Ramadhan Dan Mahasiswa

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Agama
dipublikasikan 26 Juni 2016
Ramadhan Dan Mahasiswa

NAFAS RAMADHAN DAN PERUBAHAN CITRA MAHASISWA

oleh : Suci Ayu Kurniah P.

Tahun ini, kita kembali diberi kesempatan untuk menjamu Ramadhan bulan yang penuh berkah, penuh hikmah, penuh ampunan dan rahmat serta kemuliaan. Adapun bulan yang suci ini patut disyukuri atau tidak, tergantung bagaimana sikap setiap orang dalam memaknainya. Dan tulisan ini memfokuskan subjek pada ‘mahasiswa’ karena sebagian besar dan paling dominan dari penduduk Indonesia adalah mahasiswa atau anak muda.

Sekarang ini, di negeri kita tercinta, citra mahasiswa sulit teridentifikasi. Ada yang bilang ‘mahasiswa’ tetap adalah manusia-manusia unggul sebagai bibit dalam perkembangan kesejahteraan negara. Ada pula yang mengatakan ‘mahasiswa’ adalah generasi-generasi penerus yang bisa menentukan nasib negara di masa depan. Juga banyak yang mengatakan bahwa ‘mahasiswa’ adalah produk unggulan dari setiap perguruan tinggi yang dapat diandalkan dalam menjajaki setiap lapangan kerja di berbagai macam instansi di negeri ini. Namun tidak sedikit yang mencibir ‘mahasiswa’ sebagai anak kecil yang sok tahu. Tidak jarang yang mengatakan ‘mahasiswa’ sebagai calon-calon pengangguran yang akan menambah masalah negara. Bahkan banyak yang sekarang ini menganggap manusia-manusia yang bergelar ‘mahasiswa’ hanyalah generasi perusak semata atau dalam bahasa trend-nya The trouble maker. Kesemua pendapat di atas jelas tidak akan ada jikalau memang tidak ada alasan yang mendukungnya. Sehingga kesemuanya tertuju pada masyarakat yang selama ini menjadi tim penilai dari sosok sebagian manusia yang bergelar ‘mahasiswa’ itu.

 

Makna Ramadhan dan Kebiasaan Mahasiswa

 Pada bulan Ramadhan ini, sebagian ‘mahasiswa’ juga ikut menjamunya sebagaimana menjamu tamu yang mulia dengan mempersiapkan diri, berniat dan bertekad yang kuat untuk membentengi diri dari hawa nafsu yang godaannya sungguh luar biasa, serta mengisi hari-hari waktu demi waktu dengan ketekunan beribadah. Namun tak sedikit yang merasa terganggu karena datangnya Bulan Ramadhan bagi mereka hanya memutuskan kebiasaan yang selama sebelas bulan yang lalu bahkan bertahun-tahun sudah melekat pada dirinya misalnya merokok, menghabiskan malam di tempat-tempat hiburan, pacaran dan lain sebagainya. Sementara kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang harus dijauhi agar tidak menodai kesucian bulan Ramadhan yang mulia.

Ada yang menarik dari ‘Makna Ramadhan’ yang dipaparkan oleh M. Quraish Shihab dalam Lentera Hati-nya yang justru sangat jarang ditemui dalam ceramah-ceramah Ramadhan di masjid maupun di media. Menurut pandangannya, makna Ramadhan adalah usaha manusia – sekuat kemampuannya – untuk mencontoh Tuhan dalam sifat-sifat-Nya. Pernyataan ini kemudian diikuti oleh pembuktian sifat Allah SWT yang tidak makan tetapi justru memberi makan, tidak minum dan juga tidak beranak. Bukankah benar hal tersebut adalah kebutuhan primer manusia yang harus dijauhi untuk sementara di bulan Ramadhan oleh karena berpuasa? Selain itu, beliau menambahkan bahwa dari segi hikmah dan tujuan puasa, seharusnya manusia mencontoh Tuhan dalam keseluruhan sifat-sifat-Nya. Jika demikian, maka pada hakekatnya bulan Ramadhan merupakan bulan pelatihan bagi setiap orang yang berpuasa dalam rangka berusaha mencontoh sifa-sifat Tuhan-nya Yang Mahapenyayang, Maha Mengetahui, Mahabenar dan sebagainya sehingga pada hari kemenangan nanti mereka bisa memulai sesuatu yang baru dalam hidupnya dan tentunya lebih baik daripada sebelum-sebelumnya.

