Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 28 November 2017   14:59 WIB
Aku PCOS

Ini bukan hanya tentang keinginan untuk memiliki keturunan, tapi jauh di atas itu, ini tentang segala keikhtiyaran dan ujian tentang prasangka baik kepada Tuhan.

Aku baru mendapati pengetahuan tentang penyakitku ini setelah hampir setahun menikah. Waktu itu, tepatnya pada Januari 2013 aku memaksakan diri untuk memeriksakan kondisi rahimku ke dokter. Bukannya apa-apa, belakangan aku sungguh gelisah, pasalnya setelah 7 bulan yang lalu mengalami keguguran saat mengandung anak pertama, aku belum juga kunjung hamil lagi. Terlebih lagi peristiwa keguguranku bukan dikarenakan aku yang kelelahan atau ceroboh menjaga kandunganku, tapi memang karena janin yang ada di rahimkulah yang tidak berkembang. Kalau istilah kedokterannya Blighted Ovum (BO) atau Kehamilan Kosong.

Waktu itu terpaksa kandunganku dikuret, karena telah hampir seminggu mengalami flek atau bercak darah. Kata dokter obgyn tempatku biasa periksa, flek itu adalah proses kandunganku untuk menggugurkan diri dengan sendirinya karena memang bibitnya tidak bagus. Jadi pada saat jadwal pemeriksaan kandungan di bulan kedua, setelah usia kandunganku menginjak 10 minggu, saat di USG belum terlihat adanya janin disana, hanya terlihat kantong rahim, sama seperti pada saat usia kandunganku masih berumur 5 minggu, karena itulah dokter langsung menyimpulkan bahwa janinku tidak berkembang hingga akhirnya harus diangkat.

Aku mulai curiga tentang haidku yang tak datang teratur setiap bulannya, bisa tiga atau empat bulan sekali. Sebenarnya ini telah berlangsung lama semenjak aku masih kuliah dulu, tapi waktu itu aku tak terlalu memikirkannya. Namun sekarang berbeda, kupikir jika begini terus kapan aku akan bisa hamil, bagaimana caranya aku akan menghitung masa suburku agar bisa memiliki keturunan jika masa haidku tidak datang tiap bulan.

Belakangan aku mulai rajin mencari informasi tentang kondisi rahimku melalui internet, tentang penyebab haidku yang tidak lancar setiap bulannya seperti wanita normal lainnya. Hingga akhirnya aku menemukannya. PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), itulah nama penyakit kelainan pada sel telur yang kuderita. Berikut beberapa linknya http://www.bidankita.com/infertil-waspadai-pcos/ http://www.bidankita.com/ingin-hamil-pada-penderita-pcos/

Setelah merasa cukup mendapat informasi tentang penyakit ini, aku putuskan untuk memeriksakan kondisi rahimku ke dokter kandungan. Dan benarlah sudah, penyakit itu sudah dapat dipastikan mengingat saat diintip melalui USG, terlihat sel telur di rahimku berkumpul banyak tapi dengan ukuran yang kecil-kecil. Kalu kata dokternya seperti buah anggur atau sarang tawon. Kaget, pastinya iya. Hal inilah yang ternyata menyebabkan aku tak kunjung hamil lagi, padahal telah lewat 7 bulan dari keguguran kandunganku sebelumnya. Sel telurku yang kecil-kecil tak cukup subur untuk dibuahi sperma. Tiba-tiba aku dirundung takut dan sedih. Sepulang dari rumah sakit, aku menangis sejadi-jadinya, tangis yang dari tadi kutahan akibat masih shock menerima berita barusan.

Sejak saat itu aku mulai berubah menjadi orang yang sangat sensitif, terlebih jika ada yang menanyakan perihal anak dan kehamilan. Aku pasti langsung mewek sepulang dari tempat kerja. Masih sangat cengeng waktu itu. Seperti biasa, suami selalu mejadi tempat tumpahan keluh kesahku saat itu, punggungnya selalu kujadikan sadaran dan basah oleh air mata saat aku memeluknya erat saat boncengan motor dalam perjalanan pulang kerja. Nyaris putus asa, aku menangisi ketidakmampuanku untuk memberinya keturunan hampir setiap hari selama beberapa bulan. Namun dia selalu sabar dan menyediakan telinganya khusyu’ mendengarkan.

