Mereka Ada Di mana-mana

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juni 2016
Mereka Ada Di mana-mana

Mereka ada dimana-mana

(perjalanan sehari seorang mahasiswi bersama Zaman)

Sebenarnya gadis itu adalah seorang pengamat. Ia selalu mengamati keadaan di sekitarnya. Berbagai peristiwa telah ia saksikan. Baik itu peristiwa buruk maupun peristiwa baik yang terjadi di kotanya bahkan negaranya. Ia sangat senang mengkritik apapun yang tidak ia sukai dari peristiwa yang menurutnya ganjil. Ia memang bukan pengacara atau pengamat politik atau kritikus sosial. Ia hanya seorang mahasiswi di salah satu kampus yang hobi mengamati kehidupan sosial. Ia paling senang mengamati kehidupan para mahasiswa dan mahasiswi di kampusnya.

Pagi itu, ia terlihat sangat gembira. Ia melihat beberapa mahasiswa yang asyik diskusi di bawah pohon dekat danau di kampusnya. Ia juga senang melihat beberapa mahasiswa yang bernyanyi-nyanyi memainkan gitar melantunkan lagu ‘Darah Juang’ dan GIE. Baginya para mahasiswa itu pasti adalah mahasiswa-mahasiswa yang kritis yang mencoba mengungkap kebenaran dari segala aspek di negaranya. Baik itu ke-janggal-an dalam sistem politik, ke-tidakberes-an program kerja para pemerintah, ke-tidakadil-an aparat keamanan, ke-bohong-an petinggi-petinggi kampus, dan banyak masalah lainnya. Ia meyakini bahwa para mahasiswa yang kritis itu pasti akan siap turun ke jalan jika melihat, mendengar, merasakan ada pihak-pihak tertentu yang mencoba mengelabui mereka. Ia juga percaya mereka adalah mahasiswa sejati yang menjadi pembela kebenaran dan pembawa kedamaian bukan pengedar narkoba atau pencetus peperangan.

Selain itu, sang Gadis juga sangat senang menyaksikan banyak mahasiswa yang mengadakan pengajian di masjid kampus dan mushollah-mushollah. Ia meyakini bahwa para mahasiswa itu akan selalu mengajak kepada kebenaran. Lain lagi jika ia melihat mahasiswa-mahasiswa yang sibuk belajar di kelas, mengacungkan tangan untuk memberi pertanyaan atau komentar, serta berani mengoreksi kesalahan dosen. Ia akan mengangkat topi dan memberikan applause. Ia meyakini bahwa mahasiswa-mahasiswa itu adalah mahasiswa yang rajin belajar dan mengorek informasi dari berbagai media.

Ya.. Ia, Gadis, sangat bangga kepada mahasiswa-mahasiswa itu. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia.

Tetapi seketika hatinya hancur melihat pemandangan lain yang ternyata sudah lama ada di negerinya. Ia yang dulu selalu menutup telinga dan memejamkan mata, kini Zaman memaksanya membuka mata lebar-lebar.

“Saksikanlah semua ini, Nona!” Zaman mulai memegang tangannya dan membawanya kepada dunia baru. Dunia yang belum pernah ia datangi.

“Saksikanlah! Inikah yang kamu banggakan selama ini?”

Bibir Gadis kelu. Air matanya menetes satu persatu. Ia ter-isak menutup mulutnya.

Ya Tuhan…” ujarnya dalam hati.

Zaman kemudian menuntunnya yang mulai tidak berdaya itu masuk ke dunia yang sebenarnya ia kenali. Gadis mulai lemas. Ia tidak percaya akan apa yang ia saksikan itu. Wajahnya pucat. Ia menyaksikan tontonan memalukan, menyedihkan, memilukan, memprihatinkan yang terjadi di hadapannya.

Ia menyaksikan sekumpulan mahasiswa di lapangan saling membunuh karena dendam pribadi. Ia juga menyaksikan beberapa mahasiswa yang tidak segan membakar dan melempari rumah yang membesarkannya selama ini karena emosi yang berlebih dan ketidaksabarannya dalam bertindak. Selain itu banyak mahasiswa yang menghabiskan malam di tempat hina dan tidak pantas bagi kaum intelektual. Mereka minum!

