Steril (Cerpen)

Ulum Arifah
Karya Ulum Arifah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juni 2016
Steril (Cerpen)

Mbok Painem tak henti-hentinya menangis, menangisi perempuan ayu itu. Ia terus saja menggenggam jari lentik perempan itu erat. Ia tak lelah menemaninya seharian ini. Menunggu perempuan itu membuka mata. Bulir air matanya terus saja menetes. Ia masih saja setia melantunkan lagu-lagu jawa, sambil sesekali menyeka air matanya dengan punggung tangan.

Cah ayu, cah ayu, tangio cah ayu,” ucapnya lirih, berharap perempuan itu mendengarnya.

***

Banyak orang tak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan Ciplug. Mereka hanya tahu jika mantan bunga desa itu kini sekarat akibat ulahnya sendiri. Ia masih terbaring lemah di rumah sakit dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya. Tak ada yang tahu kegunaan selang itu kecuali para dokter di rumah sakit itu sendiri.

Ciplug hingga saat ini masih belum siuman. Sebelumnya ia mengalami perdarahan hebat hingga tak sadarkan diri. Baguslah, ada untungnya juga ia tak kunjung sadar. Setidaknya ia tak perlu mendengar celoteh riuh serta spekulasi ngawur warga kampung yang bergantian menjenguknya.

“Bagaimana to ceritanya mbok de? Kok bisa Ciplug sampek ndak sadar kayak gitu?” Tanya salah satu saudara Ciplug yang kebetulan menjenguknya sore itu.

“Aku juga ndak paham. Dengar-dengar katanya nduk ayu melakukan steril,” Jawab mbok Painem lirih. Perempuan tua itu abdi dalem keluarga Ciplug sejak puluhan tahun yang lalu.

“Steril? Opo kui?

Perempuan tua itu menggeleng. “Pokoe katanya perut nduk ayu dibelah, terus di dalam perutnya ada yang dipotong”.

“Maksudnya operasi to? Kayak operasi usus buntu gitu? Memangnya Ciplug sakit apa?”

“Bukan sakit, nduk ayu itu ndak sakit”

“Terus?”

“Steril itu katanya biar ndak punya anak lagi”

“Lho kenapa? Ciplug kan masih umur 24 tahun?”

“Ndak tahu,”timpal perempuan tua itu lirih.

Kemudian hening. Keduanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

***

Sebulan sebelum Ciplug masuk rumah sakit, perempuan itu masih aktif mensosialisasikan program KB. Maklumlah, selama dua tahun ini perempuan itu aktif sebagai agen Balita Sehat dan KB di desanya. Kalau ditanya alasan, ia selalu menjawab agar bayi-bayi lebih sehat, minimal bisa makan bubur kacang hijau gratis, selorohnya sambil tertawa.

Ciplug tinggal di desa Kesamben, salah satu desa di ujung timur pulau. Warganya mayoritas memiliki sepuluh hingga tujuh belas anak dalam setiap keluarga. Ada beberapa pula yang memiliki lima sampai sembilan anak, tapi itupun jarang. Jumlah anak yang terlampau banyak dalam setiap keluarga, serta keadaan ekonomi yang belum memadai, menyebabkan banyak anak harus putus sekolah. Anak-anak terpaksa harus bekerja membantu orang tua karena banyak mulut dalam keluarga mereka yang harus diberi makan. Belum lagi jika ayah atau ibu mereka kawin beberapa kali. Tentunya saudara mereka yang banyak, bertambah banyak lagi jumlahnya, karena ditambah dengan jumlah saudara tiri mereka.

Oleh karena itu, Ciplug sejak dua tahun yang lalu bertekad untuk terus memperkenalkan KB di desanya. KB itu singkatan dari Keluarga Bahagia, yaitu program pemerintah yang menganjurkan memiliki cukup empat anak saja. Meski Ciplug seringkali mendapati keheranan warga kampungnya karena gagasan itu, ia tetap semangat. Bagaimana mereka tidak heran, bahkan warga kampung yang memiliki empat orang anak dalam satu keluarga sangat jarang, bahkan hampir tidak ada.

Namun untungnya warga selama ini masih menerima kegiatan-kegiatan yang dilakukan Ciplug. Mereka suka mendengarkan cah ayu itu ketika berbicara. Katanya suaranya merdu dan tawanya renyah. Selain itu, sebenarnya mereka mau berbondong-bondong mengikuti kegiatan, terutama ibu-ibu, karena disana disediakan makanan gratis.