Tentang kesulitan untuk bisa mengandung selalu menjadi masalah yang paling sensitif bagi setiap rumah tangga, terlebih bagiku saat itu karena mengetahui ketidakmampuan itu ada pada diriku. Hingga sampai pada saat titik terendah iman, aku sempat menanyakan tentang sebuah pernikahan yang lain padanya, jika saja nanti aku benar-benar tak mampu memberikan keturunan, tak mampu hamil dan melahirkan. Namun lagi-lagi dia menjawabnya dengan indah,

“Mas udah memilih Dinda, apapun yang terjadi kita jalan sama-sama, InsyaAllah mas akan selalu dampingi dinda selama umur mas masih panjang. Dosa mas banyak, maka Allah uji kita dulu agar Allah hapuskan dosa-dosa itu.” Lalu kita berdua saling berpelukan, membagi sedih dan saling meminjamkan bahu tempat air mata tertumpah.

Sejak saat itu kita sama-sama bersepakat mencoba untuk lebih berpasrah pada ketetapanNya. Bagiku mencoba untuk tak lagi terus bersedih, hanya harus terus memperbanyak doa dan keikhtiyaran yang tiada putus. Sempat meminta orang-orang terdekat untuk tak lagi bertanya-tanya tentang sudah hamil atau belum, sambil terus-menerus menata hati.

                Kami putuskan untuk mulai menjalani program kehamilan dari dokter. Langkah pertama aku harus menurunkan berat badanku. Saat itu aku tak terlalu gemuk juga, namun berat badanku tak ideal. Kata si dokter, bagi mereka yang punya PCOS, haram hukumnya kelebihan berat badan, meski hanya beberapa kilogram saja, berat badan mesti seideal mungkin. Aku menurut saja, menurut dokter, menurunkan berat badan untuk membantu menyeimbangkan hormon dalam tubuhku, karena hormon testosteronnya kebanyakan melebihi hormon estrogen, itulah penyebab sel telur di rahimku tak pernah matang sempurna, namun berbentuk kecil-kecil banyak seperti anggur. http://www.bidankita.com/diet-untuk-penderita-pcos/

Aku memulai program dietku, sambil diberi obat hormon dari dokter yang diminum selama tiga bulan. Aku mulai rajin membaca artikel-artikel di internet tentang cara menurunkan berat badan. Semuanya serempak menuliskan dengan cara menjaga pola makan dan olah raga. Arrgggghhhh, dua hal itu yang selama ini selalu malas kulakukan. Aku selalu makan apa saja tanpa sibuk memikirkan jumlah kalorinya, sedangkan olahraga aku selalu malas untuk melakukannya. Habislah aku. Tapi demi keinginan mendapatkan keturunan, akhirnya kuupayakan juga. Aku mulai mengurangi porsi makanku, mengurangi jumlah nasi hingga separuhnya, memperbanyak jumlah sayurnya dan tidak makan ayam sama sekali kecuali ayam kampung karena itu merusak hormon dalam tubuh juga. Aku mulai mencoba olahraga yoga, kulakukan otodidak dengan bekal gerakan dari youtube, kulakukan minimal 3 kali seminggu selama 30 menit sebelum berangkat ke kantor.

Ternyata hal itu membuahkan hasil, berat badanku perlahan mulai turun sedikit demi sedikit, hingga dalam 4 bulan aku berhasil menurunkan berat badan hingga 9 kilogram. Ini adalah pencapaian terbesarku dalam menurunkan berat badan, hihi.....

