Do'a Untuk Amar

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
Do'a Untuk Amar

Bertemu dengannya lagi hanyalah mimpi. Bisa terwujud, bisa tidak. Sebuah pencapaian yang sangat sulit bagiku. Entah harus melalui apa aku bisa membuat mimpi itu jadi nyata. Semua seperti tergantung di atas langit bagai bintang yang tak terjangkau oleh tangan. Ah.. Amar, begitu susahnya untuk bersamamu!

Hembusan angin malam mencoba menggodaku bermain dengan kesunyian. Daun-daun itu bergerak bak menari di tengah hujanan cahaya bulan. Bintang-bintang ikut meramaikan kesendirianku di teras kamar malam ini. Suasana malam yang indah, tapi hanya membuatku semakin menderita yang bergelut dengan kekosongan. Aku ingin Amar. Aku ingin Amar.

Sejak kepergian Amar, hidupku hampa. Waktu terasa lama. Seperti sudah tahunan. Padahal ia baru beranjak dari negeri ini tadi pagi. Tapi rasanya? lama sekali. Ah.. apa ia sudah sampai di negeri itu? Aku sama sekali tak tahu kabarnya. Hanya pesan-pesan indah darinya yang selalu terngiang di telingaku.

?Aku pergi ya. Jaga dirimu. Semoga impianmu juga terwujud..?

Begitulah pesan singkat yang disampaikannya di bandara tadi pagi. Cuma itu yang dititipkan padaku. Tapi, demi Allah aku ridho. Aku pun melepasnya dengan senyum termanisku. Tak ada guratan kesedihan yang mengantarnya pergi. Aku tak mau ia membatalkan niatnya berjuang di negeri orang hanya karena kesedihanku.

Hanya saja saat ini, aku baru menyadari ternyata berpisah dengannya untuk waktu yang sangat lama. Memang tahunan. Tapi aku harus mengusir ketidakikhlasan dalam hatiku. Toh aku tidak punya hak untuk hal itu. Aku cuma teman. Bukan siapa siapa baginya. Kalaupun aku berarti, aku tidak akan menunggu lama kabarnya jika ia sudah sampai disana. Namun itu pun masih tidak pasti. Apa pentingnya aku baginya?

Diam-diam di tengah kesunyian, cahaya bulan menarikku masuk ke kamar. Seolah menyuruh untuk menyambut kedatangan cahaya Tuhan yang penuh berkah di sepertiga akhir malam. Dengan bermunajat dan melantunkan pujian-pujian kepada-Nya. Munajat cinta, mengagungkan kasih Allah yang tangan-Nya tak pernah berhenti menyebar tanda-tanda kemuliaan-Nya.

Dengan hati penuh kekaguman terhadap kemegahan malam dan aroma para malaikat, aku tertunduk bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Mahapenyayang. Air mataku jatuh begitu saja bagai embun yang berurutan jatuh dari dedaunan.

?

Yaa Allah..

Hamba memohon segala kebaikan di dunia dan di akhirat

untuk hamba dan orang-orang yang hamba cintai?

Rasanya aku bebas saja mencurahkan isi hati kepada Sang Pencipta. Aku berbicara pada-Nya dengan suara gemetar. Dan Ia mendengarkan dengan saksama. Memang tak ada tempat yang paling tepat untuk mengadu selain kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui semua permasalahan manusia.

?

Yaa Allah..

Hamba mohon sampaikanlah padanya.

Hamba mohon..

Dalam dzikir panjangku, ku tumpahkan seluruh penyesalanku. Aku menyesal mengapa tak dari dulu mengungkapkan rasa itu padanya. Mengapa? Mungkin saja di sana ia akan menemukan teman baik yang lain. Teman yang bisa diajaknya menuju surga. Surga yang didamba bagi setiap insan. Surga yang penuh berkah dari Tuhan. Kenapa? Mestinya aku mengatakannya saja. Apa susahnya. Yang penting diungkapkan dulu. Mengenai kelanjutan dari itu, mestinya aku tak peduli. Entah mengapa perasaan khawatir itu terus saja menyusup ke dalam hati. Hingga aku benar-benar dikecam ketakutan. Ingin rasanya teriak. Penyesalan terus membakar sukmaku. Amar.. aku benar-benar tak ingin ia jadi milik orang lain.