“Mengapa mereka seperti itu?” Gadis bertanya kepada Zaman.

“Mereka stress, mereka berpikiran pendek. Mereka juga hanya ingin bersenang-senang”

Ia dan Zaman kemudian berjalan ke tempat lain. Mereka singgah di sebuah ruangan kecil tapi terbuka. Ia mulai merasakan sakit di kepalanya. Zaman tetap memaksanya untuk melihat semua yang terjadi di tempat itu. Zaman memegang pundaknya.

“Kau tahu apa yang mereka lakukan?” Zaman kembali bertanya.

Air mata Gadis semakin bercucuran.

“Sa..sa..sabu-sabu. Mereka nyabu. Mereka menghirupnya. Menghirup bubuk putih itu. Me..me..reka tidak sadarkan diri. Mereka Gila!!. Kau salah membawaku, Zaman. Mereka bukan mahasiswa. Mereka hanya anak muda pengangguran”

“Kau yakin? Apa ini bukan kartu identitas mahasiswa?” Zaman memperlihatkan kartu seukuran ATM yang tercakup nama, nomor induk mahasiswa, jurusan dan universitas.

Tapi Gadis mencoba mengingkari apa yang ia saksikan. Ia tak mau percaya kepada Zaman. Ia yakin Zaman memang suka membohongi kehidupan. Ia suka memper-alat kehidupan supaya bisa berubah jadi lebih buruk. Ia yakin Zaman hanya mengelabuinya dan mencoba mempengaruhi supaya mengikuti orang-orang yang katanya sedang menikmati dunia itu.

“Kenapa? Kau tidak percaya? Kalau begitu ikut aku”

Gadis mengikuti kemana Zaman membawanya. Ada ruangan tertutup. Seperti kamar yang berderet di koridor. Ya, kamar itu adalah kamar kosan mahasiswa.

“Ini kan tempat kosan temanku? Kenapa kau membawaku ke sini?”

Seorang gadis muncul dari sebuah kamar berwarna biru. Ia adalah teman sang Gadis.

“Hey Nona, katakan apa yang terjadi di sini” Zaman berkata kepada teman sang Gadis.

Gadis nampak kebingungan. Ia melihat temannya terlihat sedih.

“Selama ini kau bersembunyi di dalam rumahmu. Tapi aku, aku menyaksikannya sendiri”

“Apa yang terjadi?” tanya Gadis.

Belum terjawab pertanyaannya itu, sesosok lelaki seumurannya keluar dari kamar yang lainnya kemudian disusul oleh seorang perempuan yang juga se-umuran dengannya.

“Tinggal serumah? Apa mereka sudah menikah?”

Teman Gadis tertunduk dan menggelengkan kepalanya.

“Mereka bersaudara?”

“Tidak. Sudahlah.. jangan terus-menerus membohongi pikiranmu sendiri. Kau juga berfikiran sama denganku, bukan? Kau juga memikirkan itu. Sadarilah. Itu memang terjadi diantara kita. Mereka ada di mana-mana. Bukan hanya di barat sana. Berhentilah memejamkan mata. Pikiran positifmu itu tidak berguna”

“Kau bercanda, kan?” tanya Gadis lagi.

“Percayalah ini semua memang sudah lama terjadi di sini, di kota ini, di negeri ini. Mereka tidak bersaudara, mereka bukan suami istri. Mereka tinggal bersama sudah lama. Dan bukan hanya mereka. Banyak yang lain juga seperti ini”

“Melakukan hal itu juga?”

Temannya hanya terdiam. Ia lalu menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Gadis. Gadis semakin tidak mempercayai temannya itu. Ia tertawa. Menertawakan pernyataan temannya itu.

“Ha..ha.. kau bercanda. Jangan suka menuduh orang. Bagaimana kau bisa tahu kalau mereka melakukan hal itu? Apa kau melihat mereka melakukannya? Ha..ha.. Kau ini lucu sekali, kawan. Lihatlah barangkali lelaki itu hanya mau berkerja kelompok dengan perempuan itu. Mungkin ia punya tugas kuliah yang menuntutnya untuk diselesaikan bersama”

“Lalu, menurutmu baju untuk lelaki yang ada di jemuran itu, cocok dipakai oleh perempuan? Kenapa kau masih tidak mau percaya juga?”

