Ketika Surga Itu Menghilang

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
Ketika Surga Itu Menghilang

Siapa yang tak mengenal surga? Bahkan anak-anak yang tak mengerti pun jika diberi pilihan antara surga atau neraka, mereka akan memilih surga. Aku rasa semua manusia di bumi mendambakan surga. Bagaimana tidak, surga adalah tempat orang bersenang-senang dalam ridha ilahi. Tak ada lagi kejenuhan melanda. Tak ada lagi hiruk pikuk kendaraan siang yang menyesakkan dada. Tak ada lagi aroma busuk yang memuakkan. Tak ada. Tak ada lagi keburukan seperti di dunia. Tak ada lagi kegelisahan dan tak ada lagi kepenatan. Tak ada lagi kekacauan. Semuanya asri. Keindahan menghiasi setiap sisi. Keadaan di sana telah dilukiskan Allah dalam indahnya ayat-ayat suci Al-Qur?an.

?

?Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan) : ?Salam?, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang? (Q.S. Yaa Siin : 55-58)

?

Bukan hanya pada hati Al-Qur?an ini saja. Masih banyak lagi. Di dalam surah Ar-Rahman, Al-Waqi?ah dan surah lainnya. Allah telah bersumpah dalam kitab-Nya yang abadi hingga akhir jaman ini bahwa surga itu indah. Tidak ada yang menyamainya. Maka buatlah kebaikan di dunia agar bisa mendapatkan kemuliaan berada di dalamnya.

?

Ah, aku ingin masuk surga. Aku ingin mendapat rahmat Allah dan bisa kekal di surga. Aku akan berusaha. Surga adalah impianku, cita-citaku. Aku harus berusaha. Smangat!!!

?

Yang aku tahu, surga ada di telapak kaki ibu. Jika ingin masuk surga, aku harus mendapatkan ridha ibu. Mematuhi perintahnya dan menjauhi apa yang ia larang. Ya, bagaimanapun caranya ibu harus senang melihatku. Aku akan berusaha agar ibu selalu bahagia. Itu sangat mudah bagiku. Memang, tak ada manusia lain yang aku cintai selain ibu, ibu, ibu dan ayah. Dalam doaku nama ibu, ibu, ibu dan ayah adalah yang paling utama. Jadi, aku berharap surga itu dekat denganku. Mudah aku capai. Aku yakin!

?

Alhamdulillah , jam setengah lima subuh. Aku sudah selesai memohon kepada Tuhan agar aku beserta orang-orang yang kusayangi, terutama ibu diberi nikmat kesehatan dan kebahagian seumur hidup, dunia dan akhirat. Aku sudah melantunkan puji-pujian kepada Yang Maha Suci lagi Maha Mulia dalam tasbih akhir malamku. Aku juga telah beristigfar dalam Doa Akasyah-ku, karena setiap detiknya aku tiada lepas dari salah dan kekhilafan sedikitpun. Yang kusengaja dan yang tak kusengaja. Yang aku ketahui sebabnya bahkan yang tidak aku ketahui sebabnya.

?

Allahu Akbar? Allahu Akbar? Adzan subuh terdengar merdu berurutan dari menara ke menara. Hatiku bergetar mendengarnya. Telingaku tak kuasa menahan panggilan besar ini. Serasa ia takut untuk menghindar dari suara yang setiap saat mengingatkan bahwa ?neraka, tempat bagi mereka yang mendengar tapi tidak memenuhi panggilannya?. Segera aku memperbaharui wudhu yang masih menempel di kulitku. Kubasuh tanganku sambil memohon dalam hati semoga ia memberiku pembelaan yang baik di akhirat kelak. Semoga ia mengaku kalau aku tiada henti menyucikannya sesuci-sucinya. Semoga ia menjawab pertanyaan Allah dalam kesaksiannya bahwa aku mencintai shalat. Makanya aku takut meninggalkannya.

?

Aku beranjak menuju mesjid yang tak jauh dari rumahku. Aku berjalan menembusi udara sejuk yang membelai seluruh tubuhku sambil melantunkan tasbih ?subhanallah wabihamdihi?. Di kiri kananku masih terdengar suara binatang malam yang asyik memuji kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Di langit pekat sana bintang-bintang pun ikut bertasbih. Hembusan udara dalam ketenangan malam memberikan aroma wewangian para malaikat subuh yang semerbak. Seolah mereka sedang berjalan bersamaku menuju masjid. Ya, semua makhluk di langit dan di bumi beribadah dengan caranya masing-masing. Subhanallah.. Maha Suci Allah yang menciptakan ketenangan subuh seperti ini. Aku pun sampai di mesjid dan melaksanakan shalat subuh berjamaah.