Aku seperti kalap menjalankan program hamil ini. Selain dengan program ke dokter, aku membarenginya dengan pengobatan herbal, mencari-cari lagi melalui profesor google dan bertanya pada para ibu-ibu di kantor tentang obat herbal apa yang baik diminum untuk perempuan yang memiliki kelainan hormon seperti diriku ini. Akhirnya aku menemukannya, Vitex Agnus Castus (chastee tree Berry yang dikenal dengan nama Man Jing Zi di dunia Traditional Chinese Medicine), sebuah merek dagang yang berisi sejenis dedaunan yang sering digunakan untuk mengatasai masalah rahim dan kondisi PCO. Membelinya pun bukan perkara gampang ternyata pada saat itu, tidak dijual di toko-toko herbal pada umumnya, mesti dimpor dulu dari USA sana. Beruntung aku menemukan kontak penjual yang bersedia mengimpornya, karena menurut cerita dia juga mengalami kondisi yang sama sepertiku, mengidap PCO.

Aku mengkonsumsi herbal itu selama satu bulan, satu botolnya berisi 30 kapsul. Karena khawatir kapsulnya tidak terbuat dari bahan yang halal, aku selalu membuka kapsulnya saat dikonsumsi. Selain itu juga mencoba rutin mengkonsumsi herbal-herbal lain seperti habbatussauda dan madu. Demi usaha mendapatkan keturunan, segala cara coba kulakukan. Aku pun mengikuti saran beberapa orang teman dan saudara untuk dibekam, katanya untuk mengeluarkan darah-darah kotor berpenyakit dari dalam tubuh, terutama berbekam di titik-titik kesuburan untuk wanita. Selain bekam, aku juga mencoba akupuntur yang juga difokuskan pada titik-titik kesuburan.

Rasanya segala cara telah kucoba lakukan. Hingga habis sebotol vitex tersebut, belum juga ada tanda-tanda menggembirakan. Semangatku juga sempat kembang kempis. Sesekali masih tiba-tiba menangis. Berusaha kembali meluruskan niat pada Allah, mencoba membujuk-bujuk Allah, memantaskan diri di mata Allah bahwa kami pantas untuk diamanahi keturunan, bahwa kami pantas untuk mendidik generasi sholeh dan sholehah yang memberi bobot pada bumi dengan kalimat Laailaa ha illallah. Cara-cara akhiratpun tetap kami lakukan, beberapa kali mengikuti kajian Yusuf Manyur, bersedekah namun bukan dengan maksud membeli ketetapan Allah tapi mencoba mengurangi dosa hingga Allah berkenan mengabulkan doa, membaca segala hal tentang kesabaran, memohon didoakan oleh orang tua yang tiada putus terutama ibu, karena ibundaku yang sudah tiada maka doa dari ibunda suamilah yang kami harapkan satu-satunya. Hingga pada suatu hari Allah menyindir dengan indahnya, tiba-tiba saja membaca Al-Quran dan tergerak membaca terjemahannya yang saat itu rasanya sangat pas dengan kondisi kami.

“Milik Allah lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki……..Dia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.’(QS. Asy-Syura: 49-50)

Kembali menata hati lagi, lalu esoknya menangis lagi, begitu seterusnya. Hal ini cukup menguras emosiku yang masih agak labil saat itu, masih gampang nangisan. Telat datang bulan beberapa hari saja, aku sudah langsung berpikir tentang kehamilan karena sangat mengharapkannya, setiap bulan testpack tapi selalu saja negatif lalu menangis lagi.  Seperti itu berkali-kali, hingga pada saat itu di minggu ketiga Bulan Ramadhan Tahun 2013 feeliing itu datang lagi, feeliing tentang akan datangnya seorang bayi. Saat itu obat hormon untuk tiga bulan dari dokter telah habis kuminum, telah hampir seminggu setelah jadwal seharusnya datang bulan. Mulai sering merasa pusing keliyengan, berasa sering masuk angin, sesekali berasa ingin muntah. The feeling of mothernya berasa agak kuat ni kali ini. Mencoba untuk testpack lagi, kali ini diam-diam tanpa sepengetahuan suami, takut kalau-kalau negatif lagi. Deg-degan, berusaha menguat-nguatkan hati, setenang mungkin jika memang hasilnya negatif lagi.