Walaupun kepalanya semakin pusing, Gadis tetap tertawa dan meninggalkan temannya itu.

“Ha..ha.. Kau berlebihan. Sekarang memang banyak baju yang bisa dipakai oleh perempuan atau laki-laki. Kau sangat ketinggalan zaman, kawan” kemudian Gadis berlalu bersama Zaman.

“Kau yang ketinggalan zaman, kawan! Kau harus percaya semua ini memang terjadi!”

Gadis hanya berlalu tanpa menghiraukan teriakan temannya itu seolah tak mau mendengar apa-apa darinya.

“Hey Zaman, pernyataan temanku tadi memang berlebihan, bukan? Dia suka sekali menuduh orang. Mana ada mahasiswa yang mau merusak namanya, nama keluarga dan nama kampusnya? Dia pasti bercanda”

“Nona, mereka bilang, mereka saling mencintai. Jadi bagi mereka sangat wajar jika melakukan hal itu dan tinggal serumah”

“Apa? Saling mencintai? Kalau mereka saling mencintai, pasti mereka bisa menikah. Sudahlah, jangan terlalu ekstrim. Kau dan temanku jangan suka salah sangka”

“Apa menurutmu orang tua mereka mengizinkan mereka menikah tanpa ada pekerjaan? Karena tidak adanya izin orang tua itu, akhirnya mereka bebas melakukan apa saja. Toh mereka jauh dari orang tua mereka. Lagi pula keluarganya tidak ada yang tahu. Bohong itu sangat gampang, kan? Jangan naïf. Aku sudah menyaksikan semuanya di dunia ini. Termasuk negerimu ini. Bagi mereka itu hal yang wajar. Toh, kalau sudah selesai mereka juga akan menikah. Itu alasan mereka”

“Apa? Kau semakin aneh saja. Jangan mempengaruhiku. Aku tidak akan percaya kata-katamu. Mereka itu adalah mahasiswa. Mereka orang-orang yang dibanggakan oleh negeri ini. Mereka hanya sibuk belajar dan berdiskusi. Itu kan sudah tugas yang WAJAR bagi mahasiswa. Kau ada-ada saja”

Gadis mensugesti diri sendiri. Sama sekali tak mau percaya kata-kata semua orang mengenai perilaku menyimpang para mahasiswa. Baginya mahasiswa dimana pun berada, pasti suka menuntut ilmu dan melakukan hal-hal yang baik.

Zaman memberi Gadis segelas air untuk menenangkan diri. Dua teguk air, Gadis pun merasa pulih kembali dari pemandangan yang membuatnya syok namun tidak ia percayai. Ia tetap menyanggah pernyataan Zaman. Ia tetap mempertahankan argumennya mengenai mahasiswa.

“Nona, kau sudah dewasa. Kau harus mengerti semua ini memang terjadi di sekelilingmu. Tidakkah kau membaca berita di koran? Atau mungkin kau sangat jarang menonton berita di televisi. Banyak sekali berita tentang hal semacam ini. Kenapa kau tak mau percaya juga?”

“Zaman, Aku tidak percaya!” Gadis mulai emosi.

“Nona, mereka itu manusia. Mereka juga pasti bisa melakukan salah dan dosa. Mereka juga tidak sempurna seperti yang kau bayangkan. Mereka hanya manusia biasa. Atau, jangan-jangan kau berpikir bahwa setan itu tidak pernah diciptakan. Apa kau pikir setan itu tidak akan pernah menggoda manusia untuk melakukan hal yang buruk? Aku tidak mengerti pemikiranmu, Nona. Sepertinya kau berpikir bahwa Tuhan itu hanya menciptakan malaikat, manusia dan alam. Sehingga kau selalu menganggap mahasiswa itu sempurna dan tidak akan melakukan hal-hal yang buruk seperti itu”

“Mahasiswa itu memang adalah manusia. Mereka bukan binatang, kan? Mereka punya aturan. Mahasiswa adalah kaum intelektual. Mereka adalah orang-orang pintar. Mereka akan mematuhi peraturan yang sudah ditentukan oleh Tuhan dan negara. Mereka akan menikah dan mematuhi orang tua mereka. Bukan seperti binatang yang bebas kawin seenaknya” ujar Gadis mencoba meyakinkan Zaman.