Sebagai mahasiswa, mestinya bisa mencontoh sifat-sifat Tuhan yang sama sekali tidak ada yang buruk. Karena bagaimanapun juga, hanya merekalah anak-anak muda andalan di dunia ini yang juga bergelar MAHA. Olehnya itu, mereka tentu mesti menjadi panutan bagi lingkungan mereka, masyarakat di sekitar mereka, teman-teman mereka dan lain sebagainya. Sehingga terciptanya kedamaian di bumi ini khususnya di negeri kita tercinta Indonesia, tidak akan diragukan lagi. Hanya saja, kebanyakan dari kita mahasiswa di Indonesia yang kurang peduli dengan hal semacan ini. Kita lebih banyak menganut paham hedonisme yang justru bertentangan dengan sifat Tuhan yang “…setiap saat Dia dalam kesibukan”(QS Ar-Rahmaan:29). Kita terlalu banyak bersantai-santai dan melakukan hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat bagi kita, kita juga bahkan terlalu banyak mengikuti pola hidup konsumtif yang justru “…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”(QS Al-An’aam:141).

Oleh karena itu, sebagai mahasiswa, laki-laki maupun perempuan, yang menjadi teladan di masyarakat tentu harus mencoba di bulan Ramadhan ini untuk memutuskan kebiasaan yang kurang baik misalnya tidur yang berlebihan, makan dan minum yang berlebihan, bergosip, mengatakan hal-hal yang tidak benar, berkasih-kasihan kepada lawan jenis dengan berlebihan, shalat tidak tepat waktu, tidak disiplin dalam belajar, dan malas untuk berkreasi. Dan alangkah keren-nya jikalau setiap mahasiswa mengganti kebiasaan-kebiasaan tersebut dengan mengisi waktu-menyibukkan diri-dengan membaca Al-Qur’an, memberi makan atau sedekah (bakti sosial) kepada fakir miskin, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, mengganti kebiasaan pacaran dengan membantu orang tua dan memberinya kasih sayang yang tulus atau rutin melaksanakan diskusi ilmiah bersama teman-teman, shalat tepat waktu, kuliah yang benar dan menghasilkan karya-karya baru. Sehingga kebiasaan yang sebelumnya tidak menghasilkan apa-apa dan malah dapat menjerumuskan kita kepada kebinasaan akan berganti menjadi kebiasaan yang bukan tidak mungkin akan bernilai amal yang berbuah pahala bahkan dilipatgandakan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

 

Ramadhan Sebagai Bulan Berkreasi

 Bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang mana setiap benih amal yang kita tanam akan dilipatgandakan sampai berkali-kali lipat. Walaupun benih amal yang kita kerjakan itu sebesar atom tidak akan luput dari catatan Allah SWT dalam Lauh Mahfuz. Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar (Q.S. An-Nisaa’ : 40).

Berdasarkan ayat di atas, tentunya sebagai anak muda kesayangan Allah SWT yang bertekad tulus bertaubat di jalan Allah dan yang giat dalam menuntut ilmu, mestinya setiap mahasiswa memanfaatkan Ramadhan ini dengan memperbanyak inovasi-inovasi maupun karya-karya (berkreasi) sebagai bukti bahwa ia layak diidentifikasi sebagai seorang mahasiswa sejati. Bukankah Allah Maha Berkreasi (Al Khalaq)?

Sampai sekarang kita tidak mampu menghitung berapa banyak kreasi Allah Yang Maha Indah. Seperti yang dipaparkan oleh M. Quraish Shihab bahwa puasa sebagai jalan untuk mencontoh sifat-sifat Allah SWT, semestinya mahasiswa yang setiap waktunya memiliki kesempatan dan peluang yang besar, dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Contohnya menulis artikel ilmiah, karya-karya sastra maupun essay tentang fenomena yang terjadi di dunia ini atau di negeri kita sendiri. Walaupun tidak dapat dipublikasikan di media lokal atau nasional, minimal bisa menjadi konsumsi teman-teman di kampus atau mempublikasikannya di blog pribadi yang bisa diakses secara global. Bukankah itu lebih bernilai karena pembacanya tidak terbatas? Sekalipun tak mampu menulis artikel atau tulisan-tulisan ilmiah, setidaknya kita bisa mencoba membuat summary catatan kuliah yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain atau minimal mengaplikasikan apa yang telah kita rekam dari ruang kuliah dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya catatan kuliah Pendidikan Agama, dapat kita aplikasikan dalam rangka merubah diri menjadi lebih baik dan merubah pemahaman kita yang salah menjadi pemahaman yang benar dan sesuai syariah. Selain itu, di waktu senggang kita pula dapat melakukan diskusi mengenai agama atau mata kuliah yang telah dipelajari.

