lukas bole taba KISAH RAMBU KABA DENGAN UMBU DULA

lukas bole taba KISAH RAMBU KABA DENGAN UMBU DULA

lukas bole taba
Karya lukas bole taba Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 Januari 2018
lukas bole taba KISAH RAMBU KABA DENGAN UMBU DULA

Kisah Rambu Kaba dengan Umbu Dula

 

(Sore hari itu, Umbu Dula menghampiri istrinya untuk memberitahu niatnya itu.)

Umbu Dula : Dengarkan aku baik-baik, besok pagi aku bersama saudaraku akan pergi melaut, (memegang tangan istrinya) aku minta persetujuanmu, agar kami pergi bisa membawah hasil.

Rambu Kaba : Jika niatmu itu baik, maka aku tidak bisa menghadangmu pergi, dan dengan iklas aku mengijinkanmu untuk pergi melaut.

Umbu Dula : Terimakasih istriku, sudah mengijinkanku pergi.

Rambu Kaba : Sama-sama suamiku. (mengelus pundak suaminya)

 

(Sebelum mentari sepenuhnya memeluk bumi. Umbu Dula serta kedua saudaranya itu berpamitan kepada istrinya masing-masing dan seluruh warga Waiwuang. Setelah berpamitan, berangkatlah mereka menuju daerah bagian timur untuk mencari padi sesuai apa yang sudah ia rencanakannya.)

Umbu Dula : Ambu aku berangkat dulu. Doakan kami agar kami berhasil. (memeluk istrinya)

Rambu Kaba : Ia suamiku, doaku akan selalu bersama-mu dan kalian semua.

(Dan sampailah mereka di tempat yang sangat subur itu, dengan banyak jenis tanaman terdapat ditempat itu.)

Umbu Dula : Lihatlah saudaraku, kita akan banyak mendapatkan padi ditempat ini (tertawa kegirangan)

Yagi Waikareri : Ia benar sekali saudaraku, baiknya kita bangun kemah dulu untuk kita tinggal beberapa bulan ditempat ini.

Ngongo Tauma Susu : Ya saya pun berpendapat seperti itu, biar kita mengumpulkan padi sebanyak yang kita mampu.

 

(Maka mereka pun membangun rumah untuk tempat tinggal mereka)

 

Rambu Kaba : Suamiku pergi melaut sudah sangat lama, aku punya firasat buruk terhadap mereka, karena itu aku butuh bantuan kalian, aku minta tolong kepada kalian untuk mencari saumiku serta kedua saudaranya itu. (dengan wajah gelisah)

Warga : Baiklah kami akan membantu, kami akan mencari mereka.

(Maka berangkatlah warga itu untuk mencari Umbu Dula dan kedua saudaranya itu. Mereka mencari diberbagai tempat tetapi mereka tidak berhasil menemukannya. Mereka pun kembali kekampung Waiwuang, setibanya mereka diWaiwuang, mereka langsung menemui Rambu Kaba. Sebelum mereka mengangkat bicara, Rambu Kaba langsung menanyai mereka.)

Rambu Kaba : Bagaimana, apakah kalian sudah berhasil menemukan suamiku?

Warga : Maafkan kami Ambu. Kami sudah mencari mereka diberbagai tempat, tetapi kami tidak berhasil menemukan mereka.

Rambu Kaba : (Menarik nafasnya dalam-dalam).

Warga : Kami sangat yakin mereka sudah mati dibunuh. (kata seorang warga dengan meyakinkan)

Rambu Kaba : Ya sudah, kalian pulanglah.

(Beberapa hari setalah itu, rambu kaba duduk diatas bukit kecil yang tak jauh dari perkampungan waiwuang. Tiba-tiba datanglah seorang pemuda tampan dengan menunggangi kuda)

Teda Gaiparona : Hei… Apakah kamu lagi menunggu seseorang ?” suara itu didengarnya tiba-tiba. (Pemuda itu turun dari kudanya, lalu mendekati Rambu Kaba) Sedang apa kamu disini ?

Rambu Kaba : Tidak, aku hanya mau melihat pemandangan saja.

Teda Gaiparona :  Apa kamu berasal dari kampung sebelah ?

Rambu Kaba : Iya aku dari kampung Waiwuang.

Teda Gaiparona : Namaku, Teda Gaiparona, aku dari kampung kodi. (menyodorkan tangannya)

Rambu Kaba : Rambu Kaba, (menyambut tangan pemuda yang berada didepannya)

Teda Gaiparona : Pertemanan kita sudah cukup lama, waktu demi waktu sudah kita lalui. Aku merasa nyaman saat berada didekatmu, aku rasa, aku jatuh cinta padamu.

Rambu Kaba : Apa maksud perkataanmu ? aku ini hanyalah seorang perempuan yang ditinggal suaminya, aku hanya seorang janda.

