Impian di Tepi Pantai

Suci Ayu Kurniah
Karya Suci Ayu Kurniah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juni 2016
Impian di Tepi Pantai

 

Sore itu, sepasang pemuda dan pemudi berdiri santai menyaksikan indahnya senja di tepi pantai. Kurang lebih setengah jam lagi matahari akan terbenam. Langit sore tertebar mega merah merona. Kesempurnaan hasil karya Sang Pencipta yang sangat elok dipandang mata. Kala itu, laut tetap saja hidup. Ombaknya beriak diterpa angin yang juga berhembus menyentuh dua anak muda itu. Mereka terdiam bertasbih memandangi keindahan laut. Di tengah keramaian, mereka sibuk sendiri menikmati panorama yang mempesonanya tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Si pemuda mulai duduk kemudian disusul oleh pemudi yang juga duduk sekitar satu meter dari pemuda. Sambil menekuk lutut masing-masing masih menghadapkan wajah ke pantai menunggu sinar emas dari matahari yang akan tenggelam berganti malam.

“Laut yang indah. Tapi aku terkadang tidak mengerti kenapa laut seindah ini dijadikan orang filosofi masalah. Hidup yang penuh gelombang. Kenapa orang tidak menganggap hidup itu indah bagai laut biru yang damai dan menentramkan jiwa” si pemuda mulai memecah keheningan di antara mereka.

“Aku rasa filosofi itu benar. Hidup ini memang penuh gelombang. Jika datar, itu berarti bukan hidup. Hidup memang dipenuhi permasalahan yang harus kita hadapi dan selesaikan. Jika ingin hidup, kita mesti menghadapi gelombang itu. Tapi jika tidak mau hidup dan tak sanggup menghadapi masalah, lebih baik berjalan saja ke laut lalu menenggelamkan diri. Aku yakin kita tidak akan menghadapi gelombang itu lagi” si pemudi pun mulai berkomentar.

“Kau benar” ujar pemuda sambil tersenyum.

Suasana kembali hening. Mereka membiarkan angin menyentuh mereka dengan hangat. Di laut yang dipenuhi ombak yang datang silih berganti itu, ada beberapa anak kecil yang masih asyik berenang dan bermain bersama, tertawa riang gembira. Sementara di sekeliling mereka, juga banyak anak muda yang berpasang-pasangan, duduk berdekatan mesra sambil menyaksikan indahnya pesona senja. Muda-mudi itu sangat berbeda dengan pasangan yang satu ini. Pasangan ini justru duduk berjauhan dan membahas tentang filosofi kehidupan. Benar-benar kencan yang tidak romantis.

“Terima kasih telah membawaku ke sini” ujar pemudi.

“Demi membuatmu bahagia, aku akan melakukan apa saja”

Mereka sama-sama tersenyum.

“Kau benar-benar teman yang manis. Aku senang bisa berteman denganmu. Kau selalu menghiburku. Walaupun sebenarnya.. aku ingin, sekali saja kau mengatakannya dengan sungguh-sungguh bukan untuk menghiburku” pernyataan sang pemudi ini tiba-tiba merubah wajah pemuda yang tadinya penuh senyum merekah menjadi raut wajah yang sedih.

“Yah.. memang seperti inilah hidup. Kadang-kadang, sesuatu yang sangat berharga bagi kita, justru dianggap bukan hal yang penting bagi orang lain. Dan juga kadang-kadang kita menganggap seseorang sangat berarti tapi diri kita sama sekali bukanlah apa-apa baginya. Tapi.., tidak masalah. Inilah seninya hidup. Biar hidup kita lebih berwarna. Benar kan?”

Pemudi itu sungguh berani mengungkapkan isi hatinya. Sepertinya, ia memang telah lama memendam resah itu dalam hatinya. Dan ketika ada kesempatan, ia pun tak segan lagi mengatakannya. Meskipun masih dengan bahasa implisit. Sang pemuda hanya diam tanpa komentar. Tapi cukup tersentak mendengar kata demi kata yang diucapkan gadis sederhana yang duduk di sampingnya itu.