?

* * *

?

Hari ini, aku sekolah seperti biasa. Masuk kelas jam tujuh tiga puluh dan pulang jam satu siang. Hanya saja ada satu hal yang berbeda, ibu akan menggantikan Pak Haryono, guru biologi kami karena beliau sedang sakit dan tidak bisa mengajar untuk jangka waktu yang lama.

?

?Assalamu?alaikum? suara seorang wanita merebak di ruang kelas. Wanita yang sangat luar biasa bagiku. Wanita yang hebat. Dialah ibuku. Ibu yang paling hebat di dunia. Ibu yang selama ini menghidupi aku dan Fatur adikku selama ayah bekerja di luar kota. Ibu yang dengan susah payah membiayai sekolah kami. Dengan kecerdasan intelegensinya, ibu mengajar sana sini. Aku sangat mengagumi ibu.

?

?Nama saya Afirah. Panggil saja Ibu Ira? ibu memperkenalkan dirinya dengan mantap. Ditambah guyonan-guyonan segar yang memancing semangat kami untuk belajar. Sangat berbeda sewaktu kami diajar oleh Pak Haryono. Suasana kelas serasa mati. Kami belajar tapi serasa tak belajar.

?

Ibuku sangat profesional. Setelah memperkenalkan nama, memberi alamat dan nomor telepon, ibu langsung mengajar kami dan suasana kelas pun menjadi serius.

?

Setelah mengajar, ibu memanggil nama kami satu per satu yang tertulis dalam daftar hadir.

?

?Surga Ramadhan!?

?

?Hadir, Bu!?

?

?Wah, bagus sekali ya namanya?

?

?Terima kasih, Bu?

?

Surga Ramadhan, selain nama bagus dia juga memang teman kami yang paling pintar di kelas. Dia seperti surganya para gadis di sekolah. Ia cerdas, kaya dan tampan. Tak heran kalau banyak yang mengidolakannya. Berbeda denganku. Aku anak yang sederhana, tidak cerdas dan tidak tampan. Anak sederhana yang hanya mengandalkan doa dan akhlak yang baik. Ah, kenapa bukan aku yang memiliki nama Surga Ramadhan. Mungkin dengan kesempurnaan serperti dia ditambah doa dan usaha untuk berakhlak baik, aku pun akan ditakdirkan untuk menyaksikan keindahan mutiara dan bidadari-bidadari bak permata yakut dalam surga yang kuimpi-impikan selama ini.

?

?Muhammad Abdullah!?

?

?Hadir, Bu!? sahutku. Aku melihat ibu tersenyum padaku dengan manisnya. Saat itu aku hanya berdoa dalam hati ?semoga aku mendapat senyum manis itu selamanya?.

?

Beberapa saat kemudian, bel tanda pelajaran usai, berbunyi dengan nyaringnya. Aku pulang naik motor bersama ibu. Aku selalu berharap suatu saat nanti aku bisa punya mobil sendiri. Aku tidak tega melihat ibu kepanasan. Untuk sementara, selama ibu senang naik motor bersamaku aku tak usah khawatir.

?

?Mad, nanti singgah beli telur ya, di tokonya Pak Sumarno?

?

?Iya, Bu?

?

* * *

?

Selanjutnya, mengantar ibu dan pulang bersamanya menjadi rutinitasku. Sementara Fatur yang masih duduk dibangku SD, sudah bisa pergi dan pulang sekolah sendiri. Untungnya sekolahnya tidak jauh dari rumah. Jadi, aku tidak perlu menjemput dan mengantarnya.

?

Sekarang sudah dua bulan ibu mentransfer ilmunya tentang alam semesta kepada kami. Semua siswa belajar dengan baik. Tidak ada yang mengantuk, bolos, kurang ajar, atau malas. Semuanya mengerti dengan pelajaran yang ibu berikan. Mereka pula bisa menghafal organ-organ tubuh manusia, nama-nama bakteri, alga, dan sebagainya. Padahal dulunya kami sama sekali tidak peduli dengan nama-nama aneh yang sangat sulit disebut itu. Kami semua sangat senang jika ibu mengajar. Ibu memang sangat profesional. Selain memiliki kecantikan yang mempesona, ia juga guru termuda di sekolah. Tak heran jika banyak siswa yang minta les privat kepadanya.

?

