Hujan dan Serpihan Kenangan

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Februari 2016
Hujan dan Serpihan Kenangan

Hujan dan Kenangan. via: santrinulis.com

Tuan, sore?ini hujan deras mengguyur bumi. Aroma petrichor menguar, semerbak memenuhi seluruh sudut hingga langit-langit kamarku. Suara air yang turun mengalun indah menenangkan hati. Udara yang panas seketika menjadi?dingin. Suasana tiba-tiba berubah sendu. Ah sepertinya benar apa kata orang, bahwa?hujan yang turun tiga puluh persennya berupa air, sedangkan sisanya adalah kenangan. Seperti hujan kali ini. Tiba-tiba kenangan tentangmu datang begitu saja. Datang tiba-tiba tanpa pertanda. Serta muncul begitu saja tanpa permisi. Tuan, taukah kamu apa sebenarnya yang membuat hujan selalu mengingatkanku tentangmu?:

Air hujan ini pernah memaksa kita menerjangnya, ini terasa begitu dingin namun justru membuatku begitu bahagia.

Biarkan kulit tanganku merasakan rinainya. via:tuzlalive.bc

Meski ku tahu air yang turun kali ini tak akan pernah sama dengan hujan yang mengguyur kita saat itu. Namun hatiku tetap saja bersikukuh memaksa kulit tanganku merasakan rinainya. Kemudian kenangan itu mendadak muncul lagi. Beberapa tahun yang lalu saat aku memaksamu mengantarku. Waktu memaksa kita menerjang hujan yang begitu lebat. Aku selalu tersenyum meski sepanjang jalan aku menggerutu. Kenapa kau begitu ceroboh hingga lupa memabawa jas hujan. Teburu-buru, itu alibimu. Sampai kakiku menginjak tanah yang kutuju, ku ulaskan senyum serta sederet ucapan terimakasih dariku. Kemudian ekor mataku menangkap sesuatu di dalam bagasi motormu.?Bukankah itu jas hujan? Mengapa kau menyembunyikannya??Tuduhku. Namun kau hanya tersenyum dan berkata??aku hanya ingin merasakan hujan ini bersamamu'.

Kita pernah berada di bawah payung yang sama, tidakkah kau mengingatnya?

saat itu, aku dan kamu. via: homoludentic.tistory.com

Saat itu aku begitu sibuk menyelamatkan barang-barang serta buku-bukuku. Hujan menyerbu tanpa ampun. Kepanikan menyerang semua sarafku. Aku memang menyukai hujan sebagaimana aku menyukai kamu. Tetapi rinainya tetap saja tak sanggup berkompromi jika telah bercumbu dengan semua barang-barangku. Di tengah kepanikanku, ku temukan payung di atas kepalaku. Ku temukan senyum geli di sudut bibirmu.?Kamu masih saja suka panik takut laptop dan buku-bukumu terkena hujan ya??Itu celetukmu. Aku tersenyum lebar. Ternyata kau begitu memahamiku, bahkan hingga sedetil ini. ah, apakah saat ini semua itu masih berlaku?

Aku bahkan masih mengingat rupa hujan yang kulihat dari dalam mobilmu

aku ingin menari berdua denganmu dibawah rinai hujan ini. via: thecuratorlife.wordpress.com

Ah sebenarnya aku lebih menyukai merasakan rinai hujan dengan motor seperti saat itu. Namun kau melarang karena takut aku jatuh sakit seperti terakhir kali kau memaksaku basah kuyup menerima tetesan hujan yang memeluk bumi. Kemudian kuceritakan berbagai cerita tentang banyak hal kepadamu saat itu. Aku menceritakan semua hal yang terlintas dalam benakku. Entah apa saja yang sudah ku ceritakan kepadamu. Saat itu aku seperti begitu takut kehabisan kata-kata. Kau tahu mengapa aku melakukannya?. Karena aku begitu gugup. Entah mengapa terasa begitu gugup ketika bersamamu saat itu. Aku terus dan terus bercerita. Takut kau mengetahui kegugupanku. Tak ada satupun cerita yang telah kuceritakan kepadamu yang berhasil kuingat saat ini. Tetapi herannya aku masih saja mengingat rupa hujan yang kulihat dari dalam mobilmu serta raut wajahmu saat mendengar celoteh-celotehanku.

Cangkir-cangkir kopi di sudut kota pernah menemani kita mendengarkan lantunan hujan yang merdu

perpaduan kopi dan hujan, selalu berhasil membawa kenangan tentangmu. via: dokterpenulis.com

Satu hal yang sama antara kita. kita sama-sama pencinta kopi. Dulu, selalu saja ada waktu yang sanggup kita curi untuk menghabiskan secangkir kopi bersama. Kita berbagi tawa dan cerita, dan hanya tegukan kopi yang sanggup menjadi jeda. Lalu menurutmu apakah yang lebih membuat rindu, selain menikmati kopi denganmu ditemani alunan suara hujan yang syahdu?.

Apa kau masih menyukai makanan pedas? Apakah masih sepedas saat kau menikmatinya bersamaku?

aku merindukanmu. via: foto.galihsatria.com

Saat itu aku hanya menertawakanmu. Menertawakan wajahmu yang cemberut lucu akibat kau harus mengantri memesan makanan hingga sepanjang itu. Sebelumnya aku sudah lari mencari tempat duduk. Aku takut kita tidak dapat tempat duduk karena sebagian kursi telah basah karena hujan. Tetapi kau masih saja cemberut dan menuduhku curang karena kamu harus berdiri sendirian. Aku hanya tertawa-tawa tanpa suara. Ah selain mencintai kopi, kita juga mencintai makanan pedas. kau masih ingat bukan?. Kau memesan level tertinggi dan aku hanya memesan level M sesuai ukuran bajuku. "Gak nyambung tauk" itu ucapmu. Aku hanya mencebikkan bibir. Lagi-lagi kau bertingkah lucu. Air mata tak bisa berhenti mengalir dari matamu karena kepedasan.?kamu nangis?, Sepedas itukah??tanyaku.?Tidak, ini hanya lumayan. Aku kelilipan tadi.?Itu alibimu.

Kini aku kembali pada kenyataan. Aku membuat mie. Meskipun tak akan sama rasanya dengan mie yang kita makan saat itu, namun aku berusaha menyesuaikan jumlah cabainya. Berapa saat itu katamu, 32 atau 35?. Iya, sore ini aku membuat mie dengan cabai 45. Lebih banyak dari jumlah cabaimu saat itu. Namun anehnya aku tidak merasa pedas sedikitpun. Apakah rindu bisa membuatku semati rasa ini?. Mataku buram tergenang air. Pelupuk mataku terasa penuh. Oh aku tidak menangis. Mungkin air hujan saja yang jatuh mengenai mataku. Sungguh aku tidak menangis, kukuhku meyakinkan diri, namun punggung tanganku tak pernah berhenti menyeka air yang mengalir di pipi. "Oh mungkin gentengnya bocor".

"Hujan ini seperti halnya kamu. Hanya turun sesaat, menyisakan rindu menusuk kalbu"

?

  • view 1.1 K