Lukas B. Taba : Kisah Rambu Kaba dengan Umbu Dula

Lukas B. Taba : Kisah Rambu Kaba dengan Umbu Dula

lukas bole taba
Karya lukas bole taba Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Desember 2017
Lukas B. Taba : Kisah Rambu Kaba dengan Umbu Dula

KISAH RAMBU KABA DENGAN UMBU DULA

 

Di kampung Waiwuang puluhan tahun yang lalu, Rumah alang-alang berdiri sejajar dan rapi dengan menara yang menjulang tinggi mengarah keangkasa. Dikampung itu hiduplah tiga orang bersaudara bernama Umbu Dula, Ngongo Tau Masusu dan Yagi Waikareri. Umbu Dula, pemimpin dikampung itu, Ia mempunyai seorang istri bernama Rambu Kaba. Ia seorang pemimpin yang sangat disegani, dihormati juga senangi dikampung itu karena sikapnya yang rupawan, ramah dan berwibawa terhadap semua warga Waiwuang.

Saat angin sore mulai berhembus dan matahari sementara memancarkan sinarnanya seperti bara api kemerah-merahan, suasana itu tampak indah dimatanya. Kemudian muncullah inisiatif dalam benaknya untuk mencari padi di daerah sebarang yaitu daerah bagian timur. Mataharipun sudah sepenuhnya tenggelam, Umbu Dula bangkit dari tempat dimana ia duduk, lalu pergi menemui istrinya untuk memberitahu niatnya untuk mencari padi. Sesudah ia menemui istrinya, ia memberitahu alasan yang berbeda.

“Dengarkan aku baik-baik, besok pagi aku bersama saudaraku akan pergi melaut, aku minta persetujuanmu, agar kami pergi bias membawah hasil,” kata Umbu Dula pada istrinya.

“Jika niatmu itu baik, maka aku tidak bias menghadangmu pergi, dan dengan iklas aku mengijinkanmu untuk pergi melaut,” jawab Rambu Kaba dengan nada datar, menyetujui permintaan suaminya.

Percakapan itupun terjadi tanpa ada perdebatan. Rasa senang menggelora dalam hatinya, ia berniat untuk mencari makanan sebanyak-banyaknya dan malampun telah larut. Tak terasa malampun berlalu dengan cepat, Suara ayam berkokok mulai bersahut-sahutan pertanda pagi akan tiba. Suara ayam- ayam itu terdengar jelas dikuping Umbu Dula, dengan lekas ia bangun lalu menyiapkan barang bawaannya.

Sebelum mentari sepenuhnya memeluk bumi. Umbu Dula serta kedua saudaranya itu berpamitan kepada istrinya masing-masing dan seluruh warga Waiwuang. Setelah berpamitan, berangkatlah mereka menuju daerah bagian timur untuk mencari padi sesuai apa yang sudah ia rencanakannya.

Beberapa hari sudah berlalu, mereka sudah banyak menyusuri satu tempat ketempat yang lainnya, melewati gunung maupun lembah. Mereka terus mencari hingga mereka tiba didaerah selatan pantai sumba timur, suatu tempat yang seperti surga menurut mereka, yaitu tempat yang ditumbuhi banyak tanaman padi. Setibanya mereka ditempat itu, rasa syukur, rasa gembira tergiang dihati mereka, rasanya seperti mereka sedang menginjakkan kaki taman surga.  Kemudian mereka membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka, cukup lama mereka disana, suasana dan keadaan daerah itu membuat mereka tak kunjung-kunjung pulang.

***

Sekian lama menunggu, suasana ceria yang biasa berlabuh di hati Rambu Kaba berubah menjadi tegang. Ia mulai menduga-menduga terhadap suaminya. “Apakah permintaan izin untuk melaut itu hanya sebuah alasan untuk ia meninggalkan aku ? Ataukah saumiku sudah meninggal dibunuh orang ?” pertanyaan ini terus bermunculan dalam hatinya. Suasana hatinya sudah semakin kacau, pikirannya, seluruh anggota tubuhnya terasa kaku.

            Untuk mencari tahu kebenaran dari dugaannya itu, akhirnya ia menyuruh beberapa orang warga untuk mencari jejak suaminya serta kedua orang saudaranya itu.

“Suamiku pergi melaut sudah sangat lama, aku punya firasat buruk terhadap mereka, karena itu aku butuh bantuan kalian, aku minta tolong kepada kalian untuk mencari saumiku serta kedua saudaranya itu,” kata Rambu Taba.

“ Baiklah kami akan membantu, kami akan mencari mereka,” jawab warga bersamaan.

Maka berangkatlah warga itu untuk mencari Umbu Dula dan kedua saudaranya itu. Mereka mencari diberbagai tempat tetapi mereka tidak berhasil menemukannya. Mereka pun kembali ke kampung Waiwuang, setibanya mereka di Waiwuang, mereka langsung menemui Rambu Kaba. Sebelum mereka mengangkat bicara, Rambu kaba langsung menanyai mereka.

“Bagaimana, apakah kalian sudah berhasil menemukan suamiku ?” tanya  Rambu kaba.