Memang tak banyak mahasiswa yang tertarik untuk membahas hal-hal yang bersifat ilmiah baik lisan maupun tulisan. Tetapi sekalipun kita tak mampu menghasilkan karya-karya semacam itu, paling tidak, kita bisa menghasilkan ide-ide sederhana yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Misalnya bagi para mahasiswi, bisa berkreasi dalam hal masak-memasak yang kemudian menjadi konsumsi berbuka bagi teman-teman dekat, menata kamar kosan agar lebih nyaman untuk beribadah atau hal-hal kecil lainnya. Dan bagi para mahasiswa mestinya lebih banyak hal yang bisa menjadi kreasi. Misalnya bagi mahasiswa yang hobi musik, bisa menghasilkan lagu-lagu islami sebagaimana grup band Ungu yang tiap tahun sukses menelurkan album religi favorit, atau dapat juga mengisi waktu dengan mencetak prestasi di bidang olahraga, atau menyempatkan diri dalam mengkaji Al-Qur’an dan Hadis atau belajar menjadi da’i muda dan lain sebagainya.

Yang perlu diingat adalah bagaimana kita mahasiswa dapat menjadi manusia-manusia bermanfaat dan beramal bagi diri sendiri dan orang lain. Bukankah Allah tidak hanya menilai besar kecilnya amal manusia tetapi bahkan lebih memperhatikan apakah manusia mengerjakan amal baik secara rutin atau tidak? Sehingga ide sederhana namun bermanfaat dan diaplikasikan secara rutin justru lebih baik daripada tidak menghasilkan ide sama sekali. Dan bagaimanapun juga mahasiswa sejati adalah para idealis yang akan dan harus menghasilkan idealisme teoritis maupun praktis dan tentunya bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Sehingga latihan berkreasi pada bulan Ramadhan ini dapat memberi konstribusi yang signifikan dalam mencapai prestasi-prestasi yang membanggakan pada bulan-bulan selanjutnya. Sebagaimana karya besar Rasulullah Muhammad Saw dalam memenangkan Perang Badar (2 H/624 M), keberhasilan menduduki kota Makkah (8 H/630) dan sebagainya sampai pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang juga tercapai pada bulan Ramadhan yang bisa kita lihat pengaruhnya hingga saat ini tanpa ada lagi campur tangan penjajah. (Sekalipun saat ini kita masih merasa terjajah perlu direnungkan kembali apakah penjajah itu dari bangsa luar atau justru dari kalangan kita sendiri yang tak tahu ‘menempatkan’ diri).

 

Hakekat Perintah Membaca bagi Mahasiswa

 Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan kalam Allah SWT kepada seluruh umat manusia agar dijadikannya sebagai pedoman hidup, penuntun ke jalan yang benar dan jawaban dari segala pertanyaan serta banyak hal lagi yang tercakup di dalam Al-Qur’an sehingga Al-Qur’an dapat dikatakan sebagai sumber segala ilmu.

Al-Qur’an diwahyukan kepada Rasullah Saw pada bulan Ramadhan dengan perintah membaca sebagai ayat pertamanya. Perintah untuk “membaca” adalah langsung oleh Tuhan. Membaca adalah mulanya suatu ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keberhasilan manusia. (Ary Ginanjar dalam buku ESQ)

Manusia diperintahkan untuk membaca apa saja yang ada di dunia ini baik segala disiplin ilmu, fenomena alam, fenomena masyarakat bahkan apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Q.S. Fushshilat:53).

Sebagai manusia yang telah dipilih Allah SWT untuk menjadi seorang ‘MAHASISWA’ sudah patutlah kita untuk mencari ilmu, mencari kebenaran dengan membaca baik itu membaca berbagai literatur, referensi, buku teks, media, peristiwa, alam semesta, masyarakat, kehidupan bahkan diri kita sendiri. Mencari hakekat tertinggi dengan filsafat, berfikir kritis dengan logika rasional, sebab-akibat, analogi dan berbagai hal positif yang bisa kita jadikan sebagai petunjuk dalam hidup kita yang tentunya tidak lepas dari sumbernya yakni Al-Qur’an Al Karim.

Para ilmuwan di jaman dahulu hingga sekarang takkan menemukan suatu kebenaran jika tidak ‘membaca’. Archimedes telah membaca suatu kebenaran yakni Berat jenis sama dengan berat berbanding volume melalui peristiwa perintah Raja pada saat itu untuk mengukur volume mahkota emas yang penuh ukiran yang dibacanya pada saat ia sedang merendam kakinya di dalam bath tub yang berisi air. Albert Einstein juga ‘membaca’ hukum keseimbangan alam antara massa dan energi yang dirumuskannya sebagai E = M.c2. M. Quraish Shihab dalam menelaah Al-Qur’an, Ary Ginanjar dalam meneliti Emotional Spritual Quotient pada diri manusia, Daniel Goleman dalam Emotional Quotient, dan banyak ilmuwan lainnya. Bahkan Baginda Rasulullah Muhammad Saw juga senantiasa ‘membaca’ dan mencari hakekat tertinggi di gua Hira hingga diturunkannya Al-Qur’an sebagia jawaban dari setiap pertanyaan mengenai hakekat kehidupan dan alam semesta. Walaupun mereka saat ini bukan lagi sebagai ‘mahasiswa’, tetapi mereka senantiasa menjadi “Mahasiswa Abadi dalam Kampus Tanpa Batas” (Istilah Reza M. Syarif dalam bukunya Life Excellent).

