Bi Idznillah (Dengan Izin Allah)

Bi Idznillah (Dengan Izin Allah)

Umi Inayah
Karya Umi Inayah Kategori Motivasi
dipublikasikan 02 Februari 2018
Bi Idznillah (Dengan Izin Allah)

Jadi, Dok? Saya sakit apa? ujarku sambil menahan tangis di hadapan Dokter tampan yang tampaknya masih bujangan itu.

"hm anu mbak.. gini aja, kamu saya rujuk ke dokter yang lebih ahli ya? Ada dokter S, dia dosen saya waktu kuliah, mungkin beliau bisa membantu. Semoga lekas sembuh ya, jangan patah semangat" ucap dokter itu menimpali pertanyaanku.

loh tapi saya ini sakit apa? kataku ngotot ingin segalanya menjadi jelas.

"sebenarnya saya sendiri belum bisa mengetahui ini penyakit apa, Mbak. Sabar ya, semoga segera diberi jalan sama Tuhan". Ucap dokter tampan itu seraya tersenyum. Ah mungkin dokter itu tersenyum hanya untuk menghiburku. Setelah mengucap terima kasih, aku bergegas keluar dari ruang praktek dokter itu. Tangisku hampir pecah, suasana siang itu begitu menyengat hingga membuat darahku mendidih. Pertanyaan demi pertanyaan menghantui pikiranku, aku sakit apa?, aku kenapa?.

Sejak setahun lalu, tak jarang perutku dihantam oleh rasa sakit yang teramat sangat. Tak hanya sakit perut, darah segar pun kerap kali membanjiri indera penciumanku ini atau yang biasa orang lain menyebutnya dengan mimisan. Hal ini berlangsung lama hingga membuat berat badanku turun drastis karena aku selalu memikirkan sakit yang belum bisa diidentifikasi oleh dokter ini.

Lanjut cerita, aku menghubungi dokter S dengan harapan ia dapat membantuku mengatasi masalah ini. Malam itu aku bergegas ke tempat praktek dokter S. di awal pemeriksaan, ku lihat bahwa dokter itu menggeleng-gelengkan kepala. Aduh kenapa ya yaAllah ucapku dalam hati. Aku takut. Keringat dingin membanjiri tubuhku.

Yap, sesuai dugaanku. Dokter S tidak dapat mendeteksi apa yang sebenarnya menjadi kendala di tubuhku. Namun sebelum pulang, sambil menunggu di loket pembayaran, ku dengar desas-desus asisten dokter tersebut membicarakanku "Kasihan banget ya mbak - sebut saja Mawar- ini, aduh naudzubillah deh amit-amit". Oh tuhan, rasanya...

Hari demi hari terus berlalu tapi tetap saja beberapa dokter -bahkan dokter spesialis- tidak dapat mengidentifikasi penyakit apa yang menimpa tubuhku. Aku sempat marah. Marah pada keadaan. Marah pada Tuhan. Kenapa harus aku? Kenapa bukan wanita nakal saja yang terkena penyakit ini? apa salahku ya Allah? Tangisku memecah.

Berat badanku turun drastis. Ini karena aku selalu memikirkan penyakit ini. sakit rasanya. Sesak di dada menambah sakit di perut ini semakin parah.

Di sisi lain, aku adalah orang yang suka membaca. Membaca apapun yang bisa ku baca. Suatu ketika, abi (ayah)ku memberikan ku kitab tafsir Qur'an. Dengan harap-harap cemas, ku buka lembaran-lembaran suci itu. Ku baca ayat demi ayat, hingga sampailah aku pada surah At-Taghabun ayat 11. Ayat tersebut memiliki arti "Tidak ada suatu musibahpun menimpa seseorang, kecuali atas izin Allah". Air mata lantas membanjiri pipiku dengan deras. Astaghfirullah kenapa aku bisa menyalahkanmu atas semua ini ya Allah? Maafkan aku.. batinku.

Berawal dari sinilah aku lebih sering membaca Qur'an, menebus kesalahanku yang telah menentang takdir Allah. Tetap membaca tafsir Qur'an yang dihadiahkan abiku, aku menemui ayat di surat Ad-duha yang artinya "Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu hingga kamu merasa puas". Tangis ku tak henti-henti membaca ayat ini, aku mengulang-ulang bacaan ini dengan hati penuh harap. Benarkan penyakitku ini bisa ditemukan? Benarkah ada obatnya? 

Pertanyaan ini lantas terjawab ketika aku mendengar ceramah salah seorang ustadz muda yang juga menjadi guru ku semasa SMA. Dalam ceramahnya, guruku itu menceritakan bahwasanya nabi pernah bersabda "setiap penyakit itu ada obatnya, dan apabila sudah ditemukan obatnya.. niscaya akan sembuh dengan izin Allah". Masha Allah, hatiku menjadi semakin lapang. Aku menerima keadaan ini dengan keyakinan bahwa Allah menyayangiku.

Sejak itu, aku meluruskan niat untuk sholat di sepertiga malam, mengadukan semua padaNya. pada Yang Maha Kuasa. Yang Kuasa memberi hidup dan mati serta sehat dan sakit. Beberapa minggu kemudian, seseorang menelponku, dia memberiku alamat seorang dokter sub spesialis yang menjadi kepala Rumah Sakit di salah satu RS ternama di Surabaya. 

Dengan izin Allah, aku menyambangi rumah sakit. Untuk kesekian kali. Aku diperiksa. dokter yang memiliki gelar Prof itu tampak sangat ramah meski usianya tak lagi muda. Setelah menjalani pemeriksaan beberapa minggu, Alhamdulillah atas izin Allah, penyakit yang hinggap diperutku ini terungkap! "Ini sebenarnya penyakit langka, jarang banget ditemui. tapi nggak serius kok sebenarnya. Bisa sembuh juga" Kata dokter itu.

"ada obatnya nggak, dok?" tanyaku dengan wajah memelas. "ada" jawabnya seraya tersenyum.

mashaAllah kali ini tangisku kembali memecah keheningan. Tangis bahagia. Senyumku mulai mengembang. Terima kasih ya Allah, batinku. Setelah menjalani beberapa kali pengobatan, wanita itu kini dinyatakan sembuh biidznillah (atas izin Allah)-.

Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

Teruntuk sahabat-sahabat pembaca, kisah ini ialah kisah nyata. Bersabarlah dalam menghadapi cobaan. Ingatlah Qs At-Taghabun:11 "Tidak ada satu musibahpun menimpa seseorang, kecuali atas izin Allah". Masalah apapun yang terjadi, percayalah itu semua telah lulus sensor dari lembaga sensorNya. Percayalah bahwa masalah dan jalan keluar ialah tidak lebih jauh dari kening dan sajadah (saat sujud). 

Umi Inayah - Surabaya, 2018. 

  • view 363