  “Maafkan kami Ambu. Kami sudah mencari mereka diberbagai tempat, tetapi kami tidak berhasil menemukan mereka,” jawab warga.

       “Rambu kaba menarik nafasnya,” mukanya berubah menjadi merah.

     “Kami sangat yakin mereka sudah mati dibunuh,” kata seorang warga dengan meyakinkan.

            Mendengar penjelasan warga yang disuruhnya itu, Rambu Kaba pun percaya bahwa mereka memang sudah mati. Rambu Kaba merasa sangat sedih, hatinya terasa seperti teriris sembilu, dua butiran bening itu pun jatuh membasahi pipinya. Rasa sedih dan penyesalan dialaminya. Seandainya aku tidak mengijinkanmu pergi waktu itu, mungkin kamu masih ada disampingku saat ini, aku masih dapat merasakan hangatnya tubuhmu, aku dan masih dapat menghirup udara yang sama. Kata-kata ini terus muncul dalam benaknya. Ia merasa menyesal, sangat menyesal, dan terus larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Senjapun berlalu menjadi malam, semua warga Waiwuang berkumpul dan mereka sepakat untuk mengadakan upacara perkabungan.

            Keesokan harinya semua warga Waiwuang berkumpul dan mereka melakukan upacara perkabungan sebagai pertanda bahwa ketiga bersaudara itu telah meninggal. Setelah upacara itu, Rambu Kaba benar-benar merasa bahwa dirinya sudah menjadi janda dalam usia mudanya.

                                                                        ***

Setiap harinya di atas bukit kecil, tepat di bawah pohon tunggal itu, janda cantik ini selalu duduk menyendiri, kebetulan bukit itu tidak terlalu jauh dari perkampungan Waiwuang. Tempat itu sering didatanginya sekedar menghibur dirinya dari kesedihan yang masih melekat dalam hatinya. Memang tempat itu sangat bagus, cukup strategis karena dari tempat itu ia dapat melihat atau memandang seluruh keindahan padang sabana, padang yang membentang tanpa pagar, dan ternak- ternak yang berkeliaran mencari rumbut hijau, dengan diam ia menyaksikan indahnya suasana itu.

            Daun-daun yang menari-nari diterpa angin seperti menyapa dan mau mengajaknya bicara, dengan teliti kedua matanya memperhatikan dedaunan itu. 

“Hei… Apakah kamu lagi menunggu seseorang ?” suara itu didengarnya tiba-tiba. Ia menoleh kearah suara itu berasal dan ia melihat seorang pemuda tampan yang sementara menuunggang kuda menuju kearahnya.

            Pemuda itu turun dari kudanya, lalu mendekati Rambu Kaba, janda cantik itu, akhirnya terjadi percakapan antara mereka.

“Sedang apa kamu disini ?” tanya si pemuda.

“Tidak, aku hanya mau melihat pemandangan saja,” jawab janda cantik itu.

“Apa kamu berasal dari kampung sebelah ?” pemuda itu kembali bertanya.

“Iya aku dari kampung Waiwuang,” jawab Rambu Kaba.

“Namaku, Teda Gaiparona, aku dari kampung kodi,” kata pemuda itu sambil menyodorkan tangannya.

“Rambu Kaba,” jawab janda cantik itu sambil menyambut tangan pemuda yang berada didepannya.

Banyak percakapan yang terjadi saat itu. Janda cantik itu masih sempat menceritakan kejadian yang menimpa dirinya, tapi karena hari beranjak sore maka berpisalah mereka, janda cantik ini kembali kerumah dan Teda Gaiparona pun pulang ke Kodi.

                                                                        ***

 

Mereka selalu bertemu diatas bukit kecil itu, waktu terus berjalan,semakin lama persahabatan janda cantik dengan pemuda itu semakin kuat. Keduanya terlihat gembira saat bertemu, tidak terlihat lagi bekas-bekas ekpresi kesedihan diwajah Rambu Kaba. Ia sudah merasa aman dan nayaman disamping pemuda itu, dan Ia pun merasa jatuh cinta pada pemuda itu. Pemuda tampan itu juga merasakan hal yang sama, ia juga jatuh cinta kepada janda cantik itu. Angin yang berhembus saat itu, seolah berbisik kepada Teda Gaiparona untuk berani menyatakan perasaannya kepada Rambu Kaba bahwa ia jatuh cinta padanya. Ia duduk merapat disamping Rambu Kaba, lalu memegang tangannya.

“Pertemanan kita sudah cukup lama, waktu demi waktu sudah kita lalui. Aku merasa nyaman saat berada didekatmu, aku rasa, aku jatuh cinta padamu,” kata Teda Gaiparona.

“Apa maksud perkataanmu ? aku ini hanyalah seorang perempuan yang ditinggal suaminya, aku hanya seorang janda,” jawab Rambu kaba, sengaja jual mahal. Tetapi sesungguhnya rasa bahagia melonjak-lonjak dalam hatinya.

“Sungguh aku jatuh cinta padamu, aku benar-benar ingin menikahimu,” kata Teda Gaiparona denga nada yang meyakinkan.