Namun bukan berarti Ciplug tak pernah menemui masalah. Masalah yang selalu datang adalah tentang contoh. Para ibu-ibu itu takut mengikuti program KB jika tidak ada kawan mereka yang melakukannya terlebih dahulu. Dengan pendekatan-pendekatan yang intensif serta iming-iming sedikit uang, akhirnya beberapa diantara ibu-ibu itu mau menjadi contoh. Mereka mau minum obat secara teratur agar tidak hamil dalam jarak kehamilan yang terlampau dekat.

Tetapi kini perempuan itu dibuat kelimpungan. Program KB terbaru kini diperkenalkan. Mereka menyebutnya steril. Yaitu operasi yang dilakukan dengan cara mengikat (menutup) tuba falopi. Hal ini bisa mencegah telur masuk ke rahim. Metode ini juga bisa menutup jalan sperma ke tuba falopi agar tidak lagi bisa hamil selama-lamanya. Jika selama ini beberapa perempuan mau dibayar untuk menjadi contoh, kini tidak ada satupun yang bersedia. Mereka selain takut dimarahi suaminya juga terlampau ngeri melakukannya.

Akhirnya setelah beberapa bulan tidak mendapatkan contoh, Ciplug mengajukan dirinya sendiri. Kali ini tekadnya sudah bulat untuk melakukan steril.

“Nduk ayu jangan aneh-aneh, kamu cantik dan masih muda. Kamu apa ndak mau tah punya anak lagi?” Seloroh salah satu perempuan paruh baya yang sering mengikuti penyuluhannya tentang KB.

“Ndak papa mbak yu, lha kalau bukan saya siapa lagi?” Jawabnya sambil tersenyum.

“Sampean memang ayu, kembang desa di sini. Tetapi nanti kalau sampean jadi steril, terus ndak bisa punya anak lagi, terus ndak ada yang mau nikah sama sampean gimana?”

Mosok to aku ayu?” Ia hanya tertawa, tak berniat menanggapi pertanyaan itu dengan serius.

Para Ibu-ibu itu tak menyangka jika Ciplug-benar benar melakukannya sebulan kemudian. Menurut mereka steril bukan hanya menakutkan, tetapi juga sepertinya tidak terlalu berguna bagi mereka. Jadi seharusnya Ciplug tidak perlu senekat itu.

Mereka tidak tahu alasan sebenarnya yang disembunyikan Ciplug rapat-rapat, karena hanya dirinya dan Gustinya yang tahu. Ya, hanya dirinya dan Gusti Allah yang tahu.

***

Tiga tahun yang lalu Desa Kesamben gaduh akibat kabar yang mengejutkan. Surami, suami dari Ciplug dikabarkan meninggal dunia. Mereka berbondong-bondong membantu proses pemakaman almarhum, sampai slametan tujuh hari berturut-turut setelah kematiannya.

Sebenarnya tak ada yang ganjil dari almarhum Surami. Namun Kematiannya yang begitu mendadak serta umurnya yang masih tiga puluhan, membuat banyak orang bertanya-tanya. Akhirnya mulai banyak isu yang berkembang tentang penyebab kematian surami.

Ada yang mengatakan bahwa surami di santet. Karena kabarnya seminggu sebelum kematiaannya, Surami menemukan bungkusan kecil yang menyerupai pocong, serta kembang tujuh rupa dibelakang rumahnya. Analisa ini diperkuat dengan beberapa saksi yang mengatakan bahwa malam sebelum Surami meninggal, lantai bale-bale rumah Surami tiba tiba meledak. Katanya itu kiriman santet yang salah ruang, sebelum santet yang lain benar-benar dikirim ke kamar suami Ciplug itu.

Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa Surami meninggal akibat terkena angin duduk. Karena kabar yang mereka terima, malam sebelum ia meninggal, Surami minta dikerokin istrinya dikamar, karena masuk angin. Dugaan mereka, masuk angin itu bukan jenis masuk angin biasa, tetapi angin duduk yang kabarnya konon banyak membuat orang tiba-tiba meninggal.

Ada juga yang menyangka bahwa suami Ciplug itu meninggal akibat serangan jantung. Karena sebelumnya ada yang melihat Surami sering memegang dadanya. Ada juga yang katanya pernah mendengar Surami mengeluh sering mengalami nyeri dada.

Entahlah, tidak ada yang tahu mana kabar yang benar. mereka tidak ada yang berani bertanya kepada keluarga Ciplug. Selain karena segan, mereka juga malu bertanya kepada keluarga kaya itu.

