Ketika Rasa Ingin Bunuh Diri Datang Mendera

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juli 2017
Ketika Rasa Ingin Bunuh Diri Datang Mendera

Banyak orang menyesalkan kematian Chester Bennington, bintang yang sesungguhnya sedang dielu elukan, dipuja dan dicinta para penggemar beratnya, namun memilih mengakhiri hidupnya dengan paksa. Faktanya dia bunuh diri. Tidak ada yang mampu menyangkal itu. Selain menyesali atau bahkan mengutuk, sesungguhnya apa yang bisa kita lakukan? Pernahkan kita berpikir jika suatu hari nanti kita bisa saja mengalami atau melakukan hal yang sama? Bunuh diri juga?

 Jumlah tulisan tentang bunuh diri berkembang semakin banyak, menyeruak di dunia maya. Menuduh para pelaku bunuh diri adalah para pengecut, tidak kenal Tuhan, sakit jiwa dan sederet cap buruk lainnya. Masalahnya tulisan itu (mungkin) ditulis oleh ia yang tidak pernah merasakan hantaman sensasi rasa ingin bunuh diri juga. Ia yang menilai itu, bisa jadi sesungguhnya tak pernah tau rasanya. Tak pernah mengalami hal yang serupa.

Sebagai seseorang yang pernah bahkan masih sering mengalami dorongan rasa ingin bunuh diri, belasan, puluhan, atau ratusan kali. Entah berapa jumlah pastinya. Saya paham dengan benar bahwa keinginan bunuh diri bukan timbul karena kurang bersyukur, tidak beriman, tidak mencintai kesempatan untuk hidup dan sejenisnya. Saya masih dan sangat mencintai Tuhan saya hingga detik ini. Keinginan bunuh diri muncul dalam diri seseorang ketika rasa sakit yang dirasa melebihi kemampuan tubuh untuk mengatasi rasa sakit tersebut. Hantaman keinginan itu, bisa datang dan berakhir dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bahkan minggu atau bulan. Tidak ada yang tahu lama waktunya, tetapi pasti berakhir. Pasti ada ujungnya.

Jadi jika kita merasa ingin bunuh diri, bukan berarti kita tidak baik, buruk, gila, maupun lemah iman. Kita “hanya” sedang berada dalam fase didera gelombang hasrat ingin bunuh diri. Ketika “saat” itu datang, sesungguhnya kita sedang menjalani keadaan dimana sakit yang kita rasa melebihi sakit yang mampu kita tanggung. Melebihi apa yang mampu kita tahan.  

Ada empat hal yang bisa kita lakukan dalam menghadapi hantaman rasa ingin bunuh diri:

1. Sadari ini pasti ada akhirnya.


Dulu ketika masih umur belasan, saya seringkali berjanji kepada Tuhan untuk berpuasa beberapa hari jika saya tetap hidup hingga hari esok. Semakin sering gelombang hasrat bunuh diri itu datang, semakin sering puasa yang saya janjikan, lalu baru akan saya lakukan ketika badai itu mereda.

Hanya kesadaran bahwa rasa sesak dan pedih itu pasti berakhirlah yang membuat saya masih hidup hingga detik ini. Saya berharap semua orang yang mungkin sedang atau pernah mengalami fase ini menyadari hal yang sama.

Rasanya memang kampret jika meminta orang yang ingin bunuh diri untuk sadar. Tapi disinilah kuncinya. Ketika kita sadar jika ini hanya fase, rasa sakitnya perlahan akan berkurang. Semakin sedikit, lalu menghilang. Meskipun mungkin badai itu suatu waktu akan kembali lagi. Seperti halnya siklus. Semua hanya masalah waktu. 

 2. Bangkitlah! Cari bantuan!

Kamu boleh menuliskan semua rasamu. Nyampah di semua sosial mediamu. Menumpahkan semua keluh kesahmu. Lakukan apapun yang perlu dan bisa kamu lakukan untuk bertahan hidup. Tetapi jangan pernah menuruti keinginan untuk melukai diri sendiri. Karena ketika badai itu reda, yang tersisa hanyalah rasa pedih di lukamu. Bekasnya hanya akan merangsang badai itu datang lagi, berulang lagi, lalu kamu ingin bunuh diri lagi.

Hubungi kawan kawanmu, kekasihmu, psikologmu, siapapun yang memungkinkan bersedia membantumu. Katakan apa yang kamu perlukan, apa yang seharusnya mereka lakukan untuk membantumu. Utarakan jika kamu membutuhkan sebuah pelukan penguat, waktu untuk didengarkan atau justru butuh waktu untuk sendiri. Utarakan hal apa saja yang mampu lebih menyakitimu, membuatmu semakin terpuruk, agar mereka tidak melakukannya. Misalnya “Tolong saya jangan dihakimi, saya hanya ingin ditemani”.

3. Nikmati sensasinya, tunggu badainya reda.

Peluk erat rasa sakitnya, nikmati perihnya, ikhlas dan pasrahlah ketika badai itu mendera. Rapalkan bahwa “ini pasti berakhir”. Yakinkan dirimu ini pasti berakhir. Jauhi hal-hal yang membuatmu semakin terpuruk. Kamu bisa menunggu badai itu mereda sambil berdiam diri di kamar, pergi ke kedai lalu menyeruput kopi, menikmati jus yang segar atau apapun yang mempercepat rasa tenang kembali kepada dirimu. Terlihat seperti omong kosong ya? hahaha. Apa kamu bisa menjamin bahwa seseorang yang kamu temui di sebuah kafe sedang tertawa terbahak bahak, di saat yang sama tidak sedang melawan keinginannya untuk bunuh diri? Nyatanya yang tertawa tidak selalu berarti jauh dari duka, dan yang menangis bukan berarti sedang tidak bahagia.

 4. Cari pengetahuan dan cadangan bantuan saat darurat

Kenali dirimu. Cari penyebab mengapa kamu merasa ingin bunuh diri. Pasti ada akarnya, pasti ada ujungnya. Baca literatur mengenai orang orang yang pernah mengalami hal yang sama denganmu. Ikutilah komunitas yang senasip sepenanggungan agar bisa saling menguatkan. Banyak organisasi maupun individu yang peduli dengan isu isu bunuh diri. Kamu hanya perlu menemukan yang sesuai denganmu.

Temukan patner, baik teman maupun kekasih yang mau menerima keadaanmu dan bersedia menemanimu. Jujurlah kepada mereka. Jika akhirnya kamu ditinggalkan ketika ia tahu keadaan yang sebenarnya, yakinlah itu sudah jalan terbaik untukmu. Ia yang pergi memang tak pantas bertahan dan dipertahankan. Lepaskan.

Jika kamu masih memiliki orang tua, sebaiknya bicaralah dan alangkah baiknya jika orangtuamu sekaligus bisa menjadi sahabat terdekatmu.

Akhir kata, tidak ada yang sanggup mengajari rahasia hakikat kehidupan melebihi apa yang mampu diajarkan luka, kepedihan dan rasa sakit.

Jika ada yang bisa didiskusikan, saya akan sangat senang sekali. Silahkan menghubungi saya di semua lini sosialmedia saya @ulumarifah atau email ulumarifah@gmail.com.

  • view 326