Mama untuk mengulanginya. Sementara aku hanya bisa menangis saat itu Ma. Otakku seperti tiba-tiba buntu, tak tahu mesti melakukan apa. Dengan panik pula aku meminta Lona, saudara sepupu yang tinggal dengan kita untuk memanggil tetangga depan rumah, mencoba meminta bantuan. Karena saat itu hanya ada kita berempat di rumah, perempuan semua. Sama-sama tak tahu mesti bagaimana.

Seketika beberapa orang datang, termasuk salah seorang Ustadz yang pernah menjadi guru mengajiku saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, tinggalnya tak begitu jauh dari rumah. Beliau lalu memintaku mengambilkan segelas air putih dan sendok, lalu mencoba menyuapinya ke mulut Mama, tapi sepertinya tubuh Mama menolak, lagi-lagi air itu tak bisa lewat sedikitpun ke kerongkongan Mama, tetap tercekat, tumpah kemana-mana. Kemudian kurasakan kasur Mama basah, Mama baru saja buang air kecil karena menahan sakit. Sementara itu oleh si Ustadz, aku dan Uni Sri diminta untuk terus membacakan asma Allah, dekat ke telinga mama. Terus dan terus di samping Mama yang bagiku terlihat sedang sekarat. Dalam hati aku selalu mencoba menepis dengan berkata, Mama belum akan pergi, belum ini saatnya.

Hingga malam, semakin banyak tetangga yang berdatangan, turut membacakan ayat-ayat Allah. Di tengah sayup lantunan Al-Quran, Mama kemudian berbisik, meminta didudukkan. Kupikir mungkin seperti biasa, Mama merasa lelah untuk terus berbaring. Kukatakan pada Uni Sri, tapi ia tak mau melakukannya karena takut terjadi apa-apa pada mama, takut malah membuat mama jadi semakin lelah. Tapi mama tetap meminta dengan nada suara yang kali ini mulai meninggi, yang kutahu pasti ia sangat kesulitan mengumpulkan kekuatan untuk mengeluarkan suara sekeras itu. Akhirnya kuberanikan diri mengangkat tubuh mama. Perlahan menyelipkan kedua lenganku ke bawah punggung mama yang ringkih. Pelan kuangkat sampai posisi ia terduduk. Lalu mama memelukku kuat, sangat kuat. Pelukan yang entah kapan, dulu pernah kurasakan. Aku lupa. Dadaku bergetar menyadari tubuh mama sudah sangat kurus, hingga kurasakan tulang-tulangnya diantara lengan dan telapak tanganku.

Tubuh kurus Mama ada dipelukanku.??Kepalanya terkulai lemah dan kutahan dengan tanganku. Hanya sebentar, pelukannya kemudian mulai melemah, tanggannya tak lagi merangkul tubuhku. Aku takut, segera kukembalikan mama ke posisi tertidur, sementara mataku kembali basah menganak sungai. Menatap perempuan tua dihadapanku itu, pikirianku kembali melayang ke masa bertahun-tahun yang lalu. Sungguh betapa besar pengorbanannya membesarkan kami anak-anaknya, dulu betapa kuatnya dia, mengambil alih tugas menghidupi kami semenjak Papa tak lagi bekerja. Kini Ma, hanya air mata yang terus mengalir, getir menatap penderitaanmu.

Sekitar pukul 22.00 WIB, adik perempuan mama datang, ibunya Lona. Ia adik perempuan Mama satu-satunya dan orang yang memang paling banyak membantu kami selama ini. Setelah berunding dengan saudara yang lain dan beberapa tetangga akhirnya diputuskan akan membawa Mama ke kampung halaman, karena disana akan banyak orang yang mengurusi, sementara disini tak ada siapa-siapa. Lagi pula, dulu mama sering bilang kalau nanti ia meninggal ingin dikubur di kampung halamannya.

Rencananya akan membawa mama dengan menggunakan ambulans, namun karena kondisi pasca gempa, tak ada satupun ambulas yang bisa digunakan. Dipakai semua untuk membawa korban gempa. Akhirnya diputuskan, membawa Mama dengan mobil Tek Eli saja. Aku dan Uni Sri yang memangku Mama di bangku tengah. Lona dan adik perempuannya terpaksa duduk di bagasi. Karena tipe mobilnya yang kecil, kaki mama tak bisa diluruskan, terpaksa kami tekukkan lutut Mama. Dari wajahnya aku tahu Mama kesakitan, tapi mesti bagaimana? Maafkan kami ya Ma.