Namun yang pasti, Ciplug belum kunjung menikah lagi sampai beberapa tahun kedepan. Ia belum mau menerima pinangan laki-laki lain. Padahal ia janda, muda dan cantik. Bagaimanapun ia pernah menjadi bunga desa, atau bahkan masih menjadi bunga desa. Saat kematian suaminya itu, Ciplug masih berumur 21 tahun.

Beberapa tahun kedepan, saat Ciplug terbaring di rumah sakit. Warga kampung mulai menyangkut pautkan kematian suaminya dengan keputusan steril yang dilakukannya. Mungkin Ciplug sangat mencintai almarhum suaminya itu, sehingga rela melakukan steril agar tidak bisa hamil lagi. Apalagi tujuan Ciplug melakukan itu, selain agar tidak ada lelaki lain yang mau mengawininya. Jika ada yang menanyakan alasan Ciplug yang sesungguhnya, siapa pula yang tahu?

***

Sore itu ruangan Ciplug ramai dengan tangisan anak-anak. Ketiga anaknya menangis karena tiga hari ibunya tak pulang, dan kini mereka menemukan ibunya berbaring tak berdaya di rumah sakit.

Wikan, putri pertama Ciplug yang saat itu paling susah untuk ditenangkan. Saat ini ia kelas lima SD. Dulu Ciplug melahirkan putri sulungnya itu saat ia berumur 13 tahun. Gadis cilik itu terus menangis karena ketakutan. Ia takut ibunya meninggal juga, menyusul bapaknya yang telah meninggal tiga tahun yang lalu.

Bagaimanapun saat kematian bapaknya, Wikanlah yang paling sadar. Saat itu ia sudah berumur delapan tahun. Adik keduanya, Santi, berumur enam tahun. Sedangkan Bagus, adik bungsunya, masih berumur dua tahun.

Beberapa jam kemudian Bagus tidur dipelukan pak dhenya karena kelelahan menangis. Sedangkan Santi dan Wikan diam di ujung ruangan ditemani Bu Lek Siwi. Kedua gadis kecil itu terlalu muda untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi kepada ibunya. Yang mereka tahu ibunya bisa saja mati, kerena itu mereka harus selalu mendoakan kesembuhannya.

***

Seminggu kemudian Ibu Ciplug datang menjenguk anak perempuannya itu. Ia telah siuman sejak tiga hari yang lalu. Perempuan itu sudah bisa duduk dan sudah tidak selemas tempo hari. Selang-selang di tubuhnya juga sudah dilepas, tinggal infus saja.

“Nduk maaf, ibu baru bisa menjengukmu sekarang,” ucap sang ibu lembut.

Ciplug hanya tersenyum maklum. Ia paham ibunya harus menempuh jarak dan medan yang tidak mudah jika ingin menemuinya. Ibunya tinggal di belakang gunung, jauh dari desanya. Ibu tinggal disana bersama suami keduanya dan beberapa saudara ciplug yang lain. Ibunya memiliki delapan anak kandung. Jumlah yang cukup kecil untuk ukuran desa Ciplug. Lima anak dari suami pertamanya serta tiga anak dari suami keduanya. Namun jika anak tiri dari suami keduanya dihitung, maka ia tidak tahu berapa jumlah pasti saudaranya.

Perempuan itu sudah sangat bersyukur ibunya datang. Bisa saja bapak tirinya atau putra putri ibunya yang lain melarangnya untuk datang.

“Bu, Ciplug kangen ibu,” jawab perempuan itu hampir menangis kemudian memeluk ibunya.

“Iya nduk, ibu disini, ibu benar-benar disini,” ucapnya menenangkan sambil membelai rambut panjang putrinya.

Ciplug hanya menangis dan terus menangis dipelukan ibunya.

Setelah tangisan putrinya reda, perempuan paruh baya itu melepaskan pelukannya, kemudian bertanya, “Nduk, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Ciplug melakukan steril bu.”

“Apa memang seberesiko ini?”

“Sebenarnya seharusnya semuanya berjalan cepat dan tidak seperti ini.”

“Lalu?”

“Mungkin karena Ciplug terlalu muda, makanya terjadi sesuatu yang akhirnya menyebabkan Ciplug perdarahan bu,” ia menjelaskan semuanya pelan.

“Benar jika steril itu berarti kamu memilih untuk tidak bisa hamil lagi?”

Perempuan itu hanya mengangguk.