“Benar, kan. Kau hanya percaya ada malaikat, manusia dan alam. Kau sama sekali tidak pernah memikirkan setan yang suka menggoda itu ada di sekitar kita”

Gadis terdiam. Ia kembali meneguk air yang diberikan Zaman kepadanya.

Setelah merasa tenang, Gadis kembali dibawa oleh Zaman berkeliling di dunia baru itu. Kali ini mereka sampai di sebuah kampung kecil yang mirip dengan kampus sang Gadis. Ada bangunan-bangunan tinggi seperti gedung Pasca dan Fakultas Exact. Ada juga gedung-gedung kecil yang bentuknya seperti square. Mereka masuk ke kampung itu. Sang Gadis merasa amat gembira. Ia menyaksikan ratusan mahasiswa yang sibuk membaca buku dan berdiskusi. Yang berdiskusi itu membicarakan isu yang paling menekan kondisi negaranya “korupsi”.

“Terima kasih telah membawaku ke sini, Zaman. Ternyata dunia baru ini tidak begitu buruk seperti pemandangan tadi”

Zaman tersenyum. Dan Gadis membalas senyumnya. Mereka lalu menghampiri beberapa mahasiswa yang sedang membaca skripsinya. Beberapa mahasiswa itu ada yang bercakap-cakap lewat handphone.

“Iya.. iya. Nanti uangnya langsung saya transfer ke rekeningmu. Berapa? Dua ya? Oke! Oke! Yang penting saya bisa selesai lah secepatnya. Hasil pemikiranmu cemerlang. Terima kasih ya” dengan senyum sumringah, mahasiswa itu mengakhiri percakapannya.

“Nona, kau tahu apa yang orang itu bicarakan di telepon?” Zaman lagi-lagi bertanya kepada Gadis. Gadis hanya diam saja. Ia hanya berjalan mengikuti Zaman.

“Mereka sedang membicarakan kebohongan. Mahasiswa yang tadi itu malas membuat skripsi dan sama sekali tidak pernah mengerti apa yang selama ini ia pelajari di ruang kuliah. Oleh karena itu, ia menyuruh temannya untuk membuatkan skripsinya”

Gadis terkejut dan terlihat marah seolah ia tak memperkenankan Zaman merendahkan mahasiswa.

“Benar. Kau tahu apa yang ia maksud ‘dua’? Harga skripsi itu Dua Juta. Para mahasiswa di sini hebat-hebat kan melakukan kebohongan kepada diri mereka, orang tua mereka, dosen-dosen mereka, kaum akademisi lainnya serta negara mereka. Orang-orang yang kau banggakan itu sebenarnya adalah pecundang, Nona. Mereka pembohong. Mereka sebenarnya tidak pernah mengerti apa-apa dari kuliah. Bahkan mereka jarang masuk kuliah. Dan dosen-dosennya juga banyak yang menilai secara subjektif. Kau tahu artinya itu?”

Gadis terlihat pucat. Ia bungkam.

“Mahasiswa dan dosen sama saja. Mereka pembohong. Mereka hanya menginginkan agar semuanya bisa selesai. Dan setelah itu bisa pulang ke rumah tanpa ada beban. Mereka tak memikirkan nasib mahasiswa setelah mendapatkan gelar sarjana. Mereka tak mau tahu mahasiswa akan mendapatkan kerja sesuai talenta dan ilmu atau tidak. Yang penting, semuanya BERES…” bisik Zaman ke telinga Gadis. Mata Gadis berkaca-kaca. Nafasnya tidak normal. Ia gemetaran mendengar sebuah kenyataan yang kembali lagi tidak ingin ia percayai.

