Serpihan Kenangan

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Februari 2016
Serpihan Kenangan

Aku baik-baik saja. via:?huffingtonpost.com

Musium House Of Sampoerna

Kulangkahkan kaki perlahan memasuki gedung tua ini. Semerbak aroma cengkeh dan tembakau menyapa hangat seakan mengucapkan selamat datang, tanpa suara dan tanpa kata. Aroma manis perpaduan cengkeh dan tembakau menyeruak memenuhi seluruh rongga dadaku. Kolam ini masih sama, kotak besar tembakau itu juga sama, kursi kursi tua di sudut ruangan masih terawat apik. Semua masih sama, hanya kursi itu tak lagi boleh di duduki. Semua masih sama seperti dulu. Ah, aku menggeleng pelan, tentu tak lagi sama. Bayangan dirimu saat pose konyol di atas kursi seperti .. memaksaku tersenyum,.

Terlihat beberapa orang berkelompok menunggu trip dimulai. Kupandangi bis Surabaya heritage. ? ah bis ini juga masih sama? batinku. Ku ambil nafas , kulangkahkan kakiku memasuki bis. Ku ambil tempat duduk paling belakang. Sampai trip berjalan, tempat disampingku kosong. Sepertinya Trip kali ini tidak cukup penuh.

Ah desahku, tak sengaja ekor mataku menangkap kertas merah yang muncul dari dalam tasku. Tak ada niat sedikitpun melihatnya. Melihat undangan itu hanya akan membuat hatiku semakin sesak.
Buliran air mata membendung dipelupuk mataku. Hatiku terasa begitu pilu.
Kusadari satu hal, kursi di sampingku kosong. Kehangatan disela jariku menghilang. Senyummu, tingkah konyolmu, tawamu, hangatnya genggamanmu hanyalah ilusi. Kusadari disini aku hanya sendiri.
Undangan pernikahanmu,
Cincin di jari manisku,
semua itu cukup menjadi bukti bahwa kita akan selalu hidup bersimpangan, tak akan pernah berdampingan.

Surabaya, Desember 2015

  • view 131