Anggota Ex Gafatar Dimata Seorang Relawan

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Februari 2016
Anggota Ex Gafatar Dimata Seorang Relawan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?gafatar via:?daerah.sindonews.com

Tepat hari kamis, 28 januari 2016 adalah hari dimana mata ini mungkin untuk terakhir kalinya kami melihat mereka. Mereka adalah anggota dari pemulangan anggota ex gafatar. Masih teringat dengan jelas bagaimana selama seminggu penuh berkegiatan dengan mereka.

Iya. Tepat mulai hari jumat tanggal 22 januari 2016 kami, sukarelawan pmi jawa timur, mendapatkan mandat untuk membantu meringankan beban anggota ex gafatar yang sedang berada sementara di transito surabaya sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing. Seminggu sudah transito ramai dengan keberadaan anggota ex gafatar, relawan pmi, linmas, satpol pp, polisi, dll. Dan kamis ini transito kembali lenggang karena sudah ditinggalkan seluruh penghuni sementaranya.

www.beritametro.co.id mm
Wagub Saifullah Yusuf (tengah) mengajak warga eks Gafatar menyanyikan lagu kebangsaan via:?www.beritametro.co.id

?

Semua media berlomba-lomba memberitakan mereka. Menjelma menjadi yang tercepat, terpopuler dan terpercaya. Namun berbekal prinsip ?kenetralan? yang harus kami pegang teguh. Maka kami memaksa diri untuk tidak terlalu menggali informasi dari media mengenai anggota ex gafatar. Karena kami tidak ingin pandangan dan perlakuan kami menjadi berbeda akibat stereotip ?sesat? yang mereka sandang.

Dari semua berita dan informasi yang telah di kemukakan oleh media, tidakkah kalian ingin tahu bagaiman sebenarnya anggota ex gafatar dimata kami?

Ternyata mereka tidak seperti bayangan kami sebelumnya

surabaya.detik.com mm
bukankah mereka juga sama seperti kita?. via:surabaya.detik.com

Tepat pukul 22.00 kami dan team mulai memasuki lokasi transito surabaya. Prediksi sebelumnya yang menyatakan bahwa kloter pertama pemulangan anggota ex gafatar akan sampai pukul 01.00 dini hari, membuat kami bersiap-siap beberapa jam sebelumnya.?Namun ternyata kloter pertama baru sampai sekitar pukul 05.00 dini hari.

Tahukah kalian apa yang ada di fikiran kami sebelum mereka datang. Selayaknya banyak orang, kami juga mulai was-was. Seperti apa mereka. Sedikit berita yang kami dengar sebelumnya, sedikit membuat kami kebat-kebit. Jangan-jangan tampilan mereka sangar seperti teroris-teroris yang sering di wartakan di tv. Atau jangan-jangan kasar dan suka mebuat rusuh. Hati kami tidak benar-benar tentram sampai semua kloter di hari pertama datang.

Ealah, ternyata mereka gak serem blas. Sama saja dengan orang-orang wonokromo, ngagel, maupun sidoarjo. Sama saja dengan orang orang kebanyakan.

Prasangka kurang baik yang melanda pikiran kami sebelumnya perlahan-lahan luntur dan kini justru membuat kami tertawa. Nilai yang bisa diambil dari kejadian ini adalah, seharusnya kami lebih percaya terhadapa mata dan kenyataan yang ada di hadapan kami dari pada kabar dan warta yang berasal dari ?selentingan? dan ?katanya?.

Mereka berlaku sopan terhadap kami, para relawan

www.seputarmalang.com mm
Kunjungan Pak dhe Karwo pada hari pertama, sabtu 23-01-16 via:?www.seputarmalang.com

"Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kenalan atau saudara kalian terlibat dalam kegiatan pemulangan anggota ex gafatar? Apa yang akan kalian sampaikan kepadanya? Apakah sama dengan mentor asisten saya yang mengatakan ?hati-hati dan semoga selamat??"

sungguh kalimat balasan mentor asisten saya ketika membalas izin yang saya sampaikan membuat saya terharu, miris sekaligus ingin tertawa. Bagaimana tidak, ia mendoakan saya semoga selamat seperti seakan akan saya sedang ditugaskan ke suatu tragedi atau benacana.

