Acakadut (cerpen)

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2016
Acakadut (cerpen)

Perempuan itu menyukai melakukan segala sesuatu sendiri. Seakan-akan ia benar-benar tak memerlukan orang lain lagi. Ia gemar kemana-mana sendirian, jalan-jalan sendirian, nonton sendirian. Ia begitu mencintai waktu dan kebersamaan dengan dirinya sendiri.

Tetapi ada satu saat dimana ia begitu nelangsa dan merasa merindukan keberadaan orang lain disisinya. Ia rindu bapaknya. Ia selalu merindukan bapaknya ketika sakit. Nelangsa, ia selalu saja nelangsa ketika sakit seperti ini.

***

Sore itu ia menangis. Perutnya benar-benar lapar. Sudah beberapa hari ia tak bekerja karena sakit. Akibatnya hari ini ia tak punya cukup uang untuk membeli makanan. Sejak pagi perutnya terus saja digelonggong air. Tak ada sepotong roti atau sebutir nasipun yang menghuni perut mungilnya itu. Sebenarnya ia tak benar-benar menangis. Hanya saja air mata perempuan itu seperti sumber, mengeluarkan mata air sekehendaknya sendiri.

Akhirnya tak ada pilihan lain baginya selain mengerahkan semua tenaga dan keberuntungannya kepada kedua tangan mungilnya untuk mencari uang. Di atas kusen pintu, di bawah kasur, di rak buku, di dalam slempitan buku, di atas almari, di dalam celengan yang selalu lupa di isi, dimanapun, ia mencari uang receh seperti mencari sisa-sisa kehidupan disana. Berharap Tuhan bermurah hati menaruh sedikit rejeki disana.

Setelah lelah mencari, ia mulai diserang keputus asaan. Bagaimana mungkin sudah satu jam lebih, ia tak juga menemukan makhluk bundar yang bahkan biasanya tak sudi sedikitpun ia lirik itu. Begitulah manusia, ketika banyak uang, makhluk tidak hidup yang berbentuk gepeng bundar itu tidak diindahkannya sedikitpun. Katanya seratus, dua ratus, lima ratus atau bahkan seribu untuk membeli minumpun tak laku. tetapi saat benar-benar miskin seperti ini, tidak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan kecuali menyesal. Minimal jika celengannya pernah diisi, hari ini ia tak akan se ngenes ini.

Seketika kemarahan dan keputus asaan melanda hatinya. Sekuat tenaga ia tendang alamari yang tak bersalah di hadapannya. Oh almari yang malang, sudah cuman terbuat dari triplek, ringsek lagi karena jebol.

Namun sepertinya almari itu tidak tinggal diam. Ia membalas kelakuan kaki yang jahat itu. Ia jatuhkan rak tempat menyimpan pernak-pernik untuk menyerang kaki tak tahu diri itu. Seketika grodak-grodak bunyi rak jatuh tepat di atas kaki yang malang. Berhamburan sudah semua isi dan segala tetek bengek yang pernah disimpan di dalamnya.

Seketika misoh-misoh, pemiliknya misoh-misoh.

***

Kini semakin bertambah alasan air matanya untuk terus mengalir. Perut, hati serta kakinya kompak sakit bersama-sama. Ia punguti satu persatu barang-barang yang berserakan. Sambil meminta maaf kepada almari yang baru saja di tendangnya. Ia sadar harusnya ia tak perlu sekasar itu.

Pelan pelan tangan dan kakinya memunguti pernak-pernik yang berserakan. Sambil sesekali memeriksa apakah ada di antara mereka yang patah, bengkok atau jarumnya tumpul. sejenak ia terdiam, tertarik dengan benda yang bersembunyi dibawah rak yang jatuh tadi. Dua keping seribuan dan tiga keping dua ratusan. Olala, seketika matanya berbinar-binar seperti musyafir padang sahara yang tak sengaja bertemu oase yang teduh dan berair.

Seketika ia berlari ke warung. Lari, lari sekuat-kuatnya. Namun ditengah jalan, tiba-tiba kakinya terhenti. Ia menimbang-nimbang apa yang harus ia beli. Ya, apalagi yang bisa ia dapatkan di warung dengan uang seminim itu, kecuali mie. Tapi rasanya terlalu dzolim jika ia membeli mie. Karena pasti hanya dapat satu bungkus. Satu bungkus itu hanya akan berakhir menjadi slilit untuknya. Ya, pasti hanya akan jadi slilit.

