Hujan, 5 Lagu Ini Membuat Rasa Sendu Berbalut Rindu Semakin Syahdu

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 Juni 2016
Hujan, 5 Lagu Ini Membuat Rasa Sendu Berbalut Rindu Semakin Syahdu

Hujan kali ini seperti mimpi. begitu membuai. via: fiksiana.kompasiana.com

Hujan. Ya, kali ini turun hujan. Menemaniku menulis berbait-bait kalimat. Menguntai rindu dan mengurai simpul sendu. Hujan kali ini, seperti hujan yang telah lalu. Tak akan sempurna tanpa secangkir cokelat panas atau kopi dan beberapa lagu berikut ini:

  1. Payung Teduh –Resah 


Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu
Aku ingin berdua denganmu
Di antara daun gugur
Aku ingin berdua denganmu
Tapi aku hanya melihat keresahanmu

Hujan selalu berhasil memaksaku merindu. Merindukanmu dengan setumpuk kenangan dan mimpi mimpi yang selalu ku usahakan untuk teruntai bersamamu. Tidakkah satu saja dari doaku telah sampai kepadamu? Tidak kah tetesan air hujan ini mewartakan kepadamu tentang kerinduan dan rasaku padamu?

  1. Banda Neira - Hujan di Mimpi


Semesta bicara tanpa bersuara

Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah

Hujan dan dunia yang tiba-tiba diselimuti kebisuan adalah saat yang paling tepat. Tepat untuk apalagi jika bukan merindukanmu dan mengenangmu. Ah aku hampir saja lupa. Kamu saat ini hanya boleh menjadi kenangan bukan? Hanya sebatas itu?

  1. Utopia- Hujan


Rinai hujan basahi aku

Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak'kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karena aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Apakah kau merasa sesak disana? Di dalam kotak penyimpan rindu dan kenangan di dalam hati dan pikiranku. Jika kau merasa tempat itu terlalu sempit, bukankah langkah yang paling tepat adalah keluar dan segera menemuiku. Dua lenganku tidakkah menurutmu cukup?

  1. Sheila On 7 –Turun Hujan


waktu hujan turun

di sudut gelap mataku
begitu derasnya
kan ku coba bertahan
ingat kembali yang terjadi
tiap langkah yang kita pilih
meski terkadang perih
harapan untuk yang terbaik
sekeras karang kita coba
tetap kau tinggal diriku

Sepertinya sudut mataku juga penuh dengan air hujan. Iya, hujan juga turun menganak sungai di pipiku. Apa? Kau bertanya apakah aku menangis? Tentu saja tidak. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa ini juga air hujan. Iya akau tahu dan masih mengingatnya dengan benar ketika kita memutuskan untuk saling menapaki jalan hidup kita masing-masing. Aku masih mengingatnya. Namun salahkan jika aku berharap ini bisa beubah?.

  1. Frau – Mesin Penenun Hujan


merakit mesin penenun hujan 

hingga terjalin terbentuk awan 
semua tentang kebalikan terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu 
keputusan yang tak terputuskan 
ketika engkau telah tunjukkan semua tentang kebalikan 
kebalikan di antara kita

Kadang terpikir olehku, seperti apa rupa mesin penenun hujan itu. Tidakkah itu rumit?. Jika ia mampu menghasilkan sesuatu yang nyata seperti halnya air dan hujan. Tidakkah mustahil untuk menemukan mesin penenun benda lain. Benda yang tak kasat mata namun nyata adanya. Dan kita menyebutnya ‘kebahagiaan’.

 

  • view 285