Astagfirullah?

Ya Tuhan.. apa yang kulakukan ini? Begitu bodohnya aku atas perasaan ini. Aku tak menyadari bahwa aku sedang berhadapan dengan Yang Mahamengatur, Yang Maha Menguasai takdir. Bisa-bisanya aku merasa memiliki seseorang yang pemilik sesungguhnya sedang mengetahui isi hatiku yang tersembunyi ini. Bisa-bisanya aku tak menginginkan Amar jadi milik orang lain padahal semua itu ada yang lebih berhak mengatur, lebih mengetahui segala yang terbaik buatku. Segera aku beristigfar tanda taubat yang sedalam-dalamnya. Aku harus ridho dengan keadaan ini. Aku harus ikhlas melepas Amar yang sedang meraih bintang di Al-Azhar University. Aku mestinya mendoakan dia baik-baik saja disana dan bisa mendapatkan impiannya sebagai salah satu muslim yang ingin mendalami Al-Qur?an dan Hikmah. Aku harus menyerahkan segalanya pada Tuhan. Aku harus siap menghadapi semua yang akan terjadi nanti. Baik atau buruk. Jodoh sudah ada yang mengatur. Kenapa aku harus repot memikirkan Amar? Kalau dia jodohku, tidak akan kemana-mana. Pasti akan kembali jua padaku sebagai titipan dari Yang Mahamulia. Aku harus menyadari itu. Aku harus ikhlas. Aku harus menerima keadaan ini.

Kecemasan itu perlahan-lahan mulai surut. Walaupun dalam hati kecil masih ada sebongkah harapan mungkin pula kekhawatiran agar Amar tidak jatuh ke tangan Annisa yang lain. Masih sangat sakit hati ini. Kenapa manusia selalu memaksakan keinginannya harus terwujud? Padahal mungkin saja yang baik baginya mungkin buruk bagi Tuhannya. Dan yang buruk baginya mungkin baik bagi Tuhannya. Tuhan Mahatahu atas segala sesuatu. Hah?. Sesak di dadaku sebenarnya sangat mengganggu. Tapi aku harus bisa melewati semua ini. Harus bisa.

?

Yaa Allah..

Engkaulah pemilik semesta

Hamba amat kecil di hadapanmu

Ampunilah hamba

Yaa Allah..

Hamba serahkan ia padamu

Engkau lebih tahu apa yang terbaik bagi kami..

Di setiap tasbih, air mataku menetes satu persatu. Ah.. di sinilah letak ketidaksempurnaan manusia, mungkin juga kesempurnaan baginya. Ketidaksempurnaan ketika manusia harus memiliki cinta dan rasa ingin memiliki yang berlebihan, sehingga membuatnya jatuh ke tepi jurang kenistaan. Tapi mungkin juga menjadi salah satu kesempurnaan yang mana ketika manusia memiliki rasa cinta dan rasa ingin memiliki sesuatu, itulah hakekat manusia sebenarnya. Jika tidak memiliki rasa itu, maka ia bukan manusia.

Kenangan dengannya terus saja terbayang-bayang di benakku. Suaranya masih jelas terdengar. Nasehat-nasehatnya juga masih aku ingat.

?Ann, seseorang itu bisa dinilai baik atau buruk, tergantung dari kebiasaan kapan ia bangun pagi dan apa yang dilakukannya setelah itu. Habis shalat, baca Al-Qur?an. Jangan tidur lagi..? begitulah salah satu nasehat yang ia tuturkan di telepon saat aku selesai shalat subuh.

?Mulailah memberi salam kepada orang lain, hormatilah mereka dengan senyuman, dan beri mereka perhatian, agar kamu menjadi kekasih di hati mereka lagi dekat dengan mereka?

Ah? nasehat-nasehat itulah yang membuat kadar rasa kagum dalam hatiku berubah menjadi cinta yang teramat dalam. Masya Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memperkenalkan aku dengan manusia seperti dia. Tak sadar air mataku meleleh hingga jatuh ke jemariku yang memegang tasbih.

Kenangan indah saat pertama kali bertemu dengannya juga terlintas dalam pikiranku yang membuat hatiku bergetar. Saat itu bulan ramadhan, aku diminta oleh bunda mengantarkan buka puasa untuk ibu Amar.

