Guide Tak Terlihat

Umi Inayah
Karya Umi Inayah Kategori Renungan
dipublikasikan 11 Februari 2018
Guide Tak Terlihat

Line! suara khas yang dimiliki aplikasi chatting hits ini berbunyi di ponsel pintarku dengan maksud mengantarkan sebuah pesan singkat. Dengan sigap ku buka pesan itu dan kudapati broadcast dari BEM fakultasku tentang adanya seleksi untuk menghadapi Olimpiade Psikologi Indonesia Oktober mendatang. Ada beberapa cabang lomba yang ditawarkan saat itu, namun hatiku melirik cabang PsychoScience dengan materi Psikodiagnosis.

Keinginanku untuk menjadi seorang psikolog klinis membuatku tertantang mencoba cabang ini.
Singkat cerita, hari demi hari menjelang seleksi fakultas itu persiapanku belum matang. Aku tidak sungguh-sungguh berniat untuk memenangkan seleksi fakultas bahkan olimpiade itu. Yang terpikirkan di benakku adalah aku hanya ingin menjadi delegasi biar bisa jalan-jalan, bukan pemenang olimpiade. 

Sore itu, aku dihadapkan dengan beberapa soal-soal psikologi klinis yang disediakan oleh Departemen keilmuan (SSD) di fakultasku untuk menjaring mahasiswa terbaik yang akan menjadi delegasi di ajang bergengsi Oktober mendatang.

Karena hanya ingin menjadi delegasi, aku pun tidak berusaha semaksimal mungkin.
Pengumuman seleksi fakultas diumumkan dua minggu setelah pelaksanaan seleksi. Tanpa perasaan cemas aku menunggu. Tiba saatnya hari pengumuman seleksi, dan ternyata tidak ada namaku dalam daftar delegasi. Saat itu juga tangisku hampir pecah, air mataku tak dapat dibendung.

Ah, aku terlalu sombong sih, niatku cuma pengen jadi delegasi biar bisa berangkat ke Jogja, biar bisa jalan-jalan. Aku sama sekali gak punya niatan untuk menjadi pemenang supaya bisa banggain orang tua dan fakultas batinku. Pikiranku kacau saat itu. Beberapa temanku dinyatakan lolos seleksi. Pasti mereka senang bisa jalan-jalan ke Jogja, pikirku.

gimana hasil seleksinya? tanya abi (ayah)ku saat aku tiba di rumah. Gagal bi, sahutku. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri, pada orang tuaku juga. 

Selepas sholat Isya, aku merenungkan kegagalanku hari ini. kenapa ya aku gagal? Perasaan aku udah belajar materi sebelumnya, perasaan aku jawabnya udah bener, deh. Beberapa menit aku membeku, aku dikagetkan dengan suara tetanggaku yang membentak anaknya Makanya jadi orang yang niat! Kalo nggak niat ya gini ini jadinya!

Niat. Iya, niatlah yang menjadi kekuranganku. Aku menyesal tidak berniat baik sebelumnya. Tidak ada niatan membanggakan orang tua dan fakultas. Tidak sama sekali. Seketika air mata membanjiri pipiku. Aku menyesal! Aku berjanji pada diriku sendiri untuk meluruskan niat ketika ada seleksi lomba pada kesempatan selanjutnya. 

Line! suara itu kembali berdering di hpku. Ternyata pemberitahuan di grup angkatanku bahwa pihak pelaksana lomba di Jogja membuka cabang olimpiade yang baru yakni Psychoscience (Psikologi Sosial).

"Senin menemui Pak Ardhi ya untuk seleksi lisan. Kali ini seleksinya bukan ngerjain soal" ujar temanku di grup itu.

"Hah? Pak Ardhi? Seleksi lisan?' Disatu sisi aku ingin mencoba kesempatan ini, disisi lain pak ardhi dikenal sebagai sosok yang perfectsionis, aku takut.

Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya aku memutuskan ikut seleksi lisan Senin depan. Kali ini niatku adalah agar bisa membanggakan orang tuaku, agar bisa mengharumkan nama kampusku, masalah jalan-jalan di Jogja cuma bonus hehe, pikirku.

Aku meluruskan niat dan belajar sungguh-sungguh.
Senin siang itu, beberapa mahasiswa yang mengantre untuk mengikuti seleksi lisan tidak ada yang berani maju pertama kali untuk menghadap Pak Ardhi. Akhirnya, bermodal Bismillah aku berani menghadap Pak Ardhi untuk di " interogasi" hehe. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh beliau, ku jawab sebisaku dengan modal materi yang telah ku baca pada dua hari sebelumnya. Setelah selesai diinterogasi, aku bergegas sholat Ashar.

Selepas Ashar aku berniat untuk mengerjakan tugas. Line! suara itu kembali menghantui hpku. Ketika ku buka, ternyata isinya Anda diundang ke dalam grup Olimpiade Psikologi Indonesia 4. Selamat anda lolos seleksi. Sahabatku yang duduk tepat di sebelahku lantas memelukku -sebelumnya ia telah lolos seleksi pada cabang Psikometri-. Mataku serasa berkaca-kaca ingin menumpahkan bendungan air mata ini. 

Hari keberangkatan tiba, dari Surabaya menuju Jogja. Saat pelaksanaan olimpiade, aku merasa percaya diri menjawab semua soal dan presentasi di depan juri. yang penting udah usaha. Aku niat lillahi taala ikut ini biar bisa banggain abi dan fakultas. Masalah menang atau nggak, ku serahin semua sama Allah  ku camkan kuat-kuat kalimat ini di pikiranku.

Malam terakhir aku di Jogja sekaligus menjadi malam Awarding atau pembacaan pemenang dari berbagai cabang lomba. Aku deg-deg an, waswas, takut semua menjadi satu seperti nano-nano.

Dengan penuh harap aku menanti pengumuman pemenang PsychoScience cabang psikologi sosial. Aku lantas dikagetkan oleh suara MC. Suara itu berdenging "Juara ketiga diraih oleh Universitas Airlangga, Umi Inayah!"

Aku kaget, aku lantas memeluk sahabatku yang duduk disebelahku. Walaupun hanya medali perunggu, menjadi pemenang Olimpiade Psikologi Indonesia adalah hal terbesar yang kuraih selama 19 tahun aku hidup. 

Kisah ini terjadi Oktober tahun 2017 silam hehe.. Dari kejadian ini aku bisa mengambil hikmah bahwa niatmu adalah kompas keberhasilanmu, bukan?

Umi Inayah- Yogyakarta.

  • view 45