Jalan Lain (cerpen)

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2016
Jalan Lain (cerpen)

Keena    : Apakah kamu bisa menebak pekerjaan apa yang akan kamu lakukan?
Sima      : Saya telah memikirkan beberapa kemungkinan, tentunya sesuatu yang sangat beresiko.
Keena    : Apakah merampok salah satunya?
Sima      : Ya. Tapi pertanyaannya dimana dan apa yang harus kita rampok?
Keena    : Penggadaian terbesar di Surabaya
Sima      : Kenapa?
Keena    : Untuk apa alasan?
Sima      : Sayangnya saya tak bisa melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya
Keena    : Selain uang dan barang berharga, apa lagi?
Sima      : Masih ada Bank, toko emas atau perhiasan berharga lainnya. Masih banyak sasaran yang lebih empuk.
Keena    : Maksudmu?
Sima      : Tentu ada alasan lain
Keena    : Disana ada berlian ibuku, itu barang utama yang harus diambil
Sima      : Oh, lalu komisi untukku?
Keena    : Selain itu, akan menjadi milikmu
Sima      : Kau hanya ingin memperalatku?
Keena    : Kita bisa bagi hasil
Sima      : Bekerja merampok dan digaji dengan hasil rampokanku sendiri, selera humormu bagus sekali.
Keena    : Kau bisa mengambil semuanya, aku hanya perlu berlian itu.
Sima      : Dan harga berlian itu sepertinya lebih besar dari semua barang yang mungkin dapat dirampok disana.
Keena    : Penggadaian itu besar, berlianku tentu bukan satu-satunya barang mewah yang ada di sana.
Sima      : Tapi resiko yang kutanggung terlalu banyak, ini juga bukan kemampuanku. pengalamanku yang paling mengagumkan hanyalah pemenjadi debt colector.
Keena    : Kau terlihat mampu
Sima      : Menurutmu tampangku kriminal?
Keena    : Oh bukan itu maksudku
Sima      : Tidak adakah jalan lain?
Keena    : Jika ada, maka kita tidak akan bertemu
Sima      : Baiklah, jelaskan.
Keena    : Akan sangat panjang
Sima      : Aku ada waktu
Keena    : Delapan tahun lalu aku menggadaikan berlian ibuku demi membiayai pesta pernikahanku. Aku bekerja keras untuk menebusnya. Namun nihil. Jangankan menyentuh pokoknya, bunganya saja sudah menggempur habis-habisan keuanganku.
Sima      : Bukankah kamu tidak sendirian? Kamu tidak mungkin menikah dengan dirimu sendiri.
Keena    : Lelaki itu tak pernah menganngapku istrinya. Dia gay, benar-benar benalu dan sayangnya terlalu pandai bermuka dua. Kau tak perlu mengernyitkan dahi.
Sima      : Aku hanya heran, kau tak terlihat seperti perempuan yang pasrah dengan perjodohan.
Keena    : Aku tak punya pilihan.
Sima      : Perempuan sepertimu tak laku? Lelucon apalagi ini?
Keena    : Saat itu aku merasa itu keputusan yang paling tepat. 35 tahun bukanlah umur yang muda untuk mencari pasangan.
Sima      : Serius? Wajahmu saat ini bahkan tidak terlihat seperti nenek-nekek umur 40han.
Keena    : Kuharap itu pujian.
Sima      : Tentu, Apakah teh dan kue ini hanya pajangan?
Keena    : Kau bahkan boleh melahapnya dalam sekali telan.
Sima      : Lanjutkan
Keena    : Ayah yang sakit-sakitan akibat tertekan karena putri kesayangannya tak kunjung berpasangan. Lamaran akhirnya datang setelah bertahun-tahun. Apalagi jawaban yang bisa kuberikan.
Sima      : Lelaki tak berguna seperti itu, mengapa tak kau singkirkan saja?
Keena    : Dia menantu kesayangan ayah, tak mungkin menceraikannya.
Sima      : Pantas saja pokok hutangmu tak pernah tersentuh, kamu memelihara lintah dalam rumahmu.
Keena    : Apalagi yang bisa kulakukan. Ayah terlampau bahagia bermenantukan dia.
Sima      : Mengapa baru terpikir merampok justru setelah 8tahun?
Keena    : Akhir-akhir ini ibu menerorku dalam mimpi, bertanya mengenai berliannya. Bekerja mati-matianpun aku tak akan mampu menebusnya.
Sima      : Bukankah berlian itu sudah diwariskan kepadamu?
Keena    : Benar, namun disertai sumpah untuk menjaganya seumur hiduku.
Sima      : Rumahmu ini terlihat unik. Kamu bisa menjualnya dan pindah ke tempat yang lebih moderen. Tidak pernahkah terpikir seperti itu?
Keena    : Itupun tidak mungkin.
Sima      : Tak kuasa atau terlalu sayang?
Keena    : Rumah ini cagar budaya, tak mudah menjualnya
Sima      : Bukan berarti tak mungkin
Keena    : Bahkan lebih mudah merampok, percayalah. Ayah juga tak akan mungkin membiarkanku melakukannya.
Sima      : Lalu rencanamu
Keena    : Kita pelajari keadaan sasaran. Kita beraksi ketika mereka lengah.
Sima      : Kapan terakhir kali kamu melanggar hukum
Keena    : Emm.... aku tak dapat mengingatnya
Sima      : Kamu seperti menawarkan naik gunung padahal jalan kaki saja kamu jarang.
Keena    : Sesulit itukah?
Sima      : Apakah jika aku mundur kamu akan marah?
Keena    : Kecewa tentu saja, lagi-lagi aku bisa apa?
Sima      : Kuharap aku tak pernah melihat beritamu di koran karena bosan hidup.
Keena    : Kau baru saja memberiku ide yang bagus.
Sima      : Aku serius
Keena    : Aku tahu
Sima      : Baiklah, sampai jumpa lagi atau selamat tinggal. Mana menurutmu yang tepat?
Keena    : Kita tidak perlu berjumpa lagi. Terimakasih telah mendengar cicitanku.
Sima      : Kau tak perlu membayar, jangan sungkan.
Keena    : Ya, terimakasih
Sima      : Aku pergi
~kemudian hening~

#SekolahMenulisCerpen #Selasa #KedaiKreasi #WinaBojonegoro

  • view 80