“K..kkau bohong, Zaman. Mereka tidak mungkin seperti itu. Aku sangat menghormati mereka”

“Coba kita lihat pemandangan di sebelah sana” Zaman kemudian membawa Gadis berkeliling di tempat lain. Ada ruangan terbuka yang ramai dikunjungi mahasiswi. Sekilas itu adalah pemandangan yang menarik. Khususnya menarik bagi para mahasiswa karena mahasiswi-mahasiswi yang berkunjung itu memakai pakaian yang eksotis, wajahnya cerah berwarna. Mereka benar-benar cantik jelita. Sesekali mahasiswa yang melihat pemandangan itu bersiul-siul.

Gadis kemudian mendekat. Ia ingin tahu apa yang dibahas oleh wanita-wanita itu. Sepertinya topik yang menarik. Tapi,, tiba-tiba Gadis mengerutkan keningnya. Ia merasa kecewa kepada wanita-wanita yang asyik membicarakan fashion, trend pakaian dan sepatu, infotainment, yang sedang in, lelaki pujaan hatinya dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya.

“Apa menurutmu mereka punya idealisme? Apakah mereka termasuk orang-orang yang kamu banggakan itu?”

Sang Gadis tak peduli dengan pertanyaan Zaman. Ia juga tidak peduli dengan pembicaraan wanita-wanita itu. Ia cepat-cepat berlalu dari tempat itu. Zaman mengejarnya. Zaman kemudian menarik tangan sang Gadis den mengajaknya berjalan ke kota.

Mereka lalu sampai ke Mall. Kebetulan sang Gadis merasa kelaparan setelah berkeliling di berbagai tempat. Ia kemudian makan siang bersama Zaman di sebuah restoran yang ada di Mall itu. Pikiran sang Gadis sebenarnya sudah semakin kacau. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang sudah ia saksikan. Ia berusaha menahan emosi dan mencoba menenangkan diri. Ia berusaha makan dengan lahap walau sebenarnya ia sudah tidak nafsu lagi.

“Nona, coba lihat di sebelah sana” Zaman menunjuk ke arah satu meja yang ditempati oleh dua orang masing-masing adalah seorang anak perempuan sebayanya dan seorang lelaki paruh baya. Seperti seorang pejabat atau pengusaha. Mereka sedang bercengkrama. Sesekali si pria membelai rambut anak perempuan itu dan si perempuan hanya tersenyum sipu. Awalnya Gadis berfikiran negatif. Tapi ia cepat-cepat membuang pikirannya itu.

“Kau tahu, Nona. Anak perempuan itu menjadikannya profesi”

Gadis terkejut. Ia menatap Zaman dengan tajam. Ia kembali diam tak mau bersuara.

“Banyak anak perempuan lain yang seperti itu. Bukan hanya dia. Mereka bilang, ini semua karena keterbatasan ekonomi. Mereka butuh uang. Sementara mereka tidak bisa bekerja. Jadi, demi bisa hidup di kota, ia mencari jalan yang instant. Mereka mencoba menyembunyikan identitasnya, tapi aku tahu mereka itu adalah mahasiswi”

Jantung Gadis berdetak tak karuan. Lagi-lagi ia syok mendengar pernyataan Zaman.

“Dasar gila! Itu adalah ayahnya, bodoh!” ujar Gadis emosi.

Kemudian Zaman tersenyum sinis menyaksikan Gadis yang sangat terkejut sambil menutup mulutnya. Gadis melihatnya sendiri. Pria itu mencumbu anak perempuan itu dengan mesra. Sang Gadis lalu berlari mencari tempat untuk menenangkan diri. Kepalanya pusing. Ia bingung kenapa semua dugaannya salah. Kenapa perkiraannya selalu bertentangan dengan apa yang ia saksikan.

Sang Gadis kemudian pergi ke bioskop yang tersedia di Mall itu. Ia ingin menonton film motivasi. Tiket sudah ada di tangan. Ia kemudian mencari tempat duduk yang tertulis di tiket itu. F6. Lima menit lagi film itu dimulai. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya sinar dari layar lebar yang menerangi ruangan itu. Tapi tetap remang-remang. Sebenarnya bisa dikatakan ruangan itu gelap.