Teda Gaiparona : Sungguh aku jatuh cinta padamu, aku benar-benar ingin menikahimu.

Rambu Kaba : Jika kamu benar-benar serius mengatakan ini, maka aku menerima cinta-mu.

Teda Gaiparona : Termakasih sudah mau membuka hati untuk-ku rambu. (memegang tangan Rambu Kaba)

Rambu Kaba : Sama-sama.

(Beberapa hari setelah kejadian itu, suami rambu kembali dikampung waiwuang dan mendapati berita dari warga tentang istrinya.)

Warga : Umbu istrimu telah diwah lari oleh pemuda dari kodi yang bernama Teda Gaiparona.

Umbu Dula : Apa. Kalau begitu sampaikan pada pemuda itu untuk mengantar istriku kembali. Jika tidak akan terjadi perang.

Warga : Baikla, kami akan sampaikan berita ini.

Dikampung Kodi menemui Teda Gaiprona dengan Rambu Kaba

Warga : Suamimu telah kembali dan ia memintamu kembali di kampung Waiwuang.

Teda Gaiparona : Tidak. Dia sudah menjadi milikiku, dan aku tidak akan melepaskannya kembali.

Rambu Kaba : Aku juga tidak mau kembali, aku telah mencintai Teda Gaiparona. Pulanglah dan sampaikan pada Umbu Dula bahwa aku tidak mau kembali lagi.

(Setelah itu, pulanglah itu warga ke kampong waiwuang.)

Warga : Umbu Dula, Teda Gaiparona tidak mau melepaskan Rambu Kaba kemali, dan istrimu sendiri juga tidak mau kembali, katanya ia telah mencintai Teda Gaiparona.

Umbu Dula : Jika demikian ini akan menjadi perang, karena ia telah melarikan istriku dan tidak mau mengantarnya kembali.

(Maka terjadilah perang antara kedua kampong ini. Pada sore hari Umbu Dula serta kedua saudaranya itu menyuruh salah satu warga umtuk pergi kekampung Kodi dan memberitahu Teda Gaiparona agar datang kekampung Waiwuang keesokan paginya. Warga itupun pergi kekampung Kodi dan setibanya disana, ia langsung menemui Teda Gaiparona, dan menyatakan maksud dari kedatangannya itu).

Warga : Aku kesini atas perintah Umbu Dula, Ia memintamu supaya besok pagi kamu datang dikampung Waiwuang.

Teda Gaiparona : Dengan maksud apa ia mengudangku ke sana ?

Warga : Aku sendiri pun tidak tahu, tapi yang pasti tidak ada niat buruk darinya.

Teda Gaiparona : Ya, baiklah . Aku akan menepati permintaan itu, aku akan tiba disana secepatnya.

Warga : Bagus. Kalau begitu aku pulang dulu.

            (Setelah memberitahu hal itu, ia pulang kekampung Waiwuang.Iatiba sudah larut malam, karena jaraknya memang cukup jauh untuk ditempuh. Tidak terasa malampun berlalu diganti dengan pagi, Setelah mentari telah sepenuhnya memperlihatkan wujudnya. Teda Gaiparona pun tiba dikampung Waiwuang. Umbu Dula bersama kedua saudaranya dan Teda Gaiparona pun bergumul. Umbu Dula meminta pertanggung jawaban Teda Gaiparona karena sudah melarikan Rambu Kaba)

Umbu Dula : Atas tindakan mu, karena sudah membawah lari istriku, maka saya meminta pertanggungjawaban mu.

Teda Gaiparona : Aku akan bertanggung jawab dengan hal itu, tapi pertanggungjawaban apa yang kalian minta dariku.

Umbu Dula : Aku sebagai suaminya meminta untuk membayar semua belis yang sudah diterima oleh Rambu Kaba dari kami.

Teda Gaiparona : Ya.Aku menerima permintaan itu, dan aku akan membayar kembali belis itu sore nanti.

(Pada sore harinya, Teda Gaiparona datang membawa semua belis.)

Teda Gaiparona : Ini ganti dari semua belis yang telah diterima rambu kaba darimu. Mulai saat ini Rambu Kaba sah jadi istriku.

Umbu Dula : Karena kamu telah membayar semua belisnya maka aku menyerahkan Rambu Kaba jadi milikmu.

Teda Gaiparona : Untuk mengikat tali persaudaraan ini, bagaimana kalau kita adakan pasola tiap tahunnya.

Umbu Dula : Ide yang sangat bagus, biar tidak ada kerenggangan antara keluarga kita, saya setuju dengan itu.

(Maka berdamailah mereka, dan pasola terus diadakan tiap tahunnya.)

Sekian dan terima kasih

  • view 77