Tepat pukul 23.30 WIB kami berangkat setelah berpamitan dengan para tetangga sebelumnya. Mobil pun berjalan pelan, membelah kesunyian kota Padang yang gelap gulita pasca gempa. Sunyi, serasa kota mati. Tak ada cahaya, sepanjang jalan hanya terlihat bangunan yang roboh dan hancur karena gempa. Di hatiku mulai menyusup dingin, tiba-tiba membayangkan tentang perjalanan kematian, terasa seperti memaksa pulang kampung seolah memaksa kematian Mama. Lagi, air mataku mengalir perlahan. Ada perih yang tak bisa kutahan, jauh di dalam dada.

Serasa dilingkupi aura kematian, dingin, sunyi. Yang lagi-lagi kutepis dengan mencoba membohongi nurani, berkata dalam hati, ?Sebentar lagi akan sampai di kampung, lalu Mama akan tidur di kasur tipisnya, di lantai, di ruang tengah rumah seperti biasa.? Aku masih diam, hanya diam, mencoba mengendalikan pikiran-pikiran buruk yang mulai menggerogoti hati, sementara Uni Sri yang posisi kepala mama ada di pangkuannya, masih membisikkan asma Allah ?Laailaahaillah,? berulang-ulang. Dan mama sekuat tenaga mengikutinya, meski yang terdengar hanya ucapan Allah karena Mama yang kelihatan semakin payah untuk sekadar menggerakkan bibirnya. Seringkali yang terdengar hanya erangan dan rintihan, entah karena kesakitan atau memang nafas yang semakin susah diatur.

Mama terlihat gelisah, pelan ia menggerak-gerakkan kakinya, sepertinya tak nyaman dan kesakitan karena kaki yang ditekuk. Sementara tangan kiriku terus saja memegangi kakinya yang terasa semakin dingin, sangat dingin. Sesekali Mama meminta minum dan Uni Sri menyuapinya dengan sendok perlahan. Sepertinya kali ini air itu bisa melewati kerongkongan Mama, meski sangat sedikit.

Tak berapa lama, Uni Sri merasakan mual di perutnya, lalu memintaku menggantikannya membisikkan asma Allah pada Mama, akupun melakukannya dengan menyebutkannya agak keras karena posisiku berada di bagian kaki mama. Hanya sebentar, sekitar 10 menitan mungkin, kemudian Uni Sri kembali menggantikan, lalu akupun tertidur karena kantuk yang sebenarnya sudah sedari tadi kutahan. Aku tahu Uni sri pun pasti tak kalah lelah dan mengantuk luar biasa. Namun mataku telah terlanjur terpejam hingga tak tahu lagi apa yang terjadi beberapa menit setelahnya.

Tiba-tiba aku tersentak, terbangun dari tidurku. Sedikit pusing, mengerjap-ngerjap berusaha menajamkan penglihatan. Uni Sri terlihat panik di sampingku. Kualihkan pandangan pada Mama, tangan kanannya menjulur keatas, seperti menggapai sesuatu. Uni Sri memintaku memegangi tangan Mama. Dia semakin panik, akupun yang tak kalah panik. Gelagapan dia mencari-cari jejak nadi di tangan mama dan mendekatkan tangannya ke hidung Mama.

?Un baa ko Un?? teriaknya padaku. Air mukanya pucat ketakutan. ?Coba dekatkan tangan kehidung Mama!? perintahnya padaku. Gemetar perlahan kudekatkan tanganku ke hidung mama, detik pertama, lima detik berikutnya,dan detik setelahnya. Oh Tuhan, tak kurasakan apa-apa di sana. Aku ragu, kalut, mulai ketakutan, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Apakah ini benar-benar sebuah kenyataan? Benarkah Mama sudah pergi? Oh?. Tidak!! Tidakkah aku hanya sedang bermimpi, mimpi yang teramat buruk? Aku mulai histeris, menangis sejadi-jadinya. Kudekatkan lagi tanganku ke hidung Mama, kali ini seolah kurasakan sedikit hawa panas disana, dan kupikir kurasakan sedikit hembusan angin. Tapi tidak, hal itu sama sekali tidak terjadi. Aku hanya sedang menghibur diriku sendiri. Entah karena belum bisa menerima kenyataan atau memang??alam bawah sadarku yang tak mau menerimanya.