Memang selama ini kabar yang sering kita dengar adalah ketika terjadi klaim sesat terhadap suatu organisasi maupun aliran maka yang terjadi selanjutnya adalah drama-drama penuh anarki. Ya, kita tidak bisa menyalahkan siapapun tentang kabar itu. Namun kita tidak boleh menyamaratakan semua hal. Boleh jadi mereka berbeda. Kami seperti bertemu dengan sekumpulan petani yang sering kami temukan di desa-desa. Sebagian besar dari mereka bersahaja, baik dan sopan.

Mereka Memiliki Anak-anak yang manis dan juga kritis

bf26253d7b8f171dddb155f84ce1d562_L
lihatlah antusiasme mereka. via: pmi.or.id

Halo, halo , ada yang mau membaca buku dn bermain dengan kakak? Ayo semuanya kumpul ke pendopo
Ayooo. Ucap mereka serentak sambil berlarian ke pendopo

Pernahkan kalian melihat binar-binar kebahagiaan dimata anak-anak?. Saat itu mereka benar-benar terlihat berbinar-binar dan antusias. Mereka tertib satu persatu menunggu pembagian kertas origami. Sebagaian masih serius membaca buku. Entah sebagian dari mereka yang masih berumur sekitar 5 tahunan sudah bisa membaca atau tidak, tetap saja mereka terlihat begitu antusias.

Terkadang memang kami sedikit miris melihat lingkar lengan beberapa anak yang terlihat kecil dan warna rambut mereka yang seperti kurang nutrisi. Namun semangat, senyum dan keceriaan mereka sudah cukup menjadi bukti bahwa masih ada sisa-sisa kebahagiaan di hati mereka.

Beberapa pertanyaan dari anak-anak itu membuat kami membeku dan sesaat berfikir dengan serius. Kakak, aku punya holahoop juga tapi sudah dibakar orang-orang. Kemudian yang lain menimpali, ia kak, baju, rumah dan mainanku juga dibakar kak. Kak, menurut kakak apa profesi yang paling jahat?. Kami terdiam, dibenak kami mungkin pembunuh, algojo atau bahkan TNI atau POLISI yang memegang senjata. Tetapi ternyata bukan itu jawaban mereka. Mereka menjawb bahwa profesi yang paling jahat adalah wartawan. Karena wartawan yang membuat mereka menjadi seperti ini. Duh kami begitu trenyuh mendengarnya. Kami hanya menyampaikan bahwa memang ia tidak sepenuhnya salah tetapi ia juga tidak sepenuhnya benar.

Ketika kami bertanya kepada remaja mengenai apa yang mereka butuhkan, mereka hanya meminta disediakan buku dan nobar (Nonton Bareng)

nasional.republika.co.id mm
Kumpulan anak-anak yang juga antusias memilih buku. via:?nasional.republika.co.id

Ketika sedang bertugas survei kami berbincang bincang dengan sekumpulan remaja, kami bertanya apa saja yang mereka butuhkan. Awalnya mereka mengapresiasi kerja relawan. Karena relawan begitu tulus dan serius membantu mereka. Beberapa ibu-ibu mengusulkan untuk di sediakan bubur untuk para bayi. Kemudian siang harinya bubur bayi sudah tersedia. Dan masih banyak lagi yang mereka apresiasi dari kinerja relawan.

Kemudian mereka bercerita tentang kegiatan mereka sebelumnya disana. Kegiatan mereka sehari-hari adalah belajar, membaca, praktek bercocok tanam dll. Mereka terlihat sedih ketika menceritakan buku-buku mereka yang terbakar. Mbak, kami tidak meminta di beri buku baru, kami hanya berharap disediakan pinjaman buku untuk kami baca. Itu ucap mereka. Jadi gagasan untuk disediakannya perpus keliling ini berasal dari kumpulan para remaja ini.

Dan kemudian beberapa jam kemudian perpustakaan keliling dari Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Timur datang dan langsung diserbu oleh warga, dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa.

Ah ternyata mereka sama dengan saya, sama-sama kutu buku. :)

Saya memang tak pernah melihat mereka sembahyang. Tetapi saya juga tidak pernah bertanya agama mereka apa. Kenetralan dalam prinsip PMI mengharuskan kami tidak turut campur mengenai keyakinan.

kaltim.tribunnews.com mm
ini moment yang ditangkap oleh?kaltim.tribunnews.com

Berhari-hari sudah sebagian besar dari kami tergelitik untuk mencari tahu sumber atau sebab berita ?sesat? yang sering tidak sengaja kami dengar. Kami mulai meneliti dan menyimak segala sesuatu baik itu tingkah laku, tutur kata, pendapat maupun pandangan mereka. Rasanya kami seperti detektif amatir. Jangan pernah berfikir kami akan bertanya kepada media karena nyatanya ruang gerak kami jauh lebih leluasa dari pada media.