Ia kecewa, menunduk lalu pulang.

***

Ketika pulang ia tak sengaja melihat ruang yang jarang sekali di jamahnya. Dapur. Dapur itu kali ini begitu menarik minatnya

Dengan berjinjit-jijit ia masuk dapur, mengendap-endap seperti penguntit. Bukan apa-apa, ia hanya takut ada yang melihatnya masuk dapur, tikus misalnya. Ia hanya takut pamornya jatuh. Orang lain mungkin berpikir bagaimana bisa seseorang merasa malu hanya karena takut ketahuan ke dapur. Tapi untuknya apa saja bisa. Baginya hal itu bisa jadi memalukan, benar benar memalukan.

Ia memeriksa kulkas, mengobrak-abrik tempat bumbu untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa di racik untuk menenangkan perutnya. Apalah daya, ia hanya menemukan tiga siung bawang merah, sejumput bawang daun, sekelingking wortel, dua bungkus kecil merica bubuk dan tiga bonggol jagung manis besar. Seketika ia bersemangat. “Bodoh, mengapa tidak dari tadi aku mencari bahan makanan di dapur,” pikirnya.

“Eh sebentar, sebentar. Dengan semua bahan itu memangnya aku bisa masak apa,” gerutunya.

Lemas lagi, luruh sudah tubuh perempuan itu. Seketika menguap lagi semangatnya.

Ketip-Ketip, matanya ketip-ketip memandang langit-langit yang rasanya mau roboh di atasnya. Diam. Hening. Tik tok tik tok waktupun berlalu.

Tiba-tiba, “aha, aku ada ide, sup, sup jagung,” celetuknya.

Seketika dengan penuh semangat ia mencuci jagung, menyerutnya kecil-kecil. Sambil bersenandung keras ia mengupas, memotong serta mencuci wortel yang sebesar kelingking itu. Kemudian membersihkan kemudian mencincang bawang merah. Lalu memotong daun bawang.

Dengan bergaya seperti scef, ia berdiri, mengambil wajan kecil, menumis bawang merah hingga harum. Kemudian memasukkan jagung yang telah ia serut. “Sebentar, kalau seperti ini bukannya namanya tumis,” pikirnya. Seketika ia mematikan kompor dan lari. Kali ini ia bukan lari ke warung, melainkan ke tukang bakso di ujung gang.

Dengan bekal uang dua ribu enam ratus dan muka tebal, ia beranikan diri membeli bakso. “Sudah beli cuman dua ribuan pakek minta kuah yang banyak lagi,”pikirnya mungkin begitu pikir si abang bakso.

Sampai di rumah, ia potong bakso itu kecil kecil. kemudian ia nyalakan kompor dengan api kecil. Kuah bakso ia tuangkan kedalam wajan. Di aduk-aduk agar bercampur dengan jagung dan wortel yang sudah menghangatkan dirinya beberapa waktu sebelumnya.

Ketika kuah mulai mendidih, ia masukkan bakso yang telah dipotong kecili-kecil. Kemudian ia masukkan lada bubuk dua bungkus. Karena tidak ada cabai rawit, ia berharap rasa pedas bisa diperoleh dari lada. Meskipun sebenarnya rasa pedas dari cabai rawit dan lada tentu saja berbeda.

Setelah matang, ia matikan kompor. Ia biarkan masakan itu sedikit dingin. kemudian ia masukkan garam. Jangan pikir ia melakukan itu karena saran dokter-dokter agar memasukkan garam setelah masakan matang agar kandungan iodiumnya tidak hilang. Ia melakukan itu karena lupa saja. Ya, tadi ia lupa memasukkan garam kedalam masakannya.

Setelah itu ia langsung memindahkan masakannya ke mangkuk besar. Setelah itu ia mengambil sendok bulat besar dan langsung melahap semua masakannya.

Jangan tanya bukankah masakan itu masih panas? karena di mulut perempuan itu sepertinya terdapat blower yang mampu mendinginkan makanan seketika ketika mencapai mulutnya.

Jangan pula tanya bagaimana rasanya, yang pasti semua sup jagung acakadut itu habis tak tersisa sama sekali. Mungkin saja ia takut ada orang lain yang merasakannya nanti, kemudian berkomentar sesuatu yang tak ingin didengarnya. Benar-benar tak ingin di dengarnya.

Entahlah, yang pasti rakus dan lapar itu beda tipis.

#SekolahMenulisCerpen #Selasa #KedaiKreasi #WinaBojonegoro

 

  • view 75