“Nona, aku sudah menonton film ini sebelumnya. Film ini sangat bagus. Menceritakan perjuangan seorang guru yang ikhlas mendidik murid-muridnya walaupun tidak diberi imbalan materi”

Gadis tersenyum. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Ia berpikir bahwa ternyata di dunia baru itu masih ada orang-orang yang mau memberikan motivasi kepada orang lain meskipun dalam bentuk film bukan ceramah.

“Sayang sekali, Nona. Kau baru menonton film ini di saat sudah kurang pengunjung yang mau menontonnya. Studio ini sangat sepi. Hanya puluhan orang”

“Memangnya kenapa kalau sepi? Tidak akan ada hantu, kan?”

Zaman tersenyum tipis.

“Tidak… tapi aku khawatir ada adegan yang tidak kau senangi nanti. Bukan pada film itu, tapi di dalam ruangan ini. Ruangan yang gelap dan sepi ini”

“Aku tidak mengerti maksudmu. Aku hanya mencoba menenangkan diri dengan menonton film motivasi ini. Aku tidak perlu ruangan yang ramai dan terang. Yang penting aku tidak kehilangan semangat”

“Baiklah.. filmnya sudah dimulai”

Hampir se-jam sudah sang Gadis menyaksikan semangat anak-anak dari kampung terpencil dalam menuntut ilmu. Sesekali ia tertawa.

“Hai Nona, kau sangat gembira. Tapi, bukannya aku ingin merusak kegembiraanmu. Coba lihat di sekelilingmu. Mungkin kau mau menyanggah lagi”

Sang Gadis bingung. Ia tidak mengerti apa maksud Zaman. Tapi ia menoleh perlahan ke arah kanannya. Ia kembali terkejut. Kemudian ia melihat ke samping kiri. Sama saja. Ke depan dan ke belakang. Semua yang ia saksikan nyaris sama. Ia merasa risih.

“Apa-apaan ini? Aku tidak sedang menyaksikan film drama percintaan, bukan?”

“Benar, Nona. Tapi yang kau saksikan itu adalah beberapa mahasiswa bahkan pelajar SMA yang sedang menggunakan kesempatan yang ada”

Gadis semakin tersengal-sengal. Ia sudah tidak tahan akan semua ini. Ia tidak tahu apakah ia harus percaya atau tidak atas semua yang ada di hadapannya. Kepalanya semakin pusing. Ia mual. Ia lalu berlari keluar dari ruangan itu. Tujuannya menonton untuk menghilangkan stress itu justru membuatnya ingin muntah. Ia bergegas mencari toilet. Dan ketika ia melihat adawastafel, ia lalu mengeluarkan semua yang dipendamnya dari tadi pagi. Walaupun sebenarnya ia tidak mengeluarkan apa-apa dari perutnya, tapi kepalanya hampir pecah akibat syok yang berlebihan.

“Ada apa dengan semua ini? Kenapa jadi seperti ini?”

Zaman hanya menertawakan sang Gadis.

“Nona, Nona. Kenapa kau terlalu naif.? Kau itu sudah dewasa. Mestinya tidak merasa alergi melihat pemandangan yang kau anggap aneh itu. Sekarang itu hal yang wajar. Itu lumrah bagi mereka. Kenapa kau jadi syok begitu?”

“Aku.. aku.. baru melihat hal seperti ini di depan mataku. Aku pasti bermimpi. Ini tidak benar-benar terjadi”

Tiba-tiba muncul seorang perempuan yang juga sedang mual. Perempuan itu muntah di wastafel yang ada di dekat Gadis.

“Dara,.. kau kenapa?” Gadis rupanya mengenal perempuan itu. Perempuan itu adalah Dara. Teman sekampusnya. Ia curiga Dara juga merasa muak dengan semua yang terjadi di hadapannya. Mengenai tindakan saling membunuh mahasiswa, pergaulan bebas, melakukan pembajakan akademik, profesi terlarang dan rasa tidak tahu malu di depan umum.