Anak-anak yang bermain di pantai itu jumlahnya semakin berkurang. Mungkin mereka sudah puas bercengkrama dengan ombak dan air laut. Sehingga yang tinggal di pantai itu hanyalah pasangan-pasangan anak muda yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sementara kedua muda-mudi ini kembali hening. Mereka hanya memandangi langit yang semakin gelap tetapi masih disinari kilauan jingga mentari senja.

Kencan pasangan yang satu ini memang cukup unik. Duduk berjauhan, membahas tentang warna kehidupan, dan juga berbicara tanpa saling melihat satu sama lain. Berbicara sambil memandangi laut. Sementara pasangan yang lain justru semakin dekat berdekapan. Ada yang menyandarkan kepala di pundak kekasihnya, juga ada yang berpegangan tangan. Bahkan ada pemandangan yang semestinya tidak layak ditonton oleh orang timur. Sekalipun mereka suami istri apalagi hanya sepasang kekasih. Tapi, mungkin itu salah satu warna kehidupan bagi mereka.

Entah apa yang membuat kedua muda-mudi ini justru tertarik untuk membahas filosofi hidup. Sepertinya mereka malu membicarakan hal-hal yang menjadi topik hangat bagi anak-anak muda biasanya. Mereka malu kepada alam, kepada langit, matahari, laut, dan juga orang sekitarnya. Mereka malu membahas hal semacam itu. Atau mungkin mereka hanya tak mau menodai keindahan alam yang disaksikannya dengan cerita-cerita palsu sebagaimana anak muda pada umumnya yang suka membahas hal-hal yang sok romantis, sok puitis, sok memahami soal cinta. Padahal itu hanyalah ungkapan biasa yang bukan dari hati. Hanya sekedar menghibur satu sama lain. Basi.

Si pemuda kembali mulai memecah keheningan. Ia menuliskan sebuah nama di pasir itu. Namanya sendiri. Kemudian ia mengambil segenggam pasir bekas namanya itu.

“Pasir ini begitu lembut. Pernah dengar, kata orang bahwa impian atau sesuatu yang kita inginkan, seperti pasir ini. Semakin digenggam, semakin habis. Sehingga orang bijak mengatakan, jika kita terlalu menginginkan atau mempertahankan sesuatu, kita justru akan kehilangannya. Jadi mesti mencita-citakan sesuatu yang sewajarnya saja”

“Aku rasa orang bijak itu memang benar. Tapi pasir yang kebanyakan orang genggam itu adalah pasir yang kering. Cobalah mengambil pasir yang basah terkena air laut, ombak laut. Pasti kita dapat menggenggam erat pasir itu tanpa jatuh begitu saja. Bahkan kita dapat membentuknya menjadi istana sesuai keinginan kita. Begitu pula halnya impian dan apa yang kita inginkan. Harus diterpa gelombang dulu baru bisa digenggam dan dibentuk menjadi istana. Jadi, kita mesti berjuang melawan ombak untuk kemudian menggenggamnya di tangan kita. Selain itu, jika kita menginginkan sesuatu, janganlah suatu keinginan yang kering. Mesti sesuatu yang benar-benar bernilai. Dan kita harus menginginkan sesuatu bukan semata-mata karena perasaan ingin memiliki tetapi harapkanlah karena cinta dan keikhlasan. Jika tidak, kita akan melihatnya pergi menjauh dari genggaman kita dan menjadi sama sekali tidak berarti lagi”

pdvd_0211

“Benar. Kau benar”

Hah.. kencan yang sangat tidak menarik. Apa pentingnya membahas laut dan pasir? Sama sekali tontonan yang tidak romantis. Membosankan. Tapi, sangat tidak biasa. Kencan yang beda. Benar-benar berkelas. Hanya untuk muda-mudi yang cerdas.