Saat itu kami mulai berfikir jangan-jangan mereka di katakan sesat karena tidak sholat. Masjid di tengah-tengah area di gunakan oleh tni, polisi, polwan dan para relawan. Kami hampir tidak pernah melihat mereka rukuk bersama bersembahyang.

Tapi bukankah praduga dan prasangka itulah bibit awal dari tumbuhnya fitnah. Oleh karena itu, berbekal sapta prinsip palang merah yang salah satunya berupa ?kenetralan? membuat kami harus bersikap objektif dan tidak turut campur dalam ruang lingkup yang bukan ranah kami. Bagaimanapun agama, ibadah, keyakinan dan kepercayaan adalah urusan pribadi masing-masing dan Tuhannya. Bukan hak kami untuk menilai dan turut campur.

Terlepas dari Pro dan Kontra mengenai ?kesesatan? dalam ajaran mereka. Mereka juga manusia.

bali.tribunnews.com mm
pembakaran rumah warga ex gafatar. foto via:?bali.tribunnews.com

Pro kontra mengenai penilaian terhadap anggota ex gafatar banyak terjadi. Ada yang mendukung ada pula yang tidak mendukung, mengecam atau bahkan mengutuk.
Terlepas dari semua itu, tidakkah kita ingat bahwa mereka juga manusia. Mungkin ada diantara mereka yang pernah menjadi kolega kita, sahabat kita, tetangga kita atau bahkan masih menjadi saudara kita.

Janganlah anggapan kita mengenai kekeliruan dan kealpaan sesaat yang telah dilakukan mereka membuat kita menutup tali silaturahmi. Apalagi di saat seperti ini. saat dimana mereka kehilangan semua harta benada dan mata pencaharian mereka. Justru saat inilah peran saudara begitu dibutuhkan. Bukankah darah selalu lebih kenatal dari pada air?. Kesalahan saudara tidak lantas membuat ia bukan lagi saudara bukan?.

Saat ini mereka sudah pulang ke daerah asalnya masing-masing. Yang mereka perlukan hanyalah diterima dan dimengerti selayaknya manusia yang lainnya.

www.cnnindonesia.com mm
Pelukan seperti ini seringkali berarti sebuah penerimaan. via:?www.cnnindonesia.com

Hari ini semua anggota ex gafatar telah di kembalikan ke daerahnya masing masing. Selayaknya manusia yang di anugerahi Tuhan kebaikan dan jiwa pengasih, marilah kita menghadapi mereka dengan senyum dan fikiran terbuka. Mereka sudah mengalami berbagi peristiwa yang mengiris hati. Tolong jangan ditambahi dengan pandangan sinis dan perilaku kasar dari sekitar.

Hidup ini seperti roda pedati. Kadang di atas kadang di bawah. Yang harus kita lakukan saat kita berada di atas adalah menghormati dan bersikap objektif dengan mereka yang sedang berada di bawah. Semoga hal itu mampu merayu Tuhan untuk membuat kita di lindungi dari kemunduran dan kemerosotan serta ketidak bahagiaan.

Surabaya, 30 Januari 2016
Ulum Arifah

  • view 3.2 K

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Ya, mereka dihukum dan dikutuk atas kesalahan yang tak mereka pahami...

    Mereka akan sulit menjawab pertanyaan anak2 mereka: "Apa salah kita Bu?"

  • Robert Wijaya Part I
    Robert Wijaya Part I
    1 tahun yang lalu.
    Sekarang kehidupan mereka terlantar,Pemda seperti lepas tangan begitu saja.. Mereka butuh pekerjaan dan modal usaha untuk memenui kehidupan sehari hari.. Saya harap ada yang mendengarkan permohonan saya ini.. Mereka manusia,saudara kita dan mereka punya hak untuk kehidupannya.. Seseorang boleh menilai mereka seperti apa,Tetapi tidak berHak untuk Menghakimi.

    • Lihat 1 Respon