“Dara.. apa kau merasakan hal yang sama denganku? Apa kau juga muak dengan semua yang terjadi di dunia yang aneh ini?”

“Gadis, aku tidak tahu apa maksudmu. Memangnya apa yang telah terjadi di dunia ini? Sebenarnya kau membicarakan tentang apa? Aku tidak mengerti”

“Apa? Lalu kenapa kau muntah-muntah seperti ini? Apa kau sakit? Kenapa tidak mengabari aku?” Gadis hanya kebingungan.

Tiba-tiba air mata Dara menetes. Ia langsung memeluk Gadis sambil menangis. Sementara Gadis hanya diam tak mengerti.

“Maaf.. sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini padamu. Aku tidak mau hal ini nantinya akan menakutimu”

“Ada apa? Aku tidak mengerti”

“Aku hamil…”

“Hamil? Bukankah itu berita gembira? Dimana suamimu? Kenapa tidak beritahu aku kalau kau sudah menikah?”

“Tidak Gadis. Aku belum menikah. Aku hamil di luar nikah. Aku kebablasan. Aku bersalah. Hiks..hiks..” Dara menangis.

Gadis semakin terkejut. Ia pucat dan lemas. Serasa tidak menginjak tanah.

“Lalu dia dimana?”

“Dia di supermarket membelikan aku susu kehamilan”

“Sudahlah. Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Jagalah anakmu. Kau harus merawatnya, ya. Dan juga jaga dirimu. Maaf Dara, Aku harus pergi. Aku sangat tidak enak badan saat ini” Gadis akhirnya meninggalkan Dara sendiri dan berlalu bersama Zaman.

Ia berjalan bersama Zaman di jalan raya yang mulai ramai kendaraan dengan lampu-lampunya. Hari sudah hampir malam. Dan matahari mulai tenggelam. Ia berjalan dengan lemas. Pandangannya mulai kabur.

“Aku tidak mengerti semua ini, Zaman. Mereka pasti bukan teman-temanku. Mereka bukan mahasiswa, kan? Mereka tidak punya identitas. Pasti hanya anak muda yang tidak punya pekerjaan. Kalau mereka mahasiswa kenapa mereka tega merusak namanya sendiri? Kenapa?”

Di sepanjang jalan ia tak jua bisa tenang. Justru semakin banyak pemandangan yang mengerikan. Banyak ibu-ibu yang terkena serangan jantung karena melihat anaknya pulang dengan berbadan dua. Banyak pula bapak-bapak yang tak segan menampar dan memukuli anaknya karena anaknya tega mempermalukan nama keluarga. Lain lagi dengan orang tua-orang tua yang menangis tersedu-sedu karena usahanya yang menjual ternak untuk kuliah anaknya dibalas dengan surat penangkapan karena anaknya melanggar undang-undang Psikotropika.

“Dunia macam apa ini, Zaman? Kenapa kau membawaku ke tempat yang buruk ini?”

Sang Gadis tetap berjalan dengan lunglai.

“Tidak! Tidak! Aku pasti bukan di negeriku Indonesia. Aku pasti di negara barat. Aku pasti di Amerika atau Eropa. Dunia ini pasti bukan dunia di Indonesia. Karena budayanya sangat berbeda. Mahasiswa Indonesia adalah mahasiswa yang sopan-sopan dan punya rasa malu. Mereka juga tidak mengenal pergaulan bebas dan narkoba. Aku pasti tidak di Indonesia saat ini. benar kan, Zaman?”

Kemudian sang Gadis jatuh pingsan. Lama ia tak sadarkan diri. Setelah Zaman memberinya aroma alkohol, akhirnya ia tersadarkan.

“Ah… aku sudah bermimpi buruk”

“Hai, Nona. Kau sudah sadar. Kasihan sekali kau, Nona. Kau sangat terkejut melihat perubahan budaya. Kau tidak mau menerima semua ini padahal ini kenyataan”

Sang Gadis mulai ketakutan melihat Zaman ada di dekatnya. Ia takut sekali.

“Aku harus pergi! Aku harus pergi dari sini!”