Kali ini, di laut tak ada lagi anak-anak kecil yang menikmati hidup bermain dengan ombak. Matahari kian turun mendekati air laut. Keindahan pantai yang semakin menakjubkan menanti malam.

“Aku… punya impian yang mungkin bisa kudapatkan sekarang juga di pantai ini. Tapi, aku sadar itu tidaklah mudah. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Jadi, mungkin lebih baik aku membiarkan waktu yang akan menjawabnya. Agar semuanya jelas apakah aku pantas untuk impian itu atau tidak”

“Memangnya kenapa kau merasa dirimu tidak pantas?”

“Ya.. karena impian itu terlalu tinggi untukku. Aku memiliki kehidupan yang tidak sempurna. Aku punya catatan kelam di masa lalu yang tentunya tidak pantas untuk memiliki impian yang tinggi”

“Sejak kapan ada kehidupan manusia yang sempurna? Kau lucu sekali”

“Iya. Tapi ada kalanya seseorang mesti bermimpi yang sewajarnya. Sesuai dengan apa yang pantas untuk dirinya”

“Mm.. kau tahu, aku juga memiliki impian yang mungkin bisa kudapatkan sekarang juga di pantai ini. Aku pun kadang-kadang berpikir impian itu terlalu tinggi untukku. Aku merasa tidak pantas. Tetapi, aku tetap menunggu dan yakin waktu akan berpihak padaku. Aku terus berusaha mencapainya. Sehingga semuanya akan menjadi sangat berarti”

“Kau tidak takut jika impianmu itu tidak terwujud?”

“Sama sekali tidak. Aku berusaha menjalani hidupku dengan ikhlas. Jika impianku tidak terwujud berarti aku tidak ditakdirkan untuk mendapatkan impian itu. Aku harus mengejar impian yang lain. Benar kan?” gadis itu tersenyum.

“Kau hebat sekali. Aku sendiri kadang tidak bisa rela melihat impianku itu diambil orang lain. Kadang aku takut tidak bisa melihat impian itu terwujud. Padahal aku ingin sekali menang dan mewujudkan impian itu. Aku benar-benar pengecut ya. Kalah sebelum perang. Lemah dan cepat putus asa. Aku ingin sepertimu. Walaupun menunggu tapi kau berani berusaha”

“Kau hanya belum memulainya…”

“….”

“Kau tidak akan mendapatkan impianmu itu jika kau hanya diam di tempat. Kau harus berani melangkah. Larilah mengejar impianmu itu. Berusaha dan bersemangatlah. Kau pasti bisa…”

Saat matahari setengah terbenam, akhirnya mereka baru bisa saling melihat satu sama lain. Mereka saling memandang, tersenyum kemudian tertawa bersama.

“Bunda, istananya sudah jadi dibantu kakak-kakak itu” seorang anak lelaki berlari kecil menghampiri pasangan itu dan memeluk si pemudi.

“Ayah, ayo lihat istanaku” seorang anak perempuan lalu menarik tangan pemuda itu.

pdvd_0302

Mereka bersama pergi ke tempat dimana ada istana pasir berpijak. Langit sore semakin merona. Senja datang dengan kilauan emas di tengah cakrawala. Mereka asyik bercengkrama di dekat istana pasir itu. Kegembiraan menyelimuti mereka di pantai indah itu.

“Mmm.. ternyata kau masih ingat juga kata-katamu waktu kita pertama kali ke pantai ini bersama. Waktu itu kita berbeda dengan yang lainnya. Kita sepertinya sangat membosankan. Tapi kita tidak membicarakan hal-hal yang palsu. Kita mengatakan sesuatu dari hati kita masing-masing. Kau tahu, aku sangat bahagia telah mendapatkan impian itu di sini” pemuda menggoda istrinya.

“Aku berterima kasih karena impianku juga terwujud di sini…”

uchie1

Picture: Screen Capture from Taiwan Drama MARS

  • view 271