?Ibu ada??

?Oh iya, ada, silahkan masuk. Anaknya Ibu Ratna, ya??

?Iya?

Saat itu ia sedang bersiap-siap berangkat ke mesjid untuk buka puasa bersama. Saat di masjid, aku tak menyangka ternyata ia juga seorang remaja masjid yang ditugaskan menjadi guru ngaji di TPA masjid Al-Hikmah, masjid dimana aku juga ditugaskan sebagai guru ngaji untuk santriwati. Awalnya aku heran karena baru melihatnya di masjid itu. Setelah kutanyakan kepada salah seorang temanku, ternyata ia baru seminggu bertugas. Dan katanya ia cuma mengisi kegiatan di masjid itu.

Sebenarnya ia sedang berlibur dan berniat pulang ke Jakarta untuk minta izin kepada kedua orangtuanya sebelum berangkat ke Mesir. Sebelumnya selama tiga tahun ia menuntut ilmu di salah satu pesantren di Jawa Timur. Kemudian setelah lulus, setahun ia memperdalam bahasa Arab dan menghafal Al-Qur?an di Pusat Pendidikan Penghafalan Al-Qur?an. Setelah mantap berangkat, ia mencuri kesempatan berkumpul dengan keluarga di Jakarta selama tiga bulan. Olehnya itu, ia memanfaatkan waktu bercengkrama dengan keluarganya. Dan dalam waktu tiga bulan itu jualah aku mengenal dan berteman dengannya. Kami pun sering berdiskusi di forum remaja masjid.

Suatu hari ketika keluargaku mendapat giliran membawakan buka puasa ke masjid, aku membuat lumpia isi daging ayam. Lumpia buatanku itu menjadi konsumsi utama di masjid. Aku sangat senang karena hasil karyaku juga disukai banyak orang. Semoga menjadi pahala bagiku karena memberi makan orang-orang yang berpuasa.

?Ann, lumpianya enak. Lain kali buatin khusus buat saya, ya. Karena kalau nggak, ntar saya nggak kebagian? pinta Amar.

?Lho, kok bisa??

?Anak Annisa kan banyak?

?Anak?? aku terkejut dengan pernyataannya. Aku kan belum bersuami.

?Iya. Anak didiknya Annisa kan banyak. Entar saya nggak kebagian karena mereka tentu harus diutamakan. Tadi aja cuman dapat satu. Padahal kan saya maunya dua? ujarnya sambil tersenyum.

?Nggak syukur nih..?

?Ya.. kalau nggak syukur saya bakal komplein, Ann. Saya juga bakal protes kenapa Annisa nggak buat yang lebih banyak. Nah, saya kan cuma minta Annisa buatin khusus buat saya. Bukan komplein atau protes..?

?O.. gitu. Boleh deh. Tapi bayar, ya? kataku dengan nada bercanda.

?Wah dibayar, ya. Kalau saya mintanya 20 pasti mahal. Mm.. kalau gitu, saya jadi suaminya Annisa aja deh, biar lumpianya gratis. He..he..?

Aku tersenyum sendiri di sela-sela tangisku. Dia benar-benar teman yang manis. Tapi apa yang kuharapkan sekarang. Semuanya hanya tinggal kenangan saja. Sekarang ia ke negeri para nabi untuk menuntut ilmu. Dan bahkan untuk membayangkan bersamanya lagi saja sudah susah. Harapan seolah sirna ditelan kepastian yang telah terpampang jelas di hadapanku. Ia jauh. Jauh sekali. Aku akan sulit bersamanya lagi. Jangankan bercanda bersama, bertemu dengannya pun akan begitu sulit. Bahkan untuk meneleponnya juga susah karena pasti ia memakai nomor internasional yang tidak aku ketahui. Jika saja ia menghubungiku, aku takkan seperti ini. Astagfirullah.. ada apa dengan hamba Ya Allah.. hamba terlalu panjang angan-angan. Mestinya hamba harus bisa menerima ini semua. Astagfirullah?alazhim.. Astagfirullah?alazhim?