Air mataku semakin deras mengalir membanjiri tebing pipi. Apakah ini benar-benar terjadi? Inikah saat perpisahan kami dengan Mama? Tidak,kumohon jangan sekarang. Siapa saja, tolonglah bangunkan aku dari mimpi ini, mimpi yang sama sekali tak ingin kualami. Oh? kumohon jangan hancurkan hatiku seperti ini. Dalam isakan, keperhatikan wajah Mama lamat-lamat. Mama hanya diam, desahan nafasnya tak lagi terdengar, wajah putihnya pucat pasi. Tanpa kusadari, ternyata kaki mama telah terkulai lemah di atas pangkuanku. Seperti es, kurasakan dingin dan beku. Beku yang kemudian juga menjalari hatiku.

?Sudahlah, Mama sudah pergi,? kata Tek Eli pelan mencoba menenangkan aku dan Uni Sri. Tapi percuma, saat ini yang kuinginkan hanya menangis, menangis sejadi-jadinya, mungkin hingga aku lelah atau hingga air mata enggan keluar lagi. Perlahan Uni Sri menutup mata Mama yang masih sedikit terbuka dengan jemarinya, sementara aku masih tenggelam dalam isak. Meski Tek Eli dan suaminya mencoba menenangkan, meminta berhenti menangis, sama sekali tak kupedulikan. Aku dan Uni Sri terus dan terus saja menangis.

Aku masih menangis. Terus menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesukaannya, menangis seperti seorang kekasih yang berpisah dari orang yang teramat dicintainya, menangis hingga suaraku hampir habis. Hatiku patah. Lama kupandangi Mama yang kini seperti orang tertidur, pucat pasi di pangkuanku. Kugenggam tangannya yang dingin dan kaku. Kini yang ada di pangkuanku hanyalah jasad mama yang tak kan mungkin lagi nanti kudengar rintihannya atau sekadar suaranya yang sibuk menyuruh kami bangun pagi sejak saat masa sekolah dulu. Ah Ma, engkau membuatku merasakan kesedihan yang sama sekali tak pernah kurasa sebelumnya, sedih yang menusuk-nusuk sampai jauh ke dasar hati sana, sedih yang rasanya melemahkan tulang dan raga. Hari itu, 3 Oktober 2009, Pukul 02.00 dini hari, tepat di kebun Teh daerah Kayo Jao tempat mama pergi selamanya.

Mobil terus berjalan perlan membawa jasad mama. Sementara suami Tek Eli sibuk menelepon sanak keluagra, memberi tahu semua orang berita duka ini. Pandanganku kosong menatap keluar jendela, termenung. Di luar, malam masih gelap dan sepi. Tak terasa waktu sudah hampir mendekati subuh saat kami baru tiba di kampung. Dan saat tubuh itu diangkat Paman dari pangkuanku lalu dibawa masuk ke dalam rumah,??tangisku lagi-lagi pecah, tak bisa kutahan.

Mama memang ditidurkan di kasur tempatnya biasa, tapi kali ini tidur yang tak kan pernah bangun lagi. Lembut kucium keningnya yang seputih kertas, sangat dingin saat bersentuhan dengan bibirku. Rasa dingin yang mungkin tak kan pernah bisa kulupa sepanjang hidup. Kukalungkan tangan kiriku di dada Mama, memeluk tubuhnya dengan sebelah tangan seperti ia selalu memelukku saat akan tidur di waktu kecil dulu. Selamat jalan Ma. Maafkan aku yang sering memberimu luka, sepanjang hidupmu.

***

Setelah kita benar-benar berpisah, takdir kehidupan membawaku jauh ke seberang pulau sana. Ma, menatap gundukan tanah yang mengubur tubuhmu setelah dua tahun kutinggalkan, kembali ada rasa muram di sana. Mengingatmu, betapa kini segala desakan sesal??menyalak, meraja tak berdaya. Kini telah ada cucumu Ma, membuatku lebih paham betapa beratnya, menjaga dan setia melindungi semua anak-anakmu. Ma, ketakutanku kian bertambah, setelah cucumu lahir menjadi semakin menggununglah rasa sesalku padamu, yang tak mencintaimu sebagaimana mestinya, yang tak membalas jerihmu dengan senyum dan bahagia.***

  • view 131