“Tetapi kenapa, nduk?”

Perempuan muda itu diam, mengambil nafas beberapa kali, kemudian menjawab, “Aku ndak mau anak-anakku kehilangan ibunya, bu.”’

“Maksudnya kamu ndak mau menikah lagi? Tapi kan ndak harus sampai kayak gini, nduk?”

“Aku ndak mungkin selamanya membiarkan mereka ndak punya bapak, bu.”

Perempuan itu mulai mengerti kemana jalan pikiran anakanya. Putrinya itu sebenarnya mau menikah lagi. Tetapi sepertinya ada ketakutan yang ia sembunyikan.

“Kamu mau mereka punya bapak, tetapi ndak mau mereka punya saudara lagi. benar begitu?”

Ciplug hanya diam, terpana dengan tebakan ibunya yang jitu. Beberapa saat kemudian ia mengangguk, membenarkan terkaan ibunya.

“Kenapa? Menurutmu, apakah itu adil untuk suami barumu nanti?”

Perempuan itu meminta ibunya duduk di ranjang. Kemudian ia menaruh kepalanya dipangkuan ibunya. Meminta perempuan yang melahirkannya itu membelai rambutnya seperti dulu.

Kemudian hening, mereka diam hingga beberapa waktu.

“Bu, hidup sebagai saudara tiri, atau sebagai anak kandung tetapi berbeda ayah atau ibu, itu tidak mudah. Meski banyak juga pertengkaran yang mungkin terjadi sesama anak kandung, setidaknya itu terlihat lebih ringan dan manusiawi. Lihatlah bu, aku bahkan tak mengenal semua putra putrimu,”ucapnya lirih, lirih sekali.

Perempuan paruh baya itu memilih menjawab dengan gerakan. Tangan kanannya masih membelai rambut putrinya lembut. Sedangkan tangan kirinya bergerak menggenggam jari tangan putri cantiknya. Membuat pola melingkar dengan ibu jari di atas kulit lembut perempuan itu. Ia masih terus menggenggam tangan putrinya, serta terus membuat pola dengan gerakan memutar. Pelan dan teratur. Gerakan kecil yang mampu menenangkan. Benar-benar menenangkan.

Ia tahu penderitaan apa saja yang dialami putrinya itu. Sebagai ibunya, ia paham dengan benar, sangat paham. Ia hanya berharap Gusti Allah selalu memberi kekuatan dan kebahagiaan kepada putrinya itu, dan segera mempertemukannya dengan lelaki saleh yang mau menerima ia apa adanya. Sungguh-sungguh apa adanya.

***

*Keterangan

Cah ayu, cah ayu, tangio cah ayu       : Anak cantik, anak cantik, bangunlah anak cantik.

Opo kui?                     : Apa itu?

Abdi Ndalem              : Seseorang yang membantu keperluan domestik, seperti memasak dll.

Pokoe                          : Pokoknya/ yang penting

Mosok to aku ayu?      : Apa iya saya cantik?

Ndak                           : Tidak

Sampean                      : Anda/ kamu


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kami menghargai cerpen dengan tema unik seperti karya inspirator Ulum Arifah ini. Bagi sebagian orang mungkin tema ini agak tabu tetapi fungsi fiksi adalah mencerminkan topik yang sebenarnya mungkin terjadi dan hal ini seharusnya diberi ruang untuk bersuara demi pembelajaran dan proses saling menghormati keputusan setiap orang. Inti cerita ini adalah sikap Ciplug, aktivis keluarga dengan anak secukupnya, yang rela melakukan operasi steril yang membuatnya tak bisa lagi hamil. Selain alasan ingin menjadi contoh bagi para ibu agar bisa mengendalikan kehamilan berikut mencegah rentetan masalah akibat mempunyai banyak anak, Ciplug juga mempunyai alasan pribadi mengapa tak lagi mempunyai anak. Ide yang beda dari kebanyakan cerpen, pesan kritis yang terbalut dalam kisah ini serta teknis penulisan yang apik membuat karya ini layak mewakili pilihan redaksi edisi ini. Bahasa yang tegas dan lugas pun mampu menangkap kegetiran yang kental mewarnai cerpen ini. Salut, Ulum!

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Fiksi gk melulu tentang cinta dan berakhir patah hati, akhirnya baper a la remaja labil, hehe...suka sm tema yg diangkat...

    Keren, mbak ulum...

    Semoga tema2 yg 'tabu' ini bs menemukan pembacanya sendiri

    • Lihat 2 Respon