MENGUTANGI ALLAH

Zulfatul Fuadiyah
Karya Zulfatul Fuadiyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Maret 2016
MENGUTANGI ALLAH

?

Allah itu maha kaya, kenapa kita mesti mengutangkanNya? Sesungguhnya kitalah yang membutuhkan Allah, dan bukan sebaliknya. Ya. Itu memang benar. Lantas apa maksudnya mengutangi Allah? Mengutangi di sini, bukan dalam arti sebenarnya, memberikan pinjaman sesuatu kepada Allah. Bukan.

Jika kita dapat mengutangi Allah. Maka dua buah keuntungan yang akan kita terima. Satu untuk di dunia, dan satu lagi akan kita peroleh di akhirat. Saat di dunia juga Allah akan membayar utang tersebut. Bahkan tak tanggung-tanggung, Allah akan melipatgandakannya, kemudian pahala atas kesediaan kita mengutangi Allah, akan kita dapatkan di Akhirat kelak. Luar biasa bukan?

Simaklah kisah sayyidina Ali yang Insya Allah, dapat menambah keyakinan kita, untuk bersegera mengutangi Allah.

Pada suatu hari, sepulang dari mesjid, Sayyidina Ali menemui Fatimah, istrinya.

Ali menanyakan bekal makanan untuk hari itu, namun ternyata mereka sudah tidak punya apapun lagi untuk dapat dimakan. Tetapi, saat itu Fatimah memegang uang 30 dinar, itu pun adalah upah dari menenun baju perangnya Salman Alfarisi. Ia lalu memberikannya, dan Ali menerimanya, sejak itu juga Ali berjalan menuju pasar.

???? Selanjutnya sebelum tiba di pasar, ia berjumpa dengan seorang pengemis, juga seorang anak yang terus merengek dipangkuannya. Sang pengemis itu berkata ?Siapakah, orang yang sudi mengutangi, Allah?? Lalu sang Amirul Mukminin itu mendekat, dan mengajak bercakap. Ternyata anak itu, putra dari pengemis tersebut, hal yang menyebabkannya terus merengek adalah rasa lapar yang tengah dirasakannya. Sebab sudah dua hari mereka tidak makan. Ali pun akhirnya memberikan 30 dinar itu kepada sang pengemis.

???? Kemudian Ali pun kembali pulang. Dan menyampaikan apa yang terjadi pada dirinya. Setelah mengetahui itu, Fatimah, putri dari sang Rosul samasekali tidak menyayangkan, tetapi, justru Fatimah mengucap syukur. Karena dalam keadaan terhimpit pun, sang suami masih mampu untuk bersedekah.

???? Dan saat itu pun, akhirnya Ali melanjutkan perjalanannya lagi untuk mencari sesuatu yang dapat mengganjal isi perut ia dan keluarganya. Dan ketika di pertengahan jalan, dari belakang, Ali mendengar ada suara lelaki yang memanggilnya. Lantas, ia pun mendekati seorang laki-laki tua yang tadi memanggilnya. Ternyata setelah berbincang, lelaki paruh baya itu, meminta agar Ali, membeli unta yang dibawanya. Pada mulanya, Ali menolak, karena ia tak punya sepeser pun uang untuk membeli unta tersebut. Tetapi, pemilik unta itu, terus saja memaksa, akirnya Ali pun mengiyakan permintaannya. Walaupun dengan syarat, unta itu dihutang. Kemudian, Pak Tua itu meminta bagian 100 dinar dari Ali. Setelah itu terjadilah kesepakatan antar keduanya. Ali berjanji padanya, jika nanti untanya terjual ia akan segera kembali.

???? Singkat cerita, ayah dari Hasan dan Husen itu berhasil menjual unta tersebut dengan harga 300 dinar, ketika ia bermaksud menemui pak Tua tadi, namun sayang, Pak Tua sudah tidak ada di tempatnya. Ali pun kebingungan, dan ia memutuskan untuk pulang. Ia bercerita pada Fatimah atas kejadian itu. Dan Fatimah kemudian menyarankan agar Ali meminta pendapat Rasulallah SAW.

?????? Saat menemui Rasul, dan menyampaikan kegundahannya, ternyata Rasul sudah lebih tahu terhadap masalah yang menimpa Ali. Dan Rasul menjelaskan bahwa lelaki yang ia temui sebagai pemilik unta adalah malaikat yang diutus Allah, untuk membayar utang Allah pada Ali, yang telah diberikan olehnya pada pengemis.

  • view 124