Ya Tuhan.. yang ada di benakku hanya penyesalan. Kapan lagi aku mendengar nasehat-nasehat itu? Kapan lagi aku akan mendengar canda tawanya? Kapan lagi bersamanya? Mungkin saja setelah studinya di sana selesai, ia akan kembali ke Indonesia dengan membawa anak dan istrinya. Sementara aku, mungkin masih bersemayam dengan penantian yang tak berujung. Tiba-tiba rasa rindu semakin menyesakkan dada. Aku mencoba menarik nafas panjang. Ha.. itu hanya prediksi, Annisa. Tenang? Situasi dapat berubah kapan saja. Ya.. mungkin suatu saat nanti aku bisa melupakannya karena izin Allah.

Aku kemudian mencoba mengusir kegundahan ini dengan ber-tahlil sebanyak-banyaknya. Berharap ada setitik ketenangan merasuk ke jiwa.

?

Laa ilaaha illallah..

Wa laa haula wa laa quwwata illa billah..

Dalam beberapa menit mengagungkan Allah dan bersumpah di hadapan-Nya bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku mulai benar-benar sadar. Aku perlahan-lahan ikhlas menerima keadaan ini. Hatiku mulai lapang. Air mataku pun berhenti menetes. Aku lalu melaksanakan shalat witir untuk menutup ibadahku di akhir malam ini. Kemudian aku kembali bermunajah kepada Ilahi. Berkali-kali aku memohon ketenangan dalam hidupku. Aku juga memohon segala yang terbaik untukku dan orang-orang yang aku cintai. Aku tak lupa memohon keberhasilan Amar di negeri para penghafal Al-Qur?an itu. Dan aku mencoba mensugesti diri sendiri ?cinta adalah ketika seseorang rela berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintainya?.

Setelah beribadah, aku kembali menuju pembaringan. Masih ada dua jam untuk istirahat sebelum shalat subuh. Aku kemudian mengatur alarm tepat pukul 4.30. Untuk mengobati hati, aku mengambil dairy dan menulis puisi dalam bentuk surat cinta. Surat cinta untuk Amar. Aku anggap saja sedang berbicara padanya. Puisi itu kuberi judul Doa Untuk Amar?

?

Untuk Amar di dalam ceritaku
Untuk Amar dalam sejarah hidupku
Untuk Amar dalam kenangan terindahku
Untuk Amar dalam maya dan nyata kehidupanku
Untuk Amar dalam dekapan puisiku
Untuk Amar dalam cahaya hatiku
Untuk Amar dalam binar doaku

Semoga sukses..
dalam menapaki perjalanan hidup di bumi Allah, bumi para Nabi Allah dalam penjagaan para malaikat-Nya.
Semoga bahagia..
di medan jihad fi sabilillah, menuntut ilmu Allah dalam cahaya Al-Qur?an dan kilauan hadits yang merebak mendamaikan dunia.
Semoga berhasil..
di tanah penghasil para Penghafal Al-Qur?an, para Pengkaji Al-Qur?an dan Hadis, dan para cendekiawan muslim
Semoga makmur?

dalam kehidupan perjuangan Timur Tengah, perjuangan menggapai mimpi dan harapan.
Gapailah bintang itu. Aku yakin engkau bisa. Capailah dunia itu. Aku yakin engkau mampu. Namun ingat
LETAKKAN DUNIA DI TANGANMU, JANGAN DI HATIMU. Taklukkan. Tundukkan. Sehingga Allah bangga atas keberhasilanmu menaklukkan kerasnya hidup sebagai musafir yang haus ilmu dalam mencapai ridha-Nya. Untuk membahagiakan orang tuamu, saudara-saudaramu, sahabat-sahabatmu, dan kekasihmu.
Pulanglah dengan senyum yang bagai mutiara bertebaran pada cahaya wajahmu.
Pulanglah pada dekapan rindu bumi Indonesia.
Pulanglah dalam penantian, air mata rindu orang-orang yang menyayangimu.
Pulanglah untuk.. untuk.. nya yang lisannya tiada henti mendoakanmu. Yang goresan penanya tiada henti berpuisi dan bercerita. Yang hatinya tiada henti merindumu.

Hatiku mulai damai. Dan perlahan-lahan aku menutup mata. Namun belum beberapa menit, tiba-tiba handphone-ku berbunyi dan mengagetkanku. Siapa malam-malam begini meneleponku? Di layar handphone tertulis unknown number. Kuangkat dan tit..tit..tit.. Ah? cuma miscall. Beberapa saat kemudian handphone-ku berbunyi lagi.

