Mati Rasa

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Juni 2016
Mati Rasa

"Jadi lelaki itu masih saja kau cintai?"
"Sayangnya iya."
"Bukankah kau pernah bilang bahwa ia cacat emosional?"
"Betul. Dan sepertinya ia semakin cacat."
"Dimana logika dan kecerdasanmu ketika mencintainya?"
"Ada, hanya saja mungkin sudah tidak berfungsi."
"Huft, sepertinya kau mulai tertular kecatatannya."
"Hah?"
"Jika kau menyebutnya cacat emosional, aku menyebutmu cacat rasa. Bisa merasakan sebuah perasaan tapi tidak bisa menilai dan mendefinisikannya dengan benar."
"Hahahaha, lidah dan hatiku masih waras. Kamu jangan khawatir."
"Ya, tapi otakmu yang tak waras."
"Cinta selalu bisa membuat seseorang gila dan tak waras bukan?"
"itu kan menurutmu. Nyatanya proses jatuh cinta itu tak hanya melibatkan rasa, melainkan juga logika. Toh dulu kamu memilih untuk jatuh cinta kepadanya karena kau pikir dia cerdas bukan?"
"Yeah, Smart is sexy. Namun sayangnya ketika saya terlanjur jatuh cinta, saya sadar bahwa ia tak se cerdas yang saya kira."
"Kamu menyesal?"
"Tidak. Untuk apa menyesal?"
"Dia tidak mengindahkanmu, tidak memperdulikanmu, hanya memanfaatkanmu. Tidakkah itu cukup sebagai alasan?"
"Saya mencintainya."
"Dia tidak mencintaimu."
"Saya yakin suatu hari nanti ia akan mencintai saya."
"Kau tak bisa memaksanya."
"Saya akan terus berdoa memohon kepada Tuhan."
"Dengan doa yang memaksa dan doa yang mengancam?"
"Maksudmu?"
"Kau meminta Tuhan membuatnya putus dengan kekasihnya, tak mampu mencintai selain kepadamu, tidak membiarkannya berjodoh selain denganmu. Benar-benar doa yang indah bukan?"
"Jika perlu saya akan meminta Tuhan membuatnya mati rasa kecuali kepada saya."
"Dan bagaimana jika dia lebih dicintai Tuhan. Tuhan yang sama denganmu. Kemudian ia meminta untuk dilindungi dari doa-doamu yang jahat itu?"
"Saya yakin Tuhan mencintai saya dan berkenan mengabulkan doa-doa saya."
"Apakah kamu yakin bahwa Tuhan tidak mencintainya dan berkenan mengabulkan doa-doanya?"
"Entahlah."
"Ikhlaskanlah."
"Saya tak bisa."
"Kamu yang berpikir bahwa kamu tidak bisa."
"Saya tidak yakin."
"Lalu apa yang kau yakini saat ini."
"Saya lapar, ayo kita sahur."
"huahahaha, ya sudah, lupakan lelaki yang jahat itu. Ayo kita cari makan."

?#‎Dialog? ?#‎Cerpen?

  • view 167