Dan ya, akhirnya muncul dua garis merah pada testpact, namun yang satu garisnya samar. Antara senang dan ragu, perasaanku maju mundur. Firasatku bilang ini benar hamil dengan kondisi fisikku yang akhir-akhir ini terasa semakin menurun, tapi  kenapa garis merah pada testpacknya samar, alias tidak jelas. Akhirnya kuputuskan bahwa ini benar hamil, karena pada petunjuk testpack tertulis bahwa jika tidak hamil maka tidak ada tanda garis kedua sama sekali.

Senangnya luar biasa, tak henti-henti mulutku mengucap syukur pada Allah saat itu, sujud syukur, mataku basah sambil berucap, akhirnya Engkau memperkenankan ya Allah, di bulan Ramadhan-Mu Engkau jawab semua doa kami. Setelah shalat subuh, barulah kuberi tahu suami kabar luar biasa itu dengan hati-hati, dengan air muka yang kuusahakan sebiasa mungkin namun tak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahku.

“ Mas, tadi dinda tespack, terus muncul garisnya dua.”

“Garis dua itu apa?” tanya si ayah polos. Hadeeh....tepok jidat juga ni, perasaan aku udah pernah hamil dan keguguran sebelumnya, dan suamiku masih belum paham juga makna garis dua pada alat tes kehamilan.

“Itu artinya positif Mas,” teriakku senang. Tapi hanya dibalas olehnya dengan senyuman dan kalimat singkat, “Beneran?”. Air mukanya sulit kubaca saat itu, sepertinya dia tidak terlalu senang, dan senyumnya sedikit tertahan.

“Kenapa Mas? Kok ga seneng?” tanyaku memburu penasaran.

“Ga, mas seneng kok, tapi beneran hamil? Takutnya negatif kaya bulan-bulan kemarin, kan garisnya samar, ga mau coba tespack lagi buat mastiin?”

Seketika senyumkupun terhenti, mencoba menata hati lagi, jangan-jangan ini hanya fatamorgana karena keinginanku yang sangat tentang sebuah kehamilan. Akhirnya kami menutup pembicaraan pagi itu dengan kesimpulan bahwa aku akan coba testpack sekali lagi.

Sepulang dari kantor kami mampir di apotek, kali ini membeli alat tes kehamilan dengan merek yang berbeda dan kata penjualnya bisa digunakan 24 jam tidak harus pagi hari saat bangun tidur. Karena penasaran, sesampai di rumah selesai sholat magrib dan makan malam aku langsung testpack lagi, dan Subhanallah kali ini benar-benar positif, mucul garis dua dengan jelas sekali. Aku melonjak kegirangan, bergegas berlari menuju suami, dengan senyum mengambang kusampaikan,

“Mas, positif, kali ini garis duanya jelas!” ucapku senang setengah berteriak.

“Alhamdulillah,” ucapnya tersenyum sambil mencium keningku. “Kapan kita ke dokter buat mastiin?”

“Besok,” jawabku cepat karena kebetulan hari berikutnya adalah jadwal praktek dokter yang menangani kami dari awal.

Sebenarnya aku disuruh kembali ke dokter lagi setelah menghabiskan obat hormon selama 3 bulan itu untuk menjalani program kehamilan selanjutnya. Setelah sebelumnya aku diresepkan obat lainnya pada periode bulan ketiga yang khusus diminum beberapa hari sebelum “berhubungan”  dengan menentukan masa suburku melalui USG, tapi aku dan suami masih ragu-ragu saat itu dan masih menunda-nunda. Dan saat pertemuan ke dokter lagi saat itu, dia terkejut karena aku datang untuk memeriksakan kehamilan, si dokter masih berpikir bahwa aku dan suami datang untuk melakukan program selanjutnya menghitung masa suburku.