“Nona manis, kenapa kau takut seperti itu? Hadapilah semua ini. Mereka memang ada dimana-mana. Kau tidak bisa memungkirinya. Lupakan saja asumsimu itu mengenai mahasiswa. Mereka semua pembohong, pecundang. Mereka semua pendosa besar kepada kedua orang tua mereka, diri mereka dan negara mereka. Mereka semua sudah merusak nama baik pendidik-pendidiknya. Berhentilah memuja-muja mereka. Mereka semua tidak ada yang beres. Ha..ha..” Zaman mengoceh mengejek kaum mahasiswa.

“Lalu, dimana mereka semua yang selama ini kritis, suka menuntut ilmu, dan rajin membaca itu?”

“Ya… hanya sedikit dari mahasiswa itu yang bisa menang melawanku. Yang kritis itu sudah menang menaklukkanku. Bahkan mereka pernah berhasil menurunkan tiran yang telah berkuasa selama 32 tahun itu. Dan yang suka menuntut ilmu itu sekarang juga sudah menang menaklukkanku. Mereka berhasil menjadi pengusaha-pengusaha dan akademisi yang tangguh. Sementara yang rajin membaca itu sekarang menjadi tokoh-tokoh terpandang yang setiap saat menjadi pembicara di seminar-seminar. Mereka berhasil keluar dari dunia ini. Mereka menjadi bintang yang bersinar terang di angkasa. Sementara yang lainnya tinggal merana di dunia ini”

“Aku ingin ikut mereka! Beritahu aku jalan keluarnya”

“Ha..ha… Nona, apa kau sadar dengan siapa kau sekarang? Denganku. Dengan Zaman. Aku akan mengubah dan mempengaruhi seluruh anak muda negeri ini untuk mengikuti kemana akan pergi. Aku akan mempengaruhi pikiran mereka untuk menjadi penganut Hedonisme. Aku juga akan mengajarkan paham Atheisme hingga Anarkisme. Biar mereka saling membunuh dan menjadi bangsa perusak negara. Biar mereka tidak mengenal Tuhan. Aku juga akan membuat mereka malas untuk berkreasi. Aku akan mempengaruhi mereka untuk melanggar semua peraturan yang ada. Biar mereka tidak punya masa depan, membuat orang tua mereka menangis, dan menjadi pengangguran selamanya. Aku akan merusak mereka! Aku akan merusak masa depan mereka! Ha…ha..!!!”

“Kau benar-benar licik, Zaman! Kau memperdayaku!”

“Ha..ha.. sayang sekali, Nona. Kau masuk perangkapku. Aku akan membuatmu hidup di dunia yang kau benci ini. Dan kau baru bisa keluar dan menjadi bintang yang bersinar terang jika kau mau melawanku dengan kesabaran dan keteguhan hati serta tekad yang kuat. Kau bisa seperti mereka yang kau banggakan itu jika kau tidak pernah putus asa dan siap melawanku kapan saja dengan pemikiran dan idealismemu. Dan aku jamin kau bisa menang jika kau terus belajar dan berusaha meraih impianmu itu. Ha..ha…”

Sang Gadis kembali syok. Ia menutup wajahnya dan menangis meraung-raung. Ia takut menghadapi Zaman yang semakin gila. Ia takut kehilangan citra mahasiswa sejati. Ia takut karena mahasiswa yang ada di dunia itu semakin menjadi-jadi. Dan yang paling ia takutkan adalah Indonesia yang kehilangan jati diri. Seperti dunia horor yang penuh hal yang tidak normal. Bahkan semua yang tabu jadi layak untuk dilakukan. Matilah ia!!

Ia lalu menyiramkan air ke wajahnya.

Tuhan.. pastikan aku hanya mimpi” gumamnya dalam hati.

Ia lalu membuka matanya perlahan.

“Celaka… aku dalam keadaan sadar”

Zaman terus menertawakan sang Gadis.

“Tunggulah Zaman, aku akan mengalahkanmu. Aku akan menjadi bintang yang paling bersinar di jagad raya ini. Aku akan menaklukkanmu segera. Dan orang-orang yang aku banggakan itu akan kembali untuk mengubahmu. Tunggulah.. ”

 

  • view 150