Mantan, Tempatmu di Masa Lalu Bukan di Masa Depan

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Juni 2016
Mantan, Tempatmu di Masa Lalu Bukan di Masa Depan

Waktu bisa merubah segalanya. Pernahkah kau mendengar itu? Entah bagaimana menurutmu, namun aku mengamininya. Waktu mampu merubahku. Merubah hatiku yang dulu begitu memujamu menjadi seperti sekarang ini. Bersih seperti tak pernah ada namamu terukir di dalamnya. Maaf jika yang akan ku katakan ini begitu terdengar jahat di telingamu. Namun bukankah jujur selalu lebih baik meski seringkali menyakitkan? Jadi ijinkanlah aku mengutarakan apa yang selama ini terpendam di dalam hatiku.

Aku Telah Memaafkanmu Tetapi Bukan Berarti Aku Lupa Dengan Penghianatanmu


Kau menghianatiku di depan mata kepalaku sendiri, bagaimana bisa aku lupa?. via: www.portalcurio.com

Dulu, iya dulu, aku memberimu segenap cinta dari dalam hatiku. Namun apa balasanmu? Katamu aku membosankan, kaku dan tidak mampu membahagiakanmu. Itu kau gunakan untuk membenarkan perselingkuhanmu. Kau bilang aku tak berhak marah dan harus sadar diri. Kau bilang jika aku ingin pergi kau tak akan pernah menahanku. Apakah itu sebuah pengusiran? Saat ini aku sudah tak lagi peduli. Jika saat itu aku hanya memilih diam dan menelan kembali air mataku. Untuk saat ini maaf, aku masih punya cukup harga diri untuk tidak menempatkanmu sekali lagi di tempat yang sama di dalam hatiku, seperti dulu.

Kau yang Memilih Untuk Pergi, Seharusnya Kau Sadar Diri Untuk Tidak Pernah Kembali


Dulu kamu yang pergi meninggalkanku, bukan aku yang meminta. Ingat? via: www.eligiblemagazine.com

Apakah kau mau memungut sampah yang sudah kau buang dan membusuk di tong sampah? Bukankah begitu memang perumpamaan yang tepat untukku? Bukankah bagimu aku hanyalah sampah yang dulu pernah kau buang. Dulu aku sudah menyadari posisiku. Dulu aku sadar diri dan tidak menghiba-hiba memohon agar kau tetap disisi. Aku sudah mengikhlaskanmu sepenuh hati. Kini giliranmu yang harus sadar diri. Bukankah kau yang dulu memutuskan untuk pergi. Kini waktumu untuk sadar, jadi jangan pernah sedikitpun berfikir kau memiliki kesempatan untuk kembali.

Aku Bukan Mainan yang Ketika Bosan Kau Buang dan Ketika Butuh Kau Pungut Lagi


Maaf, tapi aku bukan lagi cadangan. via: damespraatjes.nl

Hei, aku manusia bukan boneka. Aku juga memiliki hati dan harga diri. Dulu kamu bisa sembarangan kepadaku karena saat itu aku begitu bodoh karena mencintaimu. Kini jangan berpikir semua masih sama. Kau tak lagi bisa bersikap semaumu. Aku tak akan pernah mau kau pungut hanya untuk kau campakkan lagi suatu hari nanti ketika kau bosan. Kau memang terlihat semakin menarik. Tetapi maaf aku sudah tak lagi tertarik.

Pergilah, dan Jangan Pernah Bermimpi Kita Saling Menggenapkan

Pergilah!!! via: 1080plus.com

Pergilah, pergilah sejauh mungkin dari hidupku. Ciptakan saja jarak sejauh mungkin, semampumu. Apakah kau merasa menyesal pernah mengusir paksa cintaku dari dalam hatimu. Oh bahkan aku ragu apakah aku pernah menempatinya. Sudahlah. Hentikanlah semua ini. Wahai seseorang yang dulu pernah kusebut sebagai ‘kesayanganku’?. Kumohon sadarlah. Tempatmu memang istimewa di hatiku. Tapi itu dulu, di masa lalu. Bukan di masa kini maupun di masa depan. Pergilah, karena kau tak pernah lagi di harapkan.

 

  • view 289