?Halo?

Ah.. dimatikan lagi. Aku mulai jengkel. Siapa yang dengan nomor yang dirahasiakan mengerjaiku malam-malam begini? Kadang-kadang aku berfikir apa alasan para provider cellular membuat fitur kartu yang mencakup ?secret number?. Apa untuk membiarkan orang berbuat usil seperti ini?

Astagfirullah.. aku mencoba meredam amarahku. Aku tidak boleh begitu saja berpikiran negatif terhadap penelepon dan para provider cellular itu. Mungkin saja sinyal di daerah yang menelepon tidak kuat.

Beberapa menit kemudian, handphone-ku berbunyi lagi. Kubiarkan agak lama. Tapi mungkin telepon yang penting. Kuangkat saja.

?Halo? kataku membuka pembicaraan.

?Aduh, akhirnya tersambung juga. Assalamu?alaikum, Ann? suara di seberang sana tiba-tiba membuat jantungku berdetak kencang. Ann.. hanya Amar yang memanggilku dengan sebutan ?Ann?. Teman-teman yang lain memanggilku Icha atau Annisa.

?Ini Amar. Maaf mengganggu?

?K.. kak Amar?? Subhanallah.. aku tak kuasa menahan kebahagiaan dalam hatiku. Air mataku mulai menetes kembali. Tapi kali ini bukan air mata pilu tapi air mata bahagia.

?Ya.. salamnya dijawab dulu dong. Assalamu?alaikum..?

?Wa?alaikum salam.. Sudah sampai di Mesir??

?Iya. Udah dari tadi. Tapi baru sempat nelepon nih. Maaf ya.. Di sana udah jam berapa? Hampir subuh ya? Ah.. saya tahu, Annisa rajin shalat malam. Makanya saya nelepon. Nggak marah kan, Ann??

?Nggak papa, kak? apa mungkin aku marah dengan apa yang kutunggu ini? Aku rasa tidak..

?Maaf, Ann. Saya langsung ngomong aja. Takut bayarnya kemahalan. Ann, doain Amar ya biar sukses di sini menuntut ilmu. Mudah-mudahan sepulang dari Mesir, saya bisa jadi ulama sukses seperti idolanya Anninsa, Pak Quraish Shihab. He..he..? tuturnya sambil tertawa kecil.

?Amin..?

?Ee.. saya senang bisa kenal dengan Annisa selama ini. Perangainya baik dan menentramkan hati. Semoga rahmat Allah selalu menyertai Annisa. Saya juga terima kasih sekali karena selama ini Annisa mau membantu saya dalam banyak hal. Ide-idenya brilliant. Saya tidak akan melupakan itu semua. Oh iya, sampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk teman-teman Remaja Masjid. Mereka juga banyak membantu saya. Semoga mereka juga sukses jadi professor kelak di bidang mereka masing-masing. Amin..?

Dalam hati aku pun mengucapkan amin. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kata-katanya begitu menenangkan hati. Di sinilah sisi kewanitaanku diuji. Aku harus bisa menahan diri ketika dipuji oleh seorang pria. Apalagi pria yang aku kagumi. Yang aku cintai selama ini. Aku harus bisa mengatur emosi. Aku bisa saja meraung-raung menangis dan berkata ?aku mohon, pulanglah untukku?. Ah.. wanita, memang makhluk Tuhan yang amat lembut dan sensitif. Air mataku menetes begitu saja. Astagfirullah.. dengan segera aku bertaubat. Aku tidak boleh larut karena pujian itu. Aku harus mengembalikan pujian itu kepada-Nya yang lebih pantas untuk dipuji. Tapi..

Yaa Allah..

Baguskanlah aku, sebagaimana prasangka mereka terhadap aku..

Aku berdoa dalam hati. Aku menghela nafas panjang. Aku harus ikhlas dia jauh dariku. Dia milik Allah bukan milikku. Hanya Allah yang berhak mengaturnya. Menempatkan ia ke tempat yang baik untuknya. Dan tentu bukan di sini untuk memenuhi perasaanku. Tapi di negeri itu, negeri dimana ia bisa menuju ke tempat yang tertinggi lagi mulia sebagai penuntut ilmu.

?Gitu aja mungkin, Ann. Ada yang mau diomongin??