Mendengar pemuda itu berkata sungguh-sungguh, maka Rambu Kaba pun menerima cintanya. Karena memang tidak dapat dipungkirinya bahwa ia juga merasa nyaman berada dalam pelukan pemuda itu, Ia pun mencintai pemuda tampan itu. Setelah sekian lama menjalin kasih, menghadaplah Teda Gaiparona kepada warga Waiwuang. Tetapi karena peraturan adat tidak menghendaki percintaan mereka, maka sepasang kekasih itu pun memutuskan untuk kawin lari. Janda cantik itupun diboyong oleh Teda Gaiparona kekampung Kodi. Mereka terlihat bahagia, bunga-bunga terus bermekaran ditaman hati mereka, sama sekali tidak memikirkan tindakan yang mereka ambil itu.

                                                                        ***

            Tak lama setelah peristiwa kawin lari itu, ketiga bersaudara, Umbu Dula, Ngongo Tau Masusu dan Yagai Waikareri tiba kembali dikampung Waiwuang dan mendapati berita bahwa Rambu Kaba telah dibawah lari oleh Teda Gaiparona. Mendengar hal itu, kedua bola matanya itu mulai memerah, perasaannya pun mendidih. Ia ingin memekik mengalahkan debur ombak yang menari-nari dihadapannya. Ia sangat marah atas kejadian itu, perselisihan pun tidak dapat dielakkan, maka terjadilah perang antara warga Waiwuang dan warga Kodi.

            Perang terus berlanjut hari demi hari dan sudah banyak nyawa yang melayang. Banyak yang terluka, karena busur panah, tombak, batu dan parang yang mendarat ditubuh mereka. Melihat korban banyak itu, Umbu Dula mengambil jalur lain, karena takut akan banyak warganya yang terluka dan terbunuh.

            Pada sore hari Umbu Dula serta kedua saudaranya itu menyuruh salah satu warga umtuk pergi kekampung Kodi dan memberitahu Teda Gaiparona agar datang kekampung Waiwuang keesokan paginya. Warga itupun pergi kekampung Kodi dan setibanya disana, ia langsung menemui Teda Gaiparona, dan menyatakan maksud dari kedatangannya itu.

“Aku kesini atas perintah Umbu Dula, Ia memintamu supaya besok pagi kamu datang dikampung waiwuang,” kata warga itu kepada Teda Gaiparona.

“Ya… aku akan menepati permintaan itu, aku akan tiba disana secepatnya,” jawab Teda Gaiparona.

            Setelah memberitahu hal itu, ia pulang kekampung Waiwuang. Ia tiba sudah larut malam, karena jaraknya memang cukup jauh untuk ditempuh. Tidak terasa malampun berlalu diganti dengan pagi, Setelah mentari telah sepenuhnya memperlihatkan wujudnya. Teda Gaiparona pun tiba dikampung Waiwuang.

            Umbu Dula bersama kedua saudaranya dan Teda Gaiparona pun bergumul. Umbu Dula meminta pertanggung jawaban Teda Gaiparona karena sudah melarikan Rambu Kaba.

“Atas tindakan mu karena sudah membawah lari istriku, maka saya meminta pertanggungjawaban mu,” kata Umbu Dula.

“Aku akan bertanggung jawab dengan hal itu, tapi pertanggungjawaban apa yang kalian minta dariku,” ucap Teda Gaiparona.

“Aku sebagai suaminya meminta untuk membayar semua belis yang sudah diterima oleh Rambu Kaba dari kami,” kata Umbu Dula.

“Ya. Aku menerima permintaan itu, dan aku akan membayar kembali belis itu sore nanti,” jawab Teda Gaiparona.

Akhirnya kesepakatanpun lahir. Sore harinya Teda Gaiprona membayar belis itu sekaligus, dan hubungan mereka direstui. Setelah perkara itu, bebaslah mereka, tidak ada lagi yang mereka takutkan. Sepasang kekasih itu kembali mesra saat purnama memeluk lautan.

            Teda Gaiparona tersenyum penuh makna pada isrinya, hatinya bahagia setelah masalah itu selesai. Begitu juga sebaliknya, Rambu Kaba membalas senyum kekasihnya, mereka saling tersenyum, Teda Gaiparona mengecup kening istrinya. Senjapun semakin menua.

                                                                        ***

Semuanya berjalan seirama. Pada akhirnya pernikahan mereka secara adat pun dilaksanakan. Setelah pernikahan mereka, beberapa hari kemudian Teda Gaiparona meminta warga Waiwuang mengadakan Pasola.

            Tujuannya mengadakan Pasola itu untuk melupakan kesedihan mereka dan menghindari peperangan antara warga Waiwuang dan warga Kodi karena dendam dan dalam Pasola ini diharapkannya  dendam kedua kampung ini dilepaskan.

            Dendam kedua kampung ini pun diarahkan di dalam permainan perang-perangan dan adu ketangkasan melempar lembing kayu dari atas kuda. Dari sinilah tradisi Pasola dimulai, dan sampai saat ini, Pasola masih dilaksanakan oleh masyaraka Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

 

 

 

 

 

 

Oleh :

LUKAS B. TABA

 

 

  • view 129