Setelah diintip melalui USG, dokter mengatakan aku benar-benar positif hamil 5 minggu, sudah terlihat kantong rahim pada layar monitor. Ah, betapa senangnya aku dan suami saat itu, bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tapi, karena riwayatku yang pernah keguguran karena blighted ovum, aku diminta kembali periksa lagi dua minggu setelahnya untuk memastikan bahwa janinnya berkembang, tidak seperti kehamilan sebelumnya. Seketika senyum di wajahku menghilang lagi, berganti dengan was-was, jangan-jangan BO lagi seperti sebelumnya, seperti artikel yang kubaca di internet, mereka yang punya riwayat PCOS bisa mengalami kehamilan BO berulang kali karena ketidaksuburan pada sel telur.

Akhirnya kami pulang ke rumah dengan perasaan cemas, mencoba untuk berpasrah lagi pada Allah, menyiapkan diri dan mentalku lagi jika memang kali ini belum berhasil lagi dan lagi. Dua minggu terasa berjalan begitu lambat, dirundung keraguan dan ketakutan akan takdir Allah. Takut kalau-kalau kali ini Allah masih belum berkenan lagi. Oh, Rabb.....

Dan saat pemeriksaan itu datang juga, berkali-kali suami mengingatkan untuk tenang dan pasrah apapun nanti ketetapan Allah. Aku hanya mengangguk saja. Deg-degan sekaligus tegang, aku memasuki ruang periksa, perlahan berbaring di ranjang periksa dengan perasaan tak karuan. Sang dokter mulai memainkan alat USGnya di atas perutku, maju mundur, ke kiri- ke kanan, atas bawah. Di layar yang terlihat hanya kantong rahim, detak jantungku berpacu makin cepat, mukaku pias, kupalingkan pandangan ke suami, dia tersenyum yang terlihat seperti ditegarkan sambil bilang “Ga pa pa,” padaku. Aku terdiam, ya Allah kehamilan kosong lagi.

Dokter perempuan itu masih saja memainkan alat USGnya diperutku, masih berusaha mencari-cari. Aku pasrah, membaca istigfar sebanyak yang kubisa, nyaris tangisku tumpah. Hingga sepersekian detik berikutnya sang dokter berkata setengah berteriak, “Nah ini dia!!!, baru keliatan, sembunyi dia dari tadi.”

Aku kaget, kembali melirik layar monitor di depanku, kali ini terlihat banyangan janin di sana, kecil sebesar kelereng. “Alhamdulillaah!” ujarku dan suami serentak. Kali ini rasa lega luar biasa, seolah beban berat di pundak baru saja terangkat. Bahagia yang tak bisa dilukiskan, syukur tiada henti kepada Allah. Jika Allah berkata Kun, maka fayakun.

“Selamat ya pak,” ujar dokter paruh baya nan cantik itu pada kami. Ucapan selamat yang begitu indah terdengar di telingaku saat itu. Kami pulang dengan senyum yang sama-sama mengambang di bibir. Akhirnya doa ini diijabah Allah, lirih dalam hati kuberbisik, Ya Allah jagalah dia yang ada di rahimku, tumbuhkanlah dengan sehat dan sempurna, dan pantaskanlah kami berdua atas amanahMu ini. Janin kecil itu berkembang hingga 40 minggu di dalam rahimku. Hingga pada akhirnya Senin, 31 Maret 2014 Allah perkenankan seorang bayi laki-laki itu lahir dengan karunia-Nya.

Ini bukan hanya tentang keinginan untuk memiliki keturunan, tapi jauh di atas itu, ini tentang segala keikhtiyaran dan ujian tentang prasangka baik kepada Tuhan. Betapa maha baiknya Allah bahwa setelah perjuangan panjang dan air mata yang entah seberapa, Allah perkenankan hadir buah cinta kedua, tepat dua tahun setelahnya. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan???***

Karya : Ulvina Haviza