Sepertinya kesempatan emas untuk mengungkapkan apa yang selama ini terpendam terbuka lebar di depan mata.

?K..kak Amar, semoga sukses. Semoga Allah selalu mencukupi kak Amar hingga tak kekurangan apapun?

?Amin. Insya Allah saya doain Annisa juga biar sukses di sana?

?Amin..?

?Ada lagi? Kalau udah nggak ada, saya akhiri saja??

?Kak Amar, ss..saya? saya??

?Kenapa? Kok ragu-ragu ngomongnya? Oh soal itu ya? Saya udah tahu kok, Ann. Di dalam doa Amar juga ada nama Annisa. Insya Allah di setiap Qiyamul Lail, saya selalu memohon kepada Allah semoga suatu saat nanti kita bisa dipersatukan kelak dalam rahmat-Nya. Kalau nanti saya sempat Umroh ke Mekkah, di Masjidil Haram dan Jabal Rahmah, saya juga akan memohon kepada Allah semoga kita ditetapkan menuju surga-Nya?

Dalam hati aku terus mengucapkan Amin, Amin, Amin. Allahu akbar.. kata-kata itu seperti angin segar yang kuhirup di pagi hari. Hingga menjadi tetesan embun di dalam hati bahkan mengalir bersama air mata kebahagiaan yang tak dapat kulukiskan lagi.

?Annisa juga harus berdoa di sana ya. Saya juga udah titip Annisa sama bapak dan ibu Annisa. Alhamdulillah mereka merestui. Jadi tinggal kita bertawakkal saja. Kalaupun kita tidak berjodoh nantinya, yang penting kan kita udah berdoa dan berikhtiar, saling kenal. Biar Allah yang memutuskan selanjutnya. Seperti yang dikatakan Dr. Aidh Al-Qarny dalam bukunya ?optimislah dan jangan berputus asa, berprasangka baiklah kepada Tuhan, dan tunggulah dari-Nya segala kebaikan?. Annisa tetap yakin aja kalau setiap keputusan Allah itu pasti yang terbaik buat kita. Ya, Ann. Harus yakin ya..?

?I..iya? air mataku terus bercucuran. Aku merasa sangat beruntung berteman dengannya. Tak henti pula aku memuji kebesaran Allah yang baru saja aku bermunajat agar perasaanku ini sampai kepada Amar, munajat itu langsung terjawab dengan sendirinya. Alhamdulillah?

?Makanya waktu di bandara, saya minta Annisa agar bisa menjaga diri. Karena saya ingin sepulang dari menuntut ilmu, Annisa lah yang berada di samping saya, menemani saya membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Dan insya Allah hati Amar Ma?ruf hanya untuk Annisa Fiy Rahmah. Jadi tidak usah khawatir saya diambil orang.. Annisa mau kan jadi pendamping Amar nanti??

?Kenapa tidak bilang dari dulu, kak??

?Iya, maaf. Masalahnya gini, kalau saya bilang dari dulu nanti saya jadi malas ninggalin Annisa. Saya kan harus mendapatkan impian saya dulu baru bisa bersama Annisa. Makanya sesampai saya di sini saya baru bilang, biar bisa konsentrasi belajar. Karena mau batalin niat gimana lagi kalau udah sampai di sini. Eh, jadi gimana nih? Annisa mau sabar menunggu Amar kan??

?Insya Allah??

?Alhamdulillah.. Nggak usah nangis gitu lah, Ann. Eh, jadi lumpianya nanti bisa gratis dong, Ann? He..he..?

?Iya, nanti saya buatkan lumpia yang banyak buat kak Amar?

?Ya udah. Sabar ya. Jaga diri Annisa. Semoga sukses. Ana uhibbuki fillah, Ann. Assalamu?alaikum??

?Wa?alaikum salam..?

Seketika aku sujud syukur kepada Allah. Aku terus memuji kebesaran-Nya. Allah Mahamendengar. Allah Mahamengetahui. Allah Mahasuci. Allah Mahamulia. Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaha illallahu wallahu akbar!!

Innahu?alimun bidzatisshuduur..

Mei 2008

Suci Ayu Kurniah P.

dalam menanti Amar yang sesungguhnya

Pictuer Source: Here

?
?
?

Dilihat 191