Sekarang ini di negeri kita sedang dalam proses pengaplikasian mengenai program pemerintah yakniMasyarakat Gemar Membaca. Bahkan saat ini para calon Gubernur, Walikota, Bupati sedang beramai-ramai mencanangkan program pendidikan gratis dengan tujuan agar seluruh masyarakat dapat menjadi orang-orang yang ‘mengetahui’ kebenaran-kebenaran di dunia ini. Sehingga jika seluruh masyarakat dari setiap kalangan bahkan masyarakat kelas bawah menjadi gemar membaca, apakah patut kita yang menjadi ‘mahasiswa’ di kampus negeri maupun swasta tidak peduli dengan kebiasaan ‘membaca’? Jawabannya tentu saja ‘tidak’ alias sangat tidak patut. Kita mahasiswa tentunya mesti lebih gemar, lebih peduli, bahkan menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan primer untuk mencukupi otak kita setiap hari. Tetapi perlu diingat segala ilmu, segala wawasan yang kita dapatkan mesti kembali kepada Al-Qur’an agar kita tidak gampang terjerumus pada pemikiran-pemikiran atau falsafah-falsafat yang keliru dan cenderung menyesatkan. Oleh karena itu, bulan Ramadhan dimana terdapat hari yang kita kenal sebagai Nudzul Qur’an, kita manfaatkan lagi sebagai bulan latihan atau training month dalam rangka mengubah kebiasaan bermalas-malasan dengan hal-hal yang tidak berguna menjadi kebiasaan gemar membaca sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Dan perlu diingat kalimat dalam Al-Qur’an Iqra’ bismirabbikal ladzii khalaq, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Kalimat ini sebagai petunjuk bagi seluruh pembaca agar selalu mengingat Tuhan yang menciptakan hakekat kebenaran itu, Allah yang menciptakan fenomena-fenomena itu, Allah yang menciptakan ide-ide itu pada manusia dan Allah lah yang menciptakan segala yang menjadi ilmu pengetahuan yang berkembang bahkan semakin canggih hingga sekarang.

 

Hari Kemenangan untuk Seluruh Mahasiswa

 Sekarang kita berada pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Ramadhan awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka, maka perlulah kita untuk memanfaatkan sepuluh yang akhir ini dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, sedekah jariyah, dan I’tikaf setiap malam dengan niat lillahi ta’ala selain untuk bertemu dengan mulianya malam Lailatul Qadar tetapi juga memohon rahmat dan ampunan serta berkah Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw sehingga kita termasuk orang-orang yang segala dosanya dihapuskan laksana baru dilahirkan.

Khusus untuk mahasiswa, mulailah kita semua bertekad kuat dan berniat tulus untuk mengubah kebiasaan kita yang dulunya kurang baik menjadi kebiasaan-kebiasaan yang bernilai amal untuk diri sendiri dan orang lain. Mulailah mengganti citra trouble maker dengan citra yang penuh kasih sayang kepada sesama manusia dan alam semesta. Mulailah perbanyak kesibukan yang baik. Mulailah menjadi innovator-inovator dalam ilmu pengetahuan. Mulailah menjadi pembelajar sejati yang penuh kreasi. Mulailah menjadi mahasiswa abadi yang tiada henti belajar dan membaca seluruh aspek di dunia ini. Mulailah menjadi orang-orang yang membanggakan orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara. Mulailah menjadi makhluk kesayangan Allah yang senantiasa mengingat Allah di setiap keadaan, bertaubat menuju kebenaran, beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta meninggalkan hal-hal yang tidak disukai oleh Allah Swt dan berusaha mencontoh Allah dalam sifat-sifat-Nya. Sehingga pada hari kemenangan nanti akan lahirlah para intelek muda, filosof, ilmuwan, pemimpin, guru, yang berakhlak mulia, berjiwa penyayang, aktif dan kreatif itulah citra ‘MAHASISWA SEJATI’.

Cukup sekian pemahaman penulis mengenai apa yang disimpulkannya dari berbagai ilmu dan referensi. Semoga dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat khususnya teman-teman mahasiswa dan diri penulis sendiri. Semoga dapat penulis pertanggungjawabkan.

Selamat beramal di sepuluh yang akhir bulan Ramadhan. Selamat mencapai citra mahasiswa tertinggi. Semoga sukses di setiap pekerjaan. Kami bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Kami mohon ampunan-Mu Yaa Allah. Kami memohon Ridha-Mu dan Surga-Mu. Dan kami berlindung dari siksaan api neraka. Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul’afwafa’fuannaa yaa rahiim.

  • view 305