?Aduh, kalau seperti ini kondisinya, bisa-bisa ada yang naksir? gumamku sambil tertawa kecil.

?

Malam yang sunyi. Ketika hanya ada binatang malam yang berzikir melantunkan asma Allah. Aku terbangun dengan mata sayup yang masih kabur. Aku bangun lebih cepat dari biasanya untuk shalat malam. Biasanya aku bangun jam tiga malam. Tapi, malam ini Allah membangunkanku jam dua belas malam. Aku segera bangun dan mengambil air wudhu lalu shalat. Setelah dua rakaat, aku lalu berzikir. Biasanya aku memang seperti itu. Setiap selesai dua rakaat, aku berzikir, bertasbih dan beristgfar. Setelah witir aku baru membaca Al-Qur?an.

?

?Shadaqallaahul?azhiim? ucapku sambil menutup kitab kebanggaan Allah yang suci hingga akhir zaman ini. Kurang lebih satu setengah jam aku beribadah dan bermunajat kepada Sang Maha Kasih. Setelah itu, aku kembali tidur. Aku tidak bisa melanjutkan ibadah sepanjang malam. Aku takut didera kantuk selama di kelas nanti.

?

?Bismillahirrahmanirrahiim? aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang kecilku. Belum sempat aku menutup mata, samar-samar aku mendengar suara handphone ibu berbunyi. Kudengar suara ibu yang merdu. Sesekali ia tertawa bahagia. ?Ah, pasti dari ayah. Mereka seperti anak muda saja. Telepon-teleponan di tengah malam?. Ya, tarif midnight memang murah. Aku hanya bisa tersenyum sendiri mendengar mereka bercengkrama melepas rindu dengan asyiknya lewat telepon.

?

Keesokan pagi yang cerah ceria. Saat cahaya matahari menggambarkan garis-garis berkilau di tengah cakrawala, aku memanaskan mesin motorku yang sebentar lagi akan memberikan jasanya mengantar ibunda tercinta sambil terus bertasbih mengagumi keindahan karya Sang Maha Pencipta yang elok di atas langit itu. Aku termenung sejenak. Seperti ada yang terlupakan. Astaga! Aku lupa mengerjakan PR Matematika. Aku harus menelepon Fikri. Dialah satu-satunya siswa yang bisa aku andalkan untuk membantuku jika dalam kesulitan. Dia adalah sahabatku sejak SMP. Tapi sayangnya ia tidak punya telepon rumah. Dia tinggal di rumah susun bersama kakaknya, Dika yang telah kuliah. Jadi, aku harus menelepon nomor HP-nya.

?

Aku lalu meminjam handphone ibu. Untungnya belum jam tujuh. Berarti tarif midnight masih berlaku. Aku bisa lama bicara dengan Fikri.

?

?Handphone Ibu ada di atas ranjang, Nak!? kata ibu yang sedang berada dalam kamar mandi.

?

Sebelum menelepon Fikri, aku melihat ada dua panggilan tak tarjawab. ?Surgaku?. Ah, ibu seperti remaja saja. Mengistilahkan nama ayah dengan ?Surgaku?. Memang suami adalah surga para istri. Tanpa ridha dari suami, istri tidak bisa masuk surga. Aku lalu menelepon Fikri dan menanyakan jawaban dari PR Matematika hari ini.

?

* * *

?

Hari minggu pagi, aku dan Fatur tidak kemana-mana. Kami tinggal di rumah dan bermain Ular Tangga. Seru bermain dengannya. Sesekali kami tertawa bersama. Suasana seperti ini sangat langka bagi kami. Kami terkadang baru bisa bertemu di malam hari. Kalau aku pulang sekolah, ia pergi bermain bola. Dan saat magrib baru pulang. Itu pun, aku sudah berada di masjid.

?

Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu mengagetkan kami. Aku bergegas membukanya.

?

?Eh, ayo silahkan masuk? aku tersenyum dan mempersilahkan sesosok lelaki yang seumuran denganku itu masuk ke dalam rumah. Ia membawa sesuatu di dalam kantongan berwarna puith.

?

?Ibu ada?? tanyanya.

?

?O, sebentar ya?

?

Aku lalu memanggil ibu yang sedang asyik di dapur. Oh, sepertinya ibu sudah tahu akan ada tamu. Ia membuat dua gelas minuman. Ibu lalu menyuruhku untuk membawakan kedua gelas minuman itu ke ruang tamu. Sementara ibu segera menjamu tamu yang datang itu.

?

Aku tahu apa yang ingin dilakukan oleh tamu itu. Dia ingin menanyakan hasil ulangan biologi yang kemarin dulu dilaksanakan. Sangat ironis, apa perlu dengan membawa sebuah bingkisan untuk ibuku?

?

Aku meletakkan kedua gelas minuman itu dengan hati-hati. Ah, andai saja aku punya saudara perempuan, pasti aku tidak usah repot-repot seperti ini. Kulihat ibu sangat akrab dengannya. Sesekali ia tersenyum.

?

?Ibuku manis sekali? gumanku dalam hati sambil tersenyum melihatnya. Aku sangat menghormati ibu. Aku tak ingin mengganggu ia dengan tamunya, sekalipun ia adalah temanku sendiri. Aku lalu masuk kembali bermain dengan Fatur.

?

* * *

?

Hampir setiap tengah malam buta aku mendengar telepon ayah. Deringan itu juga tak jarang membangunkanku untuk shalat malam. Kalau seperti ini, sering-sering saja. Sementara itu, suara ibu semakin merdu saja dengan tawanya. Ia sangat bahagia. Oh Tuhan, jangan biarkan ayah dan ibu berpisah di dunia dan akhirat.

?

Ayah memang sudah lama tak memberi kabar. Sudah setahun ia meninggalkan kami dan bekerja di luar kota. Sehingga ketika berkomunikasi lagi dengan ibu, ibu sangat bahagia. Ayah, cepatlah pulang. Jangan biarkan kerinduan ibu hanya terjawabkan lewat telepon. Aku ingin kalian bersama lagi. Berbahagia dalam rahmat Tuhan. Berkasih-kasihan yang suci dalam naungan doa para malaikat.

?

?Ayah datang! Ayah datang!? teriakan mungil Fatur membuatku tersentak. Subahanallah? Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya. Bergegas aku melangkahkan kaki dan menjamu ayah. Fatur terlihat sangat bahagia atas kedatangan sosok pria terbaik di alam jagad raya ini. Pria yang kasih sayangnya selalu melebihi murkanya. Jika ia tak senang dengan sesuatu yang kami lakukan, ia hanya tersenyum dan memberi nasehat kepada kami. Tak sedikit pun ia membentak dengan suara keras atau memukul kami. Dialah ayah kesayangan kami.

?

Fatur dengan bangga memperlihatkan mobil-mobilan yang keren kepadaku. Ayah membawa banyak oleh-oleh. Aku pun segera membantu ayah membawakan barang-barangnya. Aku mencium tangan peluh ayah yang penuh perjuangan melawan kerasnya hidup bekerja di tambang. Ayah terlihat agak kurus. Aku merasakan dalamnya rindu yang dirasakan ayah. Mungkin itu yang membuat tubuhnya menipis.

?

Ibu dengan air mata yang tiada henti menetes, memeluk ayah dengan erat. Ia mencium tangan surganya. Aku terharu melihat mereka melepas rindu.

?

?Alhamdulillah, Ayah sehat-sehat saja? kata ayah sambil membelai rambut ibu.

?

Kesepian yang dirasakan ibu seolah lepas begitu saja. Kebahagiaannya kembali hanya dengan satu senyum ayah yang sangat berharga baginya. Senyum yang sangat ia rindukan selama ini.

?

Akhirnya kami bisa berkumpul lagi. Banyak hal yang kami lalui bersama ayah. Ayah mengajak kami berekreasi ke pantai. Kadang-kadang ke danau memancing ikan. Ah, sungguh bahagia sekali semenjak ayah kembali.

?

* * *

?

Cukuplah kerinduan itu terbalaskan dalam waktu sebulan. Hari ini, ayah akan kembali bekerja di daerah nan jauh di sana. Sambil menunggu di bandara, aku berbincang-bincang bersama ayah. Sementara ibu dan Fatur sedang makan di salah satu rumah makan yang ada di bandara itu.

?

?Ayah, terima kasih karena setiap malam telepon Ayah selalu membangunkanku shalat malam. Semoga Ayah selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam bekerja?

?

?Telepon? Mungkin kau bermimpi, Nak. Sinyal handphone Ayah tidak kuat di tambang. Lagipula Ayah bekerja siang malam. Hanya sebentar beristirahat. Jadi, mana ada waktu untuk menelepon tiap malam. Ayah hanya menelepon sekali dua minggu. Kau ada-ada saja, Ahmad?

?

Deg! Deg! Oh, tidak! Jantungku berdetak kencang. Apa benar aku hanya bermimpi? Lalu siapa yang berbicara dengan ibu tiap malam sebelum Ayah datang?

?

?Mmm, Oiya juga ya, Yah. Mungkin karena aku terlalu rindu sama Ayah? kataku sambil tersenyum. Tapi hal ini sama sekali membuatku bingung dan bertanya-tanya. Sungguh aku tidak bermimpi. Aku sadar sesadar-sadarnya. Tunggu! Aku tidak boleh negative thinking dulu. Aku harus mencari tahu.

?

?Eee, Ayah, boleh pinjam handphone Ayah??

?

Aku lalu memeriksa ?panggilan keluar? di handphone Ayah.

?

Ibu 12/01/05 ? 06.30

Pak Mardi 10/01/05 ? 11.21

Ibu 17/12/05 ? 06.21

?

Ibu, tanggal 12 Januari 2005. Ya, ini sebulan yang lalu. Dua hari sebelum Ayah datang. Sebelumnya, Ayah menelepon Ibu bulan Desember. Benar, sekali dalam dua minggu. Tiba-tiba aku dilanda cemas yang hebat. Siapa ?Surgaku??. Apa ada pria idaman lain Ibu? Ah, mungkin nenek. Tapi tidak! Nenek ada di kampung yang terpencil. Bahkan listrik saja masih kurang. Apalagi handphone. Jadi, siapa Surgaku itu?

?

Ayah berangkat denga hati bahagia sekaligus sedih. Ibu dengan air mata melepas Ayah terbang dengan Garuda Airlines . Fatur hanya bilang Ayah cepat pulang dan ingin dibelikan mainan yang banyak. Sementara aku, aku sibuk memikirkan sesuatu. Aku tiba-tiba merasa muak dengan Ibu. Tapi, aku segera berpikir jernih. Aku tidak boleh salah sangka terhadap Ibu.

?

* * *

?

Kembali lagi, hampir setiap malam aku mendengar deringan misterius. Hampir tiap hari pula, Ibu menyuruhku membeli pulsa yang sebenarnya semakin membuatku muak dan benci kepadanya. Ya Allah, berilah hamba petunjuk.

?

Sementara itu pula, hampir setiap minggu aku melihat Ibu bermesraan dengan sesosok lelaki yang aku rasa integritasnya telah jatuh di hadapanku. Ibu membelai rambutnya penuh kasih sayang. Aaaaaagh! Aku muak dengan semua ini!

?

Aku lalu mencari informasi tentang lelaki yang telah berani merebut ibuku itu. Tapi hasilnya tidak seperti yang aku duga. Dia tidak berasal dari keluarga broken home. Dia memiliki Ibu Bapak yang sangat menyayagi mereka. Dan dia tidak memiliki tekanan psikologis. Tapi, apa motifnya sehingga berani melakukan itu???

?

Demi menjawab teka-teki itu, suatu hari, sewaktu lelaki itu pulang dari rumahku, aku menghampirinya di ujung lorong rumah. Aku berpura-pura baik kepadanya dan membawanya ke suatu tempat yang sepi. Entah setan apa yang merasuki otakku. Tapi aku benar-benar ingin memberinya pelajaran. Tak peduli apapun yang akan terjadi kepada kami selanjutnya.

?

?Ada hubungan apa kau dengan ibuku, ha?? nadaku langsung meninggi.

?

?Maaf, Mad, tapi aku benar-benar mencintai ibumu??

?

?Cinta??? Sejak kapan ada anak muda yang mencintai ibu temannya sendiri, Ha? Apa kau tidak malu perbuatanmu ini aku sebarkan? Apa kau tidak malu telah mencoreng nama sekolah yang selama ini membanggakanmu?? tanganku mulai menghujamkan tinju ke pipinya.

?

?Ahmad, tapi aku benar-benar mencintai ibumu! Apa aku salah memiliki cinta? Ini masalah perasaan seseorang. Ini hak asasiku, kan?!?

?

?Aaaagh!!! Itu bukan cinta! Itu nafsumu! Kau siswa yang pintar, tentu memiliki akal sehat. Kau pasti bisa berfikir untuk memilih gadis yang seumuran denganmu! Kenapa harus ibuku??? Kau boleh mencintai ibu-ibu yang lain. Tapi jangan ibuku!!? Aku tiada henti memukulnya. Ia terlihat kesakitan. Hidungnya berdarah. Wajahnya biru.

?

?Maafkan aku, Ahmad?? sambil memegang perutnya, ia terkulai lemah dan jatuh ke tanah. Seketika itu aku lalu sadarkan diri. Aku, aku membunuhnya. Astagfirullah! Aku, membunuh temanku sendiri.

?

Badanku gemetar. Seketika warga berkerumun di tempat kejadian itu. Sirine panjang polisi semakin membuatku tak berdaya. Aku didera ketakutan yang hebat. Ibuku datang dengan air mata bercucuran. Tapi, sayang sekali aku tidak peduli lagi dengannya. Entah yang ia tangisi adalah aku atau Surga-nya itu.

?

Lingkaran besi membelenggu kedua tanganku. Ibu tiada henti menangis. Ia lalu memelukku erat. Tapi ini hanya membuatku semakin muak kepadanya. Lebih baik aku masuk penjara dan neraka kelak daripada aku harus rela membiarkan ibu masuk neraka karena telah mengkhianati Ayah.

?

?Mad, maafkan Ibu, Nak. Ibu hanya rindu dengan Ahmad ibu yang dulu. Ibu hanya ingin Ahmad memperhatikan Ibu lagi. Mad, Ibu sangat sayang pada Ahmad. Ibu ingin Ahmad selalu membuat Ibu tersenyum?

?

Kata-kata ibu itu tiba-tiba membuat aku membeku. Aku lalu mengingat apa saja yang telah aku lalui bersama ibu dan Fatur di waktu dulu. Ya, ibu selalu membelaiku ketika curhat tentang saat-saat aku jatuh cinta kepada seorang gadis. Aku dan Fatur setiap tahun memberikan ibu hadiah di ulang tahunnya dan di Hari Ibu. Ibu sangat bahagia dan senang ketika aku lulus SMP dengan nilai tertinggi di sekolah. Ibu selalu memujiku karena mendapat ranking pertama di kelas. Aku, Fatur dan Ibu juga sering menonton komedi bersama. Kami bahkan jarang tidak makan semeja. Tapi, seketika semuanya berubah semenjak aku masuk SMA. Aku tertarik untuk memperdalam ilmu agama. Waktuku banyak kuhabiskan di forum-forum dan di Mesjid bertafakkur. Sampai-sampai aku tidak ada waktu untuk bersama Ibu. Makanya Ibu merasa kesepian dan merindukan kebersamaan kami. Makanya ibu sangat senang berada di dekat Surga. Ibu tidak peduli dengan perasaan Surga kepadanya. Ibu hanya merasa Surga seperti anaknya sendiri. Ia mencoba membuatku sadar. Tapi aku justru membenci Ibu!

?

Ya Allah, apa yang telah kulakukan ini? Aku sangat yakin akan masuk surga karena dapat membuat Ibu bangga dengan ibadah-ibadahku. Dengan akhlakku. Tapi ternyata tidak. Ibu justru lebih bahagia jika anaknya berakhlak baik tapi juga cerdas di sekolah. Sedangkan aku tidak. Aku sama sekali tidak dipandang sebagai murid yang cerdas di kelas. Apalagi di sekolah. Aku malah selalu bergantung kepada Fikri. Oh malangnya aku. Aku kira selama ini ibu bahagia melihatku. Tapi di balik semua senyumnya ada kerinduan yang mendalam terhadap anaknya. Ibu maafkan aku. Maafkan aku Ibu.

?

Sekarang, tak ada yang peduli kepada wajahku yang datar tanpa rima. Air mata ibu tak jua dapat melepaskan aku dari belenggu yang mengikat tanganku. Bahkan warga mencelaku, menyumpahiku dan mencerca ibuku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Mobil bersirine itu membawaku ke tempat para penghuni neraka di dunia. Ah, semuanya hilang. Surgaku pun hilang karena aku menghilangkan Surga Ibuku dari dunia ini.


Allah lebih ridho kepada anak yang diridhoi ibu bapaknya?

Suci Ayu Kurniah P.

2007

?

Picture Source: Here

?
?
?


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    ini yang menang kok tenggelam yaa

  • Arif Syahertian
    Arif Syahertian
    1 tahun yang lalu.
    Cerita yang menarik, padat akan metafora tanpa perlu terlalu berbunga-bunga, panjang tanpa harus bertele-tele. Segala yang kita harapkan dari sebuah tulisan inspiratif. Meski menggunakan nama tokoh Muhammad Abdullah, saya kira, penulis cerpen itu tetap pantas memperoleh juara satu dalam Parade Lomba Inspirasi.

    • Lihat